
Disela ulang tahun papahnya malam ini Rival, Roy dan Tiffany sedang duduk didepan rumah mereka. Apalagi kedua orang tua mereka yang asik menbakar ayam bakar didepan rumah. Keharmonisan yang terjalin sudah berlangsung bertahun-tahun. Roy yang mengipas-ngipaskan ayam bakar yang sudah berada diatas bara api. Sedangkan Tiffany yang menyiapkan piring-piring yang sudah ia tata diatas matras di halaman kecil mereka beserta lilin-lilin yang ada disana dalam rangka ulang tahun ayah mereka yang ke-50 tahun. Ulang tahun ini seakan seperti terulang kembali ketika ia tidak sengaja merayakan lebih dulu di rumah Franda. Albert, Bima dan Rudy pun diundang diacara ulang tahun sederhana ini.
"Yuk ah, kita tiup lilinnya." Suara Tiffany seakan menggelegar nyaring dengan ciri khasnya.
Mereka merapat dan siap-siap menunggu hitungan detik untuk pergantian waktu tepat di jam 00.00
Rival merasa kilas balik di rumah Franda waktu itu. Merayakan usia ayahnya Franda dan Rival yang tidak terlalu berbeda jauh dibulan yang sama dan tanggalnya yang beberapa hari saja. Sangat jelas sekali ketika Franda dan ibunya waktu itu juga mengajak untuk bergabung.
00.00
Teng, tepat di pergantian waktu maka usia pun berubah sudah. Papah yang memiliki ketiga anak ini terlihat sangat romantis kepada istri yang sudah menemaninya bertahun-tahun yang dengan setia ada disampingnya. Yang tidak terasa usianya sudah beranjak 50 tahun. Waktu begitu cepat berjalan apalagi ia baru merasakan bahagia sekali memiliki dua orang anak laki-laki yang ganteng dan satu perempuan yang cantik yang mewarisi wajahnya dari hidung, bibir dan kedua bola mata. Ia meniup lilin yang sudah menyala dihadapannya dengan angka terlihat jelas 50 tahun.
Ia langsung menyuapi istrinya yang sudah menemaninya itu didepan anak-anak muda yang nantinya juga yang akan merasakan kehidupan baru diakan datang. Mereka pun iri dengan keharmonisan dan keromantisan mereka yang sudah tidak muda lagi. Mencium keningnya dan bersalaman satu sama lain sebagai tanda hormat untuk kepala keluarga dan ayah dari orang tua anak-anak mereka.
"Cie mama sama papah romantis banget sih. Aduh jadi pengen." Ucap Roy yang menggoda mereka yang saling bersuapan.
"Kak lo kapan nyusul kayak mereka? Kayaknya pengen gitu?" Goda Tiffany yang menggoda kembarannya itu.
"Hei gue masih SMA, kalau lo mau duluan sih gak papa juga. Asal hadiahnya lebih besar aja." Dengan mengacak-ngacak puncak kepala Tiffany.
"Om, selamat ulang tahun ya, semoga om tambah sehat, makin romantis, makin sholeh dan makin ganteng."
"Widih lo kayak bokap gue aja nih. Cie yang udah mau halalin Lusi hahaha." Sontak mereka tertawa melihat Rival ngelawak.
"Ah apaan sih. Bikin gue bad mood aja lo pada." Manyun Rudy.
"Hahaha ayo dimakan, udah larut gini. Kamu gak dicariin papah kamu?"
"Enggak pah kan mereka bukan anak gadis? Hahaha. Kan dia cowok pah maksudnya."
Sontak mereka tertawa bersama.
...•••...
Setelah ultah tadi malam yang sederhana dan bahagia. Hari ini Roy sengaja tidak membawa mobil dan ikut nebeng bareng Rival yang sudah siap untuk berangkat. Ia berlari kecil untuk menyusul Rival yang ada didepan teras.
"Val tungguin, gue. Gue nebeng bareng lo ya? Pliss."
"Lo ngapain sih gak bawa mobil segala sih kak?" Kesal Rival.
"Ah gak papa kali sekali-kali. Eeeeem, nanti lo ngajak Franda pulang bareng kita ya? Udah lama banget gue sama dia gak sharing kan beberapa waktu lalu gue suka sharing."
"Hah? Lo sharing sama dia? Gak salah nih? Tapi kan kaki lo kasih sakit kan?"
"Iiii----ya sih tapi ya udah gak kenapa-napa kok val, tenang aja lagian naik mobil bukan jalan kaki kan?" Tepuk Roy meyakinkan Rival yang tampak khawatir.
__ADS_1
Rival menatap Roy yang senyam-senyum sendiri. Ia mencium aroma tidak enak sepertinya Roy menyukai seseorang tapi ia belum mengetahui siapa seseorang itu.
"Lo lagi suka sama orang ya kak? Siapa? Cerry?"
"Ah enggak val enggak. Lo sendiri gimana? Oh iya, Franda di kelas pintar, pendiam, suka ngobrol atau kayak gimana?" Tepisnya.
"Em, biasa aja dia itu lemot kak."
"Hah bukannya seru ya? Gue pengen ngajak dia hari ini deh. Lama gak sharing."
"Wah bukannya gue gak mau ya. Tapi gue sama dia satu kelompok kak jadi sorry bukan gue ngelarang dan hari ini gue sama satu kelompok gue buat ngerjain itu. Lo gak ada tugas? Katanya ada?"
"Oh gitu ya udah deh lain kali aja." Jawab Roy yang tidak menanyakan itu lagi.
Mobil mewah terparkir di parkiran kosong. Dengan gaya yang cool,urakan dan keren itulah julukan untuk seorang Rival. Sedangkan rapi, gaya dan cool dimiliki oleh Roy yang merupakan kakak kandung Rival yang satu tingkat diatasnya. Dua gaya yang berbeda dalam satu mobil. Mereka selalu saja menjadi pusat perhatian sekolah ketika mereka datang.
"Sumpah ganteng banget ya."
"Iya gue Rival, lo kak Roy."
"Ah gue kak Roy aja deh."
"Kalau gue Rival aja, secara badmood imut-imut gimana gitu."
Itulah bisik-bisik tetangga ketika Rival dan Roy datang pasti ada saja. Mereka berpisah di kelas masing-masing.
"Kenapa lo liatin bangku Franda? Kangen val?"
"Gue udah bilang kalau kangen bilang jangan sok gengsi val." Lagi lagi Albert mengejek Rival dengan terang-terangan. Rival hanya diam lalu ia menaruh tasnya di bangku.
"Tumben Rival gak nyambar kayak petir sama gledek. Emang lagi kangen." Cibir Rudy.
"Apa dia lagi sakit ya?" Batin Rival yang masih menduga-duga. Ia mengecek jam tangan yang melingkar disebelah kirinya setiap hari bahwa sebentar lagi bel akan berbunyi. Siswa dan siswi pun bertebaran ke kelas mereka masing-masing.
Selama pelajaran berlangsung Rival hanya diam dan memandang bangku kosong itu. Apalagi sekarang di kantin Rival seperti sedang bisu dan puasa bicara.
"Makanan kalau diaduk-aduk gak baik entar lo mau cinta lo dibikin aduk-aduk."
"Lagi mikirin siapa sih?"
"Siapa lagi kalau bukan Franda. Yang sering diejek Rival. Makanya val kalau udah mulai suka ya bilang jangan terlalu dipendam rasa gengsi lo. Baru tau rasa kalau diambil orang mau lo?"
"Duh berisik banget kalian ya." Gebrak Rival yang melenggang pergi begitu saja keluar dari meja makan.
...•••...
__ADS_1
Franda dengan lemas sengaja hari ini tidak masuk sekolah karna kakinya masih sakit. Suara ketukan dari luar terdengar samar suara itu seorang laki-laki. Ia perlahan bangun dari tempat tidur yang dari tadi pagi yang sudah membuatnya bosan. Perlahan ia mengambil sendal di bawah tidur lalu memasangkannya dan perlahan membuka gorden putih yang tertutup di kamarnya ini.
Franda terkejut kehadiran Rival dan Roy yang sudah ada didepan rumah dengan masih baju seragam.
Sang ibu sudah terlebih dahulu membukakan pintu lalu menyuruhnya masuk. Franda gugup kenapa kedua kakak beradik ini bisa ada mampir di rumahnya.
Terlihat di ruang tamu mereka memperhatikan Franda yang berjalan lebih pelan dengan baju piama yang ia pakai.
"Lo kenapa? Kata nyokap lo sakit kaki ya? Belum sembuh?" Tanya Rival dengan ketus tapi sedikit perhatian.
"Lo gak papa kan?" Roy pun ikut menyambar.
Franda tersenyum tipis lalu ia menjawab singkat "Udah gak papa kok cuma sedikit keram doang."
"Oh, lo udah olesin salep atau apa gitu?" Tanya Rival lagi sontak Franda hanya menggeleng santai. Rival berdiri lalu menatap kaki Franda yang menjuntai bebas di bawah sofa.
"Coba gue liat."
"Lo harus dipijat atau apa. Gue gak mau ya salah satu anggota kelompok gue gak hadir nanti disaat persentasi."
"Val kok ngomong gitu? Si Franda lagi sa-----"
"Tante, ada minyak angin atau minyak kayu putih gak?" Mama Franda memberikan minyak kayu putih yang ia ambil diatas kulkas miliknya lalu Rival meneteskan ke bagian kaki Franda yang terkilir.
"Lo jangan baper atau kegeeran gue cuma pengen salah satu ke----"
"Kelompok lo ada yang gak ikut persentasi." Franda sampai hafal dengan ucapan yang sering Rival katakan.
Rival memijat kaki Franda dengan lembut dan memijatnya kearah bawah dengan sejajar. Walaupun ia tidak ahli dibidangnya tapi Rival pernah juga mengalami hal yang sama seperti Franda.
Roy memperhatikan perhatian Rival kepada Franda. Ia lantas tersenyum tipis dan menggerutu singkat dengan apa yang ia lihat.
"Aw, pelan-pelan dong."
"I---ya sorry." Tangan mereka sempat tersentuh singkat lalu melepaskannya.
"Ee, awalnya tadi pengen ngajakin sharing bareng fran tapi taunya lo sakit mungkin kapan kali mungkin fran."
"Wah sayang banget ya kak Roy, aku juga pengen sha----"Rival melotot singkat dan Franda menatap teringat dengan ucapan Rival waktu itu bahwa ia harus menjauh dari Roy dan yang ia ingat bahwa dirinya bukan tipenya.
"Makasih val, kak Roy aku udah gak papa kok. Maka---sih." Franda kalau mengingat ucapan Rival waktu itu ia merasa tersinggung.
"Ee Fran, kayaknya Rival khawatir gitu sama lo pas di mobil dia gak sabar buat ketemu sama lo. Serius gue gak bohong." Ejek Roy yang mencairkan suasana. Rival mencubit paha kakaknya yang comel sekali dan Franda malah bingung dan untung ia hanya diam saja.
Rival menarik napas berat "Ehem, gak mana mungkin gue su-----"
__ADS_1
"Ka sama aku kak." Sambung Franda dengan tegas ia tidak menatap kearah Rival tapi ia benar mengatakan yang ia rasakan.