
"Ayo ta la, Nad. Awakmu kok tego banget karo aku seh? Awakmu kebangeten, Nad. (Ayolah, Nad. Kenapa kamu kok tega banget sama aku? Kamu keterlaluan, Nad)!" ucap Gani mengeluh.
"Tego nyapo lo? Ih arek iki, gilani! (Tega kenapa? Ih anak ini, ngeselin)." Nadia tersenyum menahan tawa.
Bagaimana tidak? Wajah Gani begitu menggelikan ketika merayunya. Sangat aneh. Tidak ada kesan romantis sedikitpun. Tetapi cukup menghibur.
"Tadi adikmu setuju tahu, kalo kita nikah," ucap Gani.
"Mosok? Ngapusi ya! (Masak? Boong ya!)" ledek Nadia.
"Temen, Nad, ga goroh aku! tanya aja kalo nggak percaya! (Bener, Nad, nggak boong aku!)" tantang Gani.
"Coba suruh ke sini anaknya, aku mau tanya!" pinta Nadia.
"Oke, mari aku panggilkan!" balas Gani tak mau kalah.
Gani keluar untuk memanggil Nurman, sedangkan di dalam Nadia tertawa. Sebab ia telah merekam pembicaraan dia dan Gani. Lalu mengirimkannya pada Nurman. Bukan hanya itu, jika Nurman berani mendukung Gani untuk memaksanya menikah atau menindas nya maka Nadia tak akan segan-segan memberikannya hukuman. Terang saja nyali Nurman pun menciut.
"Ni anaknya! Ayo ngomong, Nur. Mau wis janji!" pinta Gani sembari mendorong Nurman. Sedangkan Nurman sendiri sudah merinding oleh ancaman Nadia.
"Ngomong apa, Mas? Nur gak tau opo-opo i!" jawab Nurman sok lugu.
"Nggak tau opo-opo piye sih? Mau loh, sing awak dewe bahas nduk ngarep! (Nggak tahu apa-apa gimana? tadi loh yang kita bahas di depan!)" jawab Gani, gemas.
"Oh, soal itu?" Nurman tersenyum.
"Iyo kui." Gani ikut tersenyum senang.
"Oh oke oke!" Nurman memulai memajukan langkahnya mendekati sang kakak.
Hati Gani berbunga-bunga, sebab ia merasa bala bantuan ada di pihaknya.
"Ada apa, Nur?" tanya Nadia lembut, tetapi Nur merasa pertanyaan itu seperti ancaman nyata baginya. Bagaimana tidak? Senyum Nadia serasa ledekan baginya.
__ADS_1
"Emmm... itu, Mbak... Anu, Mas ini, eh Mas Gani ngajak Nur kerja di Batam. Kalo bisa suruh sambil kuliah. Menurut Mbak, piye?" ucap Nur, gugup.
"Emmm," jawab Nadia santai.
"Iya hehe, soal itu," jawab Nurman, masih takut.
"Eh, bukan cuma soal itu, soal sing sijine Nur, sing sijine... ih piye sih?" Gani menyenggol lengan Nurman.
"Sijine opo, Mas. Ga paham aku!" balas Nurman mengelak.
"Iku loh, Nur. Sing menikah, kawin-kawin!" jawab Gani, mengingatkan.
"Enggak, Nur nggak mau nikah, nggak mau kawin juga. Siapa yang mau kawin, Mas? Nur nggak mau itu!" jawab Nurman, Pura-pura lupa dengan perjanjian mereka. Sebab ia sudah terjebak oleh rasa takut terhadap kakak perempuannya.
"Astaga, Nur! Sini! sebentar ya, Nad!" ucap Gani sembari menarik tangan Nurman, mengajak pemuda itu keluar ruangan. Tentu saja untuk membicarakan misi mereka.
"Apa Mas?" tanya Nurman, memasang wajah tegang.
"Ga wani aku, Mas. Wis diancam. Delok en t**aa. (Nggak berani aku mas, udah di ancam. lihatlah!) " pinta Nurman sembari menyerahkan ponselnya pada Gani.
Gani pun membaca pesan teks itu. Lalu ia menatap Nurman sekilas. Melanjutkan membaca, lalu menatapnya lagi. Di detik berikutnya Gani pun memberikan Nurman penawaran.
"Uang jajanmu satu bulan berapa?" tanya Gani.
Nurman meminta kembali ponselnya, lalu menunjukkan bukti transfer yang dikirim Nadia kepadanya setiap bulan.
"Ohhh, cuma segitu. Kecil. Kalo kamu berhasil bujuk mbakmu, aku tambah dua kali lipat. Segitu kali tiga bulan, aku bayar malam ini juga. Gimana? Wani?" Tantang Gani.
"Wiiiissss.... mantap iki. Wani lah kalo bayarane cocok ngene (begini)? Tapi ngapusi ora (bohong tidak)?" tanya Nurman, tentu saja dengan gaya meledek, ala-ala anak SMA.
"Aku ga kate ngapusi (aku nggak bakalan bohong), demi cinta, harus berani!" jawab Gani tanpa sadar.
"Wisssss... cocok pakmu, budal!" jawab Nurman semangat.
__ADS_1
"Tapi kudu kasil, Rek! Ga kasil cancel! (Tapi harus berhasil, nggak berhasil, batal)!" balas Gani.
"Percoyo karo aku, Mas. Wis ta la, kasil kasil. (percaya padaku, mas. pasti berhasil)," jawab Nurman penuh percaya diri.
"Tenan lo yo, awas ngapusi!"
"Siap, bosquee... aman. Ehhh... tapi Mas! Ngomong-ngomong temen iki a? (seriusan ini, Mas)?" tanya Nurman.
"Serius?"
"Mas banyak duit dong? Mas orang kaya dong?" tanya Nurman, dengan wajah keheran-heranan tentunya. Jujur baru kali ini dia bertemu dengan seseorang yang punya uang banyak. Bahkan bisa kasih dia uang jajan tiga bulan full kali dua kali lipat. Bukankah ini emejing (amazing).
"Hari ini, demi kamu aku kaya. Crazy Rich pokoknya. Crazy-nya sudah Rich-nya belum?" jawab Gani sembari terkekeh.
"Mas bisa aja, tapi bener ya ini. Janji, kerja keras ini!" tawar Nurman.
"Iya, janji. Kalo mbak mu bilang oke, mau nikah sama aku, uang langsung masuk rekening. Tanpa ditunda lagi, gimana?" balas Gani.
"Wiisss... mantap. Transaksi beginian ni, suka aku, Mas!" celetuk Nurman.
"Dasar adik ipar laknat!" umpat Gani.
"Demi uang, Mas. Kapan lagi aku punya hepeng(duit) banyak, ya kan?" balas Nurman, kembali terkekeh.
"Cepet jalan, awas gagal!" ancam Gani.
"Eeheeemmm... Bismillahirrahmanirrahim... Ya Allah Ya Tuhanku, jodohkanlah mereka. Biar aku kaya! Eh... " ucap Nurman, seketika memukul mulutnya karena menyadari betapa bodoh dan lugunya dirinya. Sedangkan Gani malah tersenyum, sebab Nurman sangat mirip dengan Nadia. Begitu kocak dan apa adanya.
Seandainya Nurman tidak berhasil pun, ia sudah berniat memberikan anak ini uang jajan. Sebab ia tahu, sejak Nadia berada di Batam, gadis itu belum mengirim uang untuk adiknya. Terlihat dari transaksi yang Gani periksa tadi.
Gani jadi kasihan dan bertanya-tanya, dari mana Nurman bertahan hidup selama sebulan ini. Tanpa uang dari kakak perempuannya.
Bersambung...
__ADS_1