
Perjalanan.
Penyesalan itu akan datang disaat yang belum tepat, konsekuensi yang harus ditanggung. Memang itu adalah sebuah jalan, tapi bukan jalan yang akan menjadi jalan yang lurus juga butuh sebuah perjuangan.
Rival sengaja memberikan hal ini untuk Franda agar Franda yakin akan itu, ia benar-benar sungguh akan itu. Bukan lah itu lebih baik?
Setiap orang pasti memiliki caranya tersendiri untuk jadi jauh lebih baik atau merubah pasangannya tapi ya sudahlah mungkin jalan mereka untuk menetapkan hati.
^^^Untuk Franda,^^^
^^^Maaf jika selama ini aku bukan yang terbaik,^^^
^^^Bukan pilihan yang tepat,^^^
^^^Kita pun mengikat rasa suka pun di gudang ya?,^^^
^^^Aneh memang tapi ya sudahlah itulah yang mungkin ada rasa kesan diantara itu,^^^
^^^Maaf, jika aku terlalu egois, pemarah atau hal yang membuat kamu tidak berkenan akan cinta,^^^
^^^Tapi memang rasa itu menjurus untuk takut akan kehilangan,^^^
^^^Benar adanya,,,^^^
^^^Karna sebuah alasan yang menjadi sebuah dominan akan segala...^^^
^^^-Rival^^^
Setelah,
Setelah video itu dilihat dan Franda tidak mendapatkan itu saja tapi mendapatkan surat yang sedikit aneh dengan kata-kata yang dibuat oleh Rival. Seketika adalah aneh, ia mencermati setiap kata perkata yang ia buat.
"Val maaf val, bukan cara terbaik sebenarnya menyakiti hati lo. Tapi dengan keputusan ini lo malah membuat gue semakin bersalah dengan kesalahan yang gue buat sendiri. Val gue janji kalau gue bakalan membuat lo bahagia... bahagia... sama Rubi." Franda masih menggenggam surat yang diberikan oleh Rival. Tulisan yang mungil dengan kata yang penuh makna.
...•••...
Berpapasan,
Ya seperti itu adanya...
Franda dan Rival kembali diposisi yang semula, saling beradu tatap dengan dingin. Langkah yang semakin cepat, tidak ada senyum yang terlintas. Kedua lirikan bola mata yang baik dan dingin begitu saja. Bahkan membuat Rudy, Bima dan Albert juga bingung.
"Mereka kenapa?"
"Berantem kali!"
"Mereka putus!" Bisik Albert karna semalaman Rival curhat ke Albert sepupu yang tau betul perjalanan Rival dan Franda selama ini.
"Hah?" Rudy dan Bima menampilkan ekspresi yang tajam sekali, ekspresi terkejut.
Rasa sakit membutuhkan waktu untuk sembuh, membiasakan jalan yang terus akan berjalan. Ada pelangi dibalik badai, ada pertemuan disaat akan akan perpisahan.
Memang ada dijalan, Maaf ada kata yang sebenarnya. Hanya Tuhan yang paling mengerti itu apa waktu, cinta dan pengorbanan.
Dan apabila,
Sudah jalannya tiba dalam keseriusan,
Tapi memang.. luka butuh waktu untuk sembuh.
__ADS_1
Dan sembuh tidak membutuhkan luka untuk hadir.
***
Siapkah?
Siapkah untuk memulai sesuatu yang baru, Ya siap. Franda mempercepat langkahnya ketika pulang sekolah sebelum Rival keluar. Ia sengaja tidak menyapa atau hal lain, Cerry adalah sahabat yang selalu mendukung keputusan Franda apapun itu. "Kejar val, sebelum lo terlambat." Ucap Albert yang berbisik pelan tepat di telinga Rival.
Dan dengan cepat Rival mengambil tas yang ada diatas meja dan mengejar Franda yang sudah keluar dari pintu gerbang. Siswa dan siswi keluar dari pintu gerbang lumayan banyak karna jam pulang yang berbarengan.
Roy melihat gerik Rival yang mengejar Franda, ia hanya berdiri melihat Rival kearah sana.
"Mending lo ikutin Franda deh Roy kayaknya belum jauh, tanyain dia apa maksudnya buat mutusin Rival."
"Hah putus? mereka putus?"
"Kok bisa?" Lanjut Roy yang bingung Rival sama sekali tidak bercerita karna mereka sekarang udah jarang banget buat curhat.
Franda?
Ya semenjak Rival pacaran sama Franda dan Rival juga tau kalau kakaknya itu juga menaruh hati ia pun terus menjauhkan diri apalagi bercerita tentang Franda karna ia sangat tau sekali kalau itu akan membuat Roy iri dan membuat Rival juga takut Roy mengambil Franda darinya.
Roy mengambil tasnya dan mengejar Franda yang pasti melewati jalan itu, ya jalan kecil yang pasti tidak akan pernah muat oleh mobil hanya penjalan kaki saja dan motor yang saling berselisih.
Dari depan terlihat sekali kalau Rival mengikutinya. Tapi Roy memasuki gang kecil yang tidak akan muat dengan mobil.
"Kak Roy?"
"Mending naik karna Rival nunggu lo diseberang sana."
"Kok kakak pake jas hujan kenapa?"
"Lucu banget, ini gara-gara kalian berdua. Lo kenapa putus sama Rival?"
Deg! Ia hanya bisa diam dan tidak bisa menjawab. Roy pun hanya bisa tersenyum, dan tidak mau menanyakannya lagi.
Rival sudah menunggu gang yang satu-satunya tidak ada siapa-siapa karna tidak mungkin kecepatan jalan kaki dengan mobil jauh lebih cepat jalan kaki mustahil sekali. Ia menarik nafas lelah dan menjalankan kembali kemudinya.
***
"Langsung ke poinnya aja, lo kenapa putus sama Rival?"
"Eem. Ya udah aku pulang dulu ya." Tapi Roy tidak ingin jawaban itu, ia menahan tangan Franda dengan cepat.
"Gue gak bakalan marah dan gue gak bakalan jadi adu domba lo sama Rival. Jawab aja sejujur-jujurnya ya gue tau kalau gue bilang ke Rival pasti marah."
"Ya udah kak aku pulang aja." Sekiranya itu seperti sebuah ancaman.
"Gue gak ngancam lo, Udah sini jelasin fran. Fran, ayo gue bakalan dengerin semua penjelasan lo." Lanjut Roy yang meyakinkan ucapannya itu. Franda kembali ke posisi Roy berdiri.
"Ayo cerita."
"Gini kak, aku gak berani ketemu langsung sekarang. Aku takut kalau misalnya dia marah, apalagi kakak kan tau kalau Rival itu gitu."
"Trus?"
"Ya keputusan aku memang mendadak, tapi aku kepengen semua gak ada yang tersakiti kak makanya aku putusin langsung sepihak. Mungkin Rival bingung disaat dia sudah berubah trus diputusin tanpa ada alasan yang jelas."
"Tapi lo cinta gak sama Rival?" Pertanyaan macam apa ini sangat-sangat menyudutkan sekali. Franda hanya bisa menunduk bingung.
__ADS_1
"Eeem, gimana ya kak. Aku gak tau."
"Guw tanya sekali lagi lo cinta gak sama Rival?"
"Jawab aja fran, biar lo lebih lega kalau ngomong jujur."
Ia menarik nafas berat, dan melirik kearah Roy dengan singkat sekitar tiga detik.
Ia menggeleng pelan.
"Enggak maksudnya?"
"Iya kak. Maaf."
Roy masih tidak percaya, tapi itu benar yang keluar dari mulut Franda.
Ia tersenyum, antara bahagia dan bingung kelebih tepatnya seperti itu. Berarti otomatis ads peluang untuk bisa masuk kedalam perasaan Franda.
"Trus siapa yang lo sayang? Boleh gue tebak? gue kan pasti!!" Canda Roy dengan santai agar tidak terlalu tegang.
Mata Franda melolot. "Iya kak. Tapi gak mungkin kak Roy suka sama aku, kan kak Roy sukanya sama kak Manda." Gumamnya.
"Kak Roy bisa aja, jangan kasih tau Rival ya kak."
"Iya, takut banget sih." Roy mengacak-acak puncak kepala Franda dengan gemas.
...•••...
Rival hanya diam diruang makan menyantap makanan dengan mata yang datar, Tiffany bingung dengan sikap Rival. Karna ia tau sekali Rival dan Roy satu sekolah otomatis Roy sangat tau apa yang sebenarnya terjadi. Ia melirik kearah Roy dengan memberikan kode. "Gak tau?"
"Pasti ada yang gak beres." Batin Tiffany. Ia tau sekali kalau soal percintaan apalagi yang berkaitan dengan hati. Ia pun bisa merasakan hal itu.
"Mau kemana lo val." Roy terkejut sekali ketika ia tersentak melihat Rival menarik kursi dengan keras tepat disebelahnya.
Tapi Roy hanya diam saja, ia tau sekali kalau Rival baru saja diputusin sama Franda orang yang ia juga suka. Cinta terlarang memang tapi bicara soal hati susah.
"Kenapa kak?"
"Gak tau kok, mana gue tau lo mending tanya aja sama dia. Kan lo cewek mungkin pertanyaan lo akan dijawab dia." Suruh Roy kepada Tiffany agar ia mendatangi Rival di kamar.
Tiffany mencoba untuk masuk kedalam kamar Rival, ia sangat jarang sekali masuk kesana dan kalau pun masuk paling ada hal penting saja.
"Val boleh gue masuk?"
"Hem."
"Lo kenapa val?"
"Lo tanya aja sama kembaran lo itu."
"Hah? Kak Roy?"
"Gue baru putus sama Franda, mungkin dia tau!"
"Loh gue makin gak ngerti deh. Coba jelasin?"
"Udah deh lo gak bakalan ngerti, gue pengen sendiri tiff. Udah sono lo tanyain ke dia."
Tiffany tidak mau memaksakan kehendak mengorek informasi dari Rival, ia pun keluar dari kamar Rival. Masih bingung dan aneh sekali.
__ADS_1