
Seminggu setelah kepergian Bima.
Tidak, itu bukan suamiku...
Kata itulah yang selalu keluar dari mulut Vita. Bahkan kata itu juga yang ia ucapkan setiap diminta makan atau melakukan hal lain, seperti mandi dan sebagainya.
Sera yang saat ini yang saat ini begitu setia mendampingi keponakannya ini, terlihat begitu sedih. Sangat sedih. Apa lagi, Vita selalu mengumamkan kalimat itu berulang-ulang. Seakan tidak bisa menerima kepergian sang suami.
"Vit, apa kamu tahu? Saat ini Bima ingin melihatmu makan?" bujuk Sera.
"Bagaimana mungkin? Bima nggak ada di sini," jawab wanita ayu ini, santai. Masih berbaring meringkuk, setia memeluk dengan guling milik pria itu.
"Eeee.... siapa bilang? dia ada kok, di hati kamu." Sera tersenyum.
"Vita ingin wujudnya," jawabnya lagi.
Sera speechless. Tak bisa lagi membalas ucapan Vita. Sera sangat tahu bagaimana sakitnya Vita saat ini. Tapi Vita harus bangkit, hidup tidak bisa berhenti di sini.
"Vit, Tante tahu... kamu sangat sayang sama Bima. Tapi hidupmu nggak bisa berhenti di sini. Ingat ratusan anak asuhmu, membutuhkan uluran tanganmu. Ingat ada juga ribuan karyawan yang menggantungkan nasibnya padamu. Mereka membutuhkanmu yang kuat, yang tegar, yang bisa legowo dan ikhlas menerima takdir. Bukankah kamu tahu, jodoh dan maut itu milik siapa. Oke, gini... jika kamu percaya, bahwa Bima masih hidup. Maka carilah. Buktikan pada Tante bahwa dia masih ada. Tante pun tidak akan menghakimi kamu soal ini. Tapi, dengan catatan, kamu harus bangkit. Sesuai dengan apa yang dikatakan Juan dan Om Laskar, keterpurukan mu adalah celah terbaik dari musuh untuk menyelinap masuk ke dalam perusahanmu. Kamu harus ingat itu," ucap Sera, mengingatkan.
Vita memang diam, tapi kalimat demi kalimat yang Sera ucapkan, berhasil masuk ke dalam memorinya.
Vita tahu, jika apa yang menimpa sang suami pasti ada sangkut pautnya dengan mereka. Sera benar, Vita tidak boleh terpuruk. Ia harus kuat. Harus bisa melawan bajingan-bajingan yang berani mengusik hidupnya.
"Tan."
"Heemm!"
__ADS_1
"Vita mau makan," ucapnya.
Meski tatapan yang Vita tunjukkan masih kosong, Sera cukup senang. Setidaknya apa yang ia ucapkan ditangkap baik oleh perasaan Vita. Sehingga wanita cantik ini mau mengubah mensetnya. Untuk tetap melanjutkan hidup.
Di sini bukan hanya Sera yang terus berjuang menumbuhkan rasa kepercayaan diri untuk Vita. Ibu mertua dan juga adik iparnya pun senantiasa ikut membujuknya agar dia menjadi wanita yang kuat. Wanita yang tegar. Bisa legowo dengan alur kehidupan yang telah diciptakan untuknya.
"Syukurlah, Vita udah mau makan. Meskipun nggak banyak," ucap Lastri dengan mata sembamnya.
"Iya, Tri. Semoga dia bisa menerima ini. Aku tahu ini sangat berat baginya. Terlebih saat ini lagi hangat-hangatnya. Aku sih berharap, Vita bisa segera menerim kepergian suaminya. Kasihan dia!" ucap Sera pada Lastri, yang tak lain adalah sepupunya.
"Awalnya aku sangsi menjodohkan mereka, Mbak. Aku takut mereka saling membenci. Mengingat Bima begitu kerasnya menolak perjodohan itu. Aku sama sekali tidak menyangka, kalau Vita bisa mencintai putraku sedalam itu, Mbak. Sungguh, aku sama sekali nggak nyangka!" ucap Bu Lastri lagi.
"Semua kan berproses, Mbak. Aku rasa sikap saling menerima adalah jawaban dari apa yang sebenarnya kita risaukan. Nyatanya mereka bisa saling mencintai seperti itu," jawab Sera, seakan mendukung apa yang membuat Lastri bahagia. Meskipun saat ini, sebagai ibu, hatinya benar-benar hancur.
Andai waktu bisa diputar kembali, Lastri akan meminta pada Sang Pemilik Hidup, agar mengambil saja nyawanya. Jangan putranya. Andi boleh!
***
Di rumah sakit itu ada kedua orang tua Gani yang setia menunggu buah hati mereka dan ini adalah pertama kalinya Juan bertemu dan bercengkrama dengan mereka.
"Saya minta maaf atas apa yang terjadi pada putra, Bapak dan Ibu. Saya sangat menyesal. Tapi musibah ini murni kecelakaan, Pak, Bu," ucap Juan santun.
"Kami mengerti, Pak Bos. Bapak tidak udah merasa tak enak begitu. Semoga saja Gani bisa melewati ini semua. Sebab bukan kami saja yang sedih kalo terjadi apa-apa pada anak itu. Tapi juga calon istrinya. Kasihan dia," ucap ayah Gani.
"Calon istri? Bukankah mereka sudah berpisah?" Juan mengerutkan kening heran.
"Anu, Pak. Kalo sama yang calon dokter itu, memang nggak jadi. Ini sama yang hari itu ada case sama dia," saut Ibu Lani.
__ADS_1
"Ada case? Sama dia? Siapa ya?" Juan merasa seperti ketinggalan sesuatu.
"Namanya Nadia, Pak Bos, iya sama dia," ucap Bu Lani malu-malu.
"Hah? Sama cewek yang ditabrak sama dia beberapa bulan yang lalu?" tanya Juan, terkejut. Tidak menyangka saja.
"Iya, Pak Bos. Sama dia," jawab ayah Gani lagi.
"Oh, ya mending lah sama dia. Dari pada sama yang lama. Saya pribadi lebih suka sama yang ada case sama dia. Anaknya kalem, lemah lembut. Nggak neko-neko. Insya Allah bisa ngerti Gani yang punya sifat agak keras," ucap Juan.
"Bapak benar, Ngadepin Gani ini harus tahu celahnya. Kalo nggak bisa buyar. Anaknya lembut sebenarnya. Cuma ya gitu, suka ngambek. Apa-apa ngambek." tangis Bu Lani kembali pecah, mana kalau ia ingat masa lalu yang putra.
"Sabar, Bu. Gani pasti sembuh. Dokter bilang alat vitalnya oke. Hanya tunggu dia sadar saja. Semoga dia cepat sadar," ucap Juan.
"Sebenarnya kami ingin membawa pacarnya ke sini, Pak Bos. Cuma kami, anu Pak Bos. Ah nggak pa-pa," ucap ayah, Gani. Tak nyaman ingin membicarakan perihal biaya.
"Tenang aja, Pak. Insya Allah saya sudah mencarikan rumah sakit terbaik di Surabaya. Nanti Nadia bisa nemenin dia di sana. Bapak sama Ibu tinggal di apartemen saya saja, biar hemat biaya. Masalah lain-lain nanti biar asisten saya yang ngurus," ucap Juan.
"Waduh, terima kasih, Pak Bos. Kami jadi sungkan," ucap ayah Gani.
"Jangan sungkan Pak. Ini sudah kewajiban kami. Gani ikut saya kan nggak setahun dua tahun. Dia ikut saya sudah sangat lama. Udah saya anggep adek sendiri. Cuma, mohon maaf kalo saya lancang. Tapi saya sedikit curiga, apakah benar ibu sama bapak ini, emmm itu.... " Juan menatap kedua orang tua Gani. Sebab jujur ia curiga. Takut mereka hanya ngaku-ngaku orang tua Gani. Takut mengambil keuntungan dari kasus ini.
"Emmm, begini Pak Bos. Kami sama sekali tidak bermaksud menutupi. Tetapi dengan Gani sendiri, kami pun belum berani terbuka. Kasihan Pak Bos," ucap ayah Gani lagi.
"Oh, jadi?" Juan menatap penuh pertanyaan.
"Iya Pak Bos. Apa yang ada di pikiran Pak Bos saat ini adalah benar. Kami bukanlah orang tua kandung Gani. Tapi soal kasih sayang, kami tulus Pak Bos. Demi Tuhan!" tambah Bu Lani.
__ADS_1
Juan langsung terdiam. Speechless aja. Entahlah, ternyata asisten pribadi itu ternyata memiliki rahasia yang dia sendiri tidak tahu. Juan berharap setelah Gani sembuh, alangkah baiknya kedua orang tua ini mau terbuka dengan Gani.
Bersambung...