Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - DIOR & GRACIA PART 5


__ADS_3

Gadis itu masih berdiri di sana di dampingi bibinya dan kakak sepupunya di belakangnya. Tangannya telah berpaut dan hawa dingin melingkupi di sekitarnya. Ada perasaan takut di sekujur hatinya kalau kalau Pamannya akan menolak apa yang ia bawa. dia membuatnya dengan ketulusan, entah apa yang akan terjadi jika pamannya benar benar tidak mau kenerimanya. Di dalam hatinya sudah menangis dan sebenarnya ia menahan tangis itu di belahan belahan kelopak matanya. Dia hanya tidak ingin kecewa. Namun, jika itu terjadi dia juga tidak bisa berbuat apa apa.


"Waahhh Gracia! Sejak kapan kau memasak? Pasti ini sangat lezat ya? Ayo kita mencobanya!" Kata Pammy kemudian memecah ketegangan di antara mereka. Suaminya masih tertegun di sana dengan tatapan yang dingin terhadap keponakan tercintanya.


"Morgan! Ayo kita coba! Suamiku, ayolah!" Ajak Pammy lagi.


"Ah iya, kebetulan aku belum sarapan mom!" Saut Morgan menghamburkan dirinya ke kursi makan.


"Gracia, ayo! Apa yang kau bawa? Aku sudah tidak sabar!" Kata Pammy lagi dan ketika Gracia hendak menuju ke meja makan ..


"Jangan ada yang menyentuh makanan itu! Makanan itu tidak pantas ada di meja makan itu. Kami hanya memakan makanan yang disajikan tulus bukan karna hanya ada maksud tertentu." Tiba tiba Marcel berdecih seperti itu.


Sontak Pammy dan Morgan melotot ke arah Marcel. Sedangkan Gracia? Dia sudah menjatuhkan air matanya yang sejak tadi tertahan.


"Marcel! What do you say? Are you crazy?" Celetuk Pammy shock dengan kata kata tajam yang suaminya lontarkan.


"Diam kau! Di sini aku yang menjadi kepala keluarga dan begitulah sejak lalu lalu! Aku yang memberi kalian makan, tapi kalian juga yang membangkang terhadapku, termasuk anak kecil di depanku ini! Dan lagi kau Gracia? Sejak dulu kau selalu seperti ini, sangat mudah dipengaruhi. Sekarang kau mau saja mengikuti orang orang tamak itu untuk menyogokku dengan makanan makanan mereka. Aku yakin bukan kau yang memasak karna kau tidak bisa masak dan tidak suka memasak. Hah ada lagi, mereka juga mengajarimu menjadi pembohong ya? Gracia Gracia .. sebaiknya kau pindah kembali kesini dan lupakan mereka! Paman akan mencarikanmu pasangan hidup sama seperti si Prime tengik itu bahkan lebih. Bagaimana?" Kata Marcel seenaknya dan hanya ingin membuat Gracia semakin terbeban dan memikirkannya.


"Dad .. " panggil Morgan mencoba memperingati perkataan ayahnya yang pasti sangat menyakitkan Gracia. Bagaimana kalau benar Gracia yang memasaknya? Karna Morgan sempat melihat di daerah punggung tangan Gracia terdapat cukup banyak goresan yang kemerahan.


"Kalau tidak mau dimakan bahkan disentuh, dibuang saja. Aku tidak keberatan. Semua yang kubawa bukan untuk menyogokmu, melainkan hanya untuk membuka jalan pikiran paman dan hati paman agar mau kembali berbaur dengan kami. Bersama sama dengan kasih. Tapi jika paman merasa seperti itu, lakukanlah sesuai pemikirian paman. Aku permisi ." Kata Gracia tersenyum dengan deraian air matanya, ia pun meninggalkan rumah itu.


"Hah, seseorang yang terus menjadi pemikiran mu beberapa malam ini sudah datang kesini, membawa makanan namun kau membuatnya kembali pergi. Aku membuatkanmu makanan supaya perutmu kenyang. Bukankah itu juga termaksud ada maksud dari semua yang kuberikan padamu? Jadi, kau jangan lagi makan makananku! Aku mogok makan dan MEMASAK!" Decak Pammy yang merasa sangat kesal dengan suaminya. Dia pun menyusul Gracia yang sudah berjalan dengan sangat cepat.


"Hem Dad, kau semakin tidak mendengarkan pesan Grandpa, ckck sampai kapan kita seperti ini? Gadis periang itu kembali kau buat menangis seperti anak kecil. Hem .. " sungut Morgan menyesali perkataan ayahnya pada Gracia. Dia juga keluar karna hendak berolah raga.


Sementara Gracia terus berjalan dengan cepat sambil memegang dadanya dan menunduk. Dia menuruni tangga teras pekarangan rumah pamannya itu dan menuju ke mobil Dior. Dior sudah melihatnya dan menghembuskan napasnya mengerti pasti akan seperti ini. Marcel pasti telah mengatakan kata kata yang seharusnya bisa ia kendalikan dan menghargai Gracia.


Dior hendak menuruni mobil ketika Gracia sudah menyebrang dan gadis itu tidak melihat ke kanan dan ke kiri. Dia terus menyebrang sampai tidak mengetahui kalau sebuah mobil melintas menyerempet dirinya percis di depan penglihatan Dior yang baru saja keluar dari mobil.


"GRACIAAAA!!!!" Teriak Pammy dengan cepat menuruni tangga pekarangan rumahnya.


Gracia terpelanting. Kakinya terkilir ketika terdorong oleh mobil yang menyerempet dirinya. Dia tersungkur di sisi jalan dan tak sadarkan diri. Dior dengan cepat menghampirinya.


"Gracia?! Shit!" Decak Dior tak melanjutkan. Dia segera menggendong kekasihnya itu ke mobilnya.


"Aku ikut Dior, biar dia bersamaku di belakang mobil, cepat cepat!" Kata Pammy dengan linangan air matanya.


"Ada apa ini? Gracia kenapa Dior?" Tanya Morgan yang juga sudah menuruni tangga pekarangan rumahnya.


"Sebuah mobil menyerempetnya." Jawab Dior singkat.


"Oh God! Pasti dia tidak melihatnya karna terlalu kalut." Kata Morgan segera ke pintu penumpang mobil membukakan pintu untuk Dior meletakan sepupunya itu. Pammy sudah bersiap di dalam mobil. Dior segera ke kursi pengemudinya dan Morgan pun ikut bersama mereka.


Sementara Marcel di dalam merasa mendengar sesuatu namun dia mengukuhkan dirinya untuk menginjakan kakinya dekat meja makan itu. Sedikit dia melirik apa yang sudah disediakan keponakannya. Dia menghirup aroma yang menguar sampai kepada indera penciumannya. Marcel memastikan keluar sepertinya istri dan anaknya tidak akan kembali. Dia pun memakan satu chicken steak kesukaannya itu. Dia menyunggingkan senyumnya. Sungguh lezat dan ada hati yang tersayat ketika dia mengingat kata kata pedas dengan penuh penekanan yang ia balaskan pada keponakannya. Kata kata itukah balasan dari semua kelezatan yang ia sukai? Pikirnya menundukan kepalanya. Pria paruh baya itu sedikit meneteskan air matanya. Tidak seharusnya dia seperti ini.


Sepanjang perjalanan Gracia malah mengigau mengatakan kalau pamannya tidak menyayanginya lagi. Sementara Dior tetap mengemudi dengan serius. Wajahnya menegang dan tatapannya sangat tajam. Pegangan tangannya pada kemudinya begitu kuat. Aura kekhawatiran, ketakutan dan kemarahan bercampur jadi satu yang dirasakan Morgan pada Dior. Dior diam seribu bahasa tidak mengatakan apapun. Dalam benaknya dia memang harus membuat perhitungan pada pria paruh baya itu, namun dia bahkan jauh lebih muda. Dior ikut kalut dan memikirkan apa yang menjadi beban kekasihnya.


"Dior? Calm dawn!" Morgan berdecih mengingatkan.


Dior menggeleng tanpa suara. Sesekali dia menyeka keringat pada pelipisnya. Hawa panas dalam tubuhnya benar benar menguras tenaganya. Dia sangat tahu apa yang dilakukan kekasihnya itu tulus adanya dan untuk mengubah cara berpikir pamannya, tapi ini yang terjadi. Dior merasa ini sebuah hal yang sia sia. Dia bisa menikahi Gracia tanpa restu pria itu. Dior tidak peduli. Dia yang akan menjadi pendamping Gracia. Namun, kembali lagi, Dior sangat menghargai apa yang diinginkan calon istrinya itu. Sebisa mungkin dia ingin menunaikan apa yang menjadi keganjalan hati Gracia. Kalau hal tersebut dapat membuat wanitanya ini bahagia, dia akan melakukannya. Tapi malah kesakitan ini yang Gracia rasa. Ada perasaan tidak mau mempedulikan dan melaksanakan apa yang sudah seharusnya saja, pikir Dior.


Dior membawa Gracia ke ruang gawat darurat rumah sakit pusat kota Legacy. Gracia segera diperiksa. Luka luka pada kaki dan tangannya segera dibersihkan dan dibalur antiseptik. Luka luka tersebut tidak terlalu parah dan kepala Gracia juga tidak terbentur karna ia menahannya dengan tangannya tadi. Namun, pada bagian kakinya menjadi perhatian sang dokter yang memeriksa.


"Tuan, sepertinya kaki nona ini terkilir sehingga mengalami angkle. Ini akan menjadi sembuh selama satu minggu." Kata sang dokter memberitahu kondisi kaki Gracia yang agak membengkak.


"Satu minggu?" Selidik Dior pelan.


"Iya Tuan."


"Apa yang perlu dihindari? Karna dia seorang penari." Tanya Dior untuk mengantisipasi keadaan kekasihnya nanti.


"Ya, sebaiknya hindari melakukan gerakan atau jalan yang berlebihan. Kompres beberapa kali dengan air hangat agar bengkaknya mengecil. Dan sepertinya, Nona terkena demam. Sebaiknya bed rest terlebih dahulu atau rawat inap tuan." Kata sang dokter lagi memberikan pelayanan terbaik.


Dior mengusap dahinya. Gracia pasti kelelahan dengan semua pemikiran dan kegiatan yang ia jalankan secara bersamaan.

__ADS_1


"Baiklah dok. Terimakasih atas pemeriksaannya." Ucap Morgan yang juga ada bersama Dior dan dokter itu.


"Sama sama Tuan. Kalau nona sudah sadar, segera hubungi perawat agar di periksa lebih lanjut. Seharusnya ini tak akan lama. Dia hanya kelelahan dan terlalu banyak berpikir jadi semuanya mempengaruhi kondisinya." Tutur sang dokter lagi.


"Ya, kami mengerti dok!" Saut Morgan mewakili Dior yang tampak sangat cemas dengan Gracia.


"Baiklah, saya permisi." Kata sang dokter dan meninggalkan mereka.


Dior menghampiri Gracia di sampingnya mengelusi dahinya. Pammy sudah menangis dan ijin keluar bersama Morgan. Mereka hendak memberi waktu untuk Dior.


"Gracie, sadarlah!" Kata Dior pelan. Dia mengecupi dahi Gracia dan akhirnya duduk di sampingnya sambil memegang tangan wanitanya itu. Dia pun menghubungi Revo mengenai apa yang dialami anaknya.


"Mengapa bisa terjadi Dior?" Tanya Revo di sebrang sana.


"Dia tampak sedih setelah keluar dari rumah paman Marcel. Dia tidak melihat mobil yang hendak melintas, sementara diriku baru saja mau keluar paman." Jawab Dior tetap dalam suara yang tenang.


"Baiklah aku akan segera memberi tahu orang rumah dan akan segera kesana. Kalian dimana?" Tanya Revo lagi dengan kepanikan sudah menyelimuti dirinya.


"Masih di ruang gawat darurat Paman, Gracia belum sadarkan diri." Jawab Dior.


"Jaga dia untukku Dior. Aku akan segera datang."


Revo mematikan panggilan. Dia sangat panik. Dia sudah yakin ini ada hubungannya dengan sepupunya. Dia segera memberitahu Viena dan sekitarnya. Mereka pun ikut panik dan juga mau menemui Gracia ke rumah sakit.


Sementara Dior masih memegangi tangan kekasihnya. Tak berapa lama, tangan Gracia bergerak. Dia seperti hendak memegang keningnya karna sedikit nyeri. Dior langsung memandanginya.


"Gracia, kau bisa mendengarku?" Tanya Dior lirih.


"Ada apa denganku kak?" Tanya Gracia kembali mencoba membuka matanya.


"Kau terserempet mobil."


"Ya Tuhan, tubuhku lemas sekali kak dan kaki ku, mengapa nyeri sekali kak?" Gracia mulai nerasakan sakit disekujur tubuhnya.


"APA?!!!!" Teriak Gracia hendak mendudukan dirinya dan Dior sedikit menahannya.


"Tenanglah Gracia, ini hanya seminggu, tidak lama!" Kata Dior mencoba mengusir kepanikan Gracia.


"Aku memiliki tugas akhir bulan kak dan ini sangat penting bagiku, huhu.." Gracia menangis dipelukan Dior.


"Masih ada tugas akhir berikutnya Gracie, tenanglah ya?" Dior mengelus lembut punggung kekasihnya itu.


Gracia tidak menanggapi. Dia terus menangis juga mengingat perkataan menyakitkan dari pamannya.


"Kau memikirkan pamanmu bukan tugas akhir kan?" Gumam Dior.


"Dia tidak mau memakan masakanku kak. Dia tidak percaya kalau bukan aku yang memasak. Katanya dia hanya mau memakan makanan dari orang orang yang tulus padanya. Aku tulus kak, aku tulus membuatkan untuknya. Mengapa dia sejahat itu padaku? Mengapa sebegitunya dia membenci kita kak? Aku hanya menginginkan restunya. Kakak, aku ingin bersamamu tapi juga ingin membuat semua orang bahagia. Ini permintaan mommy, mengapa paman sangat tidak mengerti?" Sungut Gracia dalam tangisnya.


"Sudahlah Gracia! Sudah, jangan menangis, nanti kau semakin demam. Kau terlalu banyak berpikir. Seharunya kau tidak usah lagi memikirkan orang yang mengecewakanmu sayang. Kita tetap bisa bertunangan dan menikah. Kau tenang saja. Sekarang diamlah, biar ku panggilkan perawat untuk memeriksa mu ya?" Tutur Dior menenangkan dan mengelus punggung Gracia. Dia lalu menarik diri dan memanggil perawat untuk memeriksakan Gracia.


Setelah diperiksa, Gracia memang tampaknya harus dirawat untuk beberapa hari. Gracia lalu dipindahkan ke ruang perawatan. Sejak dipindah, Gracia menjadi terdiam. Dia menjadi mengingat ibunya. Dia terus memandang ke arah kaca. Dior tidak pernah meninggalkannya. Sampai ayahnya datang bersama Viena, Dion, Lexa dan juga Leon.


"Gracia?" Panggil ayahnya. Gracia tidak bergeming. Dia terus terdiam dan memegang foto ibunya yang ada di dompetnya.


"Gracia jangan seperti ini, ini dad, Gracie?" Kata Revo meraih tangan Gracia.


Gracia akhirnya menoleh. Dia meneteskan air matanya. Dia bersedih dan benar benar tidak menyangka dengan prilaku pamannya yang sangat sulit sekali. Revo pun memeluk Gracia. Dior masih memandanginya.


"Biarkan aku bicara pada Paman Marcel. Ini sudah keterlaluan!" Decak Dior dan dia hendak keluar namun Dion ayahnya menahannya.


"Lebih baik kau menjaga Gracia. Buat dia bahagia. Seiring berjalannya waktu, Marcel pasti mengerti. Tenang saja. Sekarang tugasmubterus meyakinkan Gracia nak!" Kata Dion dengan semua kebijaksanaannya.


"Dad, kakiku bengkak, aku tidak bisa menari, aku juga akan melewatkan tugas akhir bulan." Kata Gracia masih dalam pelukan ayahnya. Dior menoleh kembali ke arah kekasihnya itu.


"Sudahlah jangan memikirkan itu. Kau penari yang hebat seperti ibumu, kau pasti bisa mengejar nilai nilai kosongmu nanti. Sekarang istirahatlah. Dad akan selalu menemanimu. Besok besok jangan seperti ini lagi. Kau tidak usah lagi mempedulikan paman Marcelmu. Pasti dia tidak mau memakan masakanmu kan?" Tanya Revo sudah menarik dirinya dari anaknya. Gracia mengangguk dan menundukan kepalanya.

__ADS_1


"Dia itu memang pria kurang ajar! Dia tidak melihat Gracia lagi! Seharusnya dari dulu saja aku tidak mau terus bersamanya. Dia selalu berulah dan tidak pernah berubah!" Decak Revo dan Leon sudah ada di belakangnya menenangkannya.


"Kaki mu akan segera sembuh sayang, kalian semua harus tenang ya? Sekarang kita biarkan Gracia berisitirahat. Dior, jagalah kekasihmu. Kami akan menunggu di luar. Em, Gracia? Zefanya dan Zhavia akan segera datang bersama Ezekhiel dan temannya Zhavia." Kata Viena membuka suara. Dia mencoba menenangkan.


"Katanya mereka berdua ada janji jadi mereka akan datang bersama. Baiklah, beristirahatlah. Kami semua mengasihimu. Kau jangan khawatir." Tambah Viena.


Dan setelah mereka di sana mengucapkan cepat sembuh pada Gracia, mereka keluar ruangan meninggalkan Dior dan Gracia. Revo juga ikut keluar karna mereka harus memikirkan bagaimana memberi pengertian pada Marcel.


"Sepertinya kita yang harus bicara pada Marcel dan merendah, Dion. Kita tidak boleh diam berpangku tangan seperti ini. Anak anak kita yang menjadi korban." Kata Viena di luar ruangan dan menautkan tangannya.


"Tidak usah kau pikirkan dia Viena! Aku akan tetap menikahkan Dior dan Gracia. Aku tidak peduli padanya!" Decak Revo malah membenci sepupunya itu.


"Tapi dendam ini akan terus terjadi, Revo!" Saut Viena yang sudah didampingi Lexa di sampingnya.


"Biar saja. Dia tidak tahu diri. Gracia selalu menghormatinya. Bahkan Gracia pernah membantah ku dan marah, sedangkan dia? Gracia selalu menurutinya. Karna siapa? Karna kebaikan Greta. Sial!!! Mengapa aku selalu berada pada lautan orang baik dan menghalalkan keburukan keburukan orang tidak berprikemanusiaan seperti si Marcel itu?! Bahkan Marcel sepupuku! Darah kami sama. Darah Gracia juga sama dengannya, tapi mengapa?" Revo menjadi semakin kesal mengingatnya.


"Tenanglah tuan Revo. Kata Nyonya Viena benar. Kita sebagai orang dewasa yang harus saling bicara." Tutur Leon menepuk pelan punggung Revo.


"Halah! Kalian saja, aku tidak mau ikut!" Decak Revo lagi.


"Sudah sudah, sekarang lebih baik kita ke cafe rumah sakit. Kita tenangkan diri kita di sana. Benar kata Viena, Revo. Biar bagaimanapun kita juga harus bertindak. Dendam ini akan menjadi bumerang bagi kehidupan rumah tangga anak kita nanti." Kata Dion menyetujui saran istrinya.


"Argh! Saudara tidak tau diuntung!" Decak Revo berjalan lebih dulu yang di dampingi Leon. Dion, Viena dan Lexa pun menyusul.


Zefanya, Ezekhiel, Zhavia dan Patrick sudah menjenguk Gracia. Namun, karna pengaruh obat dan sakit dalam tubuhnya, Gracia tertidur ketika mereka semua datang. Setelah beberapa jam menunggu Gracia tak kunjung bangun, mereka pulang dan akan datang lagi besok. Sementara orang tua Gracia dan Dior masih menunggui mereka di luar bersama Lexa dan Leon juga. Viena hendak menyuruh Dior untuk bertukar menjaga terlebih dahulu. Ketika Viena hendak masuk ke kamar perawatan Gracia ..


"Di, di mana Gracia, Revo?" Tanya seorang pria yang suaranya sangat mereka kenal. Revo langsung menoleh dan menatapnya nanar.


"Untuk apa kau datang kemari hah??!!!" Kata Revo dengan geram. Dia menghampiri pria itu dan meraih kerah bajunya.


...


...


...


...


...


Hiks! Seketika air mataku berlinang, sebenernya ngetik ini dalam keadaan ga beres jadi kebawa yes? Ga bener nii wakakak 😂😂


.


Next part 6


Siapa pria itu?


Si sodara ga tau untung itu lahh!!


😂😂


.


Betewe aku mau sory dori mori dulu nii kalo beberapa hari ini mantan update nya lambreta hehe, kondisiku lagi ga fit, dan juga kejar cerita di Lexa Leon sihh .. tapi tenang aja sebisa mungkin aku akan up cepat kok karna season 2 ini masih berlanjut okee 😍😍


.


Jangan lupa LIKE DAN KOMEN nyaa karna akan menambah semangat penulis untuk trus UP haha


Jangan lupa juga kasih RATE DAN VOTE di depan profil novel ya😍😍


.


Thanks for read n i love youu 💕

__ADS_1


__ADS_2