
lanjutan part 7,
"Semua yang kulakukan hanya untuk cita cita kita Zhavia. Semua ini juga untuk anak kita kelak. Tabungan masa depannya. Aku memang tidak bisa membagi waktu dengan benar. Tapi, mulai sekarang semua sudah masuk dalam tahap pengoprasian. Eden dan Hoshi sangat membantu. Mereka bisa mengurusnya sementara aku akan membantumu menjaga anak kita," kata Patrick ketika memeluk Zhavia.
"Sudah ada mommy, Pat," saut Zhavia mencoba mengerti Patrick.
"Tapi aku tetap ingin bersama anakku, masa kau tidak mengijinkan Daddy nya?" dengus Patrick menarik diri menatap istrinya.
"Ahahaha, pada akhir nya kau ingin dipanggil Daddy kan?" goda Zhavia.
"Ya, Daddy Pat, seperti keinginanmu? kalau hal itu membuatmu bahagia, aku akan melakukannya mulai detik ini, i love you, mommy via," ucap Patrick.
Zhavia tersenyum. Patrick ikut tersenyum dan mengecup kening Zhavia.
...
"Zhaviiiaaa ... Aku sangat merindukanmu!" Pekik Gracia memasuki ruang perawatan Zhavia lebih dulu. Zhavia baru saja memberikan asi pada Gracia walau tidak banyak. Setidaknya bayi kecil perempuannya itu sudah merasakan skin to skin dengan Zhavia.
Zhavia juga merentangkan tangannya menyambut pelukan dari Gracia.
"Gracie, sudah lama sekali tidak bertemu," saut Zhavia juga.
"Ya, ketika pernikahanmu!" saut Gracia menatap senang adik iparnya itu.
"Apa kau membawa Darren?" tanya Zhavia.
"Tentu tidak, dia baru saja sembuh dari demamnya. Dia bersama MomXa dan Amy. Tidak apa jangan khawatir," jawab Gracia.
"Oh iya, terimakasih atas kedatanganmu. Lalu, Dimana Zefanya?" Tanya Zhavia melihat ke belakang Gracia tapi tak lama yang ada hanyalah kakaknya, ayah dan ibunya.
"Zhavia, lihat siapa yang sudah datang. Mereka yang sangat kau nantikan!" Kata Patrick mengantar Viena, Dion dan Dior.
"Mooommmmyyyy!!" Pekik Zhavia dan Gracia sudah memberi tempat untuk Viena menghampiri anak ketiganya itu.
"Zhavia, kau sudah menjadi seorang ibu, selamat sayang!" ucap Viena mengelus punggung anaknya itu.
"Yes mom! Terimakasih, semoga aku bisa menjadi istri yang terbaik baik Patrick dan anak bagi Zena," gumam Zhavia.
"Siapa nama anakmu?" tanya Viena ingin tahu.
"Patricia Zena Lil Kwan, mom," jawab Patrick tersenyum.
"Nama yang indah, Pat!" Saut Dior.
"Ya, terdapat nama kalian di sana," tambah Dion tersenyum.
"Begitulah dad,"
Mereka pun masih memperhatikan Viena bersama Zhavia dan Gracia di sana.
Viena memperhatikan wajah anaknya. Sudah lama sekali dia tidak bertemu Zhavia. Zhavia tampak kurus dan lemah. Mungkin karena baru saja melahirkan terjadi perubahan bentuk tubuh.
"Kau baik baik saja, Via?" Selidik Viena memegang wajah Zhavia. Zhavia mengangguk dengan mata berkaca kaca. Dia tidak menyangka akhirnya bertemu dengan ibu, ayah, kakak kandung dan Kakak ipar sekaligus sahabatnya itu.
__ADS_1
"Mommy, aku merindukanmu, setiap malam aku bermimpi kau datang menemuiku, sekarang terjawab sudah. Aku merindukan Legacy tapi aku tetap ingin bersama Patrick. Hem, hal ini membuatku sangat bingung," tutur Zhavia seperti anak yang baru saja menemukan ibunya. dia bermanja manja dengan Viena.
"Aku sudah di sini, nak, tenanglah. Seperti janjiku, aku akan merawatmu sampai kau sudah kerasan memegang Zena dengan tanganmu. Aku akan membantumu, kau tenang saja," balas Viena.
"Terimakasih mom, em di mana Zefanya mom?" tanya Zhavia kembali mengingat saudara kembarnya itu.
"Dia demam, Via. Selain itu dia sering mual dan muntah. Dia hanya menitipkan perlengkapan bayi yang sudah ia beli untuk Zena," jawab Dior yang memberitahu.
"Hem, dia berbohong padaku, katanya dia akan datang," keluh Zhavia merengutkan wajahnya.
"Ezekhiel tidak mau mengambil resiko. Sepertinya Zefanya hamil, Via," tambah Dior.
"Ah, kau serius kak Dior? Wah aku ikut berbahagia,"
"Ya, kita semua bahagia di sini, kau jangan terlalu memikirkan Zefanya. Dia baik baik saja sayang," kata Viena menepuk nepuk punggung tangan Zhavia.
Mereka pun berbincang bincang membicarakan apapun. Alex dan Sandra juga hadir tetapi tidak dengan Pierre, Ella, Pevi dan Anthony karena Ella juga melahirkan seorang anak laki laki. Mereka menamainya Javier Mikhaello Kwan.
Sekarang tinggal giliran Adeline.
Adeline melahirkan satu bulan setelah Zhavia melahirkan. Adeline melahirnya sepasang anak kembar laki laki dan perempuan. Mereka memberi nama Joshua dan Jocelyn.
Kebahagiaan lain yang Zhavia dengar kalau Zefanya dan Gracia hamil bersamaan. Sebenarnya tidak ada yang perlu Zhavia khawatirkan lagi. Semua kerabat dan temannya sudah memiliki bagian nya masing masing. Zhavia juga senang kalau ayah dan ibunya menemaninya tinggal di apartemen ini dua bulan penuh. Namun, entah mengapa Zhavia selalu merasa kurang karena kenyataannya ASI yang dimiliki Zhavia tidak banyak. Semua cara sudah ia lakukan termasuk Patrick yang membantu tetapi tetap saja ASI Zhavia tidak banyak. Akhirnya dengan sangat terpaksa, Zena diberikan susu formula.
Zhavia merasa gagal dan terkadang ia frustasi. Dia sering mengunci diri di kamar mandi karena tidak bisa memberikan yang terbaik bagi Zena. Apalagi ketika mendengar Zena menangis di kala malam, membuat ya harus terbangun dan menenangkannya. Sebenarnya tidak masalah bagi Zhavia karena dia senang melihat wajah Zena tapi dengan begini dia kurang tidur dan dia benar benar shock dengan perubahan yang ia alami. Belum lagi Patrick yang mengingkari janjinya. Kenyataannya Patrick tetap bekerja dan mengurus gedung sekolahnya itu. Dia memperhatikan setiap sisi kelas yang sudah ia persiapkan. Terkadang Patrick juga ikut mengajar. Bukan hanya itu, Patrick juga membantu pihak management artist yang membutuhkan dirinya menjadi komponis untuk lagu lagu yang akan diorbitkan.
Untung saja masih ada Viena. Sementara Dion karena kebetulan ada di Honolulu, dia sering berkunjung ke rumah Egnor atau memantau motel nya.
Seperti pagi ini, Patrick sudah bersiap rapi dengan setelan jas casual hendak menghadiri acara konser bulan pertama para pemain piano pemula. Patrick mengundang kepala pemerintah Honolulu , oleh sebab itu dia harus menemaninya.
Patrick menoleh menatap istrinya. Dia merasa bersalah karena hari ini hari Sabtu dia tidak bisa menemani istrinya menjaga Zena.
"Sayang, kau sudah bangun? Tidurlah lagi saja selagi Zena masih tertidur," kata Patrick menghampiri istrinya.
"Mengapa kau pergi lagi? Satu Minggu ini sudah hampir setiap hari kau pergi, Pat, mana janjimu yang ingin selalu melihat anak mu dan diriku?" keluh Zhavia mengutarakan isi hatinya.
"Oh God Zhavia, jangan perdebatkan ini lagi. Aku tidak pulang sampai larut kan? Aku sedang menyiapkan sesuatu," kata Patrick sudah duduk di samping Zhavia.
"Kau selalu beralasan seperti itu. Sebenarnya kau sedang menyiapkan apa?" selidik Zhavia ingin tahu.
"Nanti juga kau akan tahu," saut Patrick memegang tangan Zhavia.
"Kau tidak berselingkuh kan? Kau tidak menyukai salah satu pengajar di sekolah kita kan? Aku tidak bisa dibohongi, Pat!" decak Zhavia secara terang terangan.
"Oh tuhan! Selingkuh? Aku bahkan tidak tahu siapa saja nama pengajar yang ada di sekolah kita sayang. Eden yang mengetahuinya. Kau jangan banyak berpikir, hatiku tetap hanya untukmu. Bahkan aku menginginkan dirimu, Via," kata Patrick mendekati istrinya dan menarik untuk masuk ke dalam pelukannya.
"Tapi sudah satu Minggu ini Pat kau terus di gedung itu," sungut Zhavia.
"Aku tidak sampai seharian. Aku pulang cepat dan menemuimu. Zhavia, aku pemimpin di sana. Aku harus memantau dan memberikan tanda tangan pada mereka. Dan aku harus menemani orang orang penting yang berkunjung ke gedung kita. Hem, tampaknya kau lupa kalau kau yang memotivasi ku untuk melakukan ini semua, bukankah aku waktu itu sempat menolak?" kata Patrick mencoba menjelaskan dan mengingatkan semua karena dia hendak menuruti istrinya.
sesaat Zhavia berpikir kalau benar apa yang dikatakan suaminya itu.
"Ya aku paham, aku hanya merindukanmu Pat, seperti awal awal kau dan aku bertemu, seperti awal awal kita menjadi kekasih. Hanya itu. Maafkan aku yang tidak mengerti mu," ucap Zhavia menyesal pada akhirnya.
__ADS_1
"Sepertinya kau hanya terkejut dengan semua keadaan ini. Cobalah kau nikmati hari hari bersama Zena. Semua pasti akan berjalan seperti biasa. Kalau kau lelah kau bisa menghubungiku sayang. Sesibuk apapun diriku, aku akan berusaha menghubungimu dan melihat ponsel kalau kalau kau memberi pesan atau menghubungiku. Aku pasti akan kembali menghubungimu, oke?" kata Patrick juga mencoba mengerti keadaan Zhavia.
Zhavia mengangguk. Dia tersadar. Seharusnya dia tahu bagaimana pekerjaan Patrick sekarang. Kini, Patrick juga merupakan kepala keluarga. Dia yang harus mencari nafkah. Setelah kepahitan yang pernah ia hadapi, seharusnya sekarang Zhavia mendukungnya dan memberikan pelayanan yang terbaik untuk anak dan suaminya.
Sejak saat itu Patrick malah memikirkan perkataan Zhavia. Dia tetap merasa bersalah karena kesibukannya tidak seperti dulu. Padahal dulu dia juga hanya seorang komponis. Patrick jadi berpikir tentang satu hal. Karena Viena dan Dion juga harus kembali ke Legacy, Patrick meminta Sandra dan Alex kembali ke Honolulu dan menempati mansion lama mereka. Patrick sudah meminta tolong Eden untuk menyewa orang merenovasi mansion lamanya sehingga mereka semua bisa tinggal di sana.
Patrick mengatakan rencananya pada Zhavia dan Zhavia tentu senang. Dengan begitu Zhavia tidak terlalu kesepian dalam menjaga Zena.
"Terimakasih Pat, ternyata kau tetap memikirkanku," ucap Zhavia melingkarkan tangannya ke leher Patrick.
"Lalu apa lagi yang kupikirkan selain kebahagiaanmu dan Zena, Zhavia," balas Patrick memegang dagu Zhavia untuk di arahkan ke hadapannya. Zhavia tersenyum dan Patrick pun mengecup bibir Zhavia. Mereka berciuman meluapkan rindu akhir Minggu itu.
"Zhavia, karena besok mom and dad mu akan pulang, malam ini aku ingin mengajak kalian makan malam di restoran sepupumu kak Wilson, kau mau kan?" ajak Patrick kemudian.
"Kau serius, Pat?"
"Ya, ada yang ingin kutunjukan padamu, juga membuktikan pada mom and dad mu betapa aku mencintaimu," kata Patrick memberitahu.
"Mulutmu manis sekali, sayang,"
"Bersiaplah, tapi jangan terlalu cantik, nanti Daniel menggodamu,"
"Apa akan ada dia?" tanya Zhavia.
"Ya, aku menugaskannya sesuatu,"
"Oh, oke, aku jadi tidak sabar,"
Zhavia pun bersiap bersama Viena dan Dion. Mereka juga mengajak Zena ke restoran tersebut. Lagi lagi Zhavia di buat terkejut karena Patrick akhirnya meresmikan lagu berjudul Good To Me, lagu yang waktu itu Zhavia buat menjadi sebuah lagu yang memiliki label dan dinyanyikan oleh seorang artis papan atas Honolulu. Dengan iringan Daniel, lagu itu tampak begitu romantis dan menyentuh.
"Lagi lagi kau menepati janjimu, Pat," kata Zhavia tersanjung dengan apa yang Patrick hadiahkan padanya.
"Karena aku hidup untuk memenuhi semua janji yang belum kupenuhi sewaktu masa sulit kita sayang," saut Patrick dengan sangat mesra.
"Aku akan selalu mencintaimu, Pat!"
"Begitu juga denganku!"
Viena dan Dion senang melihat suasana seperti ini. Mereka percaya, Zhavia akan selalu bahagia bersama Patrick dan mereka bisa kembali ke Legacy dengan tenang.
6 bulan kemudian, usia Zena telah menginjak delapan bulan. Zhavia tidak mengalami baby blues lagi. Dia sudah terbiasa dan tidak mau terbeban masalah dirinya tidak bisa memberikan ASI bagi Zena. Ternyata, susu formula yang dianjurkan dokter Erika sangat cocok untuk Zena. Zena tumbuh berisi dan lebih tanggap. Dia sudah bisa berceloteh dan sangat lincah dalam merangkak.
Sampai akhirnya Hoshi dan Eden mengalami sedikit kendala karena sekarang gedung sekolah Patrick bukan hanya menjadi sekolah tetapi sebuah management artist yang menciptakan penyanyi, penyanyi group pria atau wanita dan pemusik. Mereka kekurangan guru vocal untuk memberikan pelatihan bagi para murid karena guru vocal yang ada mengajari para penyanyi yang hendak diorbitkan.
Akhirnya Patrick memutuskan untuk memilih Zhavia sendiri yang menjadi guru vocal bagi para murid. Zhavia tentu tidak menolak. Dengan begini dia bisa lebih dekat dengan Patrick. Sementara Zena bersama Sandra dan baby sitter tapi tak jarang, Zhavia suka membawa Zena ke gedung sekolah mereka.
...
Dan konflik pun dimulai 😊
next part 9
Jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊
__ADS_1
thanks for read and i love you 💕