Mantan Terindah

Mantan Terindah
Sebenarnya Kesal


__ADS_3

Selepas mendapatkan telepon dari seseorang, Zizi menangis. Sebab seseorang tersebut mengabarkan bahwa sang sahabat mengalami kecelakaan dan sekarang di rawat di rumah sakit.


Zizi pun tak ingin menunggu lagi. Dengan segala keterbatasannya ia pun meminta sang suami untuk mengantarkannya ke rumah sakit di mana sang sahabat di rawat.


"Mi, kalo Mami percaya sama Papi, biar Papi aja yang pergi. Mami masih belum fit benar. Lagian kasihan kedua baby kita. Mereka membutuhkanmu, Mam," larang Zein, berharap sang istri juga memikirkan kedua buah hati mereka.


"Tapi, Pi.. Nadia nggak punya sodara di sini. Ya Mami ini kakaknya. Kasihan dia, Pi. Udah ditinggal tunangannya nikah sama yang lain, kini kena musibah pula," ucap Zizi dengan deraian air mata yang tak kuasa lagi ia bendung. Sungguh, Zizi sangat khawatir. Terlebih jika mengingat kedua adik gadis itu. Mereka sangat membutuhkan uluran tangannya.


"Sayang, dengerin, Papi. Jika Nadia itu adikmu, berarti dia adik Papi juga. Percayalah, Papi akan selesaikan masalah Nadia. Papi bakalan minta pertanggung jawaban dari seseoranmg yang udah nyelakain dia. Papi pasrikan akan segera kasih kabar begitu sampai di rumah sakit. Oke," ucap Zein, mencoba menenangkan sang istri.


"Bener ya, Pi. Jangan tinggalin Nadia sendiri. Kasihan, Pi," pinta Zizi.


"Iya, Sayang. Pokoknya kamu juga harus jaga diri. Ingat jangan stres, ini akan mempengaruhi Asimu. Papi nggak mau anak-anak kita kena imbas dari kondisi kejiwaanmu. Pokoknya kamu harus tetap tenang, enjoy dan berdoa terus. Sepaya Nadia nggak apa-apa," ucap Zein lagi.


Kemudian, selepas menenangkan sang istri, Zein pun segera pergi ke rumah sakit di mana Nadia dirawat.


***


Apa yang diucapkan seorang Gani bukanlah isapan jempol belaka. Pemuda gagah itu pun benar-benar membuktikan bahwa dirinya akan bertanggung jawab atas apapun yang terjadi pada Gadis bernama Nadia Fitriani ini.


Terbukti sekarang ia tengah duduk memantengi lapop dan juga berkas-berkas yang ada di depannya. Tentu saja sambil menjaga gadis yang saat ini masih terlelap di dalam mimpinya itu.


Beberapa menit berlalu terlihat sang gadis membuka mata. Sedikit bingung. meskipun ia sudah terbiasa dengan ruangan seperti ni, tetapi berbaring di ranjang ini ia belum pernah sekalipun terbayangkan olehnya.


Ada apa denganku? Mungkinkah? batinnya, bertanya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Lalu, pelan-pelan ia pun mengabsen sekeliling. Terlihat olehnya seorang pria tampan, namun asing. Sangat asing. Sedang fokus dengan laptop di depannya. Ada beberapa kertas dan juga earphones menancap di telinganya. Dia terlihat tenang dan tampan. Sungguh dia mirip sekali dengan Ceo-Ceo yang ada di drama Korea. Kulitnya putih bersih dengan rambut hitam legam. Lalu dengan bibir pink, mata sedikit sipit, pokoknya ala-ala aktor Korea. Tampan sangat.


"Astaga! Siapa dia? Kenapa mirip sekali sama Kim Soo Hyun. Sungguh ganteng banget ya Tuhan. Apakah Mas Soo Hyun sengaja datang ke Indonesia untukku. Ahhh ... senangnya. Ehhh .... Ada apa denganku? Sepertinya aku berada di dunia lain. Ahhhh.... tidak-tidak, sepertinya ini bukan mimpi. Dia memang Kom Soo Hyun, duh pangeran impian. Astaga Nadia, kamu jangan gila. Mana mungkin dia ada di Lombok. Kan dia mau bikin drama baru. Ahhh, Nadia please, kamu jangan halu. Wait .... kalo itu bukan Mas Soo Hyun ku, lalu siapa dia?" gumam Nadia senang bercampur bingung. Sepertinya dia lupa bahwa saat ini sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja.


"Hallo, maaf... siapa anda?" tanya Nadia tanpa basa-basi.


Gani yang menengar seseorang menyapanya, tentu saja langsung merapikan berkas-berkasnya dan beranjak dari tempat duduk itu untuk menyapa wanita yang kini sedang menatapnya.


"Kamu sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?" tanya Gani.


Eh dia mengerti bahasaku. Dia juga bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. Berarti dia bukan mas Soo Hyun. Nadia bengong, tapi juga kecewa.


"Kok bengong? Apa ada yang aneh?" tanya Gani.


"Tidak, saya oke!" jawab Nadia gugup.


"Aku haus," jawab Nadia singkat. Namun masih dengan perasaan yang sulit diartikan. Jujur, ini adalah pertama kali ia melihat cowok yang memiliki kriteria impiannya. Tinggi, gagah, keren, kalem, pokoknya sesuai dengan pangeran pujaan hati. Kim Soo Hyun, pria tampan dengan segala ketampanan hakiki, dan ketampanan itu dimiliki pria yang kini sedang mengambilkan minum untuknya.


Gani mengambilkan air minum untuk sang gadis. Lalu ia kembali bertanya, "Bagaimana perasaanmu? Apakah kamu merasakan sakit?"


Ya Tuhan jangan biarkan dia nanya terus. Aku gugup, batin Nadia, sungguh Nadia merasa rikuh, gugup dan tak nyaman.


"Saya nggak tahu bagaimana perasaan saya. Karena jujur saya masih belum bisa ingat, kenapa saya ada di sini? tapi saya merasakan berat dan sakit di kaki, itu saja, hehe" jawab Nadia jujur.


"Iya, tulang kakimu sebelah kiri retak. Tapi aku udah cari dokter terbaik untuk mengobatimu." Gani menatap gadis itu, begitu pun dengan Nadia. Gemuruh di dada masing-masing sungguh sangat menganggu. Membuat keduanya merasa rikuh untuk melanjutkan obrolan.

__ADS_1


"Eeemmm, boleh saya bertanya sesuatu lagi?" tanya Nadia.


"Tanyakan saja," jawab Gani.


"Kenapa saya bisa ada di sini?" Nadia menatap Gani, sedikit takut.


Gani menghela napas, ingin rasanya ia marah pada gadis yang menurutnya bodoh ini. "Aku menabrakmu, kamu nyebrang nggak lihat kanan kiri. Ehhh... tunggu, apakah kamu sengaja? Apakah kamu memang sengaja ingin bunuh diri? Apakah kamu sedang patah hati?" cevar Gani, gemas.


"Tidak! Tentu saja tidak! Mana mungkin begitu... saya ... saya baik-baik saja," jawab Nadia terbata.


Gani tersenyum sinis, sebab ia tahu kalau gadis yang saat ini berbaring di depannya ini pasti sedang berbohong padanya. "Nona, aku tidak tahu masalah yang kamu hadapi dan jujur aku sama sekali tidak tertarik mendengar ceritamu. Tapi, dengan kamu menyeretku ke dalam masalahmu, maka kamu harus jujur. Apa yang membuatmu ingin mengakhiri hidup, ha?" cecar Gani, terlihat jelas bahwa pria ini kesal pada Nadia yang menurutnya sangat bodoh ini.


"Anda jangan suudzon ya, saya bukan gadis seperti itu. Anggap saja anda sedang apes. Nggak perlu mengintimidasi saya seperti itu," balas Nadia kesal. Tentu saja dengan deraian air mata yang tak bisa lagi ia bendung.


"Sedang apes, heh... tidak semudah itu, Nona. Bagaimana jika keluargamu tidak terima? lalu membawa kasus ini ke ranah hukum. Siapa yang rugi, aku kan, sebagai pengendara," jawab Gani, kesal.


"Ada tidak usah khawatir tuan galak, aku nggak akan membawa kasus ini ke ranah hukum. Anda tenang saja. Yang penting Anda harus bayar semua biaya rumah sakit saya. Yang penting Anda tanggung jawab dengan kesalahan yang ada lakukan," jawab Nadia menantang.


"Heh, Nona... yang salah di sini kamu. Kenapa harus aku yang tanggung jawab? Aku nggak mau. Silakan bayar sendiri biaya rumah sakitmu. Bye!" jawab Gani kesal.


Tak ingin berdebat, Gani pun segera merapikan barang-barangnya... Tentu saja, Nadia tak terima. Dengan kesal ia punpun mengancam Gani.


"Kalau situ nggak mau tanggung jawab, aku bakalan bawa kasus ini ke ranah hukum. Seperti yang kamu bilang tadi. Ayo... mari kita bertaruh di pengadilan!"


Gani membalikkan badan, menatap kesal pada gadis yang telah berani mengancamnya. Tanpa peduli ia pun langsung ke luar dari kamar rawat itu. Setidaknya untuk memberi gadis itu pelajaran. Bahwa mengakhiri hidup bukanlan jalan satu-satunya. Masih ada jalan yang lebih indah.

__ADS_1


Terlepas dari perdebatan sengit itu, Gani berjanji akan tetap bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi.


Bersambung...


__ADS_2