
"Emmm, sebaiknya jangan tanyakan itu Om. Ini tidak baik untuk kesehatan jantung kita. Om lihat deh, tante sudah menatap tajam ke arah kita," bisik Juan dan benar, Laila memang menatap mereka dengan tatapan ingin mengomeli mereka satu persatu.
"Oke, oke! Om paham!" jawab Laskar. Kemudian ia pun tersenyum. Mencoba menganggap tidak sedang tidak terjadi sesuatu.
"Jadi begini.... Emmm, di mana Ste sama Vita?" tanya Laskar, bermaksud menggabungkan ibu ratunya bersama wanita-wanita itu. Agar mereka bisa leluasa mengobrol secara pria di sini.
"Ada Om, sebentar saya panggilkan," jawab Bima. Kemudian ia pun beranjak untuk memanggil Vita.
"Ah, tidak, aku langsung ikut ke sana saja. Aku kangen dengan Ste dan Vita. Pengen kenal sama si kecil juga," ucap Laila seraya beranjak dan berpamitan dengan sang suami. Tak ada alasan untuk Laskar melarang sang istri. Karena salah stau tujuan mereka ke sini karena ingin menyambangi cucunya.
"Jadi kenapa tadi? Katakan pada Om, kenapa Om nggak boleh tanya yang itu tadi?" tanya Laskar masih penasaran dengan larangan Juan.
"Aduh Om itu lagi dibahas. Om nggak lihat, hari ini Juan nggak boleh pakek baju kantor. Nggak boleh ngantor. Dikurung Om, ditahan Om, nggak boleh kerja. Hari ini Juan jadi tahanan rumah, Om. Bukankah ini luar biasa
Di Kantor, Juan kuasa. Di rumah harus patuh sama ibu ratu. Kalo nggak, bisa end riwayat Juan, Om. End," jawab Juan sok lugu.
Spontan Laskar pun tertawa. Ternyata wanita memang berkuasa atas segalanya. Termasuk waktu suaminya. Laskar sendiri telah mengalami itu sekarang. Rasa sayang dan cintanya pada ibu Laila, membuat pria paruh baya ini pun patuh dengan aturan sang istri. Asalkan aturan itu juga terbaik untuknya.
"Kamu benar, sebaiknya kita memang mengalah dan mengiyakan apapun perintah mereka. Cari aman, hahahhah!" Laskar kembali tertawa. Ternyata bergaul dengan teman-teman anaknya membuatnya bahagia.
__ADS_1
"Haaaahhh.... sudah lah, ketawa mulu. Kedatangan Om ke sini, sebenarnya mau nyari Vita sama Bima. Mau membicarakan pasal mantan pengacara mereka," ucap Laskar.
"Memangnya ada masalah apa lagi, Om. Zein nggak ada cerita apapun tu." Juan menatap serius ke arah Laskar.
"Zein lupa, padahal sudah Om suruh hari itu, waktu kau suruh dia nganterin Vita ke mari. Mungkin dia pakek waktu yang kita kasih itu buat nostalgia, makanya lupa," ucap Laskar, sedikit kesal.
"Mana ada begitu, Pa. Jangan fitnah, Pa!" Zein tersenyum malu.
"Mana ada begitu! Mana ada begitu! Kau pikir Papa nggak pernah muda. Hahahha, dah lah... sebaiknya kita bahas ini sekarang. Om nggak mau kenyataan ini menjadi boomerang bagi kehidupan rumah tangga Vita dan Bima," ucap Laskar.
Terang saja, Juan dan Gani pun penasaran dengan apa yang sedari tadi coba Laskar ungkapkan.
"Jadi gini, Juan. Kita kan sudah sama-sama tahu bahwa sejatinya bukan Victor yang menjadi dalang dari kasus yang membelit Vita dan Bima. Tapi, pria itu sedang di manfaatkan oleh pria yang selama ini membesarkannya. Kalian sudah tahu kan orangnya. Aku rasa Sera sudah share foto orang tersebut sama kamu Juan," ucap Laskar.
"Benar! Namun, tahukah kamu bahwa sebenarnya Victor adalah kakak dari mantan suami Vita. Mereka satu ayah, tapi beda ibu," ucap Laskar.
Spontan beberapa orang yang ada di sana menatap penasaran. "Maaf, Om. Ini sedikit agak aneh. Kenapa bisa begitu?" tanya Juan.
"Entahlah, sepertinya ibunya Victor tidak diakui oleh keluarga besar ayahnya Luis. Sehingga anak ini dilupakan. Om rasa, wajar jika Victor marah. Hanya saja cara protesnya tidak tepat." Laskar menghela napas dalam.
__ADS_1
"Tapi kabar dia tertarik dengan Vita, apa benar Om?" tanya Juan.
"Entahlah kalo soal itu. Itu hanya alibinya atau bagaimana, tapi dia memiliki anak dan istri," jawab Laskar.
"Maaf Om, saya agak sanksi, tidak mungkinkah dia berbohong?" tanya Juan.
"Om sudah memeriksa Identitas aslinya. Di dalam akte kelahirannya, nama ayah dia sama dengan ayah Luis. Hanya nama ibunya yang berbeda. Kemungkinan info yang dia sampaikan pada kita, benar adanya," jawab Laskar, lalu memberikan dokumen file pada Laskar melalui ponselnya pada Juan.
"Astaga, ini sih kejam Om. Kasihan sekali Victor. Pantas saja dia murka, sebab dia memang kecewa pada orang tuanya.Di tambah, dia nggak ngedapetin apa yang seharusnya jadi haknya. Kasih sayang orang tua. Pendidikan yang baik. Fasilitas yang baik. Semuanya diberikan pada Luis dan ibunya. Dan itu sangat membuat Victor kecewa," jawab Laskar lagi.
Tak sengaja jawaban itu didengar baik oleh Bima dan Vita. Membuat mereka berdua ternganga.
"Mohon maaf kalo Vita lancang Om? Apakah Vita nggak salah dengar?" tanya wanita ayu ini.
Laskar menoleh ke arah suara. Lalu ia pun menjawab, "Tidak Vit, apa yang Om sampaikan ini sangat valid. Bahwa sebenarnya Victor adalah abang kandung mantan suamimu yang terzolimi oleh orang tuanya."
"Sungguh, Om. Lusi tidak pernah menceritakan apapun perihal ini. Yang Vita tau, Luis tidak memiliki saudara. Baik itu kandung maupun tiri," ucap Vita.
"Ya, Om juga tahu itu. Tapi dokumen-dokumen yang Om periksa, Om rasa ini bukan palsu. Bahkan Victor juga memberikan surat nikah ke dua orang tuanya. Dan bukti itu juga sudah Om buktikan sendiri. Bahwa itu diakui oleh negara dan bisa dipertanggungjawabkan. Hanya saja, kasusnya ini terjadi karena Victor diabaikan. Tidak mendapatkan haknya. Itu sebabnya ia marah. Sehingga mudah dihasut oleh lawan," jawab Laskar, menyakinkan.
__ADS_1
Kini Bima dan Vita mengerti, kenapa sampai Victor bisa senekat itu. Ternyata dia memiliki kekecewaan kepada ayahnya. Terlebih saat Luis tiada, harta itu malah jatuh ke tangan orang lain, bukan keluarga inti. Bukankah itu menyakitkan.
Bersambung...