
Pagi-pagi ini Rival menjemput Franda di rumahnya untuk berangkat bareng ke kampus. Indahnya pagi ternyata benar kata orang-orang udara pagi itu beda dengan udara siang sore atau malam bener-bener segar belum ada polusi bahkan belum ada asap knalpot dan asap asap yang lainnya mencemari udara yang sudah berbeda lagi keindahannya ketika pagi hari. Kali ini Rival membawa motor besarnya untuk menjemput Franda karena ketika kampus ia jarang sekali untuk membawa mobil dan menurutnya membawa motor dan membawa mobil itu ada sesuatu hal yang beda. Ada plus dan ada minus nya.
Sampailah ia di depan rumah Franda dipersilahkan masuk oleh mama Franda ke dalam rumah. Mereka tidak ada kecanggungan sama sekali karena mereka sudah mengenal satu sama lain ketika mereka masih duduk di bangku SMA jadi ketika datang ke rumah Franda dia sudah seperti rumah sendiri saja. "Franda ini lagi siap-siap di kamar."
"Iya tante makasih banyak, tumben banget tante rajin menyapu halaman."
"Iya nih tante pengen olahraga aja supaya bugar dan selalu sehat ya udah tante keluar dulu ya."
Franda pun mengambil buku atau tas yang ingin bawa ke kampus nanti. Membuka gagang pintu dan melihat Rival sudah menunggu di ruang tamu biasanya kebiasaan seperti ini terjadi setiap hari. "Maaf ya aku agak lama."
"Ya nggak papa kok udah biasa." Candanya.
Sebelum berangkat Franda sarapan terlebih dahulu di meja makan karena sudah disiapkan mama setiap paginya walaupun dia sama sekali tak mintanya tapi mama selalu saja menyiapkannya. Rival pun menghampiri Franda yang sedang termenung depan kelas kampus. "Hai kamu udah makan belum?"
"Udah aku, udah makan kamu udah selesai kelas?"
"Udah selesai kelas. Kamu kenapa kok kayak tegang gitu?"
"Kamu kenapa sih kok kayak banyak pikiran gitu? Ada apa emangnya?" Rival yang melihat wajah Franda seperti orang yang cemas dan seperti oleh yang sedih.
"Apa beneran kak Roy sama Tiffany beneran pacaran? Gimana sih? Kok gak sesuai dengan apa yang sudah kita rencanakan?"
"Ya aku juga nggak tahu tapi kamu janji ya jangan kasih tahu ini ke Cerry? Kamu janji?"
"Iya aku janji kok." Mereka mengaitkan kedua kelingkingnya satu sama lain.
__ADS_1
"Jadi kak Roy di minta Tiffany buat jadi pacar pura-pura dia supaya bisa batalin dia sama orang yang bakalan di jodohkan gitu sama orang tuanya."
"Trus kenapa kak Roy gak bilang pas ketemu sama Cerry sama aku tadi di kampus. Dia malah diam aja sih."
"Trus kayak gimana? Kita gak bisa kasih tau Cerry juga ya percuma. Dia aja mau kasih tau kalau yang kasih buku itu kita bukan dia. Dan buku itu kan pilihan aku. Gimana sih? Ah jadi begini kan?"
Rival juga bingung, ini di luar dari ekspektasinya dan harus berbuat apa juga. "Ya gimana ya. Kita kasih tau aja Cerry kalau misalnya Tiffany dan kak Roy gak pacaran mereka cuma teman aja gitu."
"Cerry gak sepercaya gitu sama kita. Aduh gimana nih?"
"Ya udah kamu tenang dulu ya jangan panik ya harus sabar dulu. Sabar semua akan baik-baik aja." Rival tak mau gegabah dengan apa yang di lakukan oleh Franda kalau ia panik maka akan panik juga maka dari itu mereka harus tenang dan sabar.
"Iya udah deh aku akan ikutin kamu aja." Sahutnya dengan begitu nurut sekali dengan ucapan dari Rival.
"Ya udah jangan mikirin hal-hal yang begitu mending kita ngelakuin sesuatu yang bikin kita happy aja hari ini karena seharian ini aku kelasnya banyak banget jadi aku agak sedikit pusing."
"Ya iyalah tempatnya rame ini kan strategis banget buat orang duduk santai atau sekedar menikmati keramaian jalan raya."
Tak berapa lama kemudian es kelapa muda pun disajikan diatas meja. "Gimana enak nggak?"
"Enak kok. Rasanya dahagaku tuh tiba-tiba hilang gitu aja dan adem banget di tenggorokan."
"Iya sih bener banget harusnya kita sering-sering ya kesini buat minum."
"Andai aja ya aku tuh ngebayangin kalau misalkan kita double date kak Roy sama kak Cerry pasti seru banget. Enggak kebayang mereka sekaku aku apa."
__ADS_1
"Iya sih bener seru juga kapan-kapan kita ajak mereka ke sini buat menikmati indahnya kota."
"Boleh banget."
***
Rival melihat Roy tiba-tiba saja membaca buku pemberian Cerry kemarin. Ia pun langsung saja bertanya. "Gimana kak sudah baca buku yang di kasih sama Cerry?" Rival membuka obrolan basa-basi terlebih dahulu agar ada kalimat pembuka gitu.
"Sudah baca gue."
"Trus gimana ceritanya suka gak?"
"Suka banget, kayak percintaan gitu ceritanya."
"Baguskan? Makanya jangan baca buku pelajaran mulu jadi kayak gitu kan? Hahaha."
"Gimana hubungan lo sama Tiffany? Udah berhasil atau masih berjalan aja?"
"Masih berjalan sih, pokoknya gue berhenti kalau misalnya udah semua selesai." Ungkapnya seperti itu.
"Bener, entar lo malahan suka sama dia. Makanya cewek sama cowok itu nggak boleh deketan terlalu deket ntar lo suka sama dia kayak gimana?"
"Apaan sih gue kan kenal sama dia udah lama juga gue cuma ngebantuin dia udah selesai nggak ada yang lain-lain."
"Bagus deh kalau misalkan lo yakin kayak gitu pertahankan." Rival yang begitu tajam sekali.
__ADS_1
Rival langsung saja mengambil ponselnya lalu menghubungi Franda. "Kayaknya kak Roy beneran deh nggak suka sama Tiffany soalnya dia tadi aku kalau misalkan dia nggak ada rasa sama siapa-siapa sekarang jadi ada kesempatan buat kita deketin sama Cerry. Gimana kita atur waktu besok untuk ketemu lagi sama dia dan bikin dia yakin dan percaya kalau misalkan kak Roy itu nggak punya siapa-siapa sekarang nggak ada rasa sama siapapun jadi ada kesempatan besar untuk dia."
"Oke deh kalau gitu."