
Mereka berdua terlihat begitu akrab sekali tertawa bersama bahkan hampir beberapa kali terlihat bersama entah ketika pulang sekolah atau datang ke sekolah. Dari kejauhan Cerry melihat kalau Roy dan Amanda terlihat begitu akrab sekali. Memang mereka satu kelas tapi masa bisa seakrab ini? Lekukan senyum yang tadinya ceria kini berubah menjadi suram dan lesu. Cerry cemburu?
Yes
Dia cemburu. Rasa ingin memiliki yang begitu besar sekali apalagi dengan sosok Roy. Ia kembali melangkah ke kelas dengan lesu dengan pemandangan yang seharusnya tidak lihat sekali.
Ia menaruh tasnya asal dan mengambil sapu untuk menyapu kelas karna hari ini giliran Cerry piket. Kapan sih gue bisa deket sama lo kak. Gue galau tau, gue cemburu..."
Tiba-tiba dari belakang Franda mengejutkan Cerry yang melamun. "Woy melamun aja, udah di sapu belum." Bukannya menjawab ia malah menaruh sapunya dan melipat tangannya dengan kedua tangan.
"Lo cer lo kenapa?"
"Kapan ya kak Roy bisa deket sama gue? Soalnya gue liat kak Roy sama kak Amanda mulu." Lanjutnya yang baru pagi tadi melihat Roy masuk bareng ke kelas sama Amanda. Amanda merupakan cewek yang dikabarkan dekat dengan Roy selama ini.
"Emang iya? Tapi mereka gak pacaran deh kayaknya."
"Masa sih, mana mungkin cowok nolak cewek secantik dan seanggun kak Amanda."
"Iya sih, tapi lo tuh juga cantik cer bisa kok dapetin hatinya kak Roy. Coba deh lo kasih dia perhatian gitu."
"Perhatian?. Gimana maksudnya?"
"Ya lo kasih dia bekal apa gitu. Trus ajak dia ngobrol kek apa kek pokoknya biar deket aja."
"Ah kenapa gue gak kepikiran sama sekali ya." Cerry berubah mood yang awalnya murung kini berubah menjadi lebih ceria lagi.
"Ya udah mulai besok deh gue----."
"Kenapa lagi?"
"Gue gak yakin." Cerry menunduk tidak pede.
"Udah usaha aja dulu."
...•••...
Ketika Franda mengeluarkan buku-buku yang ada didalam tasnya tiba-tiba saja ada surat yang terselip didalam buku. Lantas Franda bingung dan merasa aneh. "Loh kok ada surat gini dari siapa?" Perlahan ia menaruh buku-buku keatas meja ia membuka amplop yang tertutup dengan lem dan mulai membacanya dari atas.
Tentang Rival
Franda menutupnya kembali, kenapa judulnya tentang Rival? Apa ini Rival? Loh kenapa tentang Rival? Fran perlahan membuka kembali karna rasa penasarannya itu.
Tentang Rival
Rival itu suka yang namanya disenyumin, diberi masukkan dan dikasih perhatian. Kalau mau Rival tertarik lakukan hal tersebut. Dan satu hal lagi yang bikin Rival suka dan merasa tertarik dia akan melakukan kalau ada orang yang berani menentang kemauannya.
"Loh apa maksudnya?" Nama pengirim pun tidak ada disana. Kenapa ini berkaitan tentang Rival dan kenapa bisa sampai ke tangan Franda. Ia berfikir keras apa hubungannya dengan dirinya. Lalu tiba-tiba nomor yang tidak dikenal mengirimkan sebuah pesan.
Rival itu suka di chat duluan terserah tentang apa aja.
"Apaan coba? Dia tau nomor gue dari mana?"
__ADS_1
...•••...
Ia menatap Rival dengan bingung dan aneh, apa ini ulah dari Rival sendiri? Ah tapi gak mungkin banget Rival yang mengatakan hal ini dengan kaki yang masih belum sembuh Lusi dan Milka sudah berdiri tepat mengapit Franda menatap dengan tajam dan berbisik singkat. "Kalau berkhayal jangan ketinggian. Entar kalau jatuh sakit loh." Ia hanya menarik nafas dan meninggalkan tidak perduli apa yang mereka berdua katakan.
"Eh, tungguin bentar cewek cupu." Rival pun menghampiri Franda.
"Eh val, kenapa?"
"Maksudnya kenapa?" Rival malah bingung dengan pertanyaan Franda. Ia malah menarik lengan Franda dan membawanya mengarah ke perpustakaan.
"Mau ngapain?"
"Ke perpus. Temenin gue nyari buku dari bu Sukma." Franda teringat kembali dengan kata "Perhatian" di surat itu.
"Val, udah sarapan?"
"Lupa tadi."
"Jadi terlalu dibiasain entar sakit perutnya kan kalau belajar harus enak perutnya."
"Ngomong apa sih loh, gaje banget jangan sok perhatian sama cowok level tingkat tinggi gak bakalan nyampe deh."
"Gue keluar dulu ya." Franda merasa bete dan sedikit merasa direndahkan dengan kata-kata Rival yang mungkin sedikit nyesek.
Apaan sih, siapa juga yang suka sama cowok kayak gitu. Kesal Franda.
Walaupun kakinya sakit dan belum bisa berjalan normal tapi Franda sudah lebih membaik.
Ya.
Tersinggung?
Jelas.
Teriakkan dari belakang ia hiraukan entah itu dari suara siapa. "Apaan sih, pegang-pegang." Franda melepaskan tangan yang menggenggam lengannya.
"Lo marah sama gue?" Ia hanya diam dan mencoba untuk melepaskannya dengan membuang wajah kearah lain tapi namanya juga cewek jauh lebih kecil tenaganya ketimbang tangan yang menggenggamnya saat ini.
"Apa sih gue mau ke kelas."
Jeng-jeng... setelah Franda melihat orang yang ada dihadapannya sekarang adalah Rival orang yang baru saja merendahkannya itu. "Apa? Gue mau ke kelas."
"Gue minta maaf."
"Apa minta maaf? Lo gak ada salah apa-apa kok. Lepasin tangan gue."
"Jadi lo marah sama gue?"
"Gak enak diliatin sama orang." Franda membiarkan Rival cuap-cuap gak jelas, ia berjalan pun tidak perduli kalau Rival dari tadi ngomong mulu.
"Eh Franda dari mana?" Chiko yang kebetulan sedang berdiri didepan kelas menyapa Franda.
__ADS_1
"Dari perpus chik, lo ngapain diluar kelas?"
"Gak papa kok."
"Ya udah gue masuk ke kelas dulu." Chiko mengangguk sambil mengarah ketatapan Rival. Biasa kalau cowok saling tatap suka gak baik.
"Kenapa lagi sih tuh anak." Karna ia baru dari perpustakaan dan harus memberikan buku yang baru ia ambil tadi dan harus memberi kepada bu Sukma.
"Gue heran kalau suka tuh gak usah terlalu ditampakkan juga kali."
"Maksud lo bert semakin hari semakin bisa lo ya."
"Gue kan suka baca makanya baca jangan makan mulu."
"Tuh dengerin."
"Lo juga jangan terlalu playboy bisa kan?"
...•••...
Franda menerima pesan baru kembali, tapi kenapa ini berkaitan dengan Rival.
Rival itu gak suka yang namanya dibantah, kalau lo mau deket sama dia please selalu ada buat dia.
Pesan apa ini? Franda memasukkan kembali ponselnya.
Tiba-tiba saja....
Suara yang tidak asing. "Fran."
"Albert? Kenapa?" Ia menarik Franda ketempat yang lebih sepi untuk membicarakan sesuatu yang penting.
"Lo suka gak sama Rival?"
"Rival? Enggak kok. Kenapa bert."
"Rival dalam bahaya."
"Apa?" Perasaan baik-baik aja.
"Iya, dia harus dikasih perhatian gitu apalagi orang terdekatnya dia."
"Maksudnya?"
Albert menunduk dan mengepal tangannya sendiri. "Dia sakit fran, dan itu parah banget. Gue juga baru tau tapi lo jangan kasih tau ini ke siapa pun ya gue mohon. Dan lo juga harus kasih dia perhatian."
"Lo bisa kan?" Sepertinya meyakinkan karna Albert merupakan sepupu dan sebagai sahabat juga. Franda hanya diam dan masih belum percaya sama sekali.
"Em, se--- se-- serius?" Albert mengangguk dan Franda masih belum percaya sama sekali.
"Ya udah kalau gitu gue balik dulu ya, gue harap lo perhatian sama Rival." Albert perlahan meninggalkan Franda yang masih mematung.
__ADS_1
Ia sangat yakin kalau Franda percaya. Sebenarnya ini adalah sebuah kejailan yang kemarin sudah ia rencanakan kepada Rudy dan Bima untuk mengetahui kalau tiba-tiba Franda perhatian sama Rival. Dan apa reaksi Rival. Karna sahabat yang satu itu merupakan sahabat yang paling gengsi dalam perasaannya.