Mantan Terindah

Mantan Terindah
78. Apakah Kembali


__ADS_3

Ketika cinta akan datang maka cinta itu juga akan ada yang namanya pergi meninggalkan, bukan maksud untuk menyakiti tapi untuk bisa membahagiakan orang lain.


Tapi jangan pernah salah cinta yang sudah tumbuh apalagi cinta yang sudah pergi...


Waktu dan keadaan yang membuat seseorang akan merasakan pendewasaan diri bukan mengegoiskan diri untuk mencapai apa yang tidak bisa digenggam.


Disini, Rival bingung dan harus seperti apa. Sementara rasa itu tidak dapat dibendung lagi.


Dan sebagai seorang kakak yang baik Roy ingin mengalah demi Rival, walaupun ia tau sekali ia juga mencintai Franda dengan tulus karna memang sejak lama ia kagum dan menyimpan rasa yang lebih.


Seseorang mengetuk pintu kamar Rival,


Dia, Roy.


"Val, gue pengen ngaku sama lo."


"Soal apa? Gue belum selesai belajar nih."


"Ini soal Franda val."


"Ya udah masuk aja."


Langkah kaki yang semakin dekat, dan berdiri disebelah Rival tepat didekat jendela.


"Gue cuma pura-pura pacaran sama Franda."


"Oh ya? Gue gak perduli tuh! Trus cuma mau bilang itu doang? Lo kan suka dia beneran kan kak? Ya udah jalanin aja secara kalian udah jadian juga dan satu hal gue bukan siapa-siapa dia lagi."


"Gue tau val, gue dan lo itu saudara. Gue tau gue suka sama Franda tapi gue juga tau lo adalah orang yang paling cinta dan sayang sama Franda. Trus gue pengen lo balik sama Franda, gue gelisah sama semua ini. Gue gak sengaja buka WA lo dan Rubi ngajak lo ketemuan buat ketemu sama Franda."


"Lancang banget ya lo main buka gitu aja."


"Maaf val."


"Gue juga gak bakalan datang, gak penting entar Rubi marah lagi."


"Serius lo val?"


"Yap gue serius."


"Mata lo bilang enggak val, tapi ya udah. Gue sebagai kakak cuma saranin yang terbaik aja. Kalau bisa lo ketemu baik-baik dan ya udah gue kebawah aja kalau gitu. Pikir ulang deh val!" Roy keluar dari kamar Rival dan menutup kembali pintu kamar.


Mengawali babak baru dengan Rubi.


Rival mencoba untuk memperlakukan Rubi seperti dulu lagi, ya sebagai seorang kekasih yang pernah singgah. Bersikap romantis dan apa adanya. Tapi apa?


Tapi rasa itu, Rubi merasakan sangat amat berbeda sekali, karna yang diketahui kalau misalnya seseorang yang tulus maka tidak ada kerutan atau lekukan terpaksa melainkan tulus apa adanya. Dan itu tidak ada didalam diri Rival. Ia mencoba untuk memaksakan kehendak agar Rival bisa kembali lagi, tapi apa? Rival tidak akan pernah bisa seperti dulu lagi karna Rival adalah Rival sosok yang sudah berbeda dari sebelumnya.


***

__ADS_1


"Lo siap bakalan bawa Franda sama Rival?" Rubi mengangguk. Ia memeriksa ponselnya untuk mengabarkan bertemu dengan Rival ketempat yang sudah mereka rencanakan untuk janjian.


Turunlah mereka ke rumah Franda yang tertutup rapat. Langkah kaki yang terasa berat tetap ia rasakan.


Chiko yang lebih dahulu mengetuk pintu rumah Franda. "Assalamu'alaikum."


Tidak lama ada seseorang yang membukakan pintu rumah. Bukan Franda tapi mamanya.


"Eh, temennya Franda ya? Ya udah masuk dulu."


"Disini aja tan, ada Frandanya?" Tanya Chiko yang membuka suara.


"Oh ada, silahkan duduk biar tante yang panggilin."


Kedua mata Rubi menatap kedepan mengatur nafas agar lebih stabil, tangan dan kakinya gemetar mungkin ini adalah keputusan yang sangat tepat sekali karna ini tidak mudah.


Chiko pun tertular dengan aura Rubi yang juga tegang.


"Hei kalian, tum----" Maklum tidak biasanya mereka ada disini berdua tanpa ada konfirmasi sebelumnya.


"Fran."


"Iya ada apa ya?"


"Fran, boleh gak lo ikut kita kesuatu tempat, sebentar aja. Ada yang pengen kita omongin nih. Boleh kan?"


"Ya, lo ikut aja. Gue gak ada maksud apa-apa sama lo kok. Please ya?" Chiko melempar senyum dan terus agar Franda mau ikut mereka.


"Tapi kemana dulu? Gue baru selesai belajar."


"Iya kita janji kok, mau ya..." Sahut Chiko lagi. Disini Chiko yang dominan untuk mengatakan sesuatu dan memohon kepada Franda.


Akhirnya Franda mengiyakan ajakan mereka ia masuk kedalam rumah untuk ganti baju.


***


"Val? Duduk sini." Rubi menyuruh Rival untuk duduk didepan Franda mereka saling beradu pandang satu sama lain, dingin tidak seperti biasanya.


"Ngapain sih lo ngajak gue kesini rub."


"Rub, kayaknya gue balik aja deh ya." Ucap Franda, ia takut Rival akan sindir dengan kata-kata yang tidak enak didengar.


"Fran." Panggil Rubi.


"Fran, gue mohon lo kembali ya sama Rival, Val gue mohon bahagiakan Franda." Suara itu serak menyatukan Franda dan Rival, mereka beradu pandang satu sama lain, dingin dan terasa sangat.


"Maksud lo apa rub?"


"Bukannya?"

__ADS_1


Rubi langsung menggeleng pelan, ia mendekat dan merangkul keduanya. "Kalian saling cinta gak sepantasnya gue ganggu atau apa. Rival memang masa lalu yang gak akan pernah mungkin akan kembali lagi sedangkan lo adalah perempuan yang pantas. Maaf, udah minta lo putusin Rival. Gue jahat dsn gue menyesal banget fran. Maaf juga val udah bikin lo kepaksa buat jadi tunangan gue. Disini gue belajar untuk mengikhlaskan hati dan perasaan. Kalau bukam jalannya jangan dipaksakan karna akan terasa sakit."


"Gue juga gak bisa memaksakan kehendak gue. Gue tau kalau selama ini terlalu egois memaksakan kehendak gue sendiri tanpa perasaan orang lain, gue bakalan bahagia sekali kalau kalian bahagia." Rubi berubah menjadi sosok yang apa adanya dan berubah menjadi lebih dewasa dalam bersikap. Chiko yang menunggu dari kejauhan pun menghampiri hingga Rubi pun berdiri mungkin ia peka dengan kode itu. Bibir Rubi terlihat gemetar sekali.


"Chiko?"


"Tenang val, gue disini gak mau ikut campur dalam kasus kalian. Rub, udah selesai? Kita balik yuk?" Rubi mengangguk dan mengiyakan pertanyaan Chiko.


Dan chiko pun tau kalau Rubi sangat sedih dan bahkan kecewa dibalik senyum yang seakan mengikhlaskan itu semua.


"Eh kalian mau kemana?"


"Kalian ngomong baik-baik ya. Gue bakalan tunggu kabar baik dari kalian. Semoga bahagia."


Rival atau pun Franda pasti merasa canggung mereka sibuk dengan kegiatan mereka sendiri yaitu memainkan ponsel.


"Fran."


"Val."


"Lo dulu aja." Suruh Rival.


"Gue balik ya val, udah malam. Permisi." Ia berdiri dan meninggalkan Rival.


Rival pun juga ikut berdiri,


"Fran. Tunggu!"


Kedua mata Franda memejamkan sebentar, "Gue pengen ngomong!"


"Gue harus balik."


"Sebentar aja. Gue yang anterin lo balik."


***


"Kenapa diam aja? Udah ikhlas kan?" Ucap Chiko melihat Rubi yang tidak hentinya menyeka kedua air matanya yang jatuh itu. Ia berusaha untuk tegar. Ini memang berat apalagi sosok Rival yang begitu sangat dalam sekali.


"Udah, semua bakalan indah kok rub, lo udah bisa membuang rasa ego sendiri. Jadilah Rubi yang gue kenal, menjadi perempuan tegar dan apa adanya." Senyum Chiko membawa pengaruh positif dan baik.


"Makasih ya chik."


Chiko hanya mengangguk saja lalu tersenyum. Salah satu bagian dalam hidupnya adalah bisa membuat orang lain membuang rasa sedih lalu menjadi rasa bahagia.


Mereka hanya berdua, tapi Rubi ingin melihat kedekatan yang ia ciptakan. "Kenapa kita masih disini?"


"Gue pengen Rival bahagia dan gue pengen dia bahagia." Apa boleh dikata Chiko hanya bisa mengalah dan ikut menyaksikan mereka berdua.


"Jangan sakiti hati lo kalau sakit hati mending kita pergi aja." Dari kejauhan memang mereka terlihat dingin dan canggung tapi Rubi yakin kalau mereka akan kembali.

__ADS_1


__ADS_2