Mantan Terindah

Mantan Terindah
19. Salah Paham


__ADS_3

...Jujur, ini aneh...


Para pemain basket sudah siap untuk bertanding kali ini yang hampir disaksikan oleh mereka-mereka yang menjadi penggemar. Permainan bola basket biasanya dilakukan setiap dua kali dalam sebulan biasanya kalau sebagai tim yang unggul akan dimasukkan kedalam lomba yang akan diadakan setiap 3 bulan sekali antar sekolah dan tim Rival yang sering sekali menjadi langganan dalam bertanding. Rival adalah katagori yang sangat tergesa dalam hal perlombaan ia ingin mewujudkan apa yang ia cita-citakan selama ini, seperti pemain bola basket terkenal. Walaupun terkenal bad boy tapi Rival adalah sosok yang perfect bagi yang mengetahui sudut yang jarang di ketahui banyak orang. Lusi sudah sangat semangat sekali melihat Rival bertanding, apalagi setiap sebelum Rival tanding ia selalu memberikan semangat entah lewat media sosial ataupun lewat langsung ketika mereka bertemu. Walaupun Rival cuek dan bodo amat dengan dirinya tapi ia tetap yakin dengan apa yang dibilang orang zaman dulu "Cinta akan datang karna terbiasa." Itulah pedoman yang ia pegang selama ini.


Cerry dan Franda mengambil bangku yang kosong untuk melihat pertandingan basket, kebetulan dari tim kelas mereka bertanding dengan tim kelas sebelah. Mungkin pertandingan akan sengit.


Wasit meniup peluit dan melempar bola keatas untuk diambil oleh mereka yang sudah siap saling berhadapan.


1


2


3


Mulai.


"Woy oper ke gue."


"Ke gue." Biasa kalau soal basket atau pemain bola mereka malah lebih bersemangat untuk menonton permainan bukan karna suka dengan permainannya tapi karna pemain yang memiliki penggemar masing-masing. Ditambah pula Chiko yang masuk ke tim Rival semakin riuh.


"Hai,.." Chiko dengan ekspresifnya menegur Franda dan Cerry duduk dipinggiran lapangan. Sedangkan Rival matanya mengeras dan tajam.


"Woy, lo mau basket atau mau jelalatan?" Ini adalah efek samping dari Chiko dan Franda yang beradu tatap. Chiko pun tidak mudah untuk mengambil resiko karna ia disini adalah anggota baru yang gak boleh menyebalkan.


Rival sengaja tidak mengoper bola basket ke Chiko yang padahal jarak mereka tidak terlalu jauh sekali. Susah sih kalau udah benci.


"Val, buruan lempar kenapa lo bengong?" Tapi bukannya mengoper ia malah melempar kearah lawan mereka sendiri. Kali ini Rival benar-benar tidak konsentrasi dalam permainan.


"Huh, kalau lo galau lo mending out aja deh val." Suruh salah satu anggota mereka.


"Mending lo istirahat lo lagi datang bulan? Lo oper ke Chiko kok malah ke lawan gak asik lo val." Ucap mereka yang saling bersaut sautan.


"Ini gara-gara lo cewek cupu." Gumamnya dalam hati dengan kesal.


Pertandingan semakin kacau dan riweh sendiri akibat ulah Rival. "Akhhh.." Rival melempar bolanya asal dan keluar dari dalam lapangan. Meneguk sebotol air putih dengan satu tegukkan.


"Ih Rival kalau lagi marah suka gitu ya?" Bisik mereka yang ada disamping Rival.


"Kalau lo gak suka mending lo pergi dari sini?" Tuntas Rival menebas obrolan mereka karna ketakutan mereka langsung saja perlahan memundurkan diri untuk pergi dari hadapan Rival.


Namun walaupun begitu pertandingan tetap berjalan walau Rival keluar begitu saja. "Chik oper ke gue." Chiko dengan gampangnya masuk kedalam untuk berbaur.


...•••...


"Fran, lo makin dekat aja sama Chiko? Apa lo udah jadian? Kalau jadian bilang sama gue ya." Ternyata kedekatan Chiko dan Franda mulai tercium oleh Cerry. Franda tidak bisa terlalu menjawab soal itu karna mereka tidak terlalu dekat juga bisa dibilang hanya sebagai teman baru walaupun mereka bukan baru saja kenal tapi baru saja dekat.


"Eh, ada kak Roy deh disana? Buruan kesana yuk?" Cerry mengambil langkah lebih dulu, tidak sabar untuk sekedar menyapa saja apalagi disana juga ada Rival. Dari kejauhan saja Roy dan Rival terlihat sekali wajah gantengnya apalagi hanya mereka berdua yang memiliki aura itu.


"Hallo kak, kok gak pulang?" Sapa Cerry.


"Oh iya gue lagi nongkrong aja disini, eh Franda." Tegurnya yang melihat Franda membuang wajah kearah lain.


"Eh kak Roy." Matanya menyorot kearah Rival yang menatapnya tajam.


"Kak gue pamit, guys gue duluan." Ia melangkah begitu saja tanpa pikir panjang.


"Dia emang kayak gitu." Sahutnya Roy yang tidak enak dengan mereka. Langkah kaki yang semakin jauh hanya bayangannya saja yang terlihat. Apa sebenarnya yang Rival rasakan hingga bertemu Franda saja ia males.


"Ya udah kalau gitu aku pamit ya kak, cer gue duluan." Pamitnya mempercepat langkahnya lebih dulu. Cerry masih mematung didepan Roy dan teman-temannya.


"Dia kenapa sih? Kok kayak beda gitu pas ketemu sama Rival? Rival juga gitu? Emang di kelas kayak gimana cer?" Wajar sebagai seorang kakak Roy menanyakan hal itu.

__ADS_1


"Aku juga gak tau kak." Sambil menatap Roy yang sangat ganteng sekali.


"Oh gitu ya?" Ia menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.


"Mungkin aja tuh Rival lagi suka sama Franda kan Chiko tadi sapa kalian kan? Gue yakin dia jealous." Sahut Bima dengan yakin. Walaupun ia tidak pernah yang namanya pacaran tapi ia tau gerak gerik Rival cowok gengsi yang lagi jatuh cinta.


"Akh.." Rival memukul kemudinya mengingat ketika Chiko menyapa Franda tadi. Ia merasa kesal sekali ditambah juga Franda yang tersenyum lembut.


"Sok cantik banget lo cewek cupu, dasar emang." Gumamnya dalam hati.


Suara klakson terdengar sangat jelas dari belakang, biasa kalau sehabis pulang sekolah atau sore ditempat ini begitu ramai untuk berlalu lalang. "Woy bisa sabar gak?" Teriak Rival yang membuka kaca mobilnya.


"Dasar gak sabaran banget." Setelah lampu kuning berubah menjadi hijau mobilnya pun melaju begitu saja.


***


Hari ini kebetulan sekali Franda tidak masuk untuk mengikuti belajar di kelas. Hanya Cerry yang ada disebelahnya. Bangku kosong itu biasanya diisi oleh Franda orang selalu bikin Rival naik darah entah dari mana sebab dan datangnya. Suasana berbeda ia rasakan kini ia melihat tampak berbeda sekali tampak sepi dan ada kecengan buat bikin masalah yang mengada-ngada. "Kenapa sih lo dari tadi liatin bangku Franda segala? Lo kangen sama dia? Mending lo jenguk dia kali aja dia seneng iya kan?" Ternyata gerak-gerik ditangkap langsung oleh Albert cowok kutu buku yang sejak dulu selalu jitu karna beberapa buku yang ia baca adalah tentang karakter seseorang ya yang berhubungan dengan psikologi.


"Gue kangen sama dia? Kalian bakalan gue traktir kalau misalnya gue kangen sama dia. Dan inget gue gak bakalan jenguk dia. Duh bikin dia geer doang cuy." Ucapnya dengan rahang yang begitu tegas sambil menegaskan kata-katanya membuang mata kearah lain.


"Ya kali ja." Rudy hanya bisa mengangkat bahunya karna ia sangat mengetahui kalau Rival bermental gengsi doang.


"Gak tau terima kasih banget ya si Chiko udah gue masukkan ke tim basket juga gak terima kasih sama gue. Mau tuh anak apaan sih?" Geprak Rival yang dengan begitu spontannya.


"Loh kok Chiko lagi? Apa hubungannya sama Franda? Apa ini ada kaitannya sama lo keluar gitu aja dari lapangan?"


"Tau nih, val lo makin aneh aja deh kalau sedang jatuh cinta."


"Tu nih."


"Kok gue liat-liat lo benci banget val sama Chiko atau ini semua ada kaitannya sama Rubi?"


"Duh kenapa kalian nyerang gue sih, gue bingung sama pola pikir kalian. Apaan lagi Rubi? Gak sama sekali." Rival melangkah begitu saja meninggalkan mereka bertiga di kelas pada dijanji awal ingin meneraktir mereka semua tapi apa karna keburu emosi ia pergi begitu saja.


Ia mengambil air meneral berukuran sedang yang masih disegel lalu meneguknya begitu saja seperti orang yang kesurupan. Beberapa pasang mata melihat aksi Rival kali ini bukannya mereka takut atau pergi tapi mereka malah mengabadikan sebuah moment untuk hanya sekedar memfoto, memvideo atau live instagram karna kali ini Rival yang ganteng banget.


Alay gak sih?


Emang. Tapi begitulah keadaannya yang terjadi. Itulah faktanya. Rival menatap kearah mereka yang mengambil gambarnya. "Apa lo?" Mereka dengan takut memasukkan ponsel mereka lalu menyimpannya walaupun sedikit.


Rival menarik nafasnya agar lebih stabil. Diujung sana ada 4 orang yang sedang asik tertawa hingga sampai ke telinga Rival. Ternyata itu Chiko dan kawannya. Tangannya mengepal panas dan ingin rasanya memukul Chiko bebas tapi ia hanya sabar dan lebih terkontrol ini sekolah bukan lingkungan luar dengan bebas yang begitu saja bisa ia lakukan.


"Kayaknya Rival liatin lo dari tadi chik."


"Biarin aja, dia benci banget sama gue dan gue udah tau dia dari dulu semenjak dia tau kalau misalnya gue sahabat Rubi padahal gue gak ada niatan buat rebut dia dari Rubi."


"Tapi seharusnya lo cerita dan jelasin langsung sama Rival, bukan lo diam aja dia bakalan salah paham terus sampai sekarang chik. Dia dendam banget sama lo."


"Udah diwaktu yang tepat gue bakalan cerita yang sebenarnya." Ucap Chiko yang jauh lebih tenang dan terkontrol.


Didalam hati Rival sangat kesal sekali bahkan benci kalau melihat Chiko dihadapannya apalagi setelah ia menerima Chiko masuk kedalam tim basket. "Ini semua gara-gara lo chik, semuanya."


Disana ada nama Franda disela obrolan Chiko dan teman-temannya. "Gue denger si Franda sakit chik bener?"


"Iya, gue udah denger kok dari Cerry."


"Cie makin deket aja lo sama Franda. Apa lo suka sama dia?"


"Apaan sih, enggak lah dia cuma temen kita doang kan masa gak perduli iya gak sih?"


"Temen kita? Lo kali bukan kita."

__ADS_1


"Hahaha."


...•••...


Langkah Rival masuk begitu saja kedalam rumah, menyuruh agar ketiga sahabatnya duduk terlebih dahulu. Ia menuju ke kamarnya untuk ganti baju.


"Kalian ngerasa aneh gak sih sama Rival? Dia kayak marah mulu sama kita heran gue."


"Tau tuh anak sukanya marah mulu kayak dia lagi datang bulan makanya suka gitu iya gak sih?"


"Iya juga sih hahaha."


Obrolan mereka bertiga semakin panas saja, ditambah cemiln yang mendukung diatas meja.


"Beda banget sama Roy, kayakny bukan kakak adek deh. Eh si Tiffany kok gak kelihatan dia kemana?"


"Ada kok dia sama sahabat-sahabatnya tadi pas kita lewat."


"Loh kok malah tau sih bert?"


"Eh lo lupa kah rud kalau si Albert sepupunya?"


"Ya kali kan." Jawab Rudy yang menggaruknya kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.


"Lo sebenernya gimana sih val?" Rudy juga bingung dengan sikap Rival yang sudah berubah-rubah ditambah pula setelah kejadian kemarin yang membuatnya kesal sekali ketika Chiko dan Franda beradu tatap. Dengan gaya playboynya ternyata berguna juga bagi Rudy dia bisa menelaah sikap Rival kali ini. Ia hanya bisa terkekeh dengan sikap Rival sendirian.


"Kebetulan pintu keluar masih terbuka lebar rud, kalau lo kesini cuma pengen ketawa doang mending lo out deh." Ia masih berdiri diposisinya dengan tangan yang masuk kedalam kantung celana.


"Lo kenapa sih val? Marah mulu kalau lo suka sama Franda bilang aja, gue udah kenal lo dari orok tau gak sih." Senyum Albert yang menuangkan air putih keatas gelas kosong disampingnya lalu meneguknya dengan dua kali tegukan ringan.


"Kalian lagi ngomongin apaan sih gue gak ngerti." Dengan polosnya Bima menggaruk kepalanya karna tidak mengerti dengan obrolan mereka ini. Rudy dan Albert menatapnya tajam dan mendekat seram.


"Mending lo makan yang banyak trus lo muntahin di kantin."


"Loh kok gitu?"


"Udah deh bim, lo gak ngerti juga yang gue omongin waktu itu." Bisik Albert diam-diam seakan agar Bima mengerti ia hanya tersenyum miring dengan Rival yang menatapnya berseberangan.


"Maksudnya? Kalian ngomongin gue dibelakang?"


Langkah kaki Roy dengan santainya terdengar dari tangga memainkan ponselnya dan heatset dibagian telinga. Dua perbandingan yang sangat berbeda sekali kalau dilihat dengan sekilas.


"Eh, ada kalian."


"Mau kemana kak?" Tanya Albert dengan basa basi karna mereka merupakan sepupu.


"Keluar bentar. Ya udah gue kesana dulu ya." Tunjuk Roy yang sudah melangkah kearah pintu utama keluar.


Rival dengn bergerutu dan menyindir merek yang menyelesaikan Roy keluar dari rumah. "Kalian masih normal kan? Gue gak mau ya kalau misalnya kakak gue jadi bahan sesukaan kalian."


"Hahaha, halu lo val. Gue masih bisa kli bedain mana cewek atau cowok. Gak tau deh kalau Albert sama Bima deh."


"Eh, gue enggak ya. Gue cowok normal kali."


"Gue juga."


"Ya kali." Suasana berubah begitu saja mengalir dan tidak tegang seperti pertama tadi. Mereka mulai tertawa kembali, bercanda kembali bahkan saling mengejek satu sama lain.


"Eh Franda sakit apaan sih kok bisa sakit?"


"Lo pikir dia patung yang gak pernah sakit? Dia manusia ya pasti bisa sakit lah aneh lo."

__ADS_1


"Sakit apaan tuh cewek cupu?" Gumam Rival dalam hati.


__ADS_2