
Pengujian cinta terjadi biasanya ketika ada sebuah kebahagiaan yang terlalu bersinar di dalamnya sehingga membuat beberapa pihak menjadi iri. banyak ujian yang bisa membuat keluarga itu utuh atau malah menjadi berantakan. karena tahun pertama begitu berat untuk kemajuan perindustrian musik Patrick dan Zhavia jadi kesibukan sudah merupakan ujina terberat Begi kedua nya. Zhavia yang begitu merindukan Patrick dan Patrick yang menjadi tidak mengerti perasaan istrinya sampai akhirnya mereka terjebak dalam sebuah peristiwa yang membuat mereka sulit memilih. apa mereka mampu bertahan?
...
Zhavia terduduk di sofa sambil memegang foto foto itu. Dia tidak melakukannya. Ini pasti foto rekayasa. Beberapa kali Zhavia pernah memergoki Daniel mengambil gambar dirinya ketika Zhavia tidak sengaja tertidur di ruang musik atau ketika piano tertutup. Zhavia memang sering terlelap di beberapa ruangan karena terkadang malam dia kurang tidur menunggui Patrick atau mengurusi Zena yang terkadang malam terbangun. Zhavia tidak enak membangunkan Dessy jadi dia yang menemaninya.
Namun, dengan semua kelalaiannya inilah yang ia dapatkan. Entah bagaimana dia menjelaskan pada Patrick. Dia sama sekali tidak melakukannya.
"Dapat dari mana foto foto rekayasa ini, Prita?" selidik Zhavia dengan wajah serius juga masih sangat shock.
"Seorang tukang pos mengirimkan map coklat yang berisikan foto ini nyonya! katanya Untuk Tuan Pat. Aku yakin ini pasti ulah Daniel! Dia memang tidak pernah puas!" jawab Prita menjelaskan.
"Prita, kau percaya kan kalau aku tidak akan melakukan hal ini?" ujar Zhavia meminta pendapat pada Prita.
"Aku percaya, karena aku wanita tapi tidak tahu bagaimana pandangan laki laki nyonya. Apalagi Tuan Pat juga seorang pencemburu nyonya. Sedangkan selama ini kau juga dekat dengan Daniel. kurasa respon Tuan Pat sangat wajar karna dia begitu mencintaimu," kata Prita lagi berusaha bertindak netral antara kedua majikannya.
"Oh God! Ada apa ini sebenarnya?! Mengapa rumah tangga ku menjadi berantakan tak karuan begini?" Keluh Zhavia beranjak dari sofa.
"Aku harus menemui dan bicara pada Patrick," kata Zhavia lagi harus menyelesaikan masalah ini.
"Nanti saja nyonya. Aku takut sekali kalian akan bertengkar hebat. Sebaiknya nanti dulu nyonya. Biarkan Tuan Pat tenang terlebih dulu bersama Tuan Eden dan Hoshi," sela Prita mencoba menahan Zhavia.
"Tidak bisa Prita! Aku harus bicara padanya! Sudah kau tenang saja! Kau di sini jika takut mendengarnya!" balas Zhavia tetap ingin menemui suaminya.
Zhavia pun bersih keras kembali ke ruangan suaminya. Baru saja ia keluar, Suaminya melintas dengan sangat geram dan penuh emosi. Eden dan Hoshi sudah mengikutinya.
"Patrick, Patrick, tenanglah, kau mau mencarinya kemana?" kata Eden menahan Patrick yang keluar dari ruangan.
"Kemana? Aku akan mencarinya ke apartemennya, ke mana pun ke neraka sekalipun, aku akan mencarinya. Pria sialan!" Decak Patrick hendak mencari Daniel.
"Zhavia, hentikan suamimu, dia sangat marah dan hendak membuat perhitungan pada Daniel. Cepat Zhavia!" Kata Hoshi yang merasa hanya Zhavia yang bisa menahannya.
Zhavia pun segera mengejar Patrick. Patrick berjalan cukup cepat.
"Patrick!" Panggil Zhavia. Sesaat Patrick mendengar suara Zhavia yang langsung membuat dirinya semakin kesal. Dia tidak habis pikir kalau hal ini benar benar terjadi. Hancur semua bayangan kebaikan tentang istrinya yang menurutnya seperti malaikat.
"PATRICK!" panggil Zhavia lagi makin kencang dan akhirnya Zhavia berhasil memegang pergelangan tangan suaminya.
"Lepas!" Bentak Patrick menghempaskan Zhavia sehingga wanita itu terjatuh. Hoshi yang juga mengejarnya langsung menghampiri Zhavia.
"Patrick! Apa apaan kau? Dia Zhavia, istrimu!" Bentak Hoshi. Beberapa siswa yang berkeliaran sudah melihat kejadian itu.
"Patrick tenangkan dirimu, lebih baik kita kembali, tidak pantas dilihat anak anak seperti ini," kata Eden juga memegang pundak Patrick.
Patrick masih memandang Zhavia yang berusaha bangun dengan bantuan Hoshi. Zhavia segera menghampiri Patrick dan memeluknya.
"Tolong jangan lepaskan pelukannya, jangan! Tenanglah Pat, aku tidak melakukan itu, percayalah padaku, ini semua hanya rekayasa, percaya padaku aku mohon!" Kata Zhavia memohon.
"Pat, ayo kembali ke ruangan, aku yang akan menyuruh orang untuk mencari Daniel. Zhavia bawa suamimu ke ruanga . Ayo ayo! Ini sekolah Pat tolong rendahkan emosimu!" Pinta Eden dan mereka berempat kembali ke ruangan.
"Tinggalkan aku dengan Zhavia!" Perintah Patrick kemudian. Eden dan Hoshi tentu segera keluar dari ruangan.
Zhavia duduk di sofa dengan suaminya. dia sudah melingkarkan tangannya di lengan patrick.
"Patrick, aku tidak melakukannya, percayalah padaku! Ini semua rekayasa," kata Zhavia setelah memastikan Eden dan Hoshi kuat dari ruangan.
Patrick setengah menoleh menatap istrinya. Seketika tubuhnya menjadi panas dan pikirannya tidak menentu membutuhkan sebuah pelepasan yang ingin sekali mengikat Zhavia agar tidak terlihat oleh siapapun. Patrick pun beranjak dari duduknya.
"Kau, mau kemana Pat?" tanya Zhavia bingung.
"Buka pakaianmu!" Perintah Patrick berjalan kenarah pintu menutup jendel ruangannya. Dia lalu berjalan ke arah bawah meja kerjanya dan mencabut sebuah kabel yang sepertinya kabel sambungan cctv.
"Pat, apa, apa yang mau kau lakukan?" Zhavia menutupi dadanya agak takut.
"Cepat buka pakaian mu Zhavia! Aku juga jadi ingin merasakan tubuhmu!" desis Patrick sudah membuka jasnya.
"Oh Tuhan Patrick! Kau percaya dengan foto itu?!" Decak Zhavia berdiri.
__ADS_1
Patrick lalu meraih wajah Zhavia dan berkata di depan Zhavia.
"BAGAIMANA AKU PERCAYA UNTUK SAAT INI BAGAIMANA ZHAVIA? sedangkan waktu itu saja kau tidak mempercayaiku karena melihat bekas lipstick di kerah kemeja ku ? Setelah Hoshi menjelaskan semuanya kau baru percaya kan? Jadi sekarang bagaimana diriku? Aku suamimu. Suami mana yang menerima melihat foto itu. Foto istrinya! Rekayasa atau bukan intinya sekarang aku sedang melihat kau dengan Daniel di atas tempat tidur yang sama tanpa pakaian dan hanya tertutup selimut. Bagaimana perasaanku Zhavia? Apa aku tidak normal jika aku tidak marah atau kesal sekalipun? Aku mencintaimu Zhavia. Aku pria biasa! Wajar saja aku cemburu dan sangat marah kan?" Kata Patrick dengan terus menatap kedua mata istrinya.
Zhavia terdiam. Dia menunduk. Semua yang dikatakan suaminya benar tapi dia benar benar tidak melakukannya.
"Mengapa kau diam? Apa jangan jangan kau benar melakukannya?" Tanya Patrick lagi mendongakan wajah istrinya.
Zhavia menggeleng dan hendak menangis.
"Jangan menangis! Aku melarangmu menangis! Kalau kau tidak melakukannya jangan menangis dan kau harus melayaniku sekarang. Kalau foto itu berkata benar kau benar benar sudah menyakiti hatiku Zhavia!" Ujar Patrick lagi di depan wajah istrinya.
Zhavia mencoba bertahan dengan terus memandang Patrick. Patrick lalu mencium bibir istrinya dengan cukup brutal. Zhavia sampai bingung mengimbanginya.
"Patrick, sakit! Mengapa kau menggigit bibir dan lidahku?!" keluh Zhavia meringis.
"Jangan menangis! Kalau kau menangis kau memang melakukannya, iya kan?!" bentak Patrick.
"Tidak Patrick tidak!!!" balas Zhavia juga memekik.
Ada rasa pilu di hati Patrick melihat Zhavia yang akhirnya menangis. Namun, rasanya begitu perih melihat foto itu. Semua pria di dunia ini juga pasti akan marah dan kesal ketika melihat istrinya tidur dengan pria lain.
"Sejak aku mengenalmu sebenarnya aku ingin menyembunyikan mu Zhavia! Karena rupamu yang begitu cantik, tubuhmu yang sangat menggoda dan suaramu yang menjadi candu siapapun yang mendengarnya. Sampai sampai aku tidak rela kalau orang lain menikmati seluruh kelebihanmu walau hanya satu nada suara yang keluar dari mulut sensual mu ini!" Desis Patrick sudah merengkuh pinggang Zhavia untuk lebih dekat dengannya. Dia memegang dagu Zhavia dan mengelus bibir Zhavia. Dia juga menyapu sedikit darah yang keluar di sisi bibir Zhavia karena gigitannya.
Zhavia sudah menangis karena takut dengan kemarahan suaminya bukan karena foto tersebut. Patrick tidak dapat menemukan Daniel dalam waktu dekat sehingga di meluapkannya pada Zhavia. Zhavia mengerti perasaan Patrick. Sama sepertinya waktu itu. Namun, bagaimana caranya membuktikan kalau foto itu rekayasa. Foto itu memang sangat nyata. Sekalipun Zhavia menjadi Patrick atau ada orang yang mengirimkan foto Patrick tidur bersama wanita lain, Zhavia juga pasti akan sangat marah. Melihat foto nya dengan mini waktu itu saja Zhavia sudah kesal dan sangat marah .
Kini Patrick sudah membuka kemeja nya dan menarik ke atas blouse yang Zhavia kenakan. Patrick menarik Zhavia ke sofa dan mereka melakukan penyatuan itu.
"Hanya aku yang bisa menikmati tubuh mulusmu ini Zhavia! Tapi mengapa kau membaginya dengan orang lain, dengan pria yang sangat kubenci!" decak Patrick mulai memasukan benda tumpul itu ke tubuh Zhavia.
"Tidak Patrick, aku tidak melakukannya. Percayalah padaku," ujar Zhavia terus memohon.
"Siapa yang tahu Zhavia sementara kau memang sangat dekat dengannya. Kau bahkan pernah membawanya ke mansion kita dan bermain dengan Zena kan? Kau keterlaluan Zhavia. Mengapa kau sejahat ini padaku? Kau mau membalas dendam karena aku tidak pernah ada waktu untukmu, iya Zhavia?" Kata Patrick lagi sambil menghentakkan tubuhnya dengan kencang menjelajahi liang liang kenikmatan Zhavia.
"Tidak Patrick, tidak ada sama sekali aku mau membalas dendam, untuk apa! Argh! Pat ini sakit sekali! Ah ah!" Balas Zhavia dengan deraian air mata dan hantaman bertubi tubi dari Patrick yang tidak begitu seimbang. Patrick menyerangnya dengan sangat cepat dan mendominasi agak memaksa.
"Dia bahkan menyatakan cinta padamu kan? Iya kan? Sudah banya bukti kalau bisa saja foto itu tidak rekayasa Zhavia! Mengapa kau begini hah?!" Bentak Patrick membuat Zhavia sangat terkejut dan dia hanya bisa menangis.
Akhirnya Zhavia hanya bisa pasrah menerima serangan Patrick yang cukup lama dan membuat tubuh nya lemah lungkai tak berdaya .
Dan Patrick pun mencapi klimaksnya. Dia menghentakan beberapa kali dan menyemburkan yang keluar dari sana . Ketika Patrick sudah beranjak dan hendak mengenakan pakaiannya, seketika muncul gejolak dalam perut zhavia. Seperti ingin muntah. Dia hendak ke kamar mandi yang ada di ruangan Patrick tapi dia terjatuh. Karena perutnya seketika keram dan kakinya sakit. Patrick pun menoleh dan melihat istrinya begitu tersiksa karenanya.
Zhavia masih berusaha bangkit dan ketika berhasil berdiri, dia lalu kembali berjalan tapi kakinya kembali lemah. Patrick sudah dengan sigap akhirnya meraih tubuh istrinya.
"Kau mau kemana?" tanya Patrick sedikit cemas.
"Aku belum makan Pat, perutku mual, aku harus memuntahkan ini semua. Ini sangat tidak nyaman," kata Zhavia memegang perut juga mulutnya.
Akhirnya Patrick menggendong Zhavia menuju kamar mandi . Ternyata Zhavia hanya mengeluarkan Zhavia. Patrick pun menyadari dirinya sudah menyakit Zhavia.
Terdapat tanda cinta di sekujur dada dan buah dada Zhavia. Setelah Zhavia membasuh mulut nya, Zhavia berbalik dan menatap Patrick.
"Pat, bantu aku, kakiku dan perutku sama sama keram dan aku belum makan, perih sekali!" Kata Zhavia memohon. Sesaat Patrick harus berusaha melupakan foto itu. Zhavia membutuhkannya.
Tanpa bicara dan berkata kata patrick kembali membantu Zhavia duduk di sofa dan mengenakan pakaiannya.
"Patrick, aku hanya mencintaimu, aku tidak akan melakukan hal hina seperti itu," kata Zhavia terus berkata kata seperti itu . Patrick diam Saja. Dia meraih ponselnya menghubungi Prita agar membawakannya makanan untuk Zhavia.
Tak lama Zhavia malah tertidur kembali di lengan Patrick. Sekitar dua puluh menit, Prita masuk dan melihat tuan serta nyonya nya sedang tertidur di sofa dengan saling bergandengan. Prita melihatnya tersenyum terasa tenang sekali. Prita berharap tuannya bisa mempercayai nyonya nya.
"Prita, apa Patrick dan Zhavia tidak bertengkar lagi?" selidik Hoshi berdiri di depan ruangan Patrick.
"Mereka berdua tertidur tuan Hoshi," jawab Prita memberitahu.
"Ah iya biarkan saja," kata Hoshi dan kembali memandang Eden.
"Kita harus melakukan sesuatu , Hoshi!" kata Eden berinisiatif. Patrick menjadi tidak menentu jika mempunyai masalah dengan Zhavia.
__ADS_1
"Ya, aku akan mencari tahu tentang foto itu dan membuktikan pada Patrick kalau semuanya rekayasa," balas Hoshi setuju dengan Eden.
"Kalau perlu sewa ahli telematika hosh!" tambah Eden.
"Ya aku paham,"
...
Malamnya mereka kembali ke mansion. Patrick mengantr Zhavia ke kamar dan menyuruh istrinya agar beristirahat lebih dulu sementara Patrick menemui anaknya. Ternyata Zena sudah tidur. Di sana Patrick malah menangis. Antara menyesal karena terlalu sibuk dan takut kalau Zhavia memang melakukan itu. Hatinya masih sangat sakit dan perih. Zhavia mengintip dari pintu yang terbuka sedikit. Dia harus meminta tolong pada Eden dan Hoshi untuk membuktikannya.
Beberapa hari kemudian, Eden sudah menjelaskan pada Patrick kalau foto itu benar rekayasa. Namun, Patrick malah menanyai apa kah sudah mendapatkan Daniel atau belum? Eden mengatakan belum dan patrick hanya mengangguk mendengar penjelasan sahabatnya. Dia masih ragu dan mempercayai foto tersebut.
Bersamaan dengan itu akhirnya Zhavia memeriksakan dirinya dengan testpack karena lagi lagi dia terus mengeluarkan makanan manis yang ia konsumsi. Sama seperti hamil Zena waktu itu dan dia sudah satu Minggu telat datang bulan.
Zhavia tersenyum lebar ketika melihat alat itu menunjukan tanda positif. Zhavia berharap dapat memperbaiki hubungannya.
Zhavia segera menemui Patrick di kamar yang kebetulan baru saja pulang sore itu. Zhavia dengan senang masuk ke dalam kamar dan langsung menunjukan alat tersebut. Namun, respon yang ia dapat tidak sesuai dengan yang Zhavia harapkan. Patrick malah beranggapan anak yang dikandung Zhavia sekarang bukan anaknya.
"Itu bukan anakku! Gugurkan! Aku bisa membuatkannya lagi!" Tutur Patrick melihat Zhavia menyodorkan test pack bergaris dua itu.
Seketika hati Zhavia meringis. Sakit rasanya, suaminya sendiri tidak mengakui anak hubungan cinta mereka.
"Apa maksudmu bukan anakmu? Aku benar benar tidak berhubungan dengan pria itu, Patrick!! Mengapa kau tidak percaya denganku?!!!" Zhavia mencoba membuat suaminya mengerti.
"Kau tidur bersamanya lalu kau bilang tidak berhubungan dengannya?!!! Foto ini apa Zhavia?!!" Patrick melempar sebuah foto Zhavia sedang dalam dekapan seorang pria yang bukan suaminya.
"Aku tidak melakukannya Patrick!!!! Itu bukan aku!!!!" Zhavia terus membela diri karna dirinya memang tidak melakukan apapun.
"Sudahlah, masih untung aku tidak menceraikanmu!" Decak Patrick dingin.
"Patrick, aku tidak menyukainya. Aku bahkan tidak ada rasa sedikit dengannya. Dan aku juga tidak pernah tidur dengannya. Aku bersumpah sayang! Aku hamil Patrick, ini akan menjadi adik Zena. Tolong jangan seperti ini!!" Zhavia memegang tangan Patrick agar suaminya percaya dan mengerti dirinya.
"Lepaskan Zhavia! Kau sudah terlalu membuatku bingung! Kau membuatku sakit dan patah, belum pernah aku sesakit ini. Kau menduakanku. Kau memang dekat dengannya dan sekarang kau mengatakan kalau kau hamil anakku setelah aku melihat fotomu berduaanmu tidur dengan pria brengsek itu! Maafkan aku, aku harus seperti ini denganmu!" Patrick melepaskan tangan Zhavia dengan pelan dan meninggalkan Zhavia yang akhirnya tersungkur dan menangis.
Dia bersandar di balik pintu mendengar jeritan istrinya yang memanggil manggil namanya dan mengatakan kalau bayi yang di dalam perutnya adalah anaknya. Dia terus di sana sampai istrinya terdiam dan sepertinya tertidur. Patrick sebenarnya tidak mau melakukan ini, dia hanya memberikan sedikit pelajaran agar Zhavia bisa menghargai hatinya. Pria mana yang tak hancur melihat istrinya, wanitanya tidur dengan pria yang bukan dirinya.
Dia akhirnya menyuruh Dessy menyiapkan makanan untuk istrinya. Sementara ia menunggu di ruang musik sambil memainkan pianonya dengan instrumental lagu berjudul Broken Vow oleh Lara Fabian. Sampai alunan itu menggema di seluruh mansionnya yang cukup besar.
Tak lama, ketika sang pelayan sudah menyiapkan makanan untuk nyonya nya dan mengantarnya, dia kembali pada tuannya.
"Tuan, maaf. Nyonya masih tertidur di lantai. Saya tidak berani membangunkannya!" Kata sang pelayan melaporkan kondisi Zhavia. Hari sudah gelap. Patrick menghentikan memainkan pianonya. Dia menghampiri istrinya.
Dia menghela napas. Dia menggendong istrinya ke tempat tidur. Pada akhirnya dia tetap mencintai istrinya. Dia tertidur di samping Zhavia.
Ketika pagi menjelang Patrick tidak menemukan Zhavia di sampingnya, tetapi sebuah surat yang ditulis Zhavia.
Dear suamiku, My Pat ❤️
Sebelumnya aku minta maaf, aku harus pergi dan melarikan diri darimu. aku hanya ingin menyelamatkan anak kita. kau seenaknya mau menggugurkan anak buah cinta kita, adik dari Zena.
kau tidak mencemaskanku, tenang saja aku akan menunggumu sampai kau percaya padaku! aku akan menunggumu sampai kau bisa membuktikan foto itu bukan foto ku. carilah aku jika kau sudah mempercayaiku.
aku harus meninggalkan zena agar tidak menderita dengan bersamaku. kalau kau keberatan mengurusnya, kau bisa berikan dia pada mommy ku!
katakan saja padanya suatu saat nanti kita akan kembali bertemu dan aku sudah memberikannya seorang brother.
aku mencintaimu pat, tunggu aku hanya sampai anak kedua kita lahir.
sampai jumpa
jaga dirimu
Tuhan memberkati.
...
next ya
__ADS_1
jangan lupa untuk LIKE DAN KOMEN
thanks for read and i love you 😍