Mantan Terindah

Mantan Terindah
Identitas Wanita Itu


__ADS_3

Menjelang pagi, Vita melihat sang suami masih sibuk dengan poselnya, membuat Vita sedikit marah.


"Mas kok masih main Hp, nggak bobo ya semaleman?" tanya Vita cemberut.


"Iya, Sayang. Mas lagi nyari dokter ortopedi terbaik ni, buat cewek yang ditabrak Gani," jawab Bima jujur.


"Dokter ortopedi? Gani nabrak orang? Gimana bisa? Kok Mas nggak cerita?" cecar Vita, sedikit kesal.


"Gimana mau cerita, Sayang? kamu kan udah ngorok," canda Bima.


"Ngorok... ih enggak ya, mana ada cewek seanggun Vita ngorok. Ngarang masnya." Vita cemberut.


Bima tersenyum senang. Lalu ia pun menarik tubuh sang istri dan mendekapnya erat.


"Itu tadi gimana ceritanya Gani bisa nabrak orang? Gani mabok? atau ngantuk barang kali?" tanya Vita.


"Kronologi nya yang pasti Mas nggak tahu. Bang Juan kasih tahunya juga belum lama, sekitar jam duaan tadi. Untung si korban dibawa ke rumah sakit tempat temen Mas kerja. Jadi Mas minta tolong beliau buat memantau, setidaknya buat nemenin Gani lah. Ini lagi nyari dokter Ortopedi," jawab Bima, jujur.


"Ooowh.. kenapa nggak dibawa ke tempat Mas kerja aja?" tanya Vita.


"Kejauhan, Sayang. Mungkin si Gani nyari rumah sakitnya yang deket lokasi kejadian. Cuma ni tadi, si Ridwan bilang kalo dokter Ortopedi yang kerja di rumah sakit dia kerja, belum lama ini resign.

__ADS_1


Belum ada ganti. Mau Mas rekomendasikan ke rumah sakit Mas. Ini mau Mas kasih tahu, cuma lihat nanyi deh!" jawab Bima.


"Ohhhh... kenapa nggak dibawa aja ke Jakarta, Mas. Dokternya bang Zein bagus loh atau mau dokternya Luis, juga bagus. Tapi bayarnya juga bagus sih," jawab Vita, sedikit bercanda.


"Oh iya juga ya, nanti masalah bayar gampang. Kan ada kamu, ada aku, ada bang Juan. Nggak mungkin juga kita merem, Dek," jawab Bima, ikutan bercanda.


"Iyalah, Mas. Lagian Gani udah lama ikut bang Juan. Mana mungkin bang Juan mau lepas tangan. Ya udah rekomendasikan aja dokter itu ke Gani. Nggak usah mikir lagi," ucap Vita.


"Oke deh, besok Mas rekomendasikan ke dia. Yuk bobo lagi. Mas jadi ngantuk. Oiya, besok Mas balik ke Lombok dulu ya. Nggak apa-apa kan Mas tinggal sebentar?" tanya Bima.


"Iya, Suamiku. Nggak apa-apa. Vita juga minta maaf, karena nggak bisa nemenin masnya ke sana. Tapi Vita janji, nanti setelah kasus ini selesai dan Vita dapat izin berpergian, Vita pasti bakalan langsung terbang ke Lombok. Vita janji," ucap Wanita cantik ini.


"Janji?"


"Setelah kita ketemu lagi, boleh ya!" tagih Bima.


"Aku milikmu, Suamiku! Apapun yang kamu inginkan dariku, aku ikhlas," jawab Vita.


Tak ada jawaban yang lebih indah dari itu. Bima begitu bahagia. Kebersamaan merek memang bisa dihitung dengan jari. Tetapi cinta yang mereka rasakan serasa amat sangat sempurna.


Vita begitu pandai menghadapi Bima. Memenangkan kegelisahan pria yang kini menjadi pemilik utuh cintanya. Ya, cinta itu memang tampak nyata dan mereka berdua sangat menyukai itu. Bahkan sebelum mereka memejamkan mata, terlebih dahulu mereka saling berciuman. Tentu saja untuk saling menyakinkan bahwa mereka berdua memang saling mencintai.

__ADS_1


***


Di sisi lain, meskipun Ridwan telah berjanji menjaga wanita yang ia tabrak, namun Gani tetap saja tidak bisa tidur.


Selepas mandi dan mengganti pakaiannya, Gani pun langsung merapikan barang-barangnya dan kembali ke rumah sakit. Berniat menjaga gadis itu sendiri. Setidaknya sampai pihak keluarganya datang dan menggantinannya menjaga gadis itu.


Di dalam perjalanan ke rumah sakit, Gani mengingat kembali ketika gadis tersebut menyeberangi jalan. Seperti tidak peduli lagi dengan hidupnya. Seperti sedang menanggung beban hidup yang sangat berat.


"Ada apa dengan wanita itu, apakah dia gila? Atau sedang putus cinta? Ahhh.... merepotkan saja," gerutu Gani, sedikit kesal.


Namun, tak dipungkiri bahwa dia juga kasihan pada wanita yang ia tabrak itu. Sepertinya dia memang sedang memiliki banyak masalah.


Gani menatap barang-barang pribadi milik wanita yang ia tabrak. Lalu mengingat sebuah tas tangan yang ada di dalam mobilnya. Gani pun penasaran dengan identitas wanita tersebut.


"Astaga! Bodoh sekali aku, kenapa tidak ku buka dari malam tadi. Huff.. oonnya!" gumam Gani.


Sesampainya di parkiran rumah sakit, Gani pun segera membuka tas tangan tersebut dan mencari tahu siapa nama dan di mana keluarga wanita itu tinggal.


"Ohhh, dia seorang perawat. Oke... Eh, orang Jawa rupanya." Gani tersenyum. Lalu ia pun meraih ponsel milik wanita itu. Sayangnya daya ponsel mati. Gani segera mencari charger untuk mengisi daya.


Beruntung di dalam tas tersebut juga ada charger yang tersedia. "Dia prepare juga rupanya," ucap Gani. Ia pun menunggu beberapa menit sampai ponsel terisi terisi baterai.

__ADS_1


Tentu saja ingin mencari salah satu keluarga atau teman barang kali. Setidaknya Gani bisa berdiskusi dengan mereka. Tentang bagaimana ia harus bertanggung jawab terhadap wanita ini.


Bersambung...


__ADS_2