
Tak menunggu waktu lagi, Juan pun segera menghubungi Laskar. Tetapi tak diangkat.
Juan tak hilang akal. Ia pun langsung menghubungi Zein. Barang kali Zein bisa diajak mendiskusikan masalah ini.
"Zein, aku punya informasi penting. Menurut Gani, pria yang kita makamkan itu bukanlah Bima. Bukan juga anak buahku. Anak buahku memang masih ada yang belum ditemukan, tapi Gani tetap yakin jika itu bukanlah Bima!" ucap Juan.
"Benarkah? Apa kamu tahu Jun, kalo aku pun curiga bahwa jenazah itu bukan lah Bima. Bahkan Zizi pun mengatakan itu."
"Benarkah? Astaga! Kenapa aku bisa dibodoh ini. Kenapa tidak meminta otopsi saja waktu itu. Ini sih gila, Zein. Pantas saja Vita kekeh kalo itu bukan suaminya. Maaf, Zein, sebaiknya kita segera bertindak. Kalo kamu nggak keberatan, boleh nggak aku minta tolong?" ucap Juan.
"Aku siap untukmu dan keluargamu, Jun. Tenang saja," jawab Zein, serius.
Tak mau bertele-tele, Zein dan Juan oun bagi tugas. Zein diminta mencari tahu mayat siapa yang mereka kebumikan. Sedangkan Juan mulai mencari keberadaan Bima melalui informasi-informasi yang ia terima.
Tak sampai di situ, tak lupa mereka juga meminta bantuan Laskar, untuk menecari tahu siapa dalang semua masalah ini.
__ADS_1
Juan senang, sebab informasi yang diberikan Gani, nyatanya sama dengan ucapan Zein, yang artinya ada kemungkinan bahwa Bima masih hidup.
Diam-diam Zein sendiri curiga bahwa jenazah yang dikebumikan itu bukanlah jenazah Bima, jauh sebelum Juan menghubungi nya. Kecurigaan ini juga didukung oleh Zizi, saat wanita itu ikut melihat jenazah itu. Namun, kala itu Zizi belum berani berucap apapun karena pihak keluarga sangat berkabung, sangat berduka. Ia tak ingin menambah lagi masalah mereka.
"Kamu yakin Zizi juga curiga kalo yang kita makamkan itu bukan Bima?" tanya Juan.
"Yap, Zizi juga berpikir sama denganku. Hanya saja waktu itu banyak sekali kegaduhan yang kita hadapi. Sehingga aku dan Zi mencoba meredan dulu kecurigaan kami. Baru tadi malam aku dan Zi bahas masalah ini dan anehnya kami punya pemikiran yang sama. Baru aku mau telpon kamu dan ngomongin masalah ini. Ehhh, kamu udah telpon duluan. Ya syukurlah, sebaiknya kamu segera bergerak Jun. Biar jenazah yang Semarang aku yang urus. Nanti hasilnya aku kabari ke kamu," ucap Zein.
"Siap, Zein. Terima kasih banyak atas bantuanmu."
"Oke!"
***
Di lain pihak, apa yang ditakutkan Sera, Lastri dan juga Luna tidak menjadi kenyataan. Nyatanya, Vita begitu bahagia menyambut kabar gembira ini. Bahkan ketika ia tahu bahwa di rahimnya ada benih cinta antara dirinya dan Bima, Vita langsung sujud syukur. Wanita ini langsung menangis bahagia. Sungguh, ia tidak menyangka, di tengah kabar duka yang ia terima ada kabar seindah ini.
__ADS_1
"Doakan mas Bima cepet kembali ya, Ma. Vita mohon!" ucap Vita dalam isak tangis bahagianya.
Lastri dan Sera tak kuasa mendegar ucapan itu. Bagaimana tidak? ucapan itu serasa tamparan keras untuk mereka.
Bima yang telah mereka yakini meninggal dunia. Tiba-tiba saja, Vita meminta doa mereka, agar Bima segera kembali. Bukankah ini menyedihkan?
Vita tak peduli meskipun mereka mungkin menganggapnya depresi atau barang kali gila. Vita tetap yakin bahwa sangat suami masih hidup.
Janji yang pernah ia ukir bersama pria itu pasti masih berlaku. Bima begitu sungguh-sungguh mengucapkan janji itu kepadanya. Dan Vita yakin, tak semudah itu Bima bisa lari janjinya.
***
Siang telah berganti sore, Juan dan gengnya telah memulai misi mereka. Menyisir tempat-tempat yang dicurigai.
Bukan tanpa alasan Juan dan anak buahnya menyisir tempat itu. Indiakasi tempat-tempat bisa menjadi tempat disekapnya Bima saat ini, mereka dapatkan dari Laskar. Hasil introgasinya dengan Victor tadi pagi..
__ADS_1
Meskipun belum menemukan hasil, tapi mereka tidak menyerah. Mereka tetap berusaha semaksimal mungkin. Sebab Juan yakin, beberapa informasi yang ia dapatkan, mengindikasikan bahwa Bima memang masih hidup dan dalam kuasa seseorang yang tamak karena kuasa dan harta.
Bersambung...