
...Rasa itu semakin dekat dan uji coba selalu aja...
"Mil menurut lo kedua cewek yang ada di kelas itu kecentilan banget gak sih gue jadi bingung, kak Roy, Rival suka aja sama dua bocah itu." Kedua tangan Lusi memegang pinggangnya melihat dua keceriaan antara Franda dan Cerry yang asih bercerita.
"Gue juga ngerasa kayak gitu, tapi kan bukan urusan kita juga kali."
"Ya menurut lo pinterrrrrr, jangan terlalu polos deh jadi orang." Kesal Lusi yang menurutnya Milka kadang suka lola alis loading lama wkwk.
Tapi walaupun begitu Franda dan Cerry tidak memperdulikan orang-orang yang tidak suka dengan dirinya apalagi Cerry tipe orang yang cuek.
"Lo temenin gue ya cer, gue malu sendirian ke ruang OSIS."
"Ya udah deh, ketemu kak Roy kan?"
"Udah gak marah lagi?" Cerry menggeleng dan tersenyum tipis.
Mereka pun menuju ke ruang OSIS tempat dimana berkumpulnya anggotanya disana. Rasa deg-deggan itu pasti selalu ada apalagi mereka merupakan bukan anggota dari itu. Karna Cerry memang dari dulu terkenal salah satu cewek cantik ia pun sering digoda.
"Cer, mau kemana lo."
"Ke ruang OSIS." Sahutnya dengan melempar senyum.
Biasa kalau pintu ruang OSIS emang ditutup sebagian, apalagi menjelang HUT seperti ini pasti saja harus konsisten membahas dan lebih intens lagi. Cerry dan Franda memberanikan mengetuk pintu yang tertutup itu. "Permisi, assalamualaikum."
"Permisi."
Dan ketika pintu dibuka, dan semua sorot mata kearah mereka berdua. "Ya udah masuk aja yuk."
"Kita bahas didalam aja yuk kan kalian berdua belum pernah masuk kedalam baru tau luarnya doang kan?"
"Eee, gak usah kak. Aku cuma pengen kasih ini ke kakak ketinggalan kemarin. Dan ini pernak-pernik yang kakak titip ke aku." Sahut Franda yang malu kalau masuk kedalam ruangan.
"Oh gitu ya, wah padahal sayang banget sih kalau lo gak masuk."
"Mau masuk dulu?"
"Eee lain kali aja kali kak, ya udah permisi ya. Yuk cer." Karna saking gugupnya ia pun langsung pergi gitu aja apalagi pintu OSIS terbuka setengah dan sorot mata mereka mengarah kearahnya.
"Cer, kok lo gak bareng Franda?"
"Eh iya kak." Cerry pun saking terpesonanya.
Roy hanya geleng-geleng kepala. Ia masih teringat ketika Franda memberikan tadi, senangnya bisa ketemu walau sebentar.
...•••...
"Eh guys, gue balik dulu ya. Fran ayo." Ia hanya mengangguk saja. Sedangkan Manda diam dan juga ingin diperlakukan seperti itu.
"Maaf ya jadi maksa banget buat lo ikut, pasti Rival nungguin lo deh, coba cek hp lo." Roy menyuruh Franda untuk mengecek ponselnya itu dan ia sangat yakin seyakin-yakinnya kalau benar Rival khawatir.
Setelah ngecek, ekspresi Franda mengangkat alisnya keatas. "Kenapa? Bener kan?"
"Hahaha ya udah yuk kita samperin aja." Sahutnya.
Sejak tadi Rival sudah menunggu Franda didepan pintu gerbang, tapi batang hidung Franda tidak kunjung datang juga hingga sekolah sudah hampir sepi. Badan yang masih kurang sehat terus ia paksakan. "Ah lama banget perasaan gak ada deh dia keluar dari sini."
Ponsel Franda pun tidak kunjung mendapat respon.
Dan setengah jam kemudian, Rival melihat beberapa orang yang keluar dari ruang OSIS dan pantas saja yang membuat Rival terkejut sekali adalah Roy dan Franda yang juga ikut keluar. "Oh mereka." Ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Tapi Rival masih saja memperhatikan mereka. Ia melihat Franda begitu bahagia dekat dengan Roy ditambah pula rasa cemburu itu ada. Sebenarnya hari ini ia belum boleh masuk ke sekolah tapi ia terus saja memaksa. "Rival? Kok lo belum balik?" Ucap Roy yang bingung padahal biasanya Rival balik bareng Rudy, Bima dan Albert tapi kali ini berbeda.
"Kak, itu semua harus selesai juga ya? Kapan kak?"
"Entar gue kabarin ya, gue balik dulu, val gue duluan." Tepuk Roy dibahu Rival.
"Ya udah yuk balik." Seakan tidak terjadi apa-apa, ia pun pun berjalan begitu saja tanpa ada masalah sama sekali.
"Makin lama lo gak menghargai gue ya. Lo pikir gue tuh siapa hah?"
"Sibuk sendiri aja, gue tuh sakit dan lo marah berdua sama kak Roy, genit banget sih jadi cewek." Sindirnya yang menutup kencang mobilnya tanpa menyuruh Franda untuk masuk.
"Ya udah buruan biar lo gue anterin balik." Kasarnya lagi. Walaupun hanya kasar secara verbal tapi tetap saja bikin emosi dan kesal.
Franda menarik nafas sebentar, dan ketika ia ingin masuk ia pun dioceh dengan ucapan yang bikin sakit hati lagi. "Eh lo tuh syukur harusnya pacaran sama gue, karna gue tuh udah nerima lo. Udah dikasih hati malah minta jantung. Udah buruan!"
"Kenapa gitu aja marah sih?"
"Ya gue marah lah. Lo yang kecentilan buruan masuk gue buru-buru belum minum obat."
"Ya udah kamu pulang aja sekarang, aku bisa kok balik sendiri tanpa diantar. Aku pulang duluan ya."
"Eh mau kemana lo?"
"Fran, fran.. Franda.."
"Akh..... gimana sih." Kesal Rival yang mengepal kedua tangannya, ia melihat Franda semakin menjauh berjalan kaki.
...•••...
Dilayar laptop Roy selalu sibuk sendiri setiap malam, apalagi ketika HUT nanti yang akan membuatnya jauh lebih sibuk sesibuk-sibuknya. Tiffany lebih lagi, yang mendengarkan lagu-lagu galau dengan headset. "Lo kenapa sih sibuk banget?"
"Bagus-bagus, val lo kenapa diem aja? Tumben lo." Senggol Tiffany yang melihat hanya diam saja memperhatikan siaran yang ada tv, biasanya Rival paling anti yang namanya acara yang ada tv.
"Gue lagi gak mood, gue keatas dulu." Sahutnya dengan ketus mematikan tv dengan cepat. Langkah kakinya pun seakan menghentak begitu saja.
Rival mengambil jaketnya dan keluar lagi dari kamar yang tidak lama dari itu. Ia bosan di rumah, dan memutuskan buat nongkrong ditempat biasa.
"Mau kemana lo val?" Tanya Roy dengan santai.
"Cari angin, disini panas." Untuk sementara ini Rival sangat cemburu sekali apalagi Franda dengan Roy yang semakin dekat saja bahkan mereka intens berdua. Padahal tidak ada kata cemburu tapi ya karna itu tadi terlalu tempramental dan labil dalam suasana.
Roy menarik nafas sejenak ia juga bisa merasakan kalau Rival sedang cemburu kepada dirinya.
***
Tumben banget dan moment yang pas buat Rival curhat tentang sesuatu. "Mah, boleh curhat gak?"
"Eh val kenapa?" Sahutnya yang bingung, kalau bicara curhat Rival sangat jarang sekali dan itupun terakhir ketika baru putus atau galau tentang Rubi. Ia menepuk sofa yang kosong disebelahnya agar Rival duduk tapi bukannya duduk ia malah merebahkan kepalanya ke paha dan matanya menatap keatas.
Kalau seperti ini pasti ada hal yang penting yang ingin diucapkan oleh Rival. "Soal apa sih sayang, pasti soal perempuan ya? Kenapa lagi? Kalian berantem?"
"Eeem, gitu mah. Masa kak Roy deket-deket sama dia. Kan cowoknya itu Rival mah bukan dia."
Ia tersenyum saja tidak mau berpihak kesiapapun, yang terpenting kedua belah pihak tidak ada benci membenci. "Kamu udah nanya ke kak Roy belum?"
"Belum sih."
"Kalian tuh saudara, sampai kapan pun akan menjadi saudara jadi gak boleh saling membenci boleh salah paham tapi jangan benci ya." Sahutnya yang mengelus puncak kepala Rival.
__ADS_1
"Tapi gimana sih mah cara buat cewek tuh ngerti perasaan cowok, soalnya dia gak pernah ngerti sama aku. Soalnya aku terus yang paling mengerti."
"Kalian tuh masih labil jadi ya jangan salah paham, kalau kalian pengen langgeng ya berarti harus saling mengerti satu sama lain."
"Jadi Rival harus mengerti dia? Sedangkan dia gak mau mengerti egois banget mah dia." Kesal Rival.
"Gak gitu juga sih, pokoknya perempuan itu paling suka dengan kelembutan dan gak suka yang namanya dikekang bahkan dia bisa pergi gitu aja kalau terus menerus. Jadi saran mama kamu harus bisa merubah sikap kamu sebelum kamu menyesal val."
Rival pun hanya diam dan merenungi nasihat dari mama. Benar juga ucapannya dan langsung masuk kepikiran. "Kalau gitu Rival harus merubahnya kah?"
"Ya."
Mereka berdua saling tersenyum ikatan keduanya antara anak dan seorang itu. Rival mencium tangan mamanya dan berpamitan untuk pergi. Moodnya pun kembali pulih dan ada semangat untuk memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Jam segini masih buka toko bunga langgangannya, dan ia pun bergegas untuk membeli disana. "Ah semoga aja dia suka."
...•••...
Setelah itu ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah Franda dengan jantung yang berdebar kencang, suasana yang sudah sepi dan datar. Suara jangkrik saja yang paling dominan. Lampu kamar Franda masih menyala, awalnya ia ingin mengetuk kamar Franda namun itu kurang sopan. Dengan ragu,
Ia pun mengetuk dan mengucapkan salam. "Assalamualaikum." Ucapnya."
Dan...
Rival sengaja datang ke rumah Franda dengan membawa sebuket bunga merah sebagai permintaan maaf karna hari ini tidak ada sama sekali komunikasi diantara mereka. Ia takut Franda marah dan akan melakukan sesuatu hal yang tidak diinginkan.
Karna tidak ada jawaban sama sekali ia pun memutuskan untuk menaruh sebuket bunga diatas meja lalu pergi tanpa alasan.
"Rival?" Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika ada suara yang menghentikannya itu.
"Itu kamu?" Lanjutnya lagi. Rival tersenyum tipis.
Dan benar itu Franda, yang sudah memakai baju tidur. "Ambil bunga itu, gue mau pamit."
"Maksud lo?"
"Ambil aja, entar setelah itu lo baca sendiri ya. Oh iya maaf kalau gue selama ini kasar sama lo. Mulai besok gue bakalan lebih baik lagi gak ada kata kasar, atau selayaknya pacar yang baik buat lo."
"Mak----"
"Entar lo bakalan ngerti sama maksud gue, udah malam kayaknya gue balik aja gak baik." Sahut Rival yang berucap dingin. Namun ia sebenarnya rasa campur aduk, tapi itu tadi gengsi.
"Oh iya maaf."
"Hati-hati pulangnya ya. Jaga kesehatan val."
"Hm, makasih kamu juga. Love u."
"Love u too."
Langkah Rival semakin pergi, sebuket bunga merah tercium harum sekali. Masih segar dan kertas kecil yang terselip disana.
^^^Maaf, kalau gue kasar. Intinya gue cemburu sama kak Roy. Gue lagi jujur!! Jangan ketawain gue. Gue janji bakalan setia dan bahagiain lo. Selamat malam, sorry gue pengecut buat nulis disini tanpa ngomong langsung. Intinya mohon maaf.^^^
^^^)Rival(^^^
Franda tersenyum tipis, dan membawanya bunga itu masuk kedalam rumah. Mengunci pintu rumahnya, Jadi cowok itu bisa seromantis itu dengan caranya sendiri.
Franda masih terngiang dengan ucapan Rival, cowok itu udah ia duga dari awal kalau memang baik terlihat dari luar seperti bongkahn batu tapi dalamnya selembut kapas, Sensitif!
__ADS_1
... ...