
Tepukan gemuruh pun terdengar dari orang-orang yang melihat, ada sebagian yang tidak terkejut karna sudah mengetahuinya tapi ada juga yang tidak mengetahui takjub dan tidak menyangka sama sekali itu suara sang ketos kita. "Lagi lagi lagi.." Penonton meminta lagi untuk dinyanyikan, sepertinya mereka menikmati itu nyanyian yang dibawakan oleh Roy yaitu Kesempurnaan Cinta dari Rizky Febian.
Karna guru-guru disini tidak mau ketinggalan mereka pun juga ikut menyanyikan lagu nuasa 80-an mereka. Bukan sekedar acara HUT saja melainkan acara yang fleksibel. Ada juga yang suka lagu genre dangdut, rock, pop, keroncong, jazz dan lain sebagainya.
Meriah sekali acaranya berjalan dengan lancar, Nah ini nih saatnya kue pemotongan untuk HUT ke 50 tahun yang sudah dipesan oleh mereka semua. Dan para siswa ataupun guru yang hadir juga tidak lupa mengabadikan foto untuk acara yang jarang sekali terjadi ini ya kalaupun ada harus menunggu beberapa waktu kedepan.
1
2
3
cekrek..
Kue pertama diberikan ke kepala sekolah yang berjasa sekali untuk sekolah ini, bukan cuma itu saja kepada wakil, alumni guru yang sudah tidak mengajar disini lagi. Dan untuk kepala sekolah, wakil ataupun guru yang masih mengajar pun diberikan potongan kue secara bergantian. Suasana berubah menjadi lebih haru lebih berharga lagi kedepannya.
Sebelum acara benar-benar ditutup, semua siap untuk berfoto bersama diatas panggung sebagai moment yang akan dipajang diruang kepala sekolah.
"Val, mau kemana lo?"
"Gue cabut dulu." Sahutnya yang meninggalkan lapangan dimana acara itu dilaksanakan.
Cerry berbisik ke Franda ia melihat Rival berdiri dan meninggalkan lapangan begitu saja. "Fran, Rival tuh kejar."
"Biarin ada saatnya dia sendiri, kasih dia waktu buat tenang."
"Lo gak perduli?"
"Udah biarin aja, eh foto bareng yuk."
***
"Huh gue capek banget tau gak kerasa acaranya berjalan lancar." Roy tergeletak diruang OSIS kedua yang biasa mereka tongkrongin kalau lagi santai.
"Iya ya gak nyangka banget, edisi foto-foto sama bu Ningrum gak tadi? Ibu cantik kita dulu, kan dia pensiun dini karna pindah ke luar kota. Ini dong fotonya." Roni memamerkan foto-foto dirinya dengan bu Ningrum guru yang pernah mengajar disini tapi harus pindah keluar karna mengikuti suaminya.
"Walaupun dia udah punya suami tapi cantiknya masih ya, natural gitu." Roni salah satu sebagian siswa pengagum bu Ningrum, guru yang disukai siswa atau siswi disini, bukan parasnya saja yang cantik tapi dari mengajar beliau yang begitu bagus sekali membuat siswa atau siswi paham dengan penjelasannya.
"Iye deh yang terpesona sama bu Ningrum hahaha. Gue haus nih minum dong minum." Sahut Roy yang menyuruh Roni untuk mengambil minum karna tenggorokannya terasa kering sekali.
"Roy gimana lo sama tuh cewek." Roy bingung dan mengerutkan dahinya keatas karna bingung dengan pertanyaan ambigu itu. Ia membuka kakinya lebar dan tangan yang juga membuka lebar kekanan dan kekiri. Kedua matanya menatap keatas kelangit-langit atap ruangan. Cahaya lampu yang cerah, dan terang sekali walau masih siang hari karna ruangan ini didesain untuk kedap udara tanpa ventilasi sama sekali.
"Siapa, suka gosip deh lo pada."
"Semua terbayar dengan acara sesukses tadi ya, sumpah gue gak nyangka sama sekali. Bentar pelepasan gue sebagai ketos di sekolah."
"Jangan lupain kita-kita Roy, gak kerasa ya bentar lagi kita bakalan pisah dan mengejar cita-cita masing-masing ya. Jangan ada sombong lo semua. Inget gak Roy waktu lo marah karna kita gak disiplin."
"Lo juga pernah pipis di celana kan? Hahaha."
"Hahaha ngakak woy." Kejadian disana yang telah lalu tidak akan pernah terulang kembali bahkan disaat kita sekarang sukses pun kita tau sendiri kalau semua itu berawal dari masa lalu karna adanya masa lalu tidak ada masa sekarang. Masa lalu akan selamanya terkenang, tersimpan dan memori yang sampai kapan pun akan terus dan terus.
Makanya setiap apapun Roy selalu menjadikan moment atau kenangan didalam ponselnya sebagai kenangan yang pernah ada, bukan cuma bahasa saja tapi pembelajaran dalam kesedihan.
__ADS_1
"Widih kenapa kalian pada pelukan gitu sih?"
"Lo juga kenapa nangis."
Roy mengambil segelas air yang dipegang oleh Roni meneguknya karna sudah kering sekali tenggorokannya. "Huh lama banget, kita tuh lagi cerita-cerita tentang pertama kali kita kenal, trus gak kerasa aja udah mau lulus sekolah. Lo juga ron jangan sombong kalau udah sukses."
"Iya dong pastinya., tapi kelulusan bukan kita untuk berpisah tapi awal kita buat menuju sukses. Jangan lupa bawa gandengan ya."
"Kayak lo laku aja. Mblo mblo... hahaha."
***
...Sudah terlambat kah?...
"Eh." Panggil Roy. Langkah Franda terhenti, dan membuat Manda membeku bingung.
"Gue duluan ya man. Langsung pulang!"
"Kak Roy manggil aku?"
"Ya."
"Fran, gue balik duluan. Kak aku duluan ya." Ia tau sekali kalau Franda dan Roy ingin membicarakan sesuatu makanya ia lebih memilih untuk pulang duluan dan tidak mau mendengar obrolan mereka. Karna hari ini ia tidak mau kepo.
"Makasih banget ya udah bantuin kemarin acaranya juga sukses."
"Enggak kok kak, ini semua pasti karna diri kakak sendiri selaku ketos dan anggota lainnya." Langkah mereka bersamaan satu sama lain. Roy sudah mempersiapkan cokelat yang ia beli dari kemarin sebagai hadiah, bukan karna maksud apa-apa tapi karna maksud terima kasih aja.
"Nih, sebagai terima kasih aja, bukan maksud yang seperti apa lah ya. Diterima ya."
"Eee sampai kapan lo mau ngelanjutin itu,."
"Maksudnya?"
"Kan kata Chiko lo pengen bikin Rival jatuh kepelukan Rubi lagi kan?"
"Eee aku takut Rival marah kak." Memang benar, ia pun menunduk bingung harus memulai dari mana.
"Ya udah kalau misalnya belum siap, nunggu siap aja. Dan kalau ada hal yang bikin Rival marah, gue yang akan turun tangan jadi penopang lo. Jadi jangan takut ya." Roy memegang bahu Franda sekilas.
"Iya kak makasih."
Rival menarik nafasnya sebentar memberanikan diri memberhentikan Franda dan Roy yang lagi asik mengobrol. "Hei, Fran pulang bareng sama aku yuk." Ajaknya. Sedangkan Franda dan Roy saling tatap satu sama lain,.
"Hah, kok kalian tegang gitu?"
"Ya udah gue duluan ya val." Roy lebih dulu pergi meninggalkan mereka berdua.
Setelah Roy pergi, Franda masih kepikiran untuk membuat Rival jatuh cinta dengan Rubi mantan Rival itu. Ia hanya bisa menggigit kedua bibirnya dan bingung termenung sebentar. "Hei, kamu kenapa?"
"Gak papa kok, boleh gak habis ini jangan pulang dulu, kita ketempat yang kamu kasih tau itu."
"Buat apa?" Ia hanya tersenyum dan melangkah dulu kedepan. Rival terheran dan bingung, itulah perempuan yang susah untuk ditebak, diprediksi dan sulit untuk diterka-terka.
__ADS_1
***
Tempat yang sama..
"Ngapain ngajak kesini?"
"Ya pengen aja gitu, Tapi jangan marah."
"Kamu tau gak saat ini aku lagi seperti pelangi, pelangi indah sesaat dan akan pergi jika sudah saatnya untuk pergi." Ada lekukan dahi dan senyum yang sulit untuk diartikan oleh Rival. Ia masih bingung dan bingung, menatap kearah depan yang begitu terang dan sungguh indah sekali.
"Kenapa?"
"Kamu cinta gak sama aku?"
"Hah?" Bingung Rival yang masih tidak mengerti sama sekali.
"Kamu sayang gak sama aku?"
"Ya aku sayanglah gak mungkin aku gak sayang, aku bingung deh sama kamu. Apa sih maksudnya."
"Inget waktu pertama kamu marah gara-gara aku kasih tau guru kan? Dan lari ditengah-tengah lapangan. Semua berlalu gitu aja, kita gak pernah saling baik. Bahkan kamu membenci!"
"Aku gak pernah benci tapi aku kesel aja! Apa sih aku bingung dengan ucapan dari tadi hah?"
"Udah deh, gak udah sok banyak puitis langsung ke poin aja."
"Boleh gak kamu berhenti untuk jadi pacar aku sekarang? Jangan lagi ada kata sayang, cinta atau kabar apapun lagi. Mungkin ini aneh val."
"Maksudnya?"
"Oh gue tau gue gak bisa kan jadi cowok yang baik makanya lo bilang kayak gitu, gue bisa kok jadi cowok yang baik. Tapi kasih gue kesempatan, dan mulai besok lo akan dapatin Rival yang baru!. Ya udah dari pada banyak omong kosong mending kita pergi aja dari sini. Lo harus balik ini udah sore, udah bau soalnya." Senyum Rival yang menggoda Franda dan mengendus santai.
"Ah gimana sih kenapa gak langsung minta putus aja sih." Batin Franda.
Didalam mobil, Rival dan Franda hanya saling diam tanpa ada yang melempar pertanyaan satu sama lain. "Jangan dipikirin, jadi lo percaya gak gue bakalan berubah jadi Rival yang baru?"
"Eeem."
"Lo liat aja Rival yang baru besok, karna besok awal gue jadi Rival yang baru bukan Rival yang pemarah, baper, atau hal yang bikin siapapun itu."
"Trus?"
"Trus lo bakalan ngerasain cinta yang sesungguhnya." Senyum Rival yang malah tersenyum manis. Ia hanya bisa mengerutkan dahinya keatas, bingung dengan apa yang harus ia lakukan kedepannya.
Jika..
Jika memang takdir sudah menakdirkan rasa kebencian dari Rival untuk Franda ya sudah itulah resiko yang harus diterima dan harus didapat, karna ada keputusan yang diambil untuk mewujudkan sesuatu.
Sungguh diluar ekspetasi yang diharap oleh Franda, Ia berharap Rival marah-marah dan putusin dihari itu juga tapi apa? Ia malah ingin berubah menjadi sosok yang berbeda. Duh seperti apa ini? Pikirnya.
"Val kamu bakalan berubah? Gak perlu val entar kamu bakalan kecewa."
"Ah apaan sih lo gak mau gue berubah? Kan bukannya lebih baik kana gue jadi orang yang jauh lebih baik udah mending lo balik udah ngantuk keknya tuh mata."
__ADS_1
Ia hanya bisa tersenyum saja mendengar jawaban Rival. Berharap Rival akan lebih baik bukan karna dirinya tapi melainkan karna dirinya sendiri. Karna berubah bukan karna paksaan tapi karna keinginan sendiri dan berubah itu menjadi suatu pedoman lebih baik lagi.
Ya lebih baik lagi.