
Ini bukan permasalah melebih lebihkan kata cinta. Sejatinya cinta itu memang rumit tapi memiliki sisi unik. Dan bagaimana tidak seorang sempurna seperti Dior mau mempertahankan istrinya yang notabane nya sulit mengandung? Itu semua karna apa? Renungi sendiri apa yang terkandung dalam kisah ini.
...
Dior kembali ke rumahnya sekitar pukul 11 malam. mereka terkena traffic jam dan sepanjang perjalanan Dior dan Gracia tak saling bertukar bicara. Dior sudah agak kesal mengapa selalu di akhiri dengan pelarian diri tanpa pembicaraan. status Dior apa tidak berharga lagi di mata Gracia pikir Dior. Gracia terus meneteskan air matanya mengingat ayah dan ibunya.
Sesampainya di rumah, Dior menarik paksa Gracia yang dalam tangisnya masuk ke dalam rumahnya. Di sana masih menunggu Dion, Viena, Zhavia dan Amy bahkan Lexa dan Leon yang juga mencemaskan Gracia belum pulang ke rumahnya. Hanya Zefanya yang tidak menunggu. Dion dan Viena merasakan kegeraman dari wajah Dior. Dion juga menebak pasti Dior sudah minum.
"Dior, kita bisa bicarakan di sini baik baik, kau jangan menarik Gracia seperti itu!" kata Dion berusaha mencegah anaknya.
"Tidak dad! Aku sudah sangat sabar dengannya! Aku harus memberinya pengertian yang sangat dalam!" Dior sesaat berhenti dan menatap tajam Gracia yang hanya menunduk mengikuti arahan Dior.
"DIOR!" teriak Viena. Dia menghampiri anaknya dan menamparnya.
"Lepaskan dia! Kemari Gracie!" Viena menarik tangan Gracia dan memeluknya.
"Maafkan aku Gracia! Aku tidak bermaksud seperti ini, aku minta maaf, aku tidak akan memisahkan mu dengan Dior nak, percayalah." ucap Viena juga sudah menitipkan air matanya.
"Tidak mom, kau sudah benar, aku hanyalah wanita yang tak berguna, masih banyak wanita di luar sana yang lebih pantas dengan kak Dior." namun itulah yang malah dikatakan Gracia membuat emosi Dior semakin meluap luap. istrinya tidak ingin bersama dirinya yang benar benar mencintainya.
"Heng, dia yang memancingku berbuat semua ini! Berikan dia padaku mom!" Decak Dior sudah melepas dasinya dan melemparnya asal. Dia kembali menarik tangan Gracia dengan sangat kasar sehingga terlepas dari pelukan ibunya. Dior menarik Gracia menuju ke atas ke kamar mereka.
"Dior, jangan seperti ini nak, Dior!" Viena mengejar Dior bersama Lexa dan Zhavia. Sementara Dion, Amy dan Leon tetap di bawah. Dion sudah tidak tahu lagi dengan keadaan seperti ini. Dia sudah merasa kalau Gracia memang tidak bisa tersentuh perasaannya sedikit saja. Dan dia juga mengerti bagaimana perasaan anaknya yang lama kelamaan juga tidak akan bisa sabar terus menerus.
"Besok kita harus bicara pada Dior, Tuan." Kata Leon.
"Percuma Leon! Pendiriannya kuat! Lebih kuat dariku! Dia tidak seperti anakmu yang selalu santai dan tenang. Dior mencoba menjadi pria yang sabar karna mengimbangi sifat Gracia, padahal emosinya .."
"Buah tetap tidak akan jauh dari pohon Tuan." Leon mengingatkan.
"Ya, aku tahu!" Dion hanya bisa menunggu hari esok apa yang terjadi dengan anak dan menantunya. dia memijit tulang hidungnya menunggu hasilnya.
Sementara di lantai dua rumah kediaman keluarga Prime, Dior dan Gracia lebih dulu sampai di kamar mereka. Dior tidak mempedulikan ibunya, ibu angkatnya bahkan adiknya hendak menahan dirinya. Dior membanting pintu kamar tidurnya. Viena hanya bisa menggedor sementara Lexa berusaha menenangkan nyonya nya dan Zhavia hanya bisa diam. Dia tidak tahu apa yang kakaknya akan lakukan. Dia hanya berharap kakaknya masih dalam batas normal dan tidak melakukan kekerasan.
Dior membanting tubuh Graci dengan sangat keras ke tempat tidur mereka. Gracia tidak berkata apapun. Dia diam dan menunduk juga memegang dadanya. Dior sudah membuka kemejanya dan menghampiri Gracia. Dia mendongakan wajah istrinya dan menatapnya dengan datar. Gracia memejamkan matanya. Jujur dia takut.
"Buka matamu." Kata Dior memegang wajah Gracia. Gracia menggeleng dan sudah meneteskan air mata sambil terdengar sesenggukan nya.
"Gracia, kau memancing kesabaranku, sampai berapa kali aku harus mengatakan padamu, JANGAN TINGGALKAN AKU!! kenapa pikiranmu terlalu sempit hah? Mengapa kau tidak percaya padaku?! Kau tidak mencintaiku lagi? Iya?" Kata Dior lagi dengan nada suara serak dan sedikit mengenaskan.
Gracia terus menggeleng dan akhirnya dia membuka matanya. Dia melihat wajah suaminya pun tampak lelah dan sangat sedih. Gracia memegang wajah Dior namun Dior malah mencium bibirnya. Gracia tidak membalas sampai Dior menggigit kecil bibirnya sehingga ia membuka bibirnya. Dior menciumnya dengan sangat kasar. Dia juga membuka blouse tipis Gracia dengan mengoyakannya secara kasar.
"Argh, kak!" Gracia merasakan sedikit cengkraman tangan Dior ketika mengiyakan pakaiannya.
"Diam, sudah lama sekali kita tidak melakukannya kan? Kau mau memiliki anak kan?" Gumam Dior sedikit mendesis.
Gracia mengangguk dalam tangisnya.
__ADS_1
"Baik! Aku akan mengabulkannya Gracia! Aku Dior Prime! Kalau aku bilang kau pasti mengandung, kau pasti mengandung! Mengerti tidak Gracia! Jawab jangan hanya menangis!" Gertak Dior.
"I ii iiyaa kaak.." jawab Gracia menangis.
Mereka berdua sudah dalam keadaan tak berbenah segaris pun. Dior melakukannya juga dengan dalam lelehan air matanya. Sesekali dia menangkup kedua gundukan kenyal milik istrinya dan meninggalkan tanda cinta di sana. Tidak hanya di sana tetapi juga di sekitar dada maupun pundak Gracia. Sementara Gracia hanya dalam desahannya mengiringi persetubuhan mereka tanpa meronta atau berusaha menolak suaminya. Padahal di dalam hatinya bertanya tanya mengapa sampai hati suaminya sekasar ini padanya. Sesuatu yang membuat hati Gracia sangat tersentak.
"Jangan pernah melarikan diri lagi atau aku akan terus berbuat seperti ini padamu, kau mengerti Gracia? Aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku! Kalau kau menurut padaku, aku akan menjanjikan kebahagiaan padamu, tapi jika kau seperti ini? Entahlah, bagaimana hal yang nikmat ini menjadi sangat menyakitkan Gracia!" Bisik Dior kembali menghentakan dirinya di dalam diri Gracia. Gracia hanya mengangguk mencengkram pundak Dior namun terus dalam tangisannya. Dia sudah tak mampu bicara lagi selain mendesah dan mendesah.
Dia tidak tahu lagi menghadapi jika Dior seperti ini selain melembutkan dirinya. Tapi, hatinya pun di penuhi tanda tanya besar. Dia tetap mengukuhkan dirinya kalau suaminya akan bahagia jika dia bisa hamil. Hanya itu di pikiran Gracia.
Akhirnya Dior mencapai puncaknya. Dior melepaskannya dengan hentakan yang menurut Gracia paling tidak mengenakan dirinya. Dia menghapus air matanya . Semua tubuhnya menjadi sangat sakit dan kepalanya begitu pening. Dior ke samping dirinya dan menarik istrinya masuk dalam pelukannya. Dior memeluknya dari belakang.
"Gracia, kau harus tetap bersamaku, mengerti? Jawab sayang!" Bisik Dior mengecupi pundak istrinya. Gracia hanya mengangguk dan dia memejamkan matanya. Entahlah sudah seperti apa dirinya.
"I love you!" Kata Dior lagi dan dia juga tertidur tanpa menyadari rasa sakit hati dan sedikit kecewa istrinya.
Pagi menjelang, Dior bingung karna ketika bangun, istrinya masih tertidur di sampingnya. Biasanya Gracia sudah bangun pagi dan menyiapkan segala keperluannya. Dior masih berpikir mungkin karna hari ini hari Sabtu. Dia tersenyum dan sedikit menyadari apa yang ia lakukan semalam karna sudah dua Minggu mereka tidak melakukan hal indah tersebut. Namun ketika Dior membalikan tubuh Gracia, dia menyaksikan wajah Gracia yang sedikit bengkak akibat menangis dan ujung hidungnya pun memerah. Dior juga terkejut karna banyak tanda cinta yang ia tinggalkan padahal Dior jarang melakukan hal ini. Yang membuat Dior langsung cemas yaitu sekujur tubuh Gracia sangat panas namun tangan dan kakinya sedingin es.
"Gracia! Sayang! Gracia! Bangun sayang! Gracia .." panggil Dior sambil sedikit mengangkat tubuh istrinya, namun tak ada jawaban. Gracia tetap tertidur. Dior lebih dulu memakaikan pakaian Gracia lalu Dior segera beranjak dari tempat tidurnya dan mengenakan pakaiannya. Dia membuka pintu kamarnya dengan sangat cepat.
"Zhavia, Zefanya, Mom, siapkan mobil, ZHAVIAAA SIAPKAN MOBIL CEPAAT!!" Teriak Dior cukup keras dan membuat Zhavia langsung keluar dari kamarnya. Sementara Dior sudah masuk kembali dan siap menggendong Gracia untuk dibawa ke rumah sakit.
"Ada apa kak? Ada apa dengan Gracia?" Tanya Zhavia berdiri di daun pintu kamarnya.
"Cepat siapkan mobil aku harus membawa Gracia ke rumah sakit, dia demam dan tak sadarkan diri, cepat Zhavia!" Jawab Dior dan menuju keluar kamarnya.
"Oohh iya iya .." Zhavia segera ke kamarnya mengambil kunci mobilnya dan menuju ke bawah. Ternyata Viena dan Lexa juga sedang naik ke atas dan Dion menunggu di bawah.
"Gracia demam mam, aku mau membawanya ke rumah sakit!" Kata Dior dan segera menuju ke bawah. Viena dan semuanya mengikuti Dior kecuali Zefanya yang hanya memandang.
'Gracia, kau pasti baik baik saja. Tuhan memberkati!' gumam Zefanya dalam hati. Dia tidak dapat melakukan apa apa. Dia sudah yakin setiap langkah yang dilakukan kakaknya adalah yang terbaik bagi kakak iparnya.
Zhavia menyalakan mobilnya. Lexa ikut duduk di depan semantara sementara Viena pergi ke rumah sakit bersama Dion dan Leon. Dior memeluk Gracia sambil mengucapkan maaf di pangkal kepala istrinya itu. Mereka semua menuju ke rumah sakit.
Gracia langsung dilarikan ke ruang unit gawat darurat. Dia diberi tindakan sementara Dior dan yang lainnya menunggu di luar. Dior sudah kehabisan akal. Apa yang ia lakukan semalam benar benar diluar dugaan dirinya. Entah apa dia bisa menjadi sekasar ini. Dia sangat takut dengan apa yang terjadi pada Gracia.
Sekitar lima belas Menit kemudian akhirnya dokter keluar dari ruangan.
"Permisi? Siapa Suami Nyonya Gracia?" Tanya sang dokter keluar dari ruangan itu.
Dior langsung berdiri dan juga yang lainnya mengerubungi sang dokter.
"Anda Tuan Dior Prime?" Tanya sang dokter pada Dior.
"Ya dok, bagaimana istri saya?" Dior kembali bertanya.
"Nyonya Gracia telah sadar namun kondisinya sangat lemah karena .." sang dokter mulai memberitahu.
__ADS_1
"Aku ingin melihatnya dok." Dior memotong perkataan dokter karna sudah sangat cemas.
"Iya Tuan, sebentar lagi Nyonya juga bisa dipindahkan ke ruang perawatan, tapi .." kata Dokter mencoba berkata kata lagi.
"Aku ingin melihatnya Dok." Kata Dior lagi lagi tidak mendengarkan perkataan dokter dan langsung memasuki ruangan menemui istrinya. Sementara Viena dan lainnya masih bertanya tanya dan masih di luar.
"Maafkan anakku dok, dia sangat mencemaskan istrinya. Ada apa dengan menantuku dok?" Tanya Viena sangat cemas.
"Nyonya Gracia hamil." Kata sang dokter tersenyum.
...
...
...
...
...
Kan Uda kan Gracie? Biasanya kalo bergairah dan kasar dikit bisa malah hemol haha 😁
.
Next part 36
Bagaimana tanggapan Gracia akan kehamilannya?
Bagaimana juga Dior terhadap Gracia?
2 sampe 3 menuju ending yaa 😁
.
Beb, rekomen Novel Baper romance dari ku nii judulnya:
----- LOVE IN FRIENDSHIP -----
ketika sebuah persahabatan akan dikorbankan atau cinta yang dikorbankan untuk semuanya berjalan dengan baik?? cus diintip ya 😁
.
pada akhirnya Jangan lupa LIKE DAN KOMEN nyaa karna akan menambah semangat penulis untuk trus UP haha
jika berkenan silahkan kasih RATE DAN VOTE di depan profil novel ya😍😍
.
__ADS_1
Thanks for read .. happy read and i love youu 💕
.