
MINTA LIKE DAN KOMEN NYA YA KAK JANGAN LUPA THANKS 😍😍
...
Jika sebuah ingatan bisa diatur, rasanya ingin melupakan hal hal yang bisa membuat kita gundah. Dah jika hal itu bisa terjadi, ingin rasanya selalu mengingat kenangan manis saja. Namun, terkadang kenangan manis juga dapat membuat kita menangis. Semua tergantung dari apa yang kita rasakan. Jika sudah rela maka akan mudah. Bagaimana malah dibawa perasaan dan pikiran? Sedikit membahas kisah Allegra, Morgan dan Rosie. Bagaimana pertemuan mereka? Apa ada sebuah pesan yang bisa dipetik dari semua ini? Lalu, bagaimana perasaan Ezekhiel dan Zefanya menghadapi hasil yang tak kunjung membuat mereka bahagia?
...
Suasana hati Zefanya sudah kembali membaik sejak kembalinya Salma ke Japanis. Dia sempat terkejut mendengar suaminya telah meminta Salma kembali ke rumahnya. Bahkan Zefanya sempat menghubungi Tanya dan meminta maaf. Namun, malah Tanya yang meminta maaf atas segala kericuhan yang terjadi. Zefanya hanya tidak enak dan tidak mau terjadi kesalah pahaman. Pasalnya Ezekhiel melarang dirinya menghubungi Salma. Biarkan Salma menyadari semua perbuatannya.
Zefanya agak pening tapi tidak begitu terbeban atau berat seperti biasanya keltika ada Salma. Hari ini dia agak kurang enak badan karena tadi malam menangis haru mendengar penjelasan suaminya atas kepergian Salma. Zefanya sangat yakin kalau Ezekhiel merupakan pendamping yang tepat bagi dirinya. Zefanya juga tidak mau berpisah meskipun pada akhirnya kesalahan dirinya belum kunjung hamil karena suaminya.
Program hamil mereka hampir menginjak empat bulan dan belum ada tanda tanda. Zefanya tetap optimis dan percaya suatu saat dirinya akan mengalami hal itu. Apapun caranya.
Dia masih berkutat dengan beberapa laporan yang sudah dikerjakan Rosie. Biar bagaimana pun dia harus tetap bekerja dan meneruskan usaha turun temurun ibunya. Zefanya agak mengernyitkan dahinya karena ada yang berbeda dari beberapa laporan pengerjaan iklan selesai yang dibuat oleh Rosie.
"Mengapa ada yang berbeda dari laporan ini dengan laporan yang sebelumnya Rosie buat? Terlihat singkat dan tidak men-detil. Ada apa dengannya? Ah, karena aku terlalu fokus pada program hamil dan Aunty Salma, aku jadi tidak memperhatikannya," gumam Zefanya masih membandingkan laporan baru dengan laporan lama. Dia lalu meraih telepon kantornya untuk menyuruh Rosie datang ke ruangannya.
Tak sampai lima menit, Rosie masuk ke dalam dengan wajah yang sedikit muram.
"Ada apa denganmu? Mengapa laporan ini hanya dua tiga lembar saja?" Selidik Zefanya terheran.
"Maafkan aku Nyonya, beri aku waktu. Aku akan mengubahnya," tutur Rosie menyesal dengan menundukan kepalanya.
"Ada apa denganmu yang sebenarnya?" tanya Zefanya lagi.
"Em, mohon maaf Nyonya, aku belum bisa bertemu dengan direktur Perusahaan Drinking Me," kata Rosie kemudian. Dia sangat memikirkan hal ini karena takut mengecewakan Zefanya.
"Kenapa? Kau kenal dengannya?" kata Zefanya memicingkan matanya.
"Bukan begitu, pertama kali, Vegra sudah membuat janji dengan sekretarisnya tetapi dia sedang ke luar kota. Kedua kali dia sedang rapat sementara waktu itu kalau kau ingat, kau menghubungiku untuk segera kembali karena ada yang kau inginkan dariku. Lalu yang ketiga kalinya, dia kembali pergi ke luar kota. Kata sekretarisnya ke Springfield," jawab Rosie mencoba menjelaskan hal yang sebenarnya. Namun, dia tetap merasa bersalah karena belum mengerjakan hal yang diperintahkan Zefanya. Sebelumnya Rosie memang menunda nunda waktu karena takut.
"Oh, menemui kekasihnya," saut Zefanya mendengar kata Springfield.
Deg!
Entah mengapa perasaan Rosie jadi tidak enak begini.
"Oh iya, jadi bagaimana? Apa solusinya nyonya? Apa kau saja yang mendatanginya?" kata Rosie memohon petunjuk.
"Kalau sudah begini baiklah, aku akan meminta tolong pada Gracia," kata Zefanya memutuskan.
"Ah kau benar Nyonya,"
Namun, baru saja Zefanya memutuskan dan Rosie sempat lega tidak akan bertemu Morgan, seseorang mengetuk pintu ruangan Zefanya.
"Siapa?" Tanya Rosie.
"Permisi, Zefanya? Ini aku Morgan," katanya membuka perlahan pintu ruangan Zefanya. Rosie langsung berbalik menghadap Zefanya. Dia sangat takut untuk menyambut Morgan. Sementara Zefanya bingung dengan wajah panik Rosie. Zefanya berusaha netral dan menyambut Morgan.
"Morgan? Hay, akhirnya kau yang mendatangiku," sapa Zefanya.
"Iya Anya, aku bertemu suamimu di Hotel Prime, aku jadi mengingat sekretarismu yang hendak menemuiku. Di mana dia?" tanya Morgan yang juga diberi tahu oleh sekretarisnya.
"Di depanmu! Rosie, balikan tubuhmu!" perintah Zefanya.
"Rosie?" Gumam Morgan merasa mengingat nama itu setelah agaknya dia sudah melupakan karena cinta yang Allegra berikan setiap hari.
Dengan perlahan dan penuh keberanian, Rosie menoleh tetap menundukan wajahnya.
"Rosie?!" Pekik Morgan masih tidak percaya kalau dia bisa menemukan bekas kekasihnya itu di sini. Namun, entah mengapa perasaannya seperti senang melihat Rosie yang sudah sukses seperti yang dikatakan Lindy meski masih terselip sebuah pertanyaan.
Perlahan lagi Rosie menegakan kepalanya menatap Morgan. Degup jantungnya bergemuruh menyaksikan Morgan yang semakin tampan. Rambut tebal kesukaannya masih bertahan di sana dengan beberapa rambut halus menutup dahinya. Bukan hanya itu dengan setelam suit casual menambah pesona dari pria ini.
"Hay, Morgan lama tak jumpa," sapa Rosie terbata.
"Jadi kau bekerja di sini? Lindy sudah mengatakannya padaku beberapa waktu silam. Sekitar dua tahun yang lalu aku bertemu Lindy," saut Morgan netral dan profesional layaknya hanya sebatas teman.
"Ya, aku juga sudah di sini selama dua tahun belakangan ini. Apa kabar?" tanya Rosie.
"Nice, how abot you?" Morgan kembali bertanya.
"Nice too,"
"Oke, jadi Zefanya dia yang kau utus menemuiku?" tanya Morgan memastikan pada Zefanya.
"Ya, Rosie akan menjelaskan seperti biasanya mengenai kontrak iklan kita. Sebagian sudah dikerjakan, selanjutnya tinggal meminta tanda tangan mu untuk melanjutkan proyek sehingga bisa kita selesaikan," kata Zefanya menautkan kedua tangannya.
"Baiklah, di mana kita akan bicara Rosie?" tanya Morgan dengan nada atasan dan bawahan.
"Ke ke ke meja ku saja, di depan, silahkan," balas Rosie terbata dan keluar dari ruangan.
Morgan mengangguk tersenyum. Rosie sudah keluar dari ruangan sementara Morgan masih di dalam hendak memberitahukan sesuatu pada Zefanya karena Morga merasa pandangan Zefanya penuh dengan pertanyaan.
"So?" Tanya Zefanya.
"Dia mantanku!" kata Morgan tegas.
"Heng, sudah kuduga! Jangan macam macam dan bertindak profesional!" Zefanya memperingati.
__ADS_1
"Mungkin aku akan mengajukan banyak pertanyaan padanya, bisakah kau menutup mulutmu, aku yang akan menjelaskan pada Allegra," pinta Morgan.
"Aku tidak mau ikut campur dengan urusanmu dan Dewi neptune mu itu! Aku hanya tidak mau wanitamu itu nekat kemari dan membuat keributan! Dia agak mirip dengan Zhavia. Mungkin juga denganku yang jika sudah mencintai pria nya apapun akan di lakukan," decak Zefanya memperingati Morgan.
"Rosie wanita yang baik kan?" tanya Morgan memastikan.
"Aku bukan tidak percaya dengannya, tapi aku tidak percaya denganmu!" tutur Zefanya penuh ketegasan.
"Tenang saja, aku tahu Allegra dan aku tahu batasan, hatiku sudah dimiliki oleh Allegra, kau tenang saja!" Gumam Morgan berbalik dan hendak menuju meja kerja Rosie. Ya, Morgan akui kini Rosie tidak seperti dulu. Dulu saja sudah membuat Morgan menyukainya. Namun sesungguhnya hatinya hanya ingin mengetahui kabarnya yang sesungguhnya. Tidak ada maksud lain tetapi mengingat sifat kekasihnya sekarang yang sangat takut kehilangannya, Morgan mencoba mencari cara memberitahukan agar Allegra tidak berpikir macam macam. Apalagi hubungan mereka merupakan hubungan jarak jauh.
Morgan keluar dari ruangan Zefanya dan menuju ke meja kerja Rosie yang tidak jauh dari sana. Dia duduk bersebrangan dengan Rosie.
"Jadi, ini data yang harus kau tanda tangani, Morgan," kata Rosie to the point mengulurkan berkas yang harus diurus Morgan. Morgan masih tersenyum di sana. Dia membacanya sesaat dan sekiranya sudah seusuai, dia memberikan tanda tangannya.
"Mengapa waktu itu kau tidak meminta ijin padaku?" Tanya Morgan kemudian. Dia hanya ingin mendengar dari Rosie sendiri.
"Bertindaklah profesional, tidak usah membicarakan masa lalu. Lagipula kau sudah memiliki kekasih kan? Siapa dia?" balas Rosie dan bertanya. Rosie hanya memastikan Morgan bersama wanita yang tepat.
"Kau tidak perlu tahu, yang pasti dia selalu terbuka padaku. Memberitahukan apa yang terjadi padanya dan meminta penyelesaian padaku," decak Morgan memang memberitahukan sifat asli Allegra tetapi juga menyindir Rosie.
"Untuk apa aku mengatakan padamu jika kau tidak menganggapku?" balas Rosie hendak mengatakan apa yang terjadi yang sebenarnya.
"Untuk apa mulut diciptakan jika tidak untuk bicara?!"
"Cukup Morgan! Aku tidak mau membahasnya. Kau sudah tahu tapi kau tidak mau mengakuinya. Aku sudah senang bisa bertemu lagi denganmu atas kerja sama ini. Jika berkas ini sudah sesuai, kau boleh pergi!"
"Dengan senang hati, Rosie! Permisi!" Decak Morgan dan memang sepertinya tidak ada lagi yang harus di bahas. Morgan berdiri dan meraih ponselnya. Dia lalu pergi meninggalkan Rosie yang setelah itu menundukan kepalanya lalu manitikan air matanya.
Sementara Morgan menghubungi Allegra. Maksud hati ingin memberitahu tapi seketika dia kembali mengingat wajah Rosie dan Allegra ketika marah secara bersamaan. Bukan hanya itu, ketika teleponnya tersambung, terdengar suara Allegra yang sedang bersedih.
"Kau kenapa sayang?" tanya Morgan.
"Apakah aku belum pantas menggantikan jabatan daddyku?" Allegra malah bertanya kembali di seberang sana.
"Ada apa denganmu?" selidik Morgan lagi.
"Beberapa kali aku mendengar para karyawan membicarakan tentang kekurangan Kak Jessie dan aku marah pada mereka. Dan tak lama beberapa kali aku mendengar beberapa karyawan membicarakan sifatku yang pemarah. Aku tidak layak menggantikan daddyku yang sangat baik juga ramah," keluh Allegra menceritakan masalah yang sebenarnya .
"Allegra, kita sudah membahasnya. Perubahan itu diperlukan tetapi jangan meninggalkan sikap tegasmu! Bersabarlah! Ketika kau sudah terbiasa maka kau tidak akan peduli lagi hal hal seperti itu. Namun, kau juga tidak boleh terlihat lemah. Jika mereka salah, beri hukuman setelah kau tahu apa alasan mereka. Ketika kau tegas, mereka akan segan padamu. Kau mengerti maksudku?"
Allegra terdiam. Dia merasa dirinya masih kurang sempurna. Apalagi memegang Hotel Atkinson yang sudah sangat tersohor.
"Allegra, kau masih di sana?" Kata Morgan lagi.
"Iya Morgan. Oke, aku akan lebih bersabar dan bertindak kooperatif serta berusaha mengendalikan diriku,"
"Begitu baru benar. Kau sudah makan?" tanya Morgan penuh perhatian.
Morgan bingung untuk mengatakannya. Sebaiknya nanti saja ketika hati dan pikiran kekasihnya tenang dan dalam kondisi baik.
"Tidak apa sayang, aku hanya ingin memberitahumu kalau perusahaanku kembali membuat iklan pada Zefanya. Baru saja aku menandatangani persetujuan pengerjaan iklan," kata Morgan.
"Oh bukankah ini kabar baik? Iklan memang sarana yang paling dibutuhkan!" balas Allegra selalu mendukung apa yang diperbuat Morgan.
"Begitulah, sepertinya aku akan ikut ambil bagian mengingat beberapa iklan lalu aku tidak pernah mamantaunya," ujar Morgan. Morgan tidak tahu kenapa dirinya mengatakan hal ini. Morgan hanya berjaga jaga saja jika Allegra mengetahui sesuatu entah dari Zefanya. Tidak menutup kemungkinan karena mereka cukup dekat walau tidak sedekat Gracia.
"Tetap jaga dirimu agar tidak sakit, minum vitamin dan jangan lupa makan. Kau akan demam jika kau kurang tidur dan telat makan sayang," tutur Allegra lagi mengingatkan. Pammy juga sudah meminta tolong pada Allegra agar mengingatkan Morgan mengkonsumsi vitaminnya mengingat Morgan sering bolak balik Springfield - Legacy.
"Thanks honey! Kau sungguh mengerti diriku! Sampai jumpa, nanti malam aku akan kembali menghubungimu lagi," saut Morgan kemudian.
"oke sayang, aku menantikanmu,"
Panggilan dimatikan. Morgan menarik napas panjang. Dia berharap tidak bertemu dengan Rosie lagi atau ingatan yang sudah ada kembali terjadi lalu Morgan hendak berdamai di dalamnya. Berdamai dalam artian menjadi teman sehingga tidak ada keganjalan di dalam hati ketika bertemu dimanapun. Morgan sudah meyakinkan hatinya kalau dia hanya ingin bersama Allegra. Bahkan Morgan sudah memesan sebuah cincin untuk melamar wanita singanya itu akhir tahun nanti. Namun, pertanyaannya apakah Rosie juga akan sama seperti Morgan yang berani membuka hatinya terhadap cinta yang lain? Kita tinggalkan lagi sejenak dan masih akan ada kelanjutannya.
...
Zefanya menuruni gendung kantor periklanannya bersama Rosie yang tampak murung. Zefanya menyadari sejak kehadiran Morgan dan pertemuan mereka.
"Memang kau masih ada rasa dengannya?" selidik Zefanya melirik Rosie.
"Aku tidak tahu," jawab Rosie menundukan kepala ya.
"Sebaiknya kau harus melupakannya," kata Zefanya yang tidak ingin sekretarisnya berharap terlalu banyak.
"Dia pria terbaik yang pernah kutemui, tapi aku masih tidak tahu kenapa waktu itu dia mengatakan kalau aku bukan siapa siapanya. Dia mengatakan satu hari setelah kami berciuman. Itu ciuman pertamaku Nyonya," ujar Rosie mulai bercerita pada Zefanya.
"Pasti ada alasan dibalik itu semua. Kalau kau sudah tahu, apakah kau sedikit sudah lega?" tanya Zefanya memastikan.
"Mungkin, tapi aku takut akan kembali mencintainya dengan sangat. Dia juga semakin tampan," tutur Rosie apa adanya.
"Kesalahanmu adalah kurangnya keterbukaan. Sekarang bagaimana? Dia sudah memiliki kekasih. Allegra Yerika Atkinson. Presiden Direktur sekaligus pewaris Hotel Atkinson. Dia Presdir kedua wanita di Springfield setelah kekasihnya Xelino," balas Zefanya menjelaskan status yang harus Rosie lawan. Bukan maksud Zefanya meremehkan Rosie, tetapi Zefanya tidak mau Rosie kembali tidak percaya diri dalam menjalankan hidupnya. Dia juga butuh bahagia.
"Apa dia baik, nyonya?" selidik Rosie mengerti keadaan Morgan sekarang. Rosie hanya terheran dengan type Morgan sekarang yang menyukai wanita terpandang.
"Menurutku iya tapi dia sangat frontal!" jawab Zefanya secara garis besar.
"Ya sesungguhnya, wanita seperti itu yang pantas untuk pria seperti Morgan," balas Rosie.
"Saranku, kalau kau membutuhkan waktu bicara untuk meringankan kegundahan hatimu, kau harus temui dia dan bicara padanya. Morgan pasti akan mengerti tapi kau harus menerima kalau dia tidak akan memilihmu," tutur Zefanya memberi saran.
__ADS_1
"Siapa memilih siapa?" Tiba tiba sebuah pertanyaan muncul dari belakang Zefanya dan Rosie yang sudah berada di basement parkir. Zefanya dan Rosie tentu menoleh. Ezekhiel menjemput Zefanya.
"Eze?" panggil Zefanya merasa kejutan dari suaminya.
"Berikan mobilmu pada Rosie, dan kau bersamaku," kata Ezekhiel kemudian.
"Selamat sore Tuan Dimitri," ucap Rosie memberi salam.
"Sore Rosie, apa kabarmu? Belakangan Theo menitip salam padamu," saut Ezekhiel.
"Ehem!" Zefanya berdehem.
"Nyonya! Aku sebal dengannya! Masa bisa bisanya dia lupa membawa dompet ketika mengajakku makan di restoran Nederland yang cukup mahal! Katanya dia akan mengganti tapi sampai sekarang mana batang hidungnya?" dengus Rosie yang belakangan ini merasa memang Theo sedang mendekatinya.
"Besok dia akan kemari katanya," saut Ezkehuel lagi.
"Ah penipu! Katakan padanya Tuan Dimitri, Rosie meminta uangnya kembali dua kali lipat. Masa dia tidak punya. Kau pasti memberikan gaji yang banyak kan Tuan?" dengus Rosie lagi.
"Haha, baiklah, jadi Rosie bawa saja mobil nyonyamu, oke?"
"Baik Tuan,"
Zefanya pun memberikan kunci mobilnya pada Rosie sementara dirinya ikut dengan suaminya.
"Aku pikir kita akan bertemu di rumah," gumam Zefanya sudah memasuki mobil suaminya.
"Tidak perlu, langsung saja kita rumah sakit. Hari ini ada jadwal laboratorium jadi sekalian aku memeriksakan diriku," tutur Ezekhiel sedikit gugup.
"Semoga kau baik baik saja, babe! Sehingga kita bisa buktikan kalau semua ini sudah rencana Tuhan. Bukan kesalahan dari kita," kata Zefanya tersenyum.
"Bagaimana jika aku bermasalah, Anya?" selidik Ezekhiel hendak mendengar jawaban manis istrinya.
"Aku tidak peduli! Asal bersamamu aku tidak memikirkan yang lain," balas Zefanya tulus dan tersenyum.
"Tapi kau begitu menginginkan seorang anak,"
"Walaupun begitu, aku hanya ingin seorang anak hasil cinta kita. Tidak yang lain. Sudahlah babe, jangan berpikir macam macam. Tidak akan ada masalah denganmu!"
Ezekhiel mengangguk tersenyum mendengar penuturan Zefanya. Namun, Ezekhiel rela melakukan apapun untuk kebahagiaan Zefanya.
Mereka menuju ke rumah sakit dan benar. Dokter Lilian sudah merujuk Ezekhiel untuk melakukan pemeriksaan Sel Spermatozoa. Ezekhiel mengatakan kalau kondisinya cukup fit sehingga dia melakukannya malam itu juga. Hasilnya ditunggu sekitar tiga hari kemudian. Karena hari sudah menunjukan pukul 9 malam, Ezekhiel mengajak Zefanya untuk mengunjungi bukit bintang. Kebetulan Ezekhiel mengetahui cuaca akan cerah sehingga dapat melihat bintang dengan puas.
Zefanya berinisiatif untuk membeli makan di restoran dan membungkusnya untuk makan di bukti bintang tersebut. Hanya beberapa pasangan yang menyaksikan bintang saat itu. Zefanya dan Ezekhiel begitu menikmati bintang bintang itu. Sambil menikmati ramen yang hangat mereka mengenang ketika Ezekhiel masih berpura pura lupa ingatan.
Tak berapa lama, Ezekhiel seperti melihat sekelebat cahaya jatuh dari langit malam itu. Semua pasangan yang ada di sana sudah berdiri dan berseru bintang jatuh. Ezekhiel juga berdiri dan mengulurkan tangannya.
"Berdiri, Anya! Ada bintang jatuh," seru Ezekhiel dan Zefanya ikut berdiri. Dia menggandeng tangan suaminya lalu mengajaknya sama sama menautkan tangan lalu Zefanya memejamkan matanya. Ezekhiel hanya memperhatikan Zefanya yang sangat antusias.
"Tuhan, aku yakin bintang itu pemberian darimu! Kami hanya ingin bersama. Kami tidak ingin terpisah lagi. Kau yang tahu kerinduan kami makan kami menyerahkan semuanya hanya kepada-Mu. Berikan suamiku kesehatan dan keselamatan di manapun ia berada. Amin!" Ucap Zefanya mendongakan kepalanya dan menatap suaminya Dangan penuh cinta. Ezekhiel tak dapat berkata apa apa lagi selain memeluk istrinya itu.
"I love you, Zefanya, i love you ..."
...
...
...
...
...
I love you too Eze my son 😝😝
.
next part 9
bagaimana hasil pemeriksaan Ezekhiel?
apa yang jadi keputusan mereka?
bagaimana akhir perasaan cinta Rosie?
.
rekomen novel baper dari seorang wanita yang sempurna dengan alur menarik dan beda dari lainnya, mampir yaa ::
- KEHIDUPAN SEORANG PUTRI TUNGGAL -
dijamin ketagihan deh, banyak pesan moral kehidupan dan nilai nilai berharga, bukan hanya percintaan 😍😍
.
pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
__ADS_1
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤