
Benar saja, tepat pukul sepuluh pagi menjelang siang, Gani datang membawa beberapa berkas yang diminta oleh big bosnya. Menunggu dengan setia bosnya tersebut di ruang tamu. Seperti biasa.
Kali ini Gani tidak menunggu sendir. Ia di temani oleh Bima. Sedangkan Vita asik di dapur membuatkan minum untuk kedua pria yang kini sedang bercengkrama santai itu.
"Jadi kapan akad nya, Gan?" tanya Bima.
"Insya Allah dua minggu lagi, Pak. Bapak sama mbak Vita kalo ada waktu datang ya, di Gresik. Tolong jadi saksi nikahan kami," pinta Gani dengan senyum bahagianya.
"Pasti, kami pasti datang." Bima tersenyum, sebab ia masih belum menyangka bahwa gadis yang sering ia isengin itu malah dapet asisten abang iparnya sendiri.
"Resepsinya?" tanya Bima.
"Kita ngundang makan-makan sederhana saja, Pak. Malu lah kalo di bilang resepsi. Nanti ada undangannya. Tapi tepatnya kami belum tahu, malu, Pak. Muka saya masih banyak belum pulih gini." Gani tertawa renyah. Bima pun demikian.
"Makasih ya, Gan. Kalo bukan karena kamu, mungkin aku sudah almarhum," ucap Bima. Tak sengaja Vita mendengarkan ucapan itu.
"Masss, jangan bilang begitu." Vita merajuk tak suka.
"Nggak, Sayang. Mas hanya berterima kasih saja sama Gani. Mungkin kalo nggak ada dia, Mas udah di alam lain," ucap Bima lagi.
"Ihhh, jangan ngomong begitu. Aku nggak suka," balas Vita sembari memeluk tubuh sang suami. Seakan tak rela jika Bima berbicara mengenai kehidupan setelah di dunia ini.
"Iya, sorry. Eh, Sayang, kita diundang je nikahan Gani loh. Gani mau Mas jadi saksi dinikahannya sama Nadia. Gimana?" tanya Bima, mencoba mengalihkan perhatian sang istri dari percakapan mereka yang sebelumnya.
"Boleh. Kapan?" tanya Vita.
"Dua minggu lagi katanya. Gimana?" Bima menatap sang istri.
__ADS_1
"Boleh, nggak pa-pa. Tapi Kita harus pulang dulu ke Semarang. Katanya mau kasih kejutan ke Mama sama Luna." Vita masih terlihat manja.
"Iya, nanti sore kita ke rumah Om Laskar. Besok kita balik ke sini, ajak ibu jalan-jalan, lusa baru balik ke Semarang. Nanti kita jalan darat aja gimana? Asik Mam jalan-jalan lewat pantura. Gimana?" Bima terlihat semangat mengantur apa yang akan mereka jalani.
"Oke, Vita ikut, yang penting selalu sama kamu," jawab Vita. Masih suka bermanja-manja. Sedangkan Gani hanya memerhatikan sambil menahan malu.
"Gini amat ya nasib pria lajang. Sabar Gani, sabar. Bentar lagi kamu juga bakalan punya istri. Sabar ya, Gan! Nanti kamu juga bisa bermanja-manja begitu. Sabar Gani, Hah!" ucap Gani sambil mengelus dadanya.
Mendengar Gani mengeluh, Vita dan Bima pun terkekeh. Sedangkan Gani hanya tersenyum malu-malu.
Sayangnya senyum Gani mendatangkan rasa kesal di hati seseorang. Siapa lagi kalo bukan Stella. Wanita yang telah dicuci otaknya oleh sang suami. Di-setting untuk membenci Gani.
"Gani," tegur Stella, langsung tanpa basa basi.
"Iya, Bu, saya. Maaf, Bu. Pak Bos ada?" tanya Gani, langsung tanpa basa-basi. Seperti biasa.
Namun, sepertinya Gani tidak menyadari bahwa pertanyaan yang menurutnya biasa itu, sebenarnya malah seperti bensin yang menyulut bara api yang mulai membara.
Gani, Bima dan Vita saling menatap. Sedangkan Juan yang baru datang langsung duduk tanpa rasa bersalah.
"Emm, emang salah saya apa, Bu?" tanya Gani, bingung.
"Salah saya apa, lagi? Nggak salah kamu nanya begitu?" cecar Stella.
Gani masih dalam mode bingung. Begitupun Bima dan Vita. Namun tidak dengan Juan, pria ini malah santai. Tak membela Gani sama sekali. Terkesan sengaja membiarkan ini terjadi.
"Sebentar, Bu. Sungguh saya bingung. Sebenernya salah di mana ya? Saya ke sini atas permintaan, Bapak. Untuk membawa berkas-berkas yang mesti beliau periksa dan tanda tangani. Ni, saya cuma bawa berkas-berkas yang bapak minta," jawab Gani, masih belum paham dengan jebakan yang diciptakan sang big bos untuknya.
__ADS_1
"Itu dia salah kamu, selalu nyuruh suamiku bekerja. Kamu terlalu rapat mengatur jadwal suamiku, Gani. Aku gak suka. Kamu pikir istrinya ini nggak butuh dia. Anak-anaknnya nggak butuh dia. Kamu keterlaluan Gani," ucap Stella, semakin menggebu.
Gani melongo... begitupun dengan Vita dan Bima.
"Bener, Mam. Terus saja marahin dia. Dia memang pantas Mami marahin. Suruh Papi kerja terus, ya kan Mam? Nggak kasih libur sama sekali." Juan menunjuk ke arah Gani. Pura-pura kesal.
"Tenang, Pi. Ada Mami. Sekertaris mu ini memang perlu dikasih tahu, kalo di dalam rumah tangga itu butuh quality time. Bukan waktu dihabisin buat kerja, kerja dan kerja terus. Dasar!" umpat Stella, masih dalam mode kesal pada Gani.
"Bener banget, Mam. Kasih tahu Gani, kalo kita kan perlu quality time ya, Mam. Santai, seperti ini. Pelukan. Cinta-cintaan. Ya kan, Mam? Sebaiknya Mami suruh Gani segera menikah, supaya tahu gimana rasanya menikah, Mam." Juan semakin bersemangat mengompori sang istri. Juan tersenyum licik.
Melihat senyum licik sang atasan. Gani pun akhirnya paham bahwa saat ini dia sedang dijadikan tameng oleh sang bos, agar sang istri tidak marah padanya. Karena terlalu sibuk.
"Maaf, Bu, maaf. Saya benar-benar minta maaf," ucap Gani.
"Heeemmm, sekarang aku maafkan. Mana daftar jadwal bos kamu?" pinta Stella.
"Ada di iPad saya, Bu," jawab Gani.
"Atur ulang, sabtu minggu kasih libur. Awas kasih berangkat ke luar negeri. Aku marah, Gani." Stella menatap kesal ke arah Gani.
"Oh, oke-oke. Tapi kalo mendadak, boleh kan, Bu, ya?" jawab Gani menurut. Namun, ia pun harus mencari celah teraman.
"Boleh, asal nggak sering!" jawab Stella seraya beranjak dari tempat duduknya sekarang. Karena ia mendengar tangisan putra tercintanya.
"Jangan pergi dulu, Gani! urusan kita belum selesai!" pinta Stelal, seraya berlari mencari arah suara. Sedangkan Gani hanya menjawab 'okay'.
Setelah kepergian Stella, Seluruh orang yang ada di ruang tamu tersebut pun tertawa. Menertawakan kesialan Gani. Sedangkan Gani hanya tersenyum. Ternyata apa yang ia lakukan selama ini ditangkap lain oleh istri sang big bos.
__ADS_1
Dah lah Gani, pasrah saja.
Bersambung...