
Kebahagiaan ini begitu nyata dirasakan oleh Bima dan Vita. Mereka saling melempar senyum selepas melaksanakan kewajiban mereka sebagai suami istri.
Malu-malu menggemaskan. Sebab dari lubuk hati yang terdalam, mereka masih belum percaya bahwa mereka berdua akan melalui ini.
"Kok melamun?" tanya Vita sambil mengelus dada bidang sang suami.
Bima langsung memiringkan tubuhnya. Menghadap sang istri yang masih merasakan nyeri di bahwa sana.
"Masih belum percaya aja, Dek. Kita nggak pernah kenal, nggak pernah pacaran, tiba-tiba disuruh menikah. Lalu kita bertengkar, tapi pada kenyataannya kita memiliki rasa yang sama. Memiliki keinginan yang sama. Memiliki tujuan yang sama. Bukankah ini sangat indah," jawab Bima, bahagia.
Vita tersenyum, lalu tanpa di minta, ia pun mencium mesra dagu sang suami.
"Itu namanya jodoh, Mas. Lagian bagus begitu, nggak pacaran. Meminimalisir dosa. Kita pacarannya halal malah. Bener nggak? tapi sama janda. Makanya jangan benci janda. Rasain istrinya janda," canda Vita.
"Kamu ini, bisa aja. Biarin janda, yang penting masih suci ini." Bima mengelus kening sang istri, lalu memberikan kecupan sayang juga di sana.
"Hilih, dulu dihina-hina, sekarang dimanja-manja. Aneh masnya," ucap Vita.
"Untuk cinta, itu reaksi wajar, Dek. Bukanlah dalam cinta itu selalu ada kemarahan, kebencian, keegoisan, gengsi. Tapi yang penting kan bisa mengendalikan itu. Sehingga bisa menyatukan dua hati, ya kan?" ucap Bima.
"Duh pinternya suamiku sekarang, ngomong soal cinta pula. Stetoskop mana stetoskop?" Vita tertawa.
"Ada, mau lihat?" balas Bima, kocak.
"Mana?"
"Serius mau lihat?" Bima menatap aneh ke arah sang istri. Spontan Vita paham dengan stetoskop yang di maksud sang suami.
Bukan yang asli, tapi itu... ahhh sudahlah.
"Kok diam kenapa?" Bima menatap heran.
"Ogah, mas mesum!"
"Loh kok mesum piye sih, di laci samping kamu juga ada stetoskop. Emang mau ngapain?" Bima jadi ikutan bingung.
Vita tersenyum. Sebab suaminya terlihat begitu menggemaskan.
"Ah, ngobrol terus. Emmm, kenapa kita jadi tugas negara dulu, kan kita ada undangan ke rumah kak Zi?" ucap Vita seraya mencoba bangun. "Aaahhhh... kok nyeri," ucap Vita, spontan.
Alhasil, sang suami hanya tersenyum.
"Kenapa, Dek?" tanya Bima, pura-pura bodoh.
"Nyeri, Mas," jawab Vita lugu.
__ADS_1
"Nggak pa-pa. Itu wajar, nanti juga sembuh. Bisa jalan nggak?" tanya Bima.
"Hah! Ih tanyanya, nyebelin!" Vita cemberut.
"Loh, kok nyebelin piye to. Kan bener! Katanya nyeri, la itu bisa jalan nggak kira-kira?" Bima tersenyum.
Vita melirik kesal pada sang suami. Sebab pria itu terlihat licik dan menyebalkan.
"Mas bantu ke kamar mandi? Mau di gendong?" tanya Bima, serius. Tapi Vita menilainya modus.
"Dih senyumnya dih... modus!" canda Vita.
"Nggak, Dek. Mas tulus kok!" Bima tersenyum.
"Tulus apa modus. Vita bisa baca isi otak masnya. Please Honey, jangan lagi. Masih perih," ucap Vita memohon.
"Kamu ini. Ya nggak gitu lah konsepnya. Jangan terlalu risau, nanti juga sembuh!" Bima hendak membopong sang istri, namun dengan cepat Vita menolak.
"Eeee... wait wait wait... no. Vita bisa sendiri!"
"Nggak kamu nggak bisa!" paksa Bima.
"Bisa, Sayang, bisa. Kamu jangan khawatir oke!" balas Vita, tak mau kalah dengan akal bulus sang suami.
Bukankah ia sudah melihat dan merasakan semuanya, tapi kenapa si cewek masih seribet itu.
"Astaga!" gumam Bima, tersenyum menahan tawa.
Terlihat Vita berjalan tertatih. Sembari kerepotan menjaga selimut agar tidak lepas dari tubuhnya.
***
Di lain pihak, Gani tertegun setelah membaca pesan teks yang dikirim oleh orang tuanya.
Jiwanya masuk ke dalam dilema.
Bagaimana tidak? Mereka mengizinkannya melepas pertunangannya dengan Mariska. Tetapi mereka juga memintanya menikah di hari yang sudah ditetapkan.
Lalu bagaimana bisa begitu?
Mau mencari di mana calon istri dalam hitungan hari?
"Gila! Gila! Mereka sudah gila!" umpat Gani kesal.
Nadia yang saat itu sedang memakai perawatan wajah, jadi bingung dengan tingkah sang sahabat.
__ADS_1
Ada apa lagi dengannya, gumam Nadia.
"Ada apa, Gan? Apa ada masalah?" tanya Nadia.
Gani menatap Nadia. Lalu sekelebat ide pun muncul. Namun, ia jadi ragu, mungkinkah Nadia mau? Mungkinkah Nadia bersedia?
Padahal! Gani tahu, Mariska pernah melabrak Nadia. Gara-gara dirinya.
"Oh, nggak ini lo, Nad, ibuku! Aneh-aneh saja," ucap Gani gugup. Membuang pasangannya dari Nadia. Mencoba menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi.
"Oh, oke. Emmm, bentar lagi adikku datang, Gan. Aku minta maaf ya, kalo selama ini banyak ngrepotin kamu," ucap Nadia.
Spontan, Gani sadar, bahwa kebersamaanbya dengan gadis itu tinggal menghitung menit.
"Kamu yakin, Nad, mau pisah sama aku?" tanya Gani.
Nadia diam. Merasa aneh dengan pertanyaan itu. Sedangkan Gani malah duduk bersimpuh di hadapannya. Seakan memohon pada Nadia, agar jangan meninggalkannya. Terlebih saat ini, ia sangat membutuhkan seseorang untuk memahami dirinya.
"Gan, kamu kenapa? Kan kamu bisa telpon aku kalo ada apa-apa. Kok kamu gitu?" tanya Nadia.
Gani langsung terduduk lemas di lantai Menyandarkan tubuhnya di sofa. Diam sesaat. Seakan sedang bingung mengambil keputusan.
"Nad, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Gani sembari menopang kepala dengan tangan, menghadap serius ke arah Nadia.
"Tanyakan saja, Gan. Nggak ada yang nglarang," jawab Nadia.
"Seandainya di dunia ini hanya ada aku satu-satunya laki-laki di dunia, kamu mau nggak jadi istriku?" Gani menatap serius ke arah sang gadis.
Seketika, Nadia pun tertawa. Bagaimana tidak? Pertanyaan Gani seperty sebuah lelucon baginya.
"Nad, jangan tertawa. Aku serius!" jawab Gani memelas.
"Gani.... Gani... jangan seputus asa itu. Kalo memang tunanganmu itu belum ada jodoh denganmu, ya nggak pa-pa. Percayalah, jodohmu sedang otewe, tapi... yang jelas bukan aku. Pokoknya, percayalah, kamu adalah pria yang baik, jodohmu pasti wanita baik pula." Nadia tersenyum, namun tak dipungkiri bahwa saat ini ia pun gugup.
"Ahhh, kamu nggak asik, Nad!" Gani memutar balik tubuhnya kembali, lalu cemberut.
"Nggak asik piye to. Kamu nggak tahu siapa aku, Gan? Siapa keluargaku? Aku anak yatim piatu. Aku masih harus bertanggung jawab atas kelangsungan hidup kedua adikku. Lalu apakah orang tuamu bakalan ngasih, anaknya mengambil tanggung jawab seberat itu. Kamu itu yang nggak asik. Lain kali kalo mau ngajak cewek merried dilihat dulu. Jangan asal grudak-gruduk. Gimana kalo seandainya aku baper. Kan berabe Gan?" jawab Nadia, sedikit kesal.
"Kalo seandainya orang tuaku ngizinin, kamu mau nggak jadi istri aku?" tanya Gani lagi.
"Astaghfirullah Hal Azim... ini anak kenapa? Gan, sadar Gan sadar. Kelarin urusan kamu satu persatu. Kali aja pas perjalanan kamu balik kampung, ketemu jodoh. Ih... aneh!" Lama-lama Nadia kesal beneran.
"Masalahnya begini, Nad!" ucap Gani sambil menyerahkan ponselnya. Meminta gadis itu untuk membaca pesan teks yang dikirim orang tuanya kepadanya.
Bersambung...
__ADS_1