Mantan Terindah

Mantan Terindah
41. Canggung


__ADS_3

Franda terlihat sedikit lebih berbeda dengan rambut yang digerakkan memanjang. "Fran, lo cantik deh hari ini kalau digerai. Kemarin juga cantik siapa yang anterin lo blik?" Puji Rudy selaku cowok playboy yang ada di kelas ia pun sekekali melirik ke Rival karna ia senang sekali menggoda cowok gengsi itu.


"Eh, enak aja." Sambar Rival yang malah menyahut entah itu cemburu atau apa.


"Lo juga cantik kok cer." Puji Albert. Tumben banget kalau Albert memuji Cerry. Mereka malah bingung dan menatap satu sama lain. Albert tipe orang yang tertutup dengan hal percintaan.


"Ada dua pasang nih yang bakalan jadian." Cerry dan Franda semakin hari semakin dekat saja dengan teman-teman Rival. Lusi melihat itu tidak senang hati ia juga ingin diposisi Franda makanya berbagai macam cara ia lakukan.


"Val kayaknya lo dipanggil kepala sekolah deh kan lo ketua kelas." Ucap salah satu teman sekelasnya. Rival pun mengangguk saja.


Setelah Rival pergi namanya sahabat pasti selalu saja kompor dan kompor. "Fran, lo suka gak sama Rival?"


"Kenapa?"


"Soalnya dia suka sama lo."


"Trus lo kenapa tadi tiba-tiba muji Cerry apa lo suka? Hah?"


"Apa sih emang salah gue muji dia cantik, dari pada gue muji lo cantik begimana kan?"


"Ya gak gitu juga kali hahaha."


"Nah makanya."


...•••...


Tanah lapang, aneh memang. Ngapain coba Rival mengajak kesini. Alam yang asri, pepohonan yang masih hijau, burung-burung masih bertebrangan ditambah pula angin sepai-sepoi. "Lama banget sih jalannya, sini." Ia menarik tangan Franda begitu saja hingga perempuan itu hanya sejajar dengan Rival.


"Lo ngapain ngajak gue kesini?"


"Gue cuma pengen kasih lo kebebasan buat nikmatin alam selagi lo masih mampu." Ia maju melangkah dan melihat alam yang begitu sangat indah apalagi kalau bukan sunset disore hari.


"Gue kalau lagi galau atau apa gue suka mampir kesini. Banyak yang gak orang tau tentang gue, mereka hanya menganggap gue cowok hitz dan gak baik." lanjutnya sejenak. Ia duduk begitu saja di rerumputan diikuti oleh Franda.


"Lo kenapa kemarin malah dansa sama kak Roy?" Ia menatap tepat kedua bola mata Franda.


"Eh." Pertanyaan macam apa ini.


"Kenapa?"


"Ya gue gak suka aja kalau lo dansa sama dia. Lo suka sama dia?"


"Gak kok, dia udah gue anggap kakak gue." Jawabnya dengan santai sambil tersenyum. Franda mendekat berdampingan dengan Rival.


"Cinta sejati gak akan pernah tertukar val, dia akan selalu tau dimana tempatnya berada." Aneh? Ya emang aneh. Setelah Rubi kemarin berdansa dengan Rival niatnya Franda mulai kembali terbuka ia ingin kalau Rival dan Rubi bersatu kembali karna ia baru menyadari kalau Rival sosok yang gengsi.


"Kenapa? Maksudnya apa? Gue gak ngerti sama sekali."


"Gak papa lo gak ngerti biar lo ngerti nantinya."


"Apaan sih ngomongnya semakin gak jelas." Sahutnya yang bingung dan aneh.


"Tempatnya enak ya?"


"Iya disini tuh salah satu tempat favorit gue gitu."

__ADS_1


"Val. Boleh gue nanya sesuatu?"


"Hm."


"Lo suka sama cewek yang kayak gimana sih?"


"Gue suka sama cewek pengertian, baik, lemah lembut dan apa adanya dirinya aja gitu."


Franda mengangguk berarti ucapan Rival jadi modal untuk ia memberi tahu Rubi nantinya. "Kenapa? Lo mau jadi pacar gue?"


"Hah, gak kok nanya doang."


"Sekalian juga gak papa." Sahutnya sambil tersenyum singkat.


"Bentar." Rival mendekat dan mengambil sesuatu dari kelopak Franda yang tiba-tiba perempuan itu terpejam begitu saja.


"Ini ada sesuatu. Bulu mata lo rontok."


"Oh. Iya." Ternyata dia baik juga.


"Kenapa lo malah senyam-senyum gitu?"


"Gak, lo baik."


"Ya emang lo pikir selama ini gue gak baik?"


"Gak kok, baik - baik."


"Gue tuh bukan sejahat yang lo pikir gue masih katagori cowok baik kok buktinya aja gue dipercayai buat jadi ketua kelas kan?"


"Lo mending gak usah deket-deket sama Chiko deh soalnya dia bukan cowok baik-baik."


"Kok gitu?"


"Gue males bilang intinya seperti itu."


...•••...


"Yuk." Entah kenapa seharian ini mereka menghabiskan waktu bersama. Dari sekolah, pulang bareng, ke tanah lapang hingga matahari sudah tenggelam.


Rival meninggalkan Franda sebentar ia membeli makanan ringan disebelah sana. Kalau dipikir-pikir mereka seperti pacaran saja berdua dan selalu berdua. Bahkan dari tadi Rival malah sedekat itu.


"Gue beliin ini buat lo, makan ya. Gue gak mau kalau anak orang sakit nantinya."


"Tenang aja itu gak pedas kok." Rival melihat gerak-gerik Franda yang melihat makanan yang ia pegang.


"Bentar." Rival merapikan makanan yang belepotan di bibir Franda dengan tisu yang ia ambil dari sakunya.


"Pelan-pelan ya."


"Disini tuh harus romantis soalnya kalau enggak lo bisa digodain sama cowok-cowok disini jadi kalau kita romantis mereka gak berani buat godain orang yang udah punya pasangan."


Seaneh itu? Dan karna Franda jug takut ia pun hanya mengikuti saran dari Rival.


"Eh, ngomong-ngomong lo seneng kan bisa jalan sama gue? Soalnya gue tuh cowok rebutan gitu. Lo kenapa kemarin malah dansa sama kakak gue?"

__ADS_1


"Dia yang ajak."


"Dan lo mau-mauan kan?"


"Udah tau datangnya sama gue, kenapa lo malah gitu."


"Kan sekarang buktinya kita disini bareng kan?"


"Oh jadi maksud lo, suka-suka?"


Udah didiemin aja cowok semacam Rival, ganteng sih iya tapi egoisnya itu loh yang gak ketulungan.


...•••...


"Yah gimana nih pagar kayaknya udah di kunci." Suara itu sudah kecil tapi Rival melihat Franda yang menunduk dan seperti ketakutan.


"Hah? Gimana dong? Atau gue yang ngomong?"


"Ngak usah gak usah. Ya udah gue duluan dulu ya val."


"Lain kali bilang ya kalau gak bisa pulang malam kan jadi gue yang gak enak." Ucap Rival mendengar ucapan Franda barusan.


"Enggak papa kok, enggak papa kan mamah sama papah gue udah kenal juga sama lo. Oh iya hati-hati ya val."


"Eee iya makasih lo langsung tidur aja ya habis ini." Ia pun hanya mengangguk saja dan melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Seperti biasanya Rival melihat Franda masuk kedalam rumah dulu baru ia pergi.


Sebentar, ia memegang jantungnya yang berdebar begitu cepat, jantungnya tak karuan ketika tadi Franda memberikan senyum tipis. Apakah Franda menyukai dirinya?


"Duh kenapa gue kayak gini ya?"


Lalu mobil pun melaju.


...•••...


Rival membuka pintu utama dan semua masih di ruang tamu menyaksikan sepak bola. Biasa kalau ada pertandingan bola rumah masih ramai dan malah heboh.


"Lagi jalan sama siapa tuh?" Tiffany langsung saja nyeletuk ringan.


Langkah Rival terhenti sebelum ia menaiki anak tangga. "Apaan sih lo anak kecil."


"Eh, gue kakak lo ya." Rival hanya menjulurkan lidahnya ke Tiffany dan menaiki anak tangga.


"Dia lagi jatuh cinta? Sama siapa ka?"


"Gue gak tau."


"Gimana sih kan lo satu sekolah masa gak tau?"


"Ya emang tapi kan gak satu kelas juga keles.."


Rival membuka kamarnya dan merebahkan begitu saja, menatap keatas langit-langit kamarnya begitu bahagianya hari ini. Ya ia baru menyadari kalau ia sedang jatuh cinta ya jatuh cinta.


"Duh, sampai sekarang jantung gue gak berhenti - henti ya.. Apalagi gue lagi jatuh cinta sama tuh cewek cupu?"


"Hahaha sialan." Lanjut Rival kembali sambil merapikan rambutny yang sedikit berantakan.

__ADS_1


__ADS_2