Mantan Terindah

Mantan Terindah
Kesempatan Dalam Kesempitan


__ADS_3

*Hay, hay ... para penggemar abang Zein n kak Zi yang budiman.. Emak so sorry beib, baru pulang masak ni... ditambah susah signal. Sorry ya, yang udah nunggu... sayang kalian semua😘😘


oke next😘😘*


***


Vita menuruti arahan Laskar, agar dirinya bersikap tenang. Bersikap tidak tahu apa-apa. Bersikap menurut dan manis. Agar pihak musuh tidak curiga. Bahwa apa yang sedang mereka kerjakan saat ini sebetulnya adalah jebakan.


"Jangan gugup, Sayang. Kami semua ada bersamamu," ucap Bima.


"Bagaimana aku nggak gugup, Mas? Lihatlah para penyidik itu. Mereka besar-besar," jawab Vita jujur.


Bima tersenyum. Lalu ia pun menjawab. "Mereka hanya menanyaimu. Bukan mau mengajakmu berduel."


"Ih, Mas... ah. Vita serius! Vita takut terjebak," ucap wanita ayu ini.


"Jangan memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Percayalah! Semua bukti kejahatan itu tidak mengarah pada perusahaanmu. Justru mereka lah yang melakukannya. Tak tik mereka sudah terbaca, Honey. Yang harus kita lakukan hanyalah jangan sampai terjebak. Itu saja, kamu paham kan maksud Mas," ucap Bima lagi.


Sebenarnya pria tampan ini gemas dengan sifat sang istri, yang kadang-kadang lugu kelewatan.


"Paham, tapi takut. Vita kan nggak pernah ngadepin beginian," jawabnya lugu.


Tu kan belum apa-apa, keoonannya sudah terlihat.


Bima menatap gemas pada sang istri. Ingin sekali ia mencium bibir itu. Setidaknya, untuk menyalurkan kecerdasan yang ia miliki pada jiwa wanita ini.


"Kenapa, Mas, melihatku seperti itu?" tanya Vita, heran.


Bima tidak menjawab ucapan itu dengan ucapan. Tapi, ia malah mengangkat dagu sang istri. Menatap intens mata itu. Lalu tanpa izin ia pun mendekatkan bibirnya pada bibir wanita cantik itu.


Vita diam. Sebab ia tak tahu harus berbuat apa. Ingin menolak, namun Bima malah menarik pinggangnya. Mengunci tubuhnya.


Di detik berikutnya, merasa tak ada penolakan dari sang istri, Bima pun melanjutkan misinya.


Mengecup bibir seksi itu itu. Kecupan pertama, lolos dengen sempurna. Di Kecupan kedua, Vita menghadang bibir Bima dengan jari-jarinya. Lalu ia pun berucap, "Ini tempat umum, Mas. Nanti kalo ada yang lihat gimana?"


"Memangnya kenapa? Kamu istriku. Lagian ruangan ini tertutup. Hanya ada kita berdua," jawab Bima, enteng. Lalu, ia kembali mendaratkan bibirnya ke bibir wanita cantik ini. Mengecup, menyerang semaunya.


"Mas, wait," pinta Vita.

__ADS_1


Bima menghentikan serangannya, diam menunggu dengan tatapan lembut.


"Aku malu," ucap Vita lagi.


"Malu sama?"


"Kamu."


"Kamu istriku, aku suamimu. Aku boleh menciummu kapan pun dan di manapun aku mau. Kamu juga boleh melakukan hal yang sama. Nggak ada yang bisa melarang kita untuk berciuman, Honey," jawab Bima, serakah, menipu.


Vita ingin menjawab, namun bibir pria arogan ini terlanjur kembali menyerangnya. Vita tak mampu menolak. Vita pasrah. Bahkan di kecupan berikutnya, ia mulai membalas kecupan-kecupan itu. Hingga tanpa mereka sadari kecupan-kecupan itu kini berubah menjadi pangutan-pangutan panas yang menggairahkan.


Ternyata Bima begitu lihai berciuman, hingga membuat wanitanya terlena.


Vita melepas pelan bibirnya. Tersenyum malu-malu. Untuk mengurangi rasa malunya, Vita pun membenamkan wajahnya di dada sang suami.


"Apakah kamu sudah siap menerima benih ketampanan ku nanti malam, Honey?" tanya Bima, tanpa basa-basi.


"Apakah sudah ada cinta yang tumbuh di antara kita, Mas?" balas Vita, masih di posisi yang sama. Memeluk sang suami dan membenamkan wajahnya di dada bidang pria kekar itu.


"Insya Allah sudah, Dek. Mas bisa merasakannya. Mas yakin, jika rasa yang Mas rasa saat ini adalah... Mas mulai mencintaimu dan cinta itu kini sedang mengepung sanubari, Mas. Bagaimana denganmu?" Bima tersenyum bahagia, karena ia telah berhasil mengungkapkan rasa yang ada di hatinya.


"Vita juga merasakan hal yang sama, Mas. Vita juga emm... malu... " Vita semakin mengeratkan pelukannya. Dia tak bohong. Rasa cinta itu memang benar adanya. Benar jika saat ini telah mengepung relung hatinya.


"Emmm, Sayang!" ucap Bima.


"Ya." Vita mengangkat wajahnya dan menatap sang suami manja.


"Apakah kamu tahu, Sayang? Mas bahagia, Honey. Bahagia karena mengenalmu. Bertemu denganmu. Apa lagi diberi kesempatan untuk memilikimu," ucap Bima.


Vita tersenyum. Namun, di balik senyum kebahagiaannya itu, ia menyimpan sesuatu yang saat ini masih ia takuti. "Apakah Vita boleh jujur, Mas?" tanya Vita.


"Tentu, Sayang! Jujur saja. Mas akan dengarkan!" ucapnya.


"Mas beneran kan nggak ada hubungan apapun dengan suster Nadia?" tanya Vita.


"Tidak, Sayang. Demi Tuhan."


"Berarti, yang ada di dalam sini hanya Vita seorang, kan?" tanya Vita lagi. Ya, Vita tidak bisa berbohong, karena ia memang menginginkan kepastian.

__ADS_1


"Ya, Sayang. Hati itu milikmu," jawab Bima, serius.


Vita tersenyum, lalu ia pun kembali memeluk sang suami.


"Yang!"


"Hemmm!"


"Bolehkah malam ini, Mas, menunaikan kewajiban Mas sebagai suami?" tanya Bima, enggan berbasa-basi lagi. Sebab, kalau boleh jujur, sejak ia mengetahui kebenaran tentang sang istri, Bima sudah mempunyai pikiran untuk memiliki wanita ini. Baik secara lahir, maupun batin.


Vita mengangkat wajahnya. Lalu tersenyum. Di sela-sela senyuman menggoda itu, Vita mengangguk, tanda menyetujui permintaan sang suami.


"Seriously?" tanya Bima.


"Yes!" Vita tersenyum.


"Promise?" tanya Bima meyakinkan.


"Insya Allah." Vita tersenyum.


Keberadaan cinta itu telah sama-sama mereka akui. Lalu tidak ada lagi penghalang untuk membuktikan bahwa cinta itu memang ada. Gengsi pun telah pergi entah ke mana. Sehingga mereka pun kembali mewujudkan cinta itu ada dengan ciuman-ciuman yang sangat menggairahkan.


Bima begitu bersemangat menikmati bibir sang istri. Begitu pun Vita. Sehingga mereka tidak menyadari, ada sepasang mata yang melihat mereka. Yaitu penyidik yang hendak memeriksa Vita.


Terpaksa, penyidik itu pun kembali ke ruangannya. Membuat Juan, Zein dan juga Rehan heran.


"Ada apa, Pak? Mana Vita?" tanya Zein, heran.


"Oh, itu.... anu, mungkin sebentar lagi," jawab petugas itu, sedikit tak nyaman.


"Sebentar lagi, maksudnya? Mereka belum datang?" tanya Rehan.


"Tidak, emm.. itu, mereka hanya sedang ..." jawab penyidik itu terbata.


Tak ingin dibuat penasaran, ketiga pria tampan ini pun langsung melangkah mendatangi kedua anak manusia itu di sebuah ruangan yang memang dikhususkan untuk mereka yang hendak memberikan kesaksian.


Sayangnya langkah mereka terhenti. Sebab mata mereka menyaksikan sesuatu yang seharusnya tidak mereka saksikan.


Juan dan Rehan langsung balik badan. Tentu saja tidak ingin mengganggu kedua sejoli yang sedang kasmaran itu. Mereka mengerti dan ingin memberikan waktu.

__ADS_1


Namun tidak dengan Zein. Emosinya langsung memuncak. Amarahnya datang seketika. Kesal. Semua bercampur aduk di dalam otaknya. Tanpa basa-basi, ia pun masuk ke dalam ruangan tersebut. Tentu saja ingin menghakimi mereka. Yang menurutnya tidak tahu diri itu.


Bersambung...


__ADS_2