Mantan Terindah

Mantan Terindah
8. Ancaman Rival


__ADS_3

Rival bangun lebih pagi dan menjalankan misinya yang ia pikirkan tadi malam. Tidak lupa ia taruh surat misterius yang ada diatas meja kedalam saku kantung bajunya.


Biasanya ia tidak sepagi ini tapi karna perempuan itu yang sudah lancang mendekati Roy kakaknya sendiri ia mengorbankan waktu untuk melakukan misi ini.


Rival menuruni anak tangga, suasana ruang makan masih begitu sepi hanya art yang menata makanan untuk sarapan mereka. Biasanya Roy sudah lebih awal ketimbang Rival di sana kini untuk pertama kalinya Rival duduk duluan.


"Tumben den Rival duluan?" Pertanyaan itu wajar saja karna ia tidak biasa melihat Rival disini lebih awal.


"Eh, iya bi sekali-kali doang soalnya pengen ngerasain makanan di kantin soto ayam kata temen-temen aku sih enak ya udah duluan aja biar gak antri." Mungkin alasan Rival kali ini masuk diakal art di rumah ini hanya mengangguk saja.


Rival mengambil sepotong roti yang sudah ia makan secara cepat lalu meminum susu dengan terburu-buru.


"Ya udah bi bilang sama mama kalau aku duluan. Trus bilangin sama papah aku duluan. Berangkat dulu ya bi." Ia berlari langsung.


Tidak lama Roy menarik pergelangan tangannya memasang jam tangan yang menjadi ciri khas Roy. Roy memang lebih perfect dalam hal penampilan apalagi ia lebih suka dengan rapi berbeda dengan Rival yang jaub lebih urakan.


"Lama banget Rival. Rival, val." Panggil Roy dari bawah.


"Dia mana bi? Panggilin dia dong bi. Kebiasaan banget."


"Dia udah berangkat duluan den tadi."


"Hah serius? Tumben."


"Iya bibi juga bingung."


Tiffany yang baru datang tiba-tiba ikut nimbrung sambil menarik bangku meja makan." Ada apa sih kak? Rival mana?"


"Udah berangkat duluan kena angin apa dia."


"Serius?" Roy mengangguk dengan memakan sepotong roti rasa nanas ditambah segelas susu diatas meja.


"Oh gitu, tumben banget tuh anak lagi gebet cewek kali."


"Hahaha bisa aja kembaran gue." Ketika Roy mendekat Tiffany sedikit mengendus ringan sambil mendekatkan hidungnya ke seragam Roy.


"Lo pake parfum berapa botol?. Kok menyengat gini? Ini kan parfum ce----"


"Ngaco lo. Enggak lah. Gue pakai parfum gue biasanya juga. Lagian ini parfum mahal dan awet."


"Iya deh parfum mahal."


...•••...


Rival mengendap-ngendap menaruh surat yang sudah ia tulis tadi malam dengan kata-kata romantis lalu ia taruh diatas meja Franda. Ia sengaja agar Franda terjebak dengan rencana yang sudah ia rencanakan. Ia tidak mau kalau Roy sampai suka atau care dengan Franda. Apalagi setelah pulang sekolah kemarin Roy yang mengantarkan Franda didepan gerbang menuju rumahnya.

__ADS_1


Untung saja waktu masih menunjukkan pukul 06.55 suasana masih sepi dan masih hening belum ada yang datang. Lalu Rival menuju kearah kantin untuk sarapan pagi disana karna ia belum makan di rumah.


"Hai Rival, tumben pagi." Rival melemparkan sebuah senyuman manja dan menggoda. Dengan gaya yang begitu fresh kedua tangan masuk kedalam kantung celana. Aroma parfum yang menyengat.


"Banyak juga yang kagum sama gue. Iya iyalah gue kan ganteng." Dengan pedenya Rival memuji dirinya sendiri.


"Hai Rival."


"Val."


Suasana kantin tidak begitu ramai. "Bu pesan soto ya satu. Air hangat aja." Pesannya.


"Rasain lo." Ketawa Rival membayangkan kalau Franda akan terpesona dengan surat romantis yang intip di google itu tadi malam. Tidak sia-sia ia menulis sampai larut malam.


"Eh tumben banget ya Rival bisa sepagi gini." Bisik mereka yang melihat Rival yang sudah nangkring di kantin.


"Taubat kali. Tapi ya emang cowok tipe Rival gini idaman gue banget."


"Hm, gue juga." Mereka walaupun satu angkatan tapi mereka tau siapa Rival dan kelasnya walaupun Rival sendiri tidak tau siapa mereka. Karna Rival cowok keren, hitz dan kaya yang digandrung oleh mereka.


"Apalagi kalau Rival senyum ya guys. Pasti mempesona gitu. Ah Rival ku."


"Woy woy Rival tuh liatin kita." Sorot mata yang tajam menjadi salah satu ciri khas Rival ditambah aura Rival memang beda dari cowok-cowok lain.


3 cowok yang sering datang berbarengan melihat ada pemandangan langka.


"Misterius." Gelengan Bima seolah membuat hal ini benar-benar langka sekali. Albert yang lebih dulu berdiri didepan Rival menatap apa benar orang itu Rival tidak biasanya ia duduk di kantin. "Val ini lo?"


"Yakin?*


"Iya ini gue, duduk. Gue lapar." Melahap dengan nikmat.


"Gue gak nyangka kalau seorang Rival bisa juga kayak gini ya." Heran Rudy menepuk pundak Rival.


"Eh bentar sini deh kalian." Rival mendekatkan bahu mereka ada yang ingin ia beri tahu.


"Ah serius lo?"


"Hus diam lo jangan kenceng-kenceng."


"Tapi beneran lo ? Gak su----"


"Ya enggak lah. Mana mungkin mustahil buat gue itu sih. Gue pengen kasih dia pelajaran aja."


"Yakin lo? Roy tau?"

__ADS_1


"Gak, tapi awas lo ember ya bert."


...•••...


Franda sangat penasaran dengan isi surat ini yang menyuruhnya untuk kesini. Belakang sekolah yang sedikit ia takuti dengan rasa gugup siapa pengirim surat misterius itu.


"Kenapa lo nyari pengirim surat itu?"


"Ri----."


"Val...?"


"Iyq ini gue. Gimana suka sama suratnya?"


Franda mengangguk ringan terlihat kalau ia malu-malu.


"Gue sengaja kasih lo biar lo kejebak kesini."


Rival mengelilingi Franda "Gue lihat lo bareng sama kakak gue. Awalnya sih gue biasa tapi setelah gue pikir-pikir mending lo gak usah lagi deh deket-deket sama dia. Toh dia juga gak bakalan suka kan lo bukan tipe dia. Jadi percuma buang-buang waktu."


"Maksud surat ini apa?" Franda masih bingung dengan apa yang Rival katakan.


"Oh, surat ini." Ia mengambil lalu merobeknya langsung.


"Surat ini jadi pemancing doang sih. Ya buat pemancing lo buat kesini gue cuma pengen lo jauhin kak Roy. Karna dia gak suka sama tipe kayak lo. Jadi kalau lo masih rewel atau apa lo bakalan rasain akibatnya ngerti?" Franda menunduk kebawah.


"Satu hal lagi lo cuma perempuan sederhana yang cuma bermimpi dapetin pangeran di kerajaan."


Percuma saja Franda disini ia melenggang pergi ternyata ini sebuah jebakan yang tidak ia sangka-sangka sama sekali sebelumnya padahal ia sudah geer.


"Val lo yakin bakalan gak keterlaluan? Lo tadi kasar tau." Rudy saja yang merupakan cowok playboy tau kalau ucapan yang Rival katakan tadi kasar dan menyakiti hati seorang perempuan.


Rival tersenyum tipis lalu mengibaskan "Gak bakalan juga entar dia semakin menjadi."


"Yakin lo benci sama dia?" Albert dengan coolnya menyorot mata Rival dengan tatapan tajam.


"Ya gue yakin habis ini dia gak bakalan berani deketin kak Roy. Enek gue, gue gak mau punya kakak ipar kayak dia."


Lalu Albert tersenyum miring." Nanti nyesel lo. Karna kalau lo benci sama orang apalagi cewek lo bakalan cinta banget sama dia trus lo harus percaya kalau karma berlaku."


"Udah ah. Males gue cabut yuk."


Franda berlari kecil sambil terlihat sedikit bergemuruh dengan apa yang sedang terjadi tadi. Ia tidak menyangka kalau Rival bisa seekstrim itu mengatakan hal yang kasar kepadanya hingga hati kecilnya sedikit terkoyak apalagi Franda hanya seorang perempuan perasaan yang sensitif sama saja dengan perempuan lain yang apabila disakiti oleh siapapun apalagi seorang cowok yang kasar seperti Rival yang merupakan adik kandung Roy sendiri.


Memang benar ia tadi hanya diam dengan gertakan Rival tapi Franda tidak mau menunjukkan kalau ia merasa tersinggung dan sakit hati dengan Rival karna hanya membuat dia lemah di mata mereka apalagi seorang Rival.

__ADS_1


Padahal tidak ada maksud dengan kedekatan antara dirinya dan Roy. Tapi karna Roy juga baik maka Franda juga membalasnya dengan hal yang baik.


Terngiang-ngiang ucapan kasar tadi.


__ADS_2