Mantan Terindah

Mantan Terindah
Di tengah Kabar Duka


__ADS_3

Meski ia tak merasakan enaknya rasa masakan yang sekarang sedang ia kunyah. Tetapi Vita tetap berusaha mengisi tenanganya dengan makanan-makanan itu.


Deraian air mata tak ketinggalan. Hatinya mengumpat kesal. Sumpah serapah untuk orang-orang yang berani mengusik hidupnya juga meluncur sempurna dari dalam hati. Vita membenci mereka, benci kelakuan mereka yang mengakibatkan ia harus terpisah dari sang suami.


Mulut memang diam, tapi hati bersumpah akan ******* habis orang-orang biadap yang telah berani membuatnya sengsara.


Beberapa kali, Vita telihat menghapus kasar air matanya. Seakan dia memang marah dalam diam.


Sera, yang sedari tadi ada di samping Vita, seakan ikut merasakan betapa ia sangat marah dan tertekan oleh apa yang telah terjadi.


"Tan, boleh Vita minta tolong?" tanya Vita.


"Tentu saja, Sayang! Apapun akan tante lakukan untukmu!" jawab Sera yakin.


"Terima kasih, Tan. Vita ingin bertemu Victor, maukah Tante nemenin Vita?"


"Victor? Pengacara kurang ajar itu?" tanya Sera, emosional.


"Ya Tan, Vita ingin membuat perhitungan dengan pria bangsat itu. Vita yakin, dialah dalang dari semua ini. Pria bajiangan itu harus Vita kasih pelajaran!" ucap Vita marah.


"Oke, mari kita buat perhitungan dengan pria bajiangan itu. Dia pikir sedang berhadapan dengan siapa? Dia kita kita lemah. Ohhhh... tidak! Mari kita selesaikan perselisihan ini. Sekarang habiskan makananmu, mandi dan bersiap. Setelah itu kita berangkat. Tante akan minta Nita mencarikan tiket untuk kita," ucap Sera.


Vita tidak menjawab dengan suara. Tapi dia mengangguk mengerti.


Tekat kuat telah lahir dari jiwa seorang Vita. Semangat juangnya kini membara sempurna. Demi cintanya pada Bima, Vita berjanji tidak akan tinggal diam tentang masalah ini. Vita berjanji akan membuat mereka membayar setiap tetes darah yang telah Bima keluarkan karena kebangsatan mereka.


"Vit, penerbangan kita sore ini. Kamu yakin kuat?" tanya Sera.


"Insya Allah, Tan. Vita sudah nggak sabar pengen menghajar pria bajingan itu." Vita menatap tajam ke arah benda-benda yang ada di depannya.


"Oh oke! Tante ngikut saja, yang penting kalo ada apa-apa atau kamu merasakan sesuatu yang aneh dalama tubuhmu, bilang ya. Kita ke rumah sakit!" ucap Sera.


Vita mengangguk menyetujui apa yang tantenya katakan. Vita sendiri tak akan membiarkan tubuhnya sakit. Ia ingin terlihat kuat dan tegar di depan orang-orang yang telah membuatnya menderita seperti ini. .


***


Siang telah berlalu, berganti sore yang syahdu. Udara juga tak sepanas tadi siang. Angin sepoi-sepoi menerpa hijab yang Vita kenakan.


Vita sengaja membuka sedikit kaca mobil. Ia ingin menatap langsung pemandangan ini tanpa ada penghalang, seperti sebuah kaca. Vita ingin mengingat bahwa kota ini pernah memberinya bahagia. Meski berakhir duka.


Lamunan Vita sedikit terganggu, sebab tiba-tiba saja ia merasa mual. Perutnya seperti teraduk-aduk.


"Vit, kamu oke?" tanya Sera.


"Oke, Tan. Tapi tiba-tiba rasanya mual," jawab Vita jujur.


Vita tidak bohong, sebab tubuhnya juga mengeluarkan keringat dingin. Telapak tangannya juga dingin. Di kening juga terlihat butiran-butiran keringat bening. Vita memang tidak berbohong. Saat ini dirinya memang sedang menahan rasa ingin muntah.

__ADS_1


"Mumpung belum jauh, sebaiknya kita putar balik, Pak!" pinta Sera pada sangat sopir.


"Baik, Bu!" pria itu pun mengikuti perintah Sera. Membawa kembali mobil yang ia kendarai untuk kembali ke rumah orang tua Bima.


Tentu saja, melihat mobil yang membawa Sera dan juga Vita kembali dengan cepat membuat Lastri dan Luna terkejut.


"Ada apa, Ra?" tanya Lastri pada Sera.


"Si Vita mual, Mbak. Sepertinya masuk angin," jawab Sera. Sedangkan Vita langsung masuk dan mencari kamar mandi untuk menumpahkan isi perutnya.


"Kakak kenapa?" tanya Luna sembari memijat tengkuk Vita. Sedangkan Vita hanya menjawab dengan gelengan kepala. Sebab ia pun tak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi dalam tubuhnya.


Luna memapah Vita ke sofa, sedangkan sang ibu mertua mengambilkan air hangat untuk menantunya. Sera menyiapkan tempat untuk Vita berbaring. Mereka bertiga terlihat kompak menjaga Vita.


"Lun, coba kamu telepon Kinan, suruh periksa kakakmu," pinta Lastri. Kinan adalah sahabat Luna, dia adalah tetangga sekaligus seorang dokter.


"Baik, Ma. Semoga Kinan belum berangkat ke klinik," ucap Luna. Tak ingin menunda waktu lagi, Luna pun segera menghubungi sahabatnya itu.


"Vita nggak pa-pa, Ma. Hanya pusing sama mual aja kok. Mungkin karena Vita jarang makan," ucap Vita.


"Mama tahu, tapi Mama nggak mau sakitmu ini berlarut-larut, Sayang. Mama takut Bima nggak akan maafin Mama kalo terjadi sesuatu sama kamu." Lastri mengelus kepala menantu kesayangannya ini.


"Vita rindu mas Bima, Maaaa!" tangis wanita ayu ini kembali pecah. Sebab ia memang sangat merindukan pria itu. Sangat merindukan.


"Sabar ya, Nak. Kita doakan semoga suamimu tenang di sana. Kamu pun harus kuat. Percayalah, kalian akan bertemu lagi di surga. Cinta kalian suci, Sayang," ucap Lastri mencoba membangkitkan semangat Vita, agar menantunya ini menyadari betapa mereka sangat mencintainya.


Lima belas menit berlalu, Kinan, yang tak lain adalah sahabat Luna, pun datang. Seperti biasa, kedatangan gadis itu langsung disambut baik oleh keluarga Bima.


"Ih, Tante, kayak ama siapa aja! siapa yang sakit?" tanya Kinan.


"Ini loh, istri masmu. Sepertinya masuk angin. Beberapa hari ini dia susah tidur, susah makan," jawab Lastri sesuai dengan apa yang terjadi pada Vita.


"Oh iya. Saya periksa dulu ya, Tan," jawab Kinan. Langsung meminta izin untuk memeriksa keadaan Vita.


Dokter Kinan tersenyum. Namun sedetik kemudian senyum itu buyar. Sebab kabar bahagia ini pasti akan membangunkan duka yang pernah ada di dalam keluarga ini.


"Emm, ada apa Dokter Kinan? Apakah putriku baik-baik saja?" tanya Lastri, takut, karena wajah Kinan berubah dengan cepat.


"Emm, sebentar ya, Tan. Saya bicara berdua dengan Luna, boleh?"


"Tentu saja," jawab Lastri, sedikit curiga.


Kinan pun langsung menggandeng tangan Luna dan mengajaknya keluar.


"Ada apa, Kin?" tanya Luna.


"Aku rasa kakak iparmu hamil, Lun," jawab Kinan.

__ADS_1


Spontan Luna pun tersenyum bahagia, senang dan hatinya sungguh berbunga-bunga. Menurutnya kabar ini sangat luar biasa.


"ini amazing, Kin. Kenapa kamu nggak langsung kasih tahu mereka? Apa kamu tidak yakin?"


"Bukan aku tak yakin, Lun. Tapi aku takut kabar ini akan membuat kakak iparmu drop. Mengingat masmu... " Kinan tak melanjutkan ucapannya, karena ia yakin Luna pasti bisa menangkap maksud dari ucapannya tersebut.


Dan benar saja, Luna langsung lemas, terduduk tertegun seketika. Tentu saja karena ia mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Dia sendiri saja shock, lalu bagaimana jika sang kakak ipar tahu bahwa saat ini ia mengandung, di saat suaminya sudah berpulang...


Bersambung...


Sambil nunggu emak update, kalian bisa main ke karya kak J Black... keren lohh🥰


Cuplikan Bab


Judul: Gadis Jerawat Istri Sang Casanova


Penulis: J Black


Eps 14. Dijebak


Syakir yang mulai hilang kendali dengan tubuhnya yang terbakar akan gairah segera membuka pakaiannya. Pria itu terlihat sangat tidak sabaran. Kemudian dia juga melepaskan robekan lingerie itu dan melemparnya ke sembarang arah.


Tangannya dengan lihai bergerak kesana kemari. Memberikan sensasi yang begitu seksi dengan diiringi kecupan-kecupan manja di beberapa tempat yang sangat ia sukai.


"Punyamu sedikit lebih kecil, Sayang. Apa kau sudah rajin olahraga?" tanya Syakir saat kedua tangannya bermain di dua gunung dengan begitu lihainya.


Syakir yang memang sudah tak sabar. Langsung membuka kedua kaki wanitanya. Dia menempatkan senjata miliknya tepat di depan goa indah tanpa rawa-rawa tersebut.


"Kau benar-benar masih perawan, Sayang. Milikmu begitu sempit dan mencengkram milikku!" kata Syakir berbisik di telinga Rachel. "Tahanlah sebentar yah. Aku akan memaksanya masuk!"


🌴🌴🌴


Di tempat lain, terlihat enam orang anak manusia sedang tertawa riang di sebuah apartemen. Mereka sedang menikmati malam indah nan panjang dalam hidup mereka.


"Apakah Kekasihmu si Syakir, sudah membuka segelnya?" tanya seorang wanita yang saat ini sedang menenggak minuman di tangannya.


"Pasti. Aku yakin kekasih uangku itu sudah melakukannya berulang kali," balas wanita dengan pakaian seksi yang sedang duduk.


"Apa kau tak cemburu, Sayang?" bisik pria yang tangannya memegang gelas berisi minuman alkohol.


"Cemburu?" ulang Rachel dengan menyusupkan wajahnya ke leher pria yang sedang memeluknya. "Tak ada dalam kamusku."


Rachel terkekeh. Dia menjauhkan kepalanya lalu menatap ke arah dua sahabatnya yang juga bersama pasangannya.


"Aku yakin Syakir berpikir bahwa akulah yang ada dibawahnya. Aku yakin dia melakukannya dengan gila," kata Rachel mengingat apa saja yang sudah dia lakukan pada seseorang.


"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" tanya temannya yang lain dengan posisi duduk di pangkuan sang kekasih.

__ADS_1


"Aku akan menendang Humaira jauh dari kampus kita," balas Rachel dengan mata berbinar.



__ADS_2