
Sebuah cinta yang tulus adalah sebuah perjuangan proses yang sangat panjang. Dior mencoba mempertahankan apa yang menjadi prinsipnya dan Gracia mencoba mengerti dengan apa yang menjadi ketulusan kekasihnya. Mampukah mereka bertahan dan terus berjuang sampai hanya Tuhan yang mengijinkan mereka?
...
Dan semua ini benar benar harus terus dihadapi pasangan ini. Mereka harus berada di posisi selalu bersama. Gracia yang tidak lepas dari Dior sedangkan Dior yang menahan segala hasratnya untuk tidak menumpahkan sebelum waktunya. Bahkan Gracia yang biasa biasa saja membuat Dior tak karuan. Semakin kesini Gracia sangat menjaga penampilannya. Dia mengakui ketampanan dan kesempurnaan kekasihnya. Dia percaya kalau tunangannya itu tidak akan memperhatikan wanita lain tetapi Gracia juga ingin membuat Dior tidak bosan ketika bertemu dengannya.
Seperti ketika perjalanan ke Desa Serena, kampung halaman Leon. Sembari mengantar Allegra pulang, Dior, Gracia dan Morgan mendatangi rumah itu. Mengunjungi Angel, Jessie dan Jerry. Juan, adiknya Leon setelah menikah pindah ke Japanis. Dia di sana bersama istri dan dua anaknya laki laki dan perempuan. Jadi, hanya keluarga Angel yang menempati rumah itu karna mendiang Jane dan Larry menitip pesan untuk terus merawat rumah dan perkebunan peninggalan mereka.
"Tuan Muda Prime, anda dan Nona Andez bisa menempati kamar Allegra di atas. Biar Allegra tidur bersama Jessie. Dan Tuan Muda Andez, apa tidak keberatan jika anda tidur di sofa ini?" Kata Angel dengan ramah menyambut kedatangan Dior, Gracia dan Morgan.
"Tidak usah sungkan bibi, kami hanya satu malam. Seperti nya sofa itu juga sangat nyaman. Dan bibi, tolong panggil aku Morgan. Aku hanya dari keluarga biasa, tidak berlebihan seperti kaum bangsawan. Haha!" Kata Morgan menggaruk belakang kepalanya dan menuju ke sofa untuk duduk.
"Heng, manis sekali mulutnya di depan mommyku!" Decak Allegra mendengar penuturan Morgan yang sangat sopan terhadap Angel. Angel hanya tersenyum . Dia jadi mengenang masa mudanya bersama Tuan Jerry nya.
"Sepertinya anak ku ini merepotkan mu ya nak Morgan?" Tanya Angel tersenyum hangat
"Begitulah bi, eh tidak bi tidak, biasa saja. Aku hanya berterimakasih karna dia telah menemani kami!" Saut Morgan namun rasanya tidak etis jika dia bersifat kekanak kanakan di depan Angel, wanita paruh baya seusia ibunya yang baru ia kenal.
"Benar bi, Allegra sangat baik. Dia bahkan mengajak Gracia jalan jalan. Em, di mana Jessie bi?" Kata Dior memperhatikan beberapa orang yang tidak ada termasuk Jerry juga. Tapi pasti Jerry sedang di kota sebentar.
"Jessie ada di kamarnya. Dia baru saja membersihkan dirinya. Nanti bisa bergabung makan malam dengan kita. Sekarang sebaiknya kalian beristirahat dan bersihkan diri ya? Allegra, antar Tuan Muda Prime dan Nona Andez ke atas ya?" Kata Angel lalu menyuruh anak keduanya.
"Oke mam." Saut Allegra dan dia menuju ke atas diikuti Gracia dan Dior.
"Morgan, bibi tinggal dulu ke dalam untuk menyiapkan makan malam ya?" Ijin Angel.
"Santai saja bi."
Dan lagi Gracia dan Dior berada dalam satu kamar yang juga mempunyai kamar mandi di dalamnya. Kamar ini dulu adalah kamar Angel tetapi berubah untuk Allegra. Angel dan Jerry menempati kamar utama sedangkan Jessie menempati kamar yang dulu digunakan Leon dan Juan.
Kecanggungan lagi lagi melingkupi Dior ketika mereka sudah makan malam dan kembali ke kamar. Gracia mengenakan piyama celana pendek dan lengan panjang. Meski begitu, kedua paha Gracia terlihat jelas dan menggoda. Dior menatapnya datar namun di dalam tubuhnya ingin sekali ia mengelusnya namun lagi lagi Dior mengalihkannya dengan meraih ponselnya. Gracia sudah menyadari lirikan kekasihnya namun dia juga hanya tersenyum.
Gracia pun bergabung masuk ke dalam selimut di samping Dior. Dia membaringkan dirinya sambil memeluk pinggang Dior. Dior menoleh dan tersenyum. Dia juga mengelus lengan Gracia agar tidur terlebih dulu.
"Apa yang kau lakukan kak?" Tanya Gracia dengan matanya yang sudah agak sayu sayu.
"Mengirim pesan untuk paman Leon. Memberitahukannya kalau kita sudah ada di sini." Jawab Dior.
"Oohh, aku jadi merindukan Daddy ku. Kapan kita akan pulang kak?" Tanya Gracia kemudian mendongakan kepalanya.
"Besok malam karna penerbangan kita pagi hari." Jawab Dior tersenyum kecil.
"Aku juga merindukan mom mu. Aku ingin dipeluk seperti ini!" Gracia semakin mendekap Dior. Dior hanya tersenyum . Sebenarnya dia sedang menghindari Gracia.
"Kalau sudah mengirim pesan, kau juga harus memelukku kak!" Kata Gracia lagi.
"Iya, kau tenang saja! Tidurlah dulu!" Kata Dior mengecup kening Gracia dan masih membalas chating dari Leon dan Lexa. Selang beberapa menit Gracia sudah tertidur. Perjalanan dari kota ke desa cukup melelahkan karna harus berhenti untuk makan siang dan membeli oleh oleh. Dior menghela napas. Sungguh hal yang sangat membutuhkan perjuangan. Dia mengusap dahinya dan akhirnya memeluk Gracia untuk ikut tidur. Kalau Gracia diam tidak akan terjadi apa apa pada miliknya.
'oh mom! Terus ingatkan aku!' batin Dior pada ibunya.
Bukan di Springfield saja semua ujian ini menyerang dirinya. Ketika mereka kembali saja, karna masih suasana libur, Gracia sering main ke rumah Dior dan Viena menyuruhnya menginap karna untuk menemaninya dan Lexa juga Amy. Gracia dengan senang hati karna dapat bertemu dengan kekasihnya walau ia tidak tidur bersama Dior. Gracia malah tidur dengan Viena di kamar Zefanya atau Zhavia. Gracia sangat menyukainya karna mengingatkannya pada ibunya. Zefanya dan Zhavia belum kembali dari liburannya. Sesekali Gracia ikut Dior ke kantor. Di satu sisi membuat Dior semangat dan tenang karna tidak usah mencemaskan Gracia sedang apa dan di mana tetapi di satu sisi Gracia seakan memancing dirinya untuk melakukan hal lebih.
Dan ketika satu bulan kemudian, ketika Gracia, Zefanya dan Zhavia juga sudah kembali mengais ilmu mereka di universitas, seluruh keluarga Prime membuat kejutan untuk Dior. Dior berulang tahun namun karna kesibukan yang datang silih berganti, Dior sampai tidak ingat bahkan benar benar melupakannya. Gracia yang mencetuskan semua kejutan ini pada Viena dan Lexa. Mereka pun antusias. Tidak ketinggalan Zefanya dan Zhavia yang sangat bersemangat mendekorasi rumah menjadi sangat meriah. Ezekhiel dan Patrick pun ikut membantu. Sebenarnya Patrick yang menawarkan ketika Zhavia sedang membicarakannya dengan Zefanya.
"Sepertinya akan ada pesta di rumah mu Zhavia?" Selidik Patrick di samping Zhavia sambil berjongkok di sisi perbatasan koridor kampus.
"Ya, lalu? Kau mau memeriahkan dengan permainan tangan piano mu?" Decak Zhavia melirik agak malas.
"Boleh jika itu membuatmu tersenyum." Saut Patrick tersenyum.
"Jangan gombal gombal, baiklah, sepertinya kau memang dibutuhkan Pat!" Balas Zhavia.
__ADS_1
"Benarkah?"
"Ya, untuk menggantung pita di setiap sisi rumah Pat, karna kau akan membantu mendekorasi." Celetuk Zefanya sambil menyeruput minumannya.
"Aku pikir apa!"
"Haha, kau harus memanfaatkan tubuh tinggimu ini bung!" Kata Zhavia menepuk bahu Patrick.
"Heemm.."
Ya, terkadang kalau Patrick memiliki waktu luang di kampus, dia selalu ikut bergabung bersama Zefanya, Gracia dan tentunya Zhavia.
Dan semua sudah tersusun dengan baik. Dekorasi ruang tamu sampai ruang makan, kue ulang tahun, sajian makan malam dan hadiah untuk Dior sudah tersedia. Mereka hanya perlu menunggu Dior. Di sana semua orang orang penting untuk Dior. Ada mom and dad nya Viena dan Dion juga saudara kembarnya pastinya. Zefanya dan Zhavia. Ezekhiel dan Patrick juga hadir. Amy, Lexa dan Leon. Revo, Marcel dan Pammy pun ikut hadir memeriahkan ulang tahun yang tidak diketahui empunya.
Seharusnya, hari ini Dior sangat free dan dia bisa pulang lebih awal tetapi karna semua kejutan ini, Morgan juga ambil peran. Dia yang mengadakan rapat mendadak. Morgan hendak berkonsultasi mengenai bisnis nya yang sudah mulai maju. Banyak perusahaan yang meminta stok minuman padanya lebih banyak. Dan banyak mitra serta agen yang membuka dengan nama brand minumannya. Dior pun membantu sesuai kemampuannya.
Sekitar pukul setengah delapan malam, suara mobil Dior pun terdengar. Di susul lagi mobil Morgan di belakang Dior. Dior keluar dari mobilnya dan melihat ada beberapa mobil sekitar tiga mobil yang satunya ia sangat kenal yaitu milik Ezekhiel. Dia terheran mengapa di rumahnya jadi banyak sekali mobil bertandang.
"Ada apa ini James?" Tanya Dior pada kepala keamanan mereka.
"Ada Tuan Dimitri, Tuan Besar Andez dan Tuan Muda Kwan, Tuan." Jawab James.
"Mengapa semua kemari?" Tanya Dior lagi penasaran.
"Silahkan Tuan sendiri melihatnya." Kata James lagi membungkukan tubuhnya. Morgan sudah turun dan menghampiri Dior.
"Kita masuk saja ke dalam maka akan tahu!" Gumam Morgan mendorong tubuh Dior sambil tersenyum.
"Kau sudah siap Dior?" Tanya Morgan
"Siap apa? Seperti ingin menikah saja! Aku masih normal dan aku masih sangat mencintai adikmu sir!" Dior menepuk bahu Morgan.
"Yasudah, buka saja pintunya kau ini!" Balas Dior dan perlahan dia membuka pintunya.
Suasana ruang tamu gelap gulita. Tidak ada cahaya sedikitpun sampai secercah sinar muncul dengan angka dua di bawah cahaya tersebut dan disusul cahaya lagi di atas angka enam. Ya, ini merupakan hari ulang tahun Dior yang ke dua puluh enam. Dior sempat terkejut namun tak lama dia mengingatnya. Hari ini hari ulang tahunnya. Dia menepuk dahinya dan tersenyum juga menolak pinggang dengan tangannya yang lain.
"Happy birthday, sir!" Ucap Morgan memegang bahu Dior dan suara terompet serta teriakan selamat ulang tahun berkumandang. Semua bertepuk tangan bersama nyala cahaya. Gracia yang memegang kue ulang tahun mendekat ke hadapan Dior .
"Selamat ulang tahun kak. Panjang umur dan Tuhan memberkati. Tiup lilinnya setelah make a wish." Kata Gracia tersenyum . Dior memperhatikan wajah Gracia di atas cahaya cahaya lilin itu. Wajah kekasihnya itu dua kali lebih berbinar dan sangat cantik. Ingin sekali Dior langsung mengecupnya. Dia sangat yakin kalau ini pasti rencana kekasihnya. Sudah dua hari ini mereka tidak bertemu dengan alasan Gracia ada latihan menari yang padahal mengurus semua birthday surprise ini.
"Kak Dior, ayo make a wish! Wajah Gracia bisa nanti lagi kau lihat seperti tidak bertemu satu abad saja." Kata Zhavia tiba tiba membuta Dior tersadar. Dior pun mengangguk. Dia memejamkan matanya dan berdoa.
-Thanks for everything, God! Aku hanya meminta panjang umur dan sehat agar selalu bisa melihat kebahagiaan menyelimuti orang orang yang kucintai, khususnya Gracia. Amin.-
Dior membuka matanya dan meniup lilin lilin itu. Zhavia, Zefanya dan Lexa mengambil gambar untuk Dior sebagai kenang kenangan. Semua ikut bahagia karna tahun ini Dior merayakannya dengan keluarga mereka yang lengkap. Dior pun menatap Zhavia yang berdampingan dengan Patrick, juga Zefanya yang berdampingan dengan Ezekhiel. Dior berharap dewa cinta juga menaungi hubungan mereka. Entah mengapa, Dior sangat yakin Zhavia akan bersama Patrick meski mereka tidak memiliki hubungan apa apa. Dior tersenyum pada mereka. Mereka pun memberikan ucapan bergantian pada Dior.
Mereka pun mulai makan malam. Marcel dan Pammy sempat menyinggung pernikahan Dior dan Gracia. Dior masih belum memikirkannya sementara Dion yang akhirnya memutuskan.
"Semoga tahun depan, Dior bisa menikahi Gracia karna dia takut menganggu kuliah Gracia, Marcel, Pammy." Kata Dion meresponi percakapan mengenai pernikahan Dior dan Gracia.
"Ya, memang benar, namun ada baiknya jika sudah di sahkan tidak menimbulkan pembicaraan pembicaraan yang tidak diinginkan. Aku hanya menghindari itu semua. Mengingat bagaimana reputasimu Dion dan tentu juga Dior." Saut Marcel lagi dan memang benar semua yang dikatakan Marcel. Mereka sudah berhubungan hampir satu tahun.
Seketika Dior terasa tersindir. Sudah berapa kali hampir saja dia menodai Gracia sebelum waktunya. Sepertinya dia memang harus segera melangsungkan pernikahan untuk Gracia. Dia merasa tidak masalah untuk kuliah Gracia. Dia bisa meminta tolong ibunya untuk tetap mendampingi Gracia.
Setelah makan malam, mereka masih berbincang di ruang tamu. Dan ketika malam semakin larut, Ezekhiel dan Patrick ijin pulang begitu juga dengan Marcel, Pammy dan Revo. Viena menyuruh Gracia untuk kembali menginap karna besok hari Sabtu. Mereka bisa melakukan sesuatu dengan Zefanya dan Zhavia. Gracia menyetujuinya. Dia tidur bersama Zhavia. Tetapi, ketika mereka semua sudah tidur, Gracia mengendap kelur dari kamar Zhavia. Dia menuju ke kamar Dior yang juga terdapat di atas. Dia belum memberikan hadiah untuk kekasihnya itu. Dia malu karna hadiah yang ia berikan tidak semahal gelang yang Dior berikan padanya. Tetapi butuh perjuangan juga Gracia membeli hadiah ini Karna sangat original dan Gracia sangat tahu, kekasihnya hanya menggunakan brand ternama dan asli seperti ibu dan ayahnya.
Gracia mengetuk pintu kamar Dior dengan sangat pelan. Dia tidak yakin Dior mendengarnya namun dia terus berusaha. Grcaia akhirnya menghubungi ponsel Dior namun Dior sudah lebih dulu membua pintu ketika Gracia bersandar di balik pintu. Gracia jadi hendak terjatuh namun Dior menahannya.
"Gracia?"
"Kak, maaf mengganggumu malam malam." Kata Gracia menegakan tubuhnya.
__ADS_1
"Ada apa sayang? Masuk saja!" Balas Dior dan menarik tubuh Gracia untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Eh!" Gracia menahan pintu yang hendak Dior tutup.
"Kenapa?" Tanya Dior.
"Nanti ada yang tahu?" Kata Gracia sangat polos dan tidak enak jika Viena atau Dion mengetahuinya.
"Tidak apa apa, kalau mereka menyuruhku menikahimu sekarang juga aku siap!" Kata Dior meluluh lantahkan hati Gracia sehingga dengan mudah ikut masuk ke dalam kamar kekasihnya. Dior pun memperhatikan sebuah kotak berwarna hitam yang Gracia bawa.
"Apa yang kau bawa Gracia?" Selidik Dior.
"Oh ini kak untukmu. Aku malu memberikannya di depan orang banyak karna tidak seberapa. Hanya sebuah dasi. Ini. Bukalah." Gracia mengulurkan kotak hitam elegan itu.
"Dasi? Wah, aku penasaran." Kata Dior dan dia mulai membukanya.
Dior. Ya, merek dasi tersebut adalah merek brand ternama dunia bernama sama dengan Dior. Dior tersenyum lalu menarik dasi tersebut dari kotaknya. Sebuah dasi berwarna hitam metalik yang kecil dan tidak terlalu formal. Agak casual yang jika Dior memakainya pasti sangat tampan dan manly.
"Kau suka kak?" Tanya Gracia mencari cari wajah Dior yang masih memperhatikan dasi tersebut.
"Tentu sayang, ini sangat simple dan classy, em tapi Mengapa kau memberiku dasi?" Tanya Dior yang mungkin ada maksud dari semuanya.
"Setiap hari kau bekerja, setiap hari kau mengenakan dasi di leher dan dekat di dadamu, aku hanya ingin kau selalu mengingatku jika mengenakan dasi itu. Dan, selalu ada di hatimu, dekat di dadamu Atau setidaknya ketika kau mengenakan dasi apapun, kau akan mengingatku karna aku telah memberikanmu sebuah dasi. benda yang selalu melekat di dekat dadamu." Jawab Gracia pelan dan sesekali menunduk atau melihat wajah Dior.
Dior tersenyum dengan penuturan kekasihnya. Sangat menyentuh dan begitu tulus. Dior tidak berkata apa apa lagi dan langsung meraih wajah Gracia. Dia mencium bibir kekasihnya itu dengan lembut dan menghayati.
...
...
...
...
...
Gracia bisa puitis juga wkwkwk wong lakik nya pujangga cinta edisi Pat ke dua wkwkwk
.
next part 28 real 😂😂
dah nikah nikah or biar gak gagal n tahan tahan mele
ni omongan Viena rese deh dari jaman bahela 😅😅
sssttt nanti aku diamuk bucin Viena Dion wkwkwk #kaboorr
.
rekomendasi novel baper lainnya karya aku wkwkwk .. DEJA VU: JASMIE & CHEST .. yang belom mampir, mampir gaes .. ketika mereka pernah bertemu dalam permainan cinta yang tidak mereka sadari lalu bertemu lagi di waktu yang berbeda dan terus merasakan kenangan indah tapi juga pahit .. this like Deja Vu by @viiyovii 💕
.
Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤
__ADS_1