Mantan Terindah

Mantan Terindah
95. Ketemuan


__ADS_3

Bayu hanya bisa melihat dari kejauhan gerak-gerik antara Tiffany dan Roy. "Kira-kira mereka ngobrolin apa ya? Kok kayak serius banget?"


"Gue ngajakin lo ke sini cuma pengen ngomong sesuatu aja sih." Ungkapnya seperti itu yang begitu tajam sekali tapi ia gugup dan bingung harus mengatakan apa.


"Ngomong sesuatu apa ya?"


"Ya gue pengen hubungan kita tidak cuma pura-pura doang tapi beneran kira-kira lo bersedia nggak?" Roy pun tiba-tiba tertawa terbahak-bahak dengan sikap dan sifat dari Tiffany yang sudah berbeda jauh dari SMA dulu yang lebih kalem dan lebih berwibawa. Lantas Tiffany kebingungan dengan sifat dari tanggapan tersebut.


"Kenapa kok malah ketawa sih? Emang ada yang lucu ya semua ucapan gue hari ini?"


"Ya enggak ada sih tapi aneh aja gitu kenapa tiba-tiba lo kayak seakan nembak gue gitu?"


Roy pun memesan minuman kepada pelayan, kedua tangan Tiffany terasa dingin sekali dikarenakan ia berharap sekali kalau misalkan Roy akan mengiyakan ucapan yang tersebut. "Kenapa kok mukanya setegang itu sih?"


"Enggak kok gak ada masalah apa-apa."


"Sorry banget nih kalau misalkan nggak sesuai ekspektasi. Tapi gue beneran udah anggap kayak teman sendiri bahkan kayak sahabat jadi kalau masalah urusan ke arah sana aku nggak bisa."


"Apa lo suka sama Franda sampai sekarang belum move on?"

__ADS_1


Loh kenapa malah nama Franda yang keluar? Ada apa ini? "Kenapa malah sangkut-pautnya sama peran nggak nggak ada sama sekali Tiffany?" Senyum Roy yang begitu manis sekali dan melembutkan suaranya agar tidak salah paham di antara Tiffany dan Franda. Ia kau sekali sebagai seorang laki-laki kalau misalkan ikatan antara perempuan dan perempuan itu sangat begitu erat tidak bisa dibohongi.


Makanan dan minuman pun datang sesuai dengan pesanan mereka lain menaruhnya ke atas meja dan keduanya mengucapkan terima kasih dan saatnya untuk menyantap makanan dan minuman yang sudah disajikan. Tiffany mengambil sendok dan garpu untuk memakan hari ini.


***


Akhirnya ia pun pulang ke rumah dengan motornya dengan perasaan yang berkecamuk ternyata tanggapan Roy tidak sesuai dengan ekspektasi ia pikir ia akan menerima tapi ternyata ia hanya sebatas teman biasa tanggapannya selama ini ternyata salah. Ia pikir selama ini Roy begitu bisa membalas perasaannya tapi ternyata tidak sama sekali. Lampu merah pun tandanya transportasi darat berhenti ia termenung memikirkan kata-kata Roy tadi di sana.


Tak berapa lama lampu kuning menyala lalu disusul dengan lampu hijau. Suara klakson terdengar dari belakang ternyata motor Tiffany tidak kunjung berjalan padahal seharusnya ketika sudah lampu hijau motor pun berjalan bergantian dengan motor berlalu-lalang dengan yang lain. Mobil Bayu masih mengikuti dari belakang. "Kenapa ya kok perasaan gue kayak nggak enak gini sih?"


Namun tiba-tiba dari arah berlawanan sepeda motor Tiffany ditabrak dari samping dan alhasil motor Tiffany langsung terjatuh. "Kalau bawa motor jangan ngelamun Mbak ini jalan raya bahaya." Ucap pengemudi yang menabraknya itu lalu menutup kembali kaca mobil yang berwarna hitam.


"Kamu kok bisa keserempet gini sih ada yang sakit gak di kaki kamu? Kayaknya kamu kesakitan banget mukanya kayak pucat gitu." Ungkapnya yang pendek sekali padahal tintanya sama sekali tidak panik.


"Kamu ikutin aku ya?" Suara itu berubah menjadi lemah lembut dan kaget banget.


"Iya aku ikutin kamu tadi seperti anjuran dan suruhan dari mama kamu karena beliau takut kamu kenapa-napa dan sekarang bener kan apa yang dibilang mama kamu. Makanya kamu jangan pernah ngebantah mama kamu karena ucapan dari orang tua itu selalu benar." Nasihatnya yang membuat Tiffany langsung terdiam.


"Iya aku tahu kok nanti aku minta maaf sama mama mana udah nggak percaya dan ngebantah mama selama ini. Aku boleh nanya sesuatu ke kamu?"

__ADS_1


"Kamu ngikutin aku ya pas tadi restoran sama seseorang?"


"Iya aku ngikutin kamu dari rumah kamu sampai disini."


"Kamu bisa bawa motor kan ke rumah? Kalau misalnya nggak bisa aku suruh orang buat ambil di sini dan kamu ikut di mobil aku aja."


"Enggak kok aku bisa bawa motor ke rumah." Dengan pedenya Tiffany membawa motornya ke rumah namun ternyata itu cuma sekedar halu belaka sekedar ucapan ketika ia berdiri ia merasa kakinya kesakitan. Bayu hanya bisa menggeleng dengan menikah Tiffany yang keras kepala. Ia membantu Tiffany untuk berdiri lalu Bayu mengambil ponsel yang ada di celana panjangnya lalu menghubungi seseorang untuk mengambil sepeda motor dari Tiffany dan mereka pulang bareng. Bayu menengadahkan tangan untuk mengambil kunci sepeda motor sambil menunggu orang itu datang membawa sepeda motor sampai ke rumahnya. Bayu meninggalkan motornya dan mengajak Tiffany untuk minum sebentar agar tidak terlalu kaget dan terkejut banget. Tiffany duduk manis dan Bayu pun mengambilkan air mineral yang masih disegel lalu memberikan ke Tiffany.


"Lo minum dulu biar lebih tenang walaupun tadi udah minum sama cowok itu. Gue tahu kok kalau misalkan lo sama sekali enggak ada rasa sama gue tapi gue berusaha untuk baik sama lo karena rasa cinta gue dan sayang gue sama sekali bukan untuk di balas tapi untuk barang-barang sama lo terus."


Tiffany pun menangis. "Kok kamu malah nangis sih sama aku? Emang ada kata-kata yang kasar ya?"


"Enggak kok sama sekali nggak ada kata-kata yang kasar cuman kata-kata kamu seakan menjeritkan aku kalau aku misalkan jahat nggak bales kebaikan kamu selama ini ke aku. Kamu tahu sendiri kan kalau misalkan perasaan itu sama sekali nggak bisa ditebak dan nggak bisa sama sekali untuk dipaksakan apalagi untuk urusan menikah."


"Oh jadi urusan itu kamu nangis karena kebaikanku ke kamu enggak usah dipikirin aku udah mulai melupakan juga kok tentang perjodohan ini aku udah mau menganggap kamu sebagai teman jadi kamu nggak usah menghindar atau seakan-akan aku paksa kamu untuk kamu menikah sama aku. Kita kan udah lama saling mengenal jadi kalau menurut aku kalau ada kata canggung itu patut disayangkan banget. Ku rasa kamu udah cukup mengerti kok apa maksud dan tujuanku. Gimana kakinya udah mendingan?"


Suruhan Bayu pun datang Bayu langsung saja memberikan kunci sepeda motor Tiffany. "Kamu bawah ini ya tolong anterin ke alamat yang sudah saya kasih tahu lewat WA dia pemiliknya dan kita bakalan pulang bareng karena dia nggak bisa bawa motor karena kakinya sakit kamu ngerti kan maksud saya apa?"


"Iya baik mas saya siap!" Tegasnya menjawab..

__ADS_1


__ADS_2