
Mencoba menjadi sahabat hidup dalam suka dan duka dalam untung maupun malang dan dalam sakit maupun sehat. Ya itu lah janji pernikahan mereka sudah satu Minggu ini. Gracia dan Dior belum menjalankan sesuatu yang seharusnya mereka lakukan ketika malam pengantin. Gracia merasa ikut berduka dengan kejadian yang menimpa salah satu saudara kembar Dior yaitu Zefanya. Gracia mencoba mengerti Dior. Namun, apakah akan terus seperti ini? Bagaimana mereka akhirnya menyatukan diri mereka?
...
Malam itu, seperti biasa, Gracia menyiapkan rendaman air hangat untuk Dior yang kini sudah menjadi suaminya. Sudah satu Minggu ini Gracia selalu menyediakan air hangat untuk Dior. Sudah satu Minggu ini juga Dior selalu pulang malam. Dia masih dalam pencarian Ezekhiel di sungai besar perbatasan Legacy dan Summer sampai pemukiman di sekitarnya. Gracia juga yang selalu menyarankan suaminya itu untuk tidak patah semangat dalam pencariannya.
"Selamat malam sayang." Dior memberikan salam pada Gracia ketika memasuki kamar mereka. Gracia baru saja keluar dari kamar mandi. Dia tersenyum melihat kedatangan suaminya.
"Malam kak. Aku sudah menyiapkan rendaman air hangatmu. Kau sudah makan?" Balas Dior menanyakan suaminya.
"Sudah bersama sepupumu. Hari ini Morgan membantu dalam pencarian. Kau sudah makan kan?" Tanya Dior kembali membuka jas nya dan menghampiri istrinya.
"Sudah kak, lagi lagi dalam keheningan. Zefanya masih terus menangis di kamarnya. Aku kasihan sekali kak. Aku juga pasti akan sama sepertinya jika kau menghilang seperti ini. Berhati hatilah dalam mengendara kak, aku tidak ingin terjadi apa apa padamu." Kata Gracia memegang lengan Dior yang sudah berdiri di hadapannya.
"Ya, kau tenang saja, aku akan menjaga diriku untukmu." Saut Dior menyampingkan rambut rambut halus Gracia yang ada di samping pelipisnya. Hari ini Gracia tampak manis dengan gaun tidur juga jubah berbahan saten halus ini.
"Bersihkanlah dirimu dan beristirahat lah kak." Kata Gracia lagi. dia juga jadi tidak bersemangat karna terus menyaksikan kesedihan Zefanya yang begitu pilu. Gracia hendak menuju ke tempat tidur mereka namun Dior menahannya. Sejujurnya dia merindukan istrinya sebelum pernikahan ini. Dia tidak menyalahkan Zefanya dan Ezekhiel, ini semua seperti takdir, namun dia tetap membutuhkan perhatian Gracia yang lebih.
Dior menahan tangan Gracia dan menariknya. Dior memeluk Gracia dari belakang.
"Gracie, bisakah kau menemaniku berendam?" Pinta Dior menenggerkan kepalanya di pundak Gracia. Seketika jantung Gracia berdebar. Entah mengapa dia menjadi sedikit gugup namun dia sekarang adalah istri sah Dior. Pantas dan wajah saja jika Dior meminta pertamanya dan kewajiban Gracia melayaninya. Sedikit banyak, bibinya Pammy telah menasihatinya akan kewajiban sebagai istri. Viena juga terkadang memberikan pesan pesan mengenai seorang istri. Gracia masih tergolong muda menjadi seorang istri namun dia harus memposisikan dirinya baik di mata Dior dan semuanya.
"Em ya kak." Gracia menyetujui dan membalikan tubuhnya. Dia berhadapan kembali dengan suaminya. Gracia membuka dasi Dior dan kancing kemeja suaminya perlahan. Dior diam saja sambil memperhatikan wajah tersipu Gracia yang sangat menggemaskan. Dior lalu meraih dagu Gracia dan mendongakan wajahnya.
"Aku merindukanmu Gracia. Sudah satu Minggu ini aku hanya mengurusi Zefanya dan malam aku pulang, kau sudah tertidur dan pagi hari di tiga hari ini kau sudah kembali sekolah. Apakah kau tidak merindukanku?" Tanya Dior tersenyum.
"Aku sangat merindukanmu kak." Jawab Gracia menunduk dan tersipu malu.
Dior pun membuka jubah gaun tidur Gracia yang menutupi satu gaun tidur bertali satu di dalamnya. Dior lalu mengajak Gracia ke kamar mandi dan berendam bersama di sana. Dior menanggalkan pakaian Gracia dan Gracia juga membantu suaminya melepas kemejanya. Dia agak sedikit ragu ketika memegang ikat pinggang Dior. Dior tersenyum lagi. Dia hanya perlu membimbing tangan Gracia untuk melakukannya. Gracia melakukannya dengan pelan dan tangan gemetar.
"Tenang Gracia, ini hanya celana. Kau diamlah, biar aku yang membukanya." Dior memegang tangan Gracia namun Gracia tidak boleh seperti ini terus. Dia harus membiasakan dirinya karna inilah yang seharusnya.
"Tidak kak, aku saja."
Gracia meneguk salivanya dan akhirnya memberanikan diri dengan sedikit memicingkan matanya. Dan dengan proses yang menggelitik Dior karna kepolosan istrinya, akhir nya mereka berdua tidak mengenakan sehelai benang pun. Kini Gracia masih menatap apa yang ada di bawah sana. Dan Dior sudah terbawah suasanya. Dia mengajak Gracia berendam terlebih dahulu. Ketika berendam, sesekali Gracia mencoba memegang apa yang sudah menegang di bawah sana. Sementara Dior masih menyandarkan dirinya di sisi belakang bath up sambil memejamkan matanya. Namun dia merasa kegugupan dan kecanggungan istrinya. Dior sedikit mengintip dan Gracia masih tidak mengerti apa yang harus ia lakukan. Dior lalu menarik pinggang Gracia agar ikut berendam dan bersandar di dadanya.
"Diamlah dulu di sini Gracia, pelan pelan saja, kita pasti melakukannya." Gumam Dior dan Gracia yang sudah bersandar pada Dior. Benda keras itu pun sudah menyentuh bokong Gracia.
Tak berapa lama Dior menegakan tubuhnya dan makin mempererat pelukan Gracia. Dia kembali menenggerkan kepalanya pada bahu istrinya.
"Sayang, kini aku harus merasakan tubuhmu. Apa kau siap? Aku akan melakukannya perlahan karna ini juga merupakan pertamaku." Bisik Dior menggigit kecil telinga Gracia.
Gracia hanya mengangguk. Dia sudah tidak bisa lari kemanapun. Kini dia sudah dikukuhkan oleh tangan kekar suaminya. Dior lalu menolehkan kepala Gracia ke arahnya dan mencium bibirnya perlahan lahan agar Gracia menjadi rileks. Gracia membalasnya dengan lumatann lumatann kecil yang membuat Dior menjadi semakin bergairah, mengapa bisa Gracia mengendalikan dirinya dengan begitu lihai sehingga Dior pun tidak takut ingin segera melakukannya.
"Em, apa kita bisa melakukannya di sini?" Tanya Dior sesaat melepas ciuman mereka. Gracia masih menikmati ciuman mereka dan malah mencium bibir suaminya lagi. Dior mengikutinya dan terbawa suasana, Dior sudah membalikan Gracia yang kini berada di bawahnya . Karna hasratnya telah memuncak dan tidak bisa dihindari lagi. Dior sebelumnya menatap Gracia dengan serius namun penuh dengan gairah.
"Gracia, aku mulai."
Gracia mengangguk dan melingkar kan tangan nya di leher Dior. Dior pun melakukannya. Dia menyatukan dirinya pada Gracia perlahan. Gracia mendesah parau. Ada sesuatu yang seperti keluar dan cukup menyakitkan. Dior menyadari hal itu. Dia lalu mengeluarkannya dan beranjak. Gracia tak bergeming. Benar dugaannya, Gracia mengeluarkan bercak dan Dior merasa sudah tidak baik melakukannya di sini. Dia pun segera menggendong Gracia terus menatapnya malu. Dior menuju ke tempat tidur mereka dan melanjutkan pergumulan tubuhnya dengan istrinya. Desahan serta pujian berkumandang dengan mesra di kamar itu. Decitan tempat tidur juga menjadi latar belakang pergulatan cinta mereka. Gracia semakin menikmatinya dan sudah mulai terbiasa. Begitu juga dengan Dior. Mereka menyadari kalau hal ini benar benar memuaskan segala biologis mereka. Dior berkali kali mengecup kening dan bibir Gracia. Istrinya begitu cantik ketika menahan semua yang menjadi puncak gairahnya.
"Aku ingin Gracia, you ready?"
"Yes kak, aku harus mengeluarkannya sekarang, aku sudah tidak kuat!"
"Bersama sayang! Argh!!"
__ADS_1
Dior memeluk erat Gracia. Begitu juga Gracia yang mencengkram punggung Dior dengan cukup kuat. Dior mencoba untuk mengangkat tubuhnya sesaat dan kembali menatap Gracia.
"Thankyou my sweet heart! I love you." Ucap Dior mesra.
"Love you too mister Prime." Balas Gracia masih dengan wajah lelahnya.
Dior kembali mengecup kening Gracia dan merebahkan diri di samping Gracia . Dia menarik Gracia untuk masuk ke dalam pelukannya.
"Apa kau menikmatinya Gracie?" Tanya Dior mengecupi pundak istrinya.
"Sangat kak, bagaimana denganmu?" Jawab Gracia sambil memejamkan matanya.
"Aku ingin melakukannya lagi, ternyata ini lebih nikmat ketimbang melakukannya sendiri." gumam Dior yang juga memejamkan matanya.
"Dengan apa? Memang bisa selain denganku?" tanya Gracia polos dan membuka matanya.
"Haha! Kau benar benar istriku yang polos, aku harus lebih sering melakukannya dan mengajarimu agar kau semakin mengerti dan handal dalam melakukannya." Dior terkekeh.
"Aku rasa aku memang sudah bisa mengendalikanmu kan?" Gracia setengah menoleh menatap suaminya.
"Ya, kau bukan hanya penari yang handal tetapi juga pemain yang handal, bokong dan buah dadamu tidak bisa ku remehkan."
"Kak, kau membuatku geli! Aku mengantuk!"
"Tidurlah dan jangan terlalu sering bergerak karna aku bisa melakukannya sambil tertidur." Balas Dior makin mempererat pelukannya pada Gracia dari belakang. Gracia juga memegang lengan Dior yang mengukuhkannya dengan cukup kencang. Dia senang, akhirnya suaminya sudah mampu melepaskan apa yang sudah ia tahan selama ini. Gracia sangat tahu apa yang suaminya itu rasakan selama ini. Dan Gracia juga berterimakasih karna Dior benar benar membuatnya merasakan sangat sangat seperti seorang wanita yang sesungguhnya.
'thankyou somuch my prince.' gumam Gracia dalam dalam hatinya dan dia tersenyum sambil memejam kan matanya.
Malam itu akhirnya terjadi di antara mereka berdua. Dengan saling berbagi pertama mereka, mereka dapat saling berbagi rasa yang semakin mendalam lagi tanpa adanya ketakutan dan kecemasan.
...
Hari hari terus bergulir. Bulan demi bulan terlewati oleh pasangan pengantin baru ini. Suka duka tentu ada menghampiri mereka. Sakit dan sehat pun mereka lalui bersama. Gracia selalu melayani Dior dengan baik bahkan agak berlebih. Padahal Gracia juga cukup sibuk dengan sekolahnya yang sebentar lagi akan menghadapi kelulusan. Sebentar lagi dia akan menghadapi wisuda bersama Zhavia dan Zefanya.
Namun, Gracia tidak pernah membiarkan suaminya pergi bekerja tanpa menyantap sarapan buatannya. Meskipun hanya sepiring roti lapis dan segelas susu hangat. Ketika sakit pun, Gracia merawat Dior dengan sangat telaten. Karna kesibukan di kantor dan banyak nya rapat belum lagi saham dan proyek yang juga merupakan tanggung jawab suaminya memantau, Gracia tidak boleh lengah. Dia juga selalu mengingatkan suaminya untuk mengkonsumsi Vitamin. Bukan hanya Gracia yang penuh perhatian pada suaminya, tetapi juga Dior yang selalu menanyakan perkembangan sekolah dan karir nya. Dior sudah membicarakan soal gedung yang hendak ia bangun untuk sekolah menari dan vocal Zhavia dan Gracia. Gracia begitu antusias dan sesekali melihat proses pembangunannya.
Meskipun tahun setelah Gracia menikah dengan Dior tidak seperti tahun tahun sebelumnya. Zefanya dengan sifat pendiam nya dan dinginnya. Tidak pernah bicara pada siapapun. Makan pun selalu dikamar. Dia menutup dirinya sejak para penyidik dan semua orang menyatakan kalau Ezekhiel, kekasihnya telah meninggal. Bukan hanya Zefanya, Zhavia ikut sedih dengan keadaan kembarannya. Dan juga, Gracia merasa Zhavia tidak seceria dulu lagi sejak kepindahan keluarga Kwan bersaudara , Pierre dan Patrick. Gracia merasa Zhavia pun juga sudah memiliki rasa pada Patrick namun Zhavia tidak percaya diri dan Patrick pun pada akhirnya tidak mengungkapkan apa apa dan pergi.
Ya, Gracia jadi agak merasa sendiri di rumah itu namun tetaplah ada penyegarnya. Viena, Lexa dan Amy selalu membuat Gracia berpikir positif dan di sini perannya untuk selalu memberi kenyamanan bagi Zefanya dan Zhavia. Gracia tetap mengajak Zefanya bicara walau tanggapannya hanya mengangguk, menggeleng dan satu kata -IYA-.
Mereka pun melalui wisuda mereka dengan tidak begitu meriah mesipun tetap ada acara makan malam bersama keluarga besar, Pammy, Marcel, Revo, Morgan diundang untuk makan bersama. Hanya malam itu Zefanya ikut bergabung. Gracia dan Zhavia berusaha membuat suasana yang cukup bersahabat meskipun tetap tak ada respon dari Zefanya.
"Dia terlalu sedih kak. Ini baru setahun kepergian Tuan Ezekhiel, semoga dengan Zefanya bekerja di perusahaan Mom Vien, dia bisa sedikit sedikit melupakan ya kak?" kata Gracia setelah makan malam dan mereka berbincang di sisi ranjang seperti biasa.
"Ya, kita hanya bisa berdoa. Kita tidak bisa memaksakan Zefanya berubah sayang. Kau jangan terlalu memikirkannya. Kau sampai sedih begini. Dan mengapa wajahmu akhir akhir ini agak pucat sayang? Kau tidak enak badan?" selidik Dior mencari cari wajah istrinya yang menunduk.
"Em, mungkin kelelehan mengurusi wisuda dan kelas praktek mahasiswi yang masih tertinggal beberaap gerakan tarian khusus kak. Mr. Ralph meminta ku untuk membantunya." jawab Gracia menoleh ke arah suaminya.
"Yasudah, istirahatlah, kalau sampai besok kau masih begini, kita periksakan dirimu ya? Kau agak hangat." Kata Dior yang sekilas memegang dahi istrinya. Gracia hanya mengangguk tersenyum.
Keesokannya Gracia benar merasakan pening dan agak ingin muntah. Dia langsung menuju ke kamar mandi dan hanya kelura air air. Perutnya juga agak sedikit begah. Kebetulan sekali Amy hendak membersihkan kamar nya dan Dior. Tetapi Dior masih tertidur jadi Amy belum bisa membersihkannya, namun Amy mendengar Gracia seperti muntah muntah di kamar mandi. Amy jadi berpikir mungkin Gracia hamil. Dia segera memberitahukan majikannya. Setelah Gracia telah membersihkan dirinya karna tidak enak setelah muntah air tadi, dia masih melihat Dior tertidur. Gracia tersenyum dan bergegas ke bawah menyiapkan sarapan suaminya atau juga bisa untuk semua. Karna sudah terbiasa, Gracia jadi sering untuk memasak masakan masakan yang ringan apalagi jika Lexa belum datang ke rumah kediaman Prime itu.
"Gracia, apa kau hamil nak?" Tanya Viena tiba tiba ketika baru saja Gracia menapaki kakinya di lantai bawah.
Glek!
__ADS_1
Gracia langsung memegang perutnya. Mengapa dia jadi agak grogi. Oh damn! Dia lupa kalau setelah menikah pasti dirinya akan mengandung dan memiliki anak. Dirinya masih belum belajar banyak soal ini. Dia masih hanya memikirkan yang terpenting dia bisa selalu bersama Dior dan keluarga besar Dior.
"Gracia, apa yang kau rasakan?" Selidik Viena lagi. Gracia hanya menggeleng.
"Sebaiknya kau harus memeriksakan dirimu Gracie." Kata Zhavia yang sudah menikmati roti lapisnya.
"Iya benar, sebaiknya kau harus ke rumah sakit. Zhavia akan mengantarmu. Amy mendengar kau muntah muntah di kamar mandi." ujar Viena menyetujui pernyataan salah satu putrinya.
"Oohh itu karna aku kelelahan mom, karna wisuda kemarin." jawab Gracia menggaruk garuk pelipisnya.
"Ya, mungkin karna kau hamil jadi terlalu lelah. Sebaiknya kau ke rumah sakit ya?" Viena bersih keras menyuruh Gracia ke rumah sakit.
"Um, oke!" Gracia tidak bisa menolak permintaan ibu mertuanya itu. Dia pun menyetujui untuk pergi memeriksakan dirinya bersama Zhavia karna hari ini Dior ada pengesahan hotel cabang di Summer bersama ayah dan paman Leon nya.
"Kabari aku apa yang terjadi ya?" Pinta Dior ketika hendak pergi ke hotel nya. Gracia mengangguk dan Dior pergi setelah mengecup kening istrinya.
Sekitar pukul 10 pagi, Gracia pun ke rumah sakit pusat kota Legacy bersama Zhavia. Mereka sudah libur dan siap bekerja pada karir masing masing. Sesampainya di rumah sakit, Gracia menjadi sangat gugup.
Setelah menunggu beberapa belas menit, akhirnya Gracia masuk ke dalam untuk diperiksa. Viena sudah langsung mendaftarkan Gracia ke dokter kandungan kenalannya. Namun, ketika semua pemeriksaan dilakukan, Gracia benar benar terkejut dan tidak menyangka. Zhavia juga benar benar terkejut. Gracia pun menangis keluar dari ruangan itu. Zhavia juga tidak bisa berbuat apa apa dengan semia ini.
...
...
...
...
...
Hem, what's wrong beb?
.
Next part 33
Kira kira Gracia kenapa ya?
Dia menangis terharu atau sedih?
Dia hamil atau tidak yaa?
😁😁😁
.
rekomendasi novel baper lainnya karya aku wkwkwk .. DEJA VU: JASMIE & CHEST .. yang belom mampir, mampir gaes .. ketika mereka pernah bertemu dalam permainan cinta yang tidak mereka sadari lalu bertemu lagi di waktu yang berbeda dan terus merasakan kenangan indah tapi juga pahit .. this like Deja Vu by @viiyovii 💕
.
Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
__ADS_1
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤