Mantan Terindah

Mantan Terindah
9. Canggung


__ADS_3

Bu guru membagikan nama-nama kelompok yang sudah ia tulis di rumah. Dalam rangka prakarya yang harus di kumpulkan minggu depan.


"Val semoga aja ya gue satu kelompok sama Cerry." Rudy yang berharap agar ia satu kelompok dengan cerry. Rival mengangguk ringan seolah mengiyakan saja apa yang diucapkan oleh mereka. 


Setelah insiden kemarin Franda diam-diam berdoa dalam hati agar tidak satu kelompok dengan Rival ia tidak mau berurusan dengan cowok rusuh itu. Ketika Franda melirik kearah Rival dengan jantung yang berdebar, ia melihat Rival dengan ekspresi kagetnya didepan lalu Franda mengikutinya.


Rival menatap Franda dengan tampak tak suka. Franda membuang pandangannya kearah lain. Ternyata apa yang khawatirkan benar terjadi.


"Yah kok lo yang malah satu kelompok sama Rival sih? Ah kenapa bukan gue aja." Kesal Cerry memperlihatkan lesung pipi tipis itu.


Rival mencoba untuk memprotesnya. "Bu, boleh pindah anggota yang lebih cantik gak? Soalnya saya agak alergi gitu." Sontak membuat mereka yang mendengar langsung tertawa spontan dan bu guru menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah keputusan ibu gak bisa diganggu gugat.."Ia mengambil dua buku diatas meja lalu ia berjalan menuju luar kelas untuk istirahat.


Rival berdecak kesal "Aduh kenapa bisa satu kelompok sama dia sih? Jangan-jangan gue dipelet lagi sama dia kan kakak gue juga udah mulai su----" Lebih baik keluar ketimbang menambah emosi. Cerry mengejar Franda sambil menatap Rival yang tersenyum tipis kepadanya.


Franda duduk di bangku panjang depan kelasnya sambil termenung sebentar. Cerry sempat menatap Franda "Lo gak papa kan? Mau kantin aja?" Ajaknya agar Franda tidak mengingat dan memasukkan kedalam hati. Mereka berjalan mengarah kantin. Ingin rasanya Franda mengatakan apa yang terjadi di belakang sekolah tentang ancaman itu tapi apa? Itu akan membuat semua akan menjadi masalah baru lebih baik memilih untuk diam.


"Udah ya, gak usah di masukkin ke hati Rival emang suka bacot aja." Franda tersenyum miring ia tidak ingin menjawabnya.


Langkah kaki seseorang mengejar mereka dari belakang.


"Hei kok di panggil gak didengerin sih? Kalian mau ke kantin ya? Bareng yuk?" Ia sambil tersenyum tipis.


"Eh kak Roy ya udah." Franda hanya diam memalingkan wajahnya kearah lain seolah ia tidak melihat kehadiran Roy.


Roy spontan menegur Franda "Hai."


"Eh kak Roy. Mau bareng juga?" Sahut Franda dengan tersenyum terpaksa akhirnya mereka menuju ke kantin bertiga.


Roy dengan baiknya menarik kursi untuk mereka berdua.


Ketika Roy memesan pertanyaan pun mulai timbul dari pikiran Cerry "Kenapa ya kak Roy hari tumben sweet gitu?"


"Mau nembak lo kali cer."


"Ah gak ah jadi malu tapi gak papa juga sih." Senyum Cerry.


Roy membawa dua mangkuk bangku diatas meja. Entah angin apa yang menyerang Roy kali ini. Ia menaruh satu mangkuk lagi diatas meja.


"Dalam rangka apa nih kak?"


"Hah mak----"


Cer menyenggol siku Franda agar tidak melanjutkan pertanyaan itu lagi yang sudah ia terka sebelumnya.


"Maksudnya tumben gitu kak?"

__ADS_1


"Oh." Roy ditengah - tengah mereka. Memang kalau dilihat-lihat Roy emang tidak kalah ganteng dari Rival cuma karna Roy adalah cowok yang biasa jadi lebih terkenal Rival ketimbang dirinya.


"Duh gue kok kebelet gini ya?" Cerry yang tiba-tiba ingin ke toilet. Franda berinisiatif agar menemani supaya tidak berduaan dengan Roy.


"Gue temenin ya?" Tawarnya.


"Ah gak usah gue bentar aja kok." Tolaknya yang langsung berlari begitu saja dengan cepat.


Keheningan pun terjadi Franda tidak mau terlalu dekat atau sok kenal. Karna ia ingat dengan ancaman itu. Ia hanya fokus dengan makanan yang ada dihadapannya. Walaupun dengan keadaan yang tidak nyaman.


"Fran, kok diem aja dari tadi?"


"Eh enggak kok kak. Hehehe." Cengirnya. Sungguh sulit menghindar dari orang baik ketimbang orang jahat.


"Oh kali aja gitu lagi sakit?"


"Enggak kok, enggak sakit. Makasih ya kak."


"Makasih apa?"


"Makasih traktirannya."


"Oh iya makasih juga ya." Sahutnya membuat Franda bingung menatap sebentar mengkerutkan dahinya.


"Makasih buat?"


Franda mengangguk malu. Kenapa ketika berdekatan atau menatap dengan Roy itu semua seakan berdebar atau salah tingkah.


Apa ini yang namanya?


Ah terlalu dini untuk memikirkan atau menyimpulkan jatuh cinta karna cinta tidak bisa datang begitu cepat.


Karna cinta datang ketika seseorang merasa nyaman.


Cerry dengan santainya datang dan duduk. "Ooowww oow ada apa nih? Kok diem?"


"Gak kok cer duduk, duduk lanjutin makannya." Suruh Roy.


"Kebanyakan minum sih tadi pagi makanya kebelet."


"Bisa juga."


...•••...


Seperti biasa Rival dan ketiga sahabatnya pulang lebih akhir karna mereka sering sekali mampir sebentar menemani Rudy menaruh nomor pribadi agar bisa menemaninya nanti malam hanya sekedar chatting doang.


Cerry yang menunggu didepan kelas menghadap kearah lain. Franda mempercepat langkahnya untuk cepat-cepat keluar karna situasi tidak nyaman. Keheningan dan sorot mata pun menjadi hal utama. Ia berlari kecil agar bisa keluar dari kelas. "Eh, jangan lupa sama tugas kelompok kita. Oh iya lo kan wakil jadi lo harus nurut kata ketua." Rival menunjuk dirinya sendiri lalu mengibaskan ketika Franda mengangguk kecil.

__ADS_1


"Hahaha sadis banget lo val."


"Tau nih dia cewek kali val."


"Eh udah deh kalian ini sok belain dia. Gue gak mau ya nilai gue jadi taruhannya."


Albert berdiri sejenak lalu mendekat ke wajah Rival "Sejak kapan lo begini? Lo udah punya nomornya belum?"


Rival diam sejenak lalu ia mengambil ponsel yang Rudy mainkan secara sepihak lalu berlari menuju keluar kelas. Mungkin Franda masih belum jauh dari area sekolah.


Terlihat Franda masih berdampingan dengan Cerry.


"Woy tunggu. Woy tunggu." Cerry memalingkan kepalanya dengan cepat mendengar suara yang tidak asing lagi itu.


"Kenapa cer?"


"Kayaknya Rival manggil kita deh? Tuh dia teriak gitu.." Franda tersenyum simpul tidak percaya dengan ucapan Cerry lalu ia melanjutkan langkah kaki yang sempat terhenti itu membiarkan Cerry menunggu firasatnya itu.


"Lo manggil kita?" Tanya Cerry dengan yakin.


"Iyya, gue manggil malah main pergi gitu aja dasar gak sopan." Rival mengejar Franda yang melenggang sendiri lalu mencegat tangannya agar perempuan itu berhenti.


"Heh gue manggil lo? Kenapa lo sok sombong gitu sih? Cantik emang?" Lantas membuat Franda hanya diam saja dan aneh.


"Kenapa?"


Rival mengeluarkan ponsel yang ia ambil paksa tadi dari Rudy lalu memberikan kepada Franda. Menyalakan layarnya yang langsung tidak dipencet saja disana ada susunan angka.


"Maksudnya?" Ia belum mengambil ponsel yang diberikan Rival.


"Lo masukkin nomor lo ke hp gue. Cepetan." Suruhnya. Franda pun tidak banyak tanya lagi ia langsung saja memasukkan nomor ponselnya.


"Makasih, oh iya gue minta nomor hp lo bukan karna apa ya. Gue cuma gak mau nilai gue jelek karna gak berkomunikasi sama wakilnya trus juga gue juga gak mau dibilang sok pintar walau gue pintar." Pedenya dengan mencerocos ringan.


Franda tersenyum kecil "Iya sama-sama." Ia masih ingat dengan kejadian kemarin yang sungguh sangat menyinggung itu. Rival meninggalkan Franda yang masih disana, ia kembali ke kelas dengan gaya coolnya. Aneh memang tapi itulah seorang Rival.


"Lo seriusan Rival minta nomor hp lo fran? Gue aja belum punya nomor dia." Cerry terkejut dengn Rival yang meminta nomor cewek yang biasanya kebalikannya.


"Ini juga buat tugas kok cer. Ya udah balik yuk." Franda tidak begitu merespon atau bangga telah mendapatkan nomor Rival.


"Kali aja gitu Rival diam-diam suka sama lo? Iya kan?"


Franda terhenti sejenak "Ah gak lah gak mungkin. Ya udah duluan ya kalau gitu." Karna arah jalan pulang mereka berbeda.


+62822×××


"Ini gue Rival, save nomor gue."

__ADS_1


"Iya." Balas Franda dengan singkat lalu memasukkan kembali kedalam saku.


__ADS_2