Mantan Terindah

Mantan Terindah
17. Sapu Tangan


__ADS_3

Franda dengan santai melangkahkan kakinya menuju ke sekolah, tapi tiba-tiba ia melihat salah satu cowok yang berseragam sama telah dikeroyok oleh beberapa orang bertubuh besar mengelilinya. Franda yakin kalau itu adalah preman yang sekarang memalak orang-orang yang dianggap mereka kaya. Ia bergegas untuk berteriak meminta tolong kepada orang sekitar agar semua bisa berhenti dan melarikan diri.


"Tolongggg... tolong...." Beberapa diduga preman itu panik dan ia mengancam untuk segera mengeluarkan uang. Ia meraba badan salah satu cowok itu untuk mendapatkan uang. Tapi apa daya salah satu siswa itu malah melawan dan alhasil wajahnya di tonjok dengan sengaja hingga dari kejauhan terlihat lebam di bagian bibir bawah.


Warga sekitar membawa mereka pergi dan alhamdulillah ia selamat walaupun hadiah yang sakit dibagian bibir. Franda mendekat dan mengecek kondisinya dengan mengeluarkan tisu miliknya.


"Lo gak papa?" Tanya Franda yang menatap cowok itu yang ternyata cowok itu Chiko yang merupakan musuh bebuyutan Rival di sekolah dan ternyata Franda baru mengenali kalau ia juga pernah melihat Chiko ini.


"Udah gak papa kok." Ia memegang bibirnya yang pasti terasa sakit. Ia menatap wajah Franda dengan tatapan yang tidak asing lagi ia juga sepertinya pernah melihat Franda sebelumnya di sekolah.


"Lo satu sekolah bareng gue kan? Kayaknya gue pernah liat gue di kelas Ri----"


Belum selesai menjawab Franda langsung menyambungnya "Rival ya? Iya kita berdua satu kelas. Kayaknya bibir lo lebam gitu dan mending lo bersihin pake sapu tangan gue ini ya? Biar sedikit darah yang keluar itu gak menetes atau menodai baju seragamnya." Senyum Franda yang memberikan sapu tangan itu kepada Chiko.


"Maa----ka---sih ya." Franda mengangguk singkat.


"Ya udah kalau gitu gue duluan ya. Semoga cepat sembuh dan disini emang tempatnya agak rawan." Franda melangkah begitu saja meninggalkan Chiko meminjam sapu tangan miliknya.


Chiko hanya memandang Franda yang semakin jauh menuju ke sekolah.


Hari ini merupakan latihan pertandingan basket setiap minggunya. Dan mereka mempunyai anggota baru yaitu Chiko yang dengan sengaja Rival masukkan. "Kita hari ini latihan val?"


"Hm."


"Kenapa males gitu sih?"


"Udah val mending lo damai aja sama Chiko kali aja kalian berdua bisa sahabatan sama dia."


"Apa lo bilang sahabatan? Ih ogah gila. Enggak mau gue." Tolak Rival.


Franda dengan santainya masuk kedalam kelas memegang kedua tali tasnya kiri dan kanan.

__ADS_1


Baru saja Rival menggosip tentang Chiko ternyata ia memasuki gerbang sekolah dengan mobil mahalnya yang sempat membuat Rival masuk BK lagi dan salah satu alasan karna Rival menabrak mobil Chiko.


"Nah tuh dia orangnya baru aja dibilang udah masuk aja." Rival hanya diam dan memandangi Chiko dari kelasnya. Chiko emang ganteng tapi dari awal bertemu saja Rival tidak suka dengan sosoknya itu ditambah juga mereka selalu saja dingin satu sama lain. Chiko juga terkadang cowok tebar pesona eits tapi cuma tebar pesona beda dengan sosok Rudy yang benar-benar playboy yang berani menggombali para kaum hawa. Dan sering kali atau bahkan kebetulan Chiko dan Rival juga memiliki tipe cewek yang sama yaitu cewek yang gak ribet dan apa adanya. Apalagi kisah cinta mereka atau masa lalu mereka dengan cewek yang bernama Rubi yang merupakan mantan pacar Rival yang lebih memilih Chiko yang jauh lebih tajir dan lebih ganteng ketimbangnya. Padahal waktu itu Rival sangat sayang dan sangat cinta kepada Rudi tapi apa daya Chikolah menjadi pemenangnya yang ternyata Chiko ini adalah sahabat kecil dari Rubi sendiri tapi sekarang kabar yang beredar kalau Chiko dan Rubi tidak ada lagi hubungan alias putus. Dari berawal dari sanalah mereka mulai memanas dan sampai sekarang tidak ada kata maaf atau apapun.


"Hai Chiko boleh dong ya nebeng sekali-kali."


"Em, boleh ya udah gue ke kelas dulu ya." Tidak jarang di sekolah ini banyak sekali cowok-cowok yang ganteng-ganteng. Dan termasuk cowok dan cewek yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik.


Ketika Chiko melintas ia hanya diam tapi Rival seolah menatap Chiko seperti seorang mangsa yang harus disantap ditambah Chiko juga yang lebih santai ia melirik kearah kelas Rival dengan melihat Franda yang sedang asik mengobrol dengan Cerry.


"Ngapain dia liat-liat kelas kita. Hahaha nyari temen ternyata." Cibir Rival yang terdengar oleh Chiko walaupun dengan samar-samar. Awalnya Chiko ingin mengembalikan sapu tangan Franda tapi karna ada Rival dan ketiga sahabatnya ada didepan kelas jadi ia mengurungkan diri untuk mengembalikan.


...•••...


Awalnya Rival ingin mengajak Franda untuk pulang bareng tapi masalahnya dengan alasan apalagi? Ia mengurungkan niatnya dan berlalu begitu saja, lagi pula Franda merupakan cewek yang sudah besar pula dan ia juga bisa pulang ke rumah dengan selamat. Pikirnya.


Selang beberapa menit kemudian, Chiko menunggu didepan kelas Franda dengan santainya.


"Hallo, lo Franda?" Tanyanya yang sudah berdiri didepan kelas Franda.


"Oh, pulang bareng yuk?" Ajaknya yang aneh. Awalnya Franda bingung apa yang sebenarnya terjadi kenapa cowok seperti Chiko bisa mengajaknya.


"Gue gak gigit kok dan gue gak jahat. Makasih ya udah kasih ini tadi pagi." Ia memberikan sapu tangan kepada Franda yang sempat ia pinjamkan tadi. Franda mengambil sapu tangannya.


"Iya sama-sama. Tapi beneran kok gak papa."


Hujan turun, kali ini ia susah pulang sekarang apalagi payung saja tidak bawa atau berlari tetap akan basah kuyup. Ia menunggu hujan itu kunjung reda.


"Percuma lo tunggu, disini udah sepi. Coba lo liat tinggal penjaga doang. Lo bareng gue aja karna gue balas budi jadi kita impas." Memang benar hanya ada penjaga sekolah yang menyapu halaman membersihkan sampah-sampah dedaunan dan hanya beberapa siswa atau siswi yang berada di sekolah apalagi anggota OSIS.


"Ayo, gue anterin." Ucapnya. Franda masih tidak yakin dengan ajakkan Chiko. Tapi harus bagaimana lagi kalau ia menolak maka ia akan lebih lama disini dan ditambah juga belum tentu hujan akan reda sebentar lagi mungkin saja hujan akan berlangsung lama. Franda mengikuti langkah Chiko dari belakang. Chiko emang anak dari wakil kepala sekolah disini, dan Chiko merupakan anak orang kaya. Chiko membukakan pintu mobil mewahnya kepada Franda.

__ADS_1


"Makasih ya em. Seharusnya lo gak usah repot-repot ini terlalu berlebihan."


"Panggil aja gue Chiko. Udah gak papa kok tenang aja. Gue niatnya tulus jadi jangan mikir macam-macam ya." Franda mengangguk pelan.


Franda juga gugup dengan Chiko yang dikenal dengan tebar pesona, dan sering beradu mata dengan Rival ia takut Chiko akan berbuat hal yang tidak-tidak.


"Kenapa lo pasti bingung ya sama gue? Lo pasti ngiranya gue itu jahat, tebar pesona dan bad boy banget kan? Dan satu hal lagi pasti yang ada dipikiran lo saat ini tentang Rival? Iya gak?"


Deg, benar tau dari mana Chiko ini.


"Udah gue bisa tebak dari ekspresi lo kok. Sebenarnya mereka hanya melihat gue dari sisi luar doang, mereka cuma kasih komen sama gue tentang kejelekan gue sama apa yang gue lakuin padahal pada dasarnya gue gak seburuk itu. Ya gue gak perduli juga sama omongan mereka yang diluar sana."


"Oh gitu ya." Franda juga tidak bisa mengambil kepercayaan dengan singkat karna ia merupakan tipe orang yang tidak mudah percaya.


"Lo pasti gak percaya sama omongan gue kan? Ah udah biasa kok gak dipercaya sama orang." Dengan pesimisnya Chiko mengatakan hal itu.


Franda tersenyum kecil "Gak boleh gitu gak baik, kata siapa gue gak percaya?"


"Ya kata gue lah, gue udah biasa kok gak dipercaya sama orang apalagi orang yang gak deket sama gue." Lanjut Chiko lagi.


"Gaklah, lo orang baik kok, gak mungkin lah lo seburuk gitu. Dan lagian manusia kan berbagai macam pikiran dan berbagai macam pendapat. Gue emang susah buat percaya sama orang apalagi orang itu belum gue kenal atau hanya melintas dipikiran gue. Tapi gue yakin orang itu baik. Jadi seburuk apapun orang menilai lo dan apapun itu, lo harus percaya dan yakin kalau masih ada orang yang masih menilai lo baik." Senyum Franda.


"I---ya." Disela obrolan singkat mereka selama diperjalanan. Franda menyuruh Chiko untuk berhenti didepan sana karna sebentar lagi Franda akan sampai ke rumah.


"Makasih ya lo udah mau anterin gue, dan maaf jadi ngerepotin gini. Oh iya, hati-hati ya soalnya jalanny licin."


"Oh iya, jadi ini rumah lo? Gak maksud gue kapan-kapan boleh dong kesini lagi."


"Rumahnya kecil, gak kayak rumah


lo."

__ADS_1


"Sama aja kok. Ya udah balik dulu ya."


"Ternyata, dia baik juga. Gak seperti yang gue pikir." Gumam Franda.


__ADS_2