
Suara klakson terdengar dari luar gerbang eh ternyata Franda yang kebetulan yang juga berbarengan yang ternyata Rival ada dibelakangnya membuka kaca mobilnya menyalakan klakson mobilnya. "Balik bareng gue ya."
Langkah Franda tiba-tiba terhenti saja. "Eh iya. Gue duluan ya." Jawaban apa coba yang membuat Franda langsung menjawab.
Franda menaruh tasnya ke tempat duduk melihat Cerry yang sudah menaruh bekal diatas meja sering banget kasih Roy bekal. "Loh mau kasih ke kak Roy ya cer?"
"Yups bener banget, kira-kira kak Roy suka gak fran soalnya gue bikin dengan rasa cinta dan kesetiaan." Gombal Cerry.
"Hahaha halu hahaha."
"Ya udah buruan kasih deh ke kak Roy, buruan."
"Ya udah, tuh ada Rival." Tunjuk Cerry yang menggoda Rival eh ternyata Rival malah melambaikan tangan. Aneh emang! "Cerry kenapa kok nunjuk gue? Kalian lagi ngobrolin gue ya?"
Franda menggeleng pelan "Kak roy tuh suka juga ya nasi goreng?"
"Hah kak Roy? Kok nanyanya kak Roy kan gue yang ada disini?" Kesal Rival.
Ia sangat deg-deggan banget memberikan bekal ini, langkah demi langkah.
Cerry sengaja untuk ke kelas Roy, ia sangat kagum sekali, eh tiba-tiba aja ia melihat sesuatu yang membuat bekal yang ia pegang langsung saja terjatuh kebawah karna saking terkejutnya melihat Roy dan Manda begitu dekat dan dekat banget. "Kak Roy?" Batinnya. Roy dan Manda adalah dua orang yang sangat sempurna Roy yang ganteng dan Manda yang cantik.
"Eh, ada Cerry tumben ke kelas? Kenapa cer?" Rasa itu berubah menjadi benci, rasa happynya berubah menjadi bete tapi Cerry tetap tidak mau menampakkan wajah aslinya seperti apa ia tetap tersenyum tipis.
"Ini kak, aku ke kelas dulu ya.."
"Ma----" Cerry pergi begitu saja tanpa menunggu ucapan terima kasih dari Roy. Roy pun bingung dengan sikap Cerry seperti ini.
Roy membuka bekal yang Cerry berikan. Woy, ada nasi goreng, kentang, sosis dan sayur-sayuran yang ada ditempat yang sama melainkan sudah tersusun rapi. Ia mencicipi nasi goreng yang sudah ia rasa beberapa kali. "Gimana enak gak?"
"Enak banget, tumben banget tuh Cerry ya bikinin gue ini." Lahap Roy kebetulan juga ia lapar.
"Tapi kenapa ya Cerry kok kayak cemburu gitu sama gue Roy?"
"Cemburudari mannnna sih?" Makanan yang penuh di seluruh mulut Roy membuatnya kesulitan untuk berbicara.
"Lo belibet kalau ngomong, nih minum."
"Cie kalian makin deket aja." Ucap teman sekelas mereka yang melihat kedekatan Roy dan Manda yang semakin dekat saja.
"Apaan sih." Mata Manda tidak dapat dibohongi ia melihat Roy diam saja dan tanpa bereaksi apapun itu pun terlihat flat dan santai. Sedangkan Manda malah mengaminkan ucapannya.
...•••...
...Sorotan mata mereka kearah Franda dan Cerry yang sedang mengobrolkan sesuatu....
"Menurut kalian Rival tuh gimana sih sama Franda perasaan kayak gitu ya? Bima bingung dengan sikap Rival yang aneh dan masih gengsi untuk memendam sikap yang selama ini ia pendam padahal ketiga sahabat justru jauh lebih greget dengan sikapnya yang tidak mau mengakui itu.
"Maksud lo suka gengsi bim?" Celetuk Rudy.
Bima mengangguk dan Albert malah tersenyum tipis "Tinggal tunggu waktunya aja gue yakin Rival bakalan ungkapin rasa sukanya ke Franda udah ada cirinya kok." Albert begitu yakin sekali sosok yang jauh lebih kalem dan pintar. Ternyata buku-buku yang ia baca sangat berpengaruh sekali kalau sikap seseorang.
Langkah Rival semakin mendekat obrolan Rudy, Bima dan Albert diam seketika. "Kalian kenapa? Kok diem doang?" Ucap Rival yang merasa aneh. Ia langsung saja mengambil kursi kosong dan duduk diantara mereka.
"Kalian kenapa diem aja? Kalian nyembunyiin sesuatu sama gue ya? Kalian kenapa? cerita kale."
"Kak Roy lo udah punya pacar belum?" Rival malah menaikkan alisnya sebentar lalu tertawa aneh.
Ia memegangi dahi Bima "Lo sakit? Lo suka sama kakak gue?"
"Apaan sih lo sejak kapan gue suka sama dia. Gue cuma nanya doang kali."
"Udah ah berisik."
Ketika Franda ingin keluar dari kelas Rival mencegatnya dengan menarik tangan Franda. "Tunggu!"
"Kenapa val?" Sambil melirik ke tangan yang masih menggenggamnya.
__ADS_1
"Lo lupa ya? Kalau misalnya kita pulang bareng?"
"Kenapa diem aja?"
"Gak papa kok."
"Makanya jangan lupa dong, ya udah buruan." Sepanjang jalan menuju ke parkiran Rival menarik Franda seperti musuh saja sambil ngomel gak jelas ia tidak perduli dengan mereka yang memperhatikan mereka.
"Masuk."
"Kenapa diem aja?"
"Hah?" Tanya Franda.
"Huh, lo kenapa sih kalau misalnya sama kak Roy lo lancar aja kalau ngobrol sama dia kayak jalan tol tapi kalau jalan atau bareng gue lo kayak macet tau gak mandet. Ngerti!!"
"Gue males tau gak sama lo baik salah, sikap tegas salah gue bingung tau gak!!"
"Kalau mau gue keluar juga gak papa kalau bikin lo kesal." Ketika Franda ingin keluar Rival mencegatnya sekali lagi matanya saling bertemu.
"Gak usah! Udah terlanjur."
...•••...
Cerry menutup kamarnya mengunci pintu kamar dan merebahkan diri ke tempat tidur. Memeluk bantal dan pipinya menyender ke bantal yang lain. Air matanya tiba-tiba saja jatuh, melihat kejadian di sekolah tadi ia tidak menyangka kalau Roy bisa sedekat itu, sebenarnya tidak pantas ia menangisi seperti ini bukan ranah cemburu apalagi ia bukan siapa-siapa Roy. Cowok yang selama ini ia suka dan ia mimpikan sejak dulu. Tapi apa Roy membuat hatinya kecewa dan sakit.
Ini bukan salah Roy sekali lagi. tapi salahkan hati Cerry yang berharap lebih. Ia memukul-mukul batal dan sekali lagi tadi pagi adalah bekal terakhir kalinya untuk Roy.
Ya terakhir.
"Lo cantik juga." Ucapan itu selalu terngiang dari pikiran Cerry. Kalimat itu terdengar sangat jelas sekali ketika ia ingin memberikan bekal untuk Roy.
Kenapa gue bodoh banget?
Gue harus sadar diri. Ya sadar diri." Ia menghapus airnya matanya kembali dan matanya sungguh berat sekali untuk membuka lebar matanya mengantuk sekali.
"Cerry kamu gak makan sayang?"
Gue harus tegar dan tegar.
***
...Lakukan saja apa yang menurutmu baik untuk dibela...
Lusi sengaja menarik bangku Franda dengan sengaja didepan semua orang yang ada didalam kelas. Lantas Franda langsung saja terjatuh tiba-tiba ke lantai. "Lo gak papa fran?" Ucap Cerry yang membantu Franda untuk berdiri.
"Gak papa kok." Sahutnya tapi kedua mata Franda mengarah ke Lusi ia hanya diam dan tidak mau membalasnya Franda sangat tau sekali kalau Lusi marah dengan kedekatan dirinya dan Rival. Lusi memang suka dengan Rival dari awal dan itulah akibat jika ada orang mengganggu kebahagiaannya maka Lusi akan melakukan apapun termasuk teman sekelasnya sendiri.
"Udah val, ini kelas bukan saatnya lo bertanding. Dia cewek gak seharusnya lo ikut campur." Untungnya Rival kali ini mendengarkan ucapan Albert sepupunya yang jauh lebih tau sikap Rival yang dengan mudah terpancing emosi.
Untungnya ada Cerry yang membantu Franda untuk bangun, "Udah fran, entar kita balas nanti." Bisik Cerry, dan bedanya Franda hanya diam.
Tangan dan mulut Rival sudah gatal dengan sikap Lusi yang kurang baik untuk dicontoh selaku ketua kelas pun Rival wajib untuk menegur Lusi tapi kali ini Lusi masih bisa lolos.
Milka peka sekali dengan keadaan, ia melihat Rival memperhatikan Lusi dengan seksama.
Di kotak P3K Cerry mengambilkan minyak kayu putih, perban dan obat merah. "Lo rebahan aja, kaki lo keseleo gak? gue perban aja ya sebelah sini kayaknya bisa lebih enakkan trus obat merah buat sedikit lecet."
"Gue heran sama Lusi deh dia kenapa sih ngelakuin hal ini sengaja banget, gue sebagai sahabat lo fran gue gak terima."
"Udah lah cer, gue yakin kalau dia gak sengaja kok."
"Ha? Gak sengaja dari Hongkong?"
"Udah deh gue gak papa, awww."
"Tuh bilang gak papa dari mana."
__ADS_1
"Becanda kali cer posesif banget sih." Ketawa kecil Franda membuat Cerry semakin kesal.
...•••...
Rival sengaja menghadang Lusi dan Milka didepan gerbang, ia sengaja keluar lebih awal untuk mengetahui kejelasan Lusi di kelas tadi. Tangannya sudah mengepal ketika melihat Lusi dan Milka keluar dari kelas mereka berjalan.
Tangan Rival menghalangi langkah Lusi dan Milka ia meluruskan tangannya tepat didepan leher Lusi dengan sorotan mata yang tajam sekali. "Kenapa val?" Sontak Lusi terkejut sekali apa yang Rival maksud ia belum sama sekali kepikiran dengan maksud Rival ini.
"Milka lo balik deh. Gue pengen ngomobg empat mata doang sama Lusi."
"Ta---"
"Udah lo balik aja mil." Sahut Lusi yang menyuruh Milka untuk pergi. Dengan berat hati Milka menggigit kedua bibirnya karna perasaannya tidak enak melihat sikap Rival seperti itu.
Lalu Rival menarik tangan Lusi untuk melipir ke pinggir, jantung Lusi deg-deggan dan matanya tidak henti menatap Rival yang ia kagumi. "Sumpah val lo ganteng juga kalau dilihat dari dekat." Gumam Rival.
"Kira-kira gue narik lo dalam rangka apa?" Tanya tajam Rival.
"Eee, mau ngajak jalan?" Tebak Lusi asal dan ngarep.
"Bener banget, ngajak lo jalan. Ke Neraka!!" Sontak Lusi yang awalnya tersenyum kini malah diam dan menatap Rival aneh, daut wajahnya berubah begitu saja.
"Maksud lo apa val? Gue gak ngerti sama sekali nih, ada apa gue kayaknya harus pulang!" Tangan Rival menahan Lusi dan tidak membiarkannya pergi begitu saja.
"Kenapa? Lo harus ngaku dan minta maaf sama Franda kalau lo itu salah."
"Gue salah apa?"
"Jangan bikin gue kasar sama cewek gue paling gak suka lus." Bisik Rival namun menusuk hingga bulu kuduk Lusi merinding. Matanya kekanan dan kekiri karna gugup.
"Apa sih mau lo hah? Perasaan lo terus saja menghantui Franda dan bikin dia sengsara. Padahal dia gak jahat sama sekali sama lo udah cukup." Lus hanya diam saja dan diam.
"Lo ikut gue, gue harus bawa lo ke rumah Franda sekarang juga."
Ia pasrah dan pasrah saja dengan kemauan Rival.
Didalam mobil Rival hanya fokus kedepan melihat kejalan raya, Lusi juga bingung apa yang akan dilakukan oleh Rival nantinya ketika sampai di rumah Franda. "Gue pikir lo suka sama gue val, tapi ternyata semua berbanding terbaik lo lebih memilih Franda."
...•••...
Rival mengetuk pintu rumah Franda, "Assalamualaikum."
"Lo harus minta maaf ya lus, gue gak mau tau."
"I---ya val. Iya gue tau kok."
"Kalian? Ya udah duduk dulu." Franda mempersilahkan mereka untuk duduk di kursi teras.
"Ada apa?"
"Lusi ngajakkin gue kesini katanya mau minta maaf sama lo, Lus katanya mau ngomong." Rival malah membalikkan fakta yang sebenarnya.
"Sorry fran, gue salah gue min----" Rival menarik tangan Lusi untuk bersalaman bukan sekedar meminta maaf secara lisan tapi dengan gerakan secara simbol.
"Iya, gak papa kok lo gak---"
"Jangan sok baik gue liat dari apa yang gue lihat kalau Lusi narik atau dorong bangku lo." Rival menyilangkan kedua tangannya didepan dada matanya kearah lain dan kedua bibirnya bergerutu.
"Ini Lusi pengen minta maaf sama lo,." Pancing Rival.
Lusi menarik nafas sebentar "Oke, gue minta maaf sorry gue gak sengaja tadi di sekolah, kaki lo gak papa kan?"
Ada perban kecil yang membalut kaki Franda "Oh gak papa kok."
"Lain kali lo gak usah sengaja deh lus, gak baik juga gue selaku ketua kelas bertanggung jawab penuh dalam hal ini." Jawab Rival diantara mereka.
"Maafin gue ya fran gue be----"
__ADS_1
"Iya gak papa kok lus, gak papa banget." Sahut Franda yang tersenyum.
Nah ini, nih alasan gue kenapa gue suka deg-deggan sama lo fran, dan kenapa cewek diluaran sana gue malah gak nengok dan gue malah terpikat oleh lo. Ya ini lo beda!! ~ Rival.