
Gani tidak mau masuk rumah sakit lagi. Ia memilih tinggal di apartemen milik sang big bos yang ada di Surabaya bersama kedua orang tuanya dan juga Nadia.
"Gani nggak pa-pa, Bu. Gani udah sehat kok," ucap Gani dengan senyum tampannya. Padahal bibirnya masih bengkak, akibat mencium aspal. Di hidung juga masih ada beberapa goresan. Namun bagi Nadia, Gani masih terlihat sangat tampan.
Nadia tersenyum. "Jangan tersenyum terus, bantu aku bujuk nenek-nenek satu itu. Biar nggak maksa aku ke rumah sakit. Aku tak suka rumah sakit," bisik Gani.
"Ogah. Istrimu kerjanya di rumah sakit, Pak. Jangan bilang nggak suka," balas Nadia.
"Duh, cantiknya kalo ngambek. Emang udah nggak sakit kakinya, Yang?" tanya Gani.
"Udah nggak sih, cuma masih belum kuat berdiri terlalu lama," jawab Nadia.
"Syukurlah! Cepet sembuh ya, Yang. Jangan sakit-sakit lagi!" ucap Gani perhatian.
"Aku udah nggak pa-pa, Yang. Kamu itu, aku sembuh, kenapa kamu yang sakit sekarang. Kita ke rumah sakit ya," bujuk Nadia.
"Nggak mau, nanti kao di rumah sakit, kaian nggak bakalan kasih aku kerja. Karena nganggep aku masih sakit kan?" tolak Gani lagi.
"Tapi Ibu masih khawatir Gani. Lenganmu masih bengkak begitu. Bibirmu, hidungmu, astaga!" saut Bu Lani, ketika mendengar ucapan sang putra.
"Tu kan, Yang!" Gani tersenyum, lalu melanjutkan ucapannya, " tenang aja, Bu. Cuma nunggu masa pemulihan aja. Ada Ibu sama ayah di sini, apa yang Gani takutkan." Gani tersenyum.
"Ada Ibu ama ayah atau ada dia?" Bu Lani mencebikkan bibirnya, meremehkan jawaban sang putra.
"Kalo dia obat hati, Bu. Obat kangen. Jangan ditanya lagi," jawab Gani, seraya meremas tangan sang kekasih, gemes.
"Ahhh, sebaiknya Ibu pergi. Ibu mau masak. Kalian ngobrol aja. Tapi ingat harus jaga batasan. Gani, jangan nakal!" ucap Bu Lani seraya melangkah meninggalkan Nadia dan Gani yang terlihat masih merindu itu.
"Masak yang enak ya, Bu. Jangan lupa sambal tempe goreng plus sambal tomatnya," pinta Gani.
"Ibu pikir-pikir dulu," jawab Bu Lani tanpa menoleh ke arah dua sejoli menyebalkan itu. Sedangkan Gani hanya tersenyum.
"Mas, aku penasaran. Kok bisa dokter Bima meninggal?" tanya Nadia.
__ADS_1
Gani menatap sang kekasih, ingin menjelaskan. Tetapi Nadia malah merlanjutkan kembali ucapannya.
"Nadia sedih, Mas. Nggak bisa nganterin beliau ke tempat peristirahatan yang terakhir.Mengingat beliau sangat baik sama Nadia. Dokter Bima sangat baik orangnya. Walaupun sering jengkelin sih. Cuma rasanya Nadia belum bisa percaya aja, kalo beliau sudah berpulang," ucap Nadia, sedih plus penasaran.
"Sebenarnya belum? Kita ditipu. Semoga saja beliau selamat!" jawab Gani, sedih.
"Lalu? yang dimakamkan itu siapa?" Nadia merinding.
"Entahlah, namanya orang jahat pasti pandai memanipulasi keadaan." Gani mencari ponselnya. Siapa tahu ada info penting untuknya.
"Pantas saja waktu itu Zizi bilang, sepertinya itu bukan dokter Bima," ucap Nadia.
"Benarkah? Emmm, berati bener. Mereka pinter sekali mengelabuhi kita. Tapi aku harap bosku segera menemukan pak Bima, kasihan istrinya," ucap Gani.
Lalu ia pun mengambil ponsel miliknya dan mencoba mengingat kembali plat mobil yang ia yakini adalah mobil yang membawa Bima pergi atau lebih tepatnya menculik pria itu.
***
Bukan hanya itu, beberapa anak buah terbaik milik Laskar juga langsung diterjunkan ke lapangan. Sehingga memudahan Juan dan timnya untuk menyisir lokasi.
"Sepertinya di daerah sini, Bos! Tadi mobil mereka masuk di area sini," ucap salah satu anak buah Juan.
"Heemm, kita harus hati-hati. Jangan ada korban nyawa lagi. Mereka sangat anarkis," ucap Juan memperingatkan.
Anak buah Juan melihat mobil abak buah Laskar sudah sampai duluan di lokasi. Terlihat ada mobil yang terpakir di depan gudang kosong itu. Mobil yang sama , seperti yang Gani ceritakan.
"Brengsek, sepertinya itu mobillnya." Juan geram. Juan ingin langsung keluar dari mobil, dan ingin ikut misi pembebasan adik iparnya. Tetapi, suara tembakan terdengar beberapa kali. Membuat anak buah Juan balik kanan. Sebab mereka juga tidak bisa menbawa bos mereka masuk ke dalam bahaya.
"Bos tunggu di sini, sepertinya mereka enggan diusik," ucap salah satu anak buah Juan.
Juan terdiam, ia geram. Siapa bosnya di sini, kenapa justru dia yang diatur. Juan ingin protes, tapi mulutnmya terdiam ketika melihat segerombolan orang terlihat memapah seseorang yang Juan yakini tu adalah sang adik ipar.
"Brengsek! Itu Bima!" pekik Juan. Ketegangan kembali terjadi di sini. Sebab anak buah Laskar dan juga bberapa orang yang menahan Bima terlihat saling menodongkan senjata.
__ADS_1
"Jangan keluarkan suara, Bos. Saya takut, mereka melihat anda," ucap salah satu anak buah Juan memperingatkan. Sebab, membawa bos ikut dalam situasi seperti ini sungguh tidak mudah bagi mereka.
"Diam kau, minngir!" tolak Juan, geram.
Juan bukanlah pria bodoh yang pasrah dengan keadaan. Ia sendiri juga bersiap mencari celah untuk menyerang mereka.
Gemas, bapak dua anak itu pun meminta sopir yang membawa mobil yang mereka tumpangi untuk turun. Tanpa berpikir panjang, Juan langsung menggantikan sopir tersebut dan memulai aksinya.
Juan, si mantan pembalap kelas liar di masa SMAnya itu pun begitu lincah mengejar mobil yang membawa sang adik ipar. Sedangkan anak buahnya menyerang dengan brutal.
Dibantu anak buah Laskar yang tak kalah gesit, akhirnya mobil lawan pun oleng. Mobil itu berhenti sempurna.
Keempat preman yang menyandra Bima, akhirnya menyerah tanpa perlawanan. Mereka kalah senjata, kalah jumlah. Bukankah tak ada pilihan lain selain menyerah.
Namun begitu, musuh masih berusaha memperjuangkan harga diri mereka dengan menodongkan senjata ke kepala BIma yang saat ini terlihat tak sadarkan diri.
"Turunkan senjata kalian atau kami ledakkan kepala pria ini!" ucap salah satu pria berkepala plontos itu.
Kepala preman besutan Laskar memberi kode pada seluruh anak buahnya untuk menurunkan senjata mereka. Namun tidak dengan Juan. Pria tampan ini sangat bandel, sehingga ia pun masih menyembunyikan sejata miliknya.
"Ambil kunci mobil mereka!" perintah pria yang menodongkan senjata tepat di kening Bima.
Beruntung, kunci mobil tersebut ada di tangan Juan, sengan gesit pria tampan ini pun menendang pria itu. Lalu yang lain menyerang musuh yang lain. Tak butuh waktu lama, keempat preman kampung itu pun berhasil mereka lumpuhkan.
Juan tak mau terlau pusing dengn mereka. Pria tampan ini langsung menangkap tubuh Bima yang saat itu sudah babak belur dan lemas tak sadarkan diri.
Juan menggendong tubuh sang adik ipar dan membawa tubuh itu masuk ke dalam mobil, serta membawanya meninggalkan medan perang ini.
Bersambung...
Sambil nunggu emak update kalian bisa kepoin karya bestie emak🥰🥰
__ADS_1