Mantan Terindah

Mantan Terindah
Selamat Kamu Calon Daddy


__ADS_3

"Mau dilepas?" tanya pria itu, masih berbisik manja.


Vita mengangguk.


"Janji nggak teriak?" tanyanya lagi.


Vita mengangguk lagi. Kali ini Vita sedikit curiga, karena suara itu mirip seseorang yang ia kenal. Walaupun sengaja dibuat-buat.


Seseorang itu menurunkan tangannya dari mulut wanita cantik ini. Bukan hanya itu, ia juga melepaskan tangan Vita. Seakan membiarkan Vita menuntaskan rasa penasaran. Dengan hati-hati wanita ayu ini pun meraba wajah rupawan pria itu.


Beberapa detik kemudian, masih dengan aktivitas meraba wajah itu, ingatan Vita langsung tertuju pada sang suami yang dikabarkan telah meninggal. Membuat Vita gemetar, shock.


Masih dalam lingkup keraguan, Vita mencoba menguatkan hatinya. Belum sepenuhnya bisa percaya. Lalu ia pun kembali meraba wajah itu. Hingga tangannya sampai pada bibir pria yang sangat ia cintai. Aroma tubuhnya berbeda, mungkin sabun atau parfum yang beliau pakai memang berbeda. Tetapi ada satu yang sama, yaitu aroma napas pria itu. Aroma napas yang bisa membuat jiwa Vita merasa tenang.


Vita mendekatkan wajahnya, mencoba memastikan kembali aroma napas pria itu. Wajahnya dengan wanjah seseorang itu, semakin dekat dan dekat. Hingga hidung mereka bertemu. "Mas Bima," desah Vita, serasa merdu di telinga pria yang saat ini sedang Vita selidiki itu.


"Ini Mas Bima, kan?" tanya Vita mencoba memastikan. Namun sayang, pria itu masih diam. Belum mau menjawab apa pun. Masih membiarkan naluri sang istri bekerja. Pria tampan ini juga sengaja tidak menyalakan lampu. Karena ia ingin tahu, seberapa peka Vita mengenali dirinya. Bahkan di dalam kegelapan sekalipun.


"Mas ... aku tahu ini kamu. Aku yakin itu. Alisnya sama. Bentuk wajahnya sama. Bahkan bibirnya juga sama. Ini kamu kan Mas, aku nggak mimpi?" cecar Vita, masih dengan suara yang sangat lembut. Terdengar seksi. Sehingga tanpa diduga, suara itu sanggup membangkitkan jiwa kelelakian seorang Bima.


Bima menarik pinggang sang istri. Mengelus punggung wanita cantik itu. Sedangkan Vita semakin mendekatkan wajah mereka. Ia suka menikmati aroma napas yang sangat ia rindukan ini.


Tak ingin terlambat, Vita pun mulai mendekatkan bibirnya pada bibir pria yang kini mendekapnya.


Seakan sama-sama tahu, bahwa rindu memang butuh pelampiasan. Bima pun menyambut dengan suka cita bibir yang ia rindukan itu.


Mereka semakin bersemangat mengecup satu sama lain. Memangut penuh cinta. Menumpahkan segala rindu yang ada. Kini Vita semakin yakin bahwa pria yang saat ini berciuman dengannya adalah sang suami. Ya, ciuman yang kini sedang ia nikmati adalah ciuman pria itu. Pria yang membuatnya hampir gila.


Beberapa detik berlalu, mereka pun melepaskan ciuman itu. Isak tangis terdengar dari bibir Vita. Wanita cantik ini menangis, sebab antara benci dan rindu sedang berperang di dalam sanubari nya. Vita sangat kesal dengan Bima. Dia membenci situasi yang mempermainkan perasaannya.


"Kamu jahat, Mas," ucap Vita di sela-sela tangisnya. Sangking kesalnya, Vita juga memukul marah dada sang suami.


"Maaf, Sayang," jawab Bima, tanpa menolak pukulan itu. Bima tahu, ia salah.


"Aku hampir mati karenamu. Aku membencimu, Mas. Kamu jahat," ucap Vita lagi.


"Maaf, maafkan aku, Honey, maaf. Sumpah aku nggak sengaja." Bima langsung memeluk erat sang istri yang terus meronta, protes, marah, kesal. Semua tercampur aduk dalam pikirannya.


"Kamu boleh memukulku, asal akan kamu memaafkanku. Maafkan Mas ya Sayang. Maaf heeemm!" pinta Bima lagi, kali ini dengan suara lembut selembut lembutnya.


"Janji nggak pergi lagi!" pinta Vita.


"Oke!"

__ADS_1


"Janji nggak bikin spot jantung lagi!"


"Oke!"


"Janji nggak tugas jauh-jauh!"


"Oke!"


"Janji nemenin aku terus!"


"Oke, apapun itu, Honey. Apapun keingiannmu. Aku janji bakalan nurut sama kamu. Aku janji nggak akan tugas jauh-jauh. Udah jangan nangis lagi ya. Mas nggak akan ke mana-mana. Mas akan kerja dekat-dekat rumah aja. Mas janji." ucap Bima lagi, berusaha keras membujuk sang pemilik hati. Agar tidak terus merajuk.


Vita tersenyum. Jawaban Bima semakin membuatnya yakin bahwa pria yang saat ini mendekapnya adalah sang suami. Bukan pria gila yang ia takuti itu.


"Aku pengen lihat wajah kamu, Mas. Aku rindu," pinta Vita.


Bima pun tersenyum. Lalu ia pun membimbing sang istri ke ranjang. Meminta Vita duduk di sana. Bima menyalakan lampu tidur, suasana menjadi remang. Membuat suasana menjadi terasa syahdu.


"Sudah lihat?" canda Bima. Vita tersenyum.


"I miss u, my hubby. I miss u so much," ucap Vita, kembali merasakan kebahagiaan yang luar biasa.


"Miss u too, Honey." Bima langsung bersimpuh di hadapan sang istri. Agar wanita cantik bisa menikmati wajahnya, seperti yang diinginkan olehnya


Bima mendekatkan wajahnya. Lalu membiarkan wanita cantik itu meraba kembali wajah tampannya. Agar sang wanita percaya, bahwa ini adalah dirinya.


"Ini baju siapa?" tanya Vita ketika menyadari bahwa baju yang dipakai sang suami bukanlah baju milik Bima.


"Baju, Mas lah," jawab Bima.


"Bukan! Ini bukan baju, Mas. Mas nggak ada kemeja aneh begini," tolak Vita, yakin.


"Kok tahu ini bukan baju, Mas?" canda Bima, tersenyum meledek.


"Tau, ini bukan baju kamu." Vita tersenyum.


"Ini baju, Mas. Dibeliin sama kak Ste."


"Dibeliin kak Ste? Jadi kak Ste tahu kalo Mas ada di sini?" tanya Vita.


"Tau, kan bang Juan yang jemput Mas ke Papua. Zein juga tau. Semua orang tau. Hanya kamu yang ketinggalan berita," jawab Bima sembari mencolek hidung mancung sang istri.


"Kalian jahat." Suara Vita melemah.

__ADS_1


"Kok jahat gimana? Mereka semua berjuang mati-matian nyelametin, Mas, Sayang. Bahkan Gani sampai koma," ucap Bima, jujur.


"Ha, serius. Beneran? terus?"


"Nanti kapan-kapan, Mas cerita. Sekarang ada hal yang lebih penting dari itu," ucap Bima, kali ini dia bangkit, mengukung manja tubuh sang istri. Menatap mesra bola mata cantik itu. Lalu tanpa izin ia pun memberikan kecupan paling hangat di kening wanita cantik ini.


"Apa?" tanya Vita lugu.


"Mas ingin buka puasa, Sayang. Boleh ya," pinta Bima, mesra.


Vita tersenyum. Menurutnya otak mesum sang suami tak pernah bisa berubah. Selalu saja jika mereka bertemu. Apa lagi ada kesempatan begini.


"Boleh, tapi janji pelan-pelan ya, Mas." pinta Vita.


"Pelan-pelan, kenapa harus pelan-pelan. Buka puasa mana bisa pelan-pelan," protes Bima.


Vita tersenyum, lalu memberikan kecupan memabukkan tepat di bibir sang suami. Setelah itu, ia meminta Bima mengambil tas tangannya.


Bima yang tak memiliki prasangka aneh, tentu saja langsung mengambilkan apa yang istrinya minta.


"Mas duduk sini," pinta Vita.


Bima pun menurut.


Lalu Vita mengeluarkan buku periksa kehamilan, testpack dan juga hasil USG yang menunjukkan ada janin di dalam rahimnya.


"Apa ini?" tanya Bima. Padahal sebenarnya ia sudah tahu. Hanya saja dia tak percaya diri.


"Itu calon buah hati kita, Didi," jawab Vita, sembari tersenyum bahagia.


"Oh... benarkah?" Spontan, mata Bima langsung berbinar terang.


"He em. Dia ada di sini," jawab Vita sembari mengelus perut ratanya.


"Benarkah, kamu nggak bohong, Sayang? Ini serius?" Bima masih belum percaya ini. Kebahagiaan begitu erat memeluknya, sehingga dia masih gamang untuk mempercayai ini.


"Serius, Di. Masak nggak percaya. Pegang aja, kan kamu dokter. Biasanya dokter tahu orang itu hamil beneran apa ngga," ucap Vita seraya berbaring dan meminta Bima memeriksa perutnya.


Bima pun menuruti sang istri. Meraba perut rata itu. Jantung Bima berdebar lebih kencang dari pertama ia masuk ke kamar ini. Sungguh, ini adalah kabar yang luar biasa baginya.


Setelah melewati rintangan dan dia hampir mati, ternyata Tuhan menyiapkan kado terindah dalam hidupnya. Selamat dari maut dan sekarang, lihat, akan ada seseorang yang hadir di dalam hidupnya. Yaitu seorang bayi mungil yang sangat ia nantikan.


"Selamat sayang, kamu akan jadi daddy!" ucap Vita.

__ADS_1


Bima tersenyum, namun sedikit mesum.


Bersambung...


__ADS_2