Mantan Terindah

Mantan Terindah
Sebuah Kisah


__ADS_3

"Dasar, dasar ... kalian ini! Bener-bener ya. Nggak tau malu! nggak tau diri!" tegur Zein kesal.


Spontan kedua sejoli yang sedang asik memadu kasih itupun langsung melepaskan ciuman mereka dan menyembunyikan wajah malu karena tertangkap basah sedang bersilaturahmi bibir.


"Ada apa, Zein?" tanya Bima, masih memunggungi Zein, sedangkan Vita menyembunyikan wajahnya di dada sang suami dan menutupnya dengan jaket yang dikenakan sang suami.


"Ada apa? Ada apa? Heh, kalian... jangan sok nggak berdosa ya! Kalian tau nggak, aku, Juan dan Rehan, deg-degan nungguin hasil penyelidikan. Kami bela-belain ke sini buat ngawal kasus kalian. La kalian malah asik-asikan makan bibir. Dasar nggak tahu malu!" umpat Zein kesal.


"Sorry," ucap Bima lirih.


"Hanya sorry kamu bilang! Astaga! Kalian tahu nggak, tadi... bapak penyidik itu datang ke sini. Lalu beliau balik lagi. Jangan bilang kalau kalian sudah lama main cup-cupan begitu. Memangnya di rumah tak bisa. Di hotel tak bisa. Sampai mesum ditempat umum begini. Tak tau malu!" wajah Zein memerah. Kesal saja rasanya melihat dia sejoli tak tahu diri ini.


"Ya kan kami suami istri, wajar dong kalo kami ber-itu!" bantah Bima, tanpa rasa bersalah.


"Nggak masalah ber-itu, nggak masalah ber-itu. Aku juga tau kalo ini nggak masalah, karena aku pun tau, kalo kalian adalah pasangan halal. Yang jadi persoalan ini kantor polisi, Bos. Tempat umum! Astaga! Masak nggak bisa nahan sih! Dasar!" balas Zekn lagi.


"Ya kan keinginan mana bisa diatur. Mana bisa diprediksi. Tiba-tiba pengen aja." Bima tersenyum malu. Membuat Zein semakin geram.


"Ya Tuhan... Kenapa Engkau pertemukan aku dengan manusia-manusia bucin akut begini. Kalo tau kalian sebodoh ini, lebih baik aku pulang saja ke Lombok. Kalian tau kan, my wife n my little baby lagi nungguin aku. Aku berdiri di sini buat bela-belain kalian. Lah kok, sing dibelani malah pacaran... " Zein menghirup napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Mencoba menahan emosi yang menggerogoti hatinya.


"Sorry, Bro. Jangan marah begitu lah. Kami tahu kami salah. Tapi kami sedang bahagia. Karena ternyata kami... " Bima menghentikan ucapannya karena Vita dengan cepat menutup mulutnya.


"No!" pinta Vita.

__ADS_1


Bima tersenyum.


Dan mereka berdua tidak menyadari bahwa senyum dan sikap manja mereka semakin membuat darah Zein mendidih sempurna.


Ingin Zein menghajar mereka dengan kata-kata pedasnya. Namun, dengan cepat Rehan memanggilnya.


" Zein loh ayo... Ngapain elu di mari PA... ngapain gangguin mereka. Astaga!" tegur Rehan.


"Gue tegur mereka, biar tahu diri!" jawab Zein, ketus.


"Ngapain ditegur PA. Ya biarin dulu lah. Mereka kan lagi ada masalah! Biarkan saling menguatkan. Kek nggak pernah muda aja lu," tegur Rehan lagi.


"Masalah? Heh ... Masalah apaan? Lihat mereka, nempel kek tikus ketemu perangkapnya. Yang punya masalah bukan mereka, tapi kita. Kita yang deg-degan ngadepin kasus ini. Mereka berdua malah asik cup-cupan nggak jelas," lawan Zein.


"Gue! Ngiri! Sama mereka! Astaga! Nggak banget, Bro. Gue cuma kesel.


Hah.... serah kalian aja. Pokoknya, Awas aja kalo sampai tahun ini berakhir, aku belum dapat kabar kalian bakalan kasih aku keponakan. Awas kalian, bakalan aku cincang," ancam Zein seraya melangkah meninggalkan ruangan yang berhasil membuatnya gerah ini.


Sedangkan Rehan malah salah tingkah. Mengingat kedua sejoli ini adalah bosnya. "Emm, sa-saya tunggu di luar ya. Vit, abang tunggu di luar. Teruskan, silakan teruskan. Tapi jangan lama-lama ya. Nggak enak sama bapak penyidiknya," ucap Rehan terbata.


"Iya, Bang. Makasih atas pengertiannya," jawab Bima.


Rehan pun tersenyum, lalu memundurkan langkahnya untuk meninggalkan ruangan ini.

__ADS_1


Sedangkan Vita dan Bima langsung tertawa. Karena menurut mereka, sikap Zein sangat lucu. Ditambah lagi aksi konyol mereka yang tertangkap penyidik. Ini memang memalukan tetapi juga kenangan yang menggemaskan.


"Mas sih!" tuduh Vita.


"Habis enak, Dek. Maaf ya!" balas Bima.


"Tadi udah dibilang di rumah aja, nggak percaya sih!" Vita tersenyum manja.


"Habis momennya pasnya di sini tadi. Masak iya, pengennya sekarang harus on the way dulu," jawab Bima.


Vita enggan berdebat dengan suaminya ini. Karena ia pasti kalah. Namun demi Tuhan, Vita tak akan melupakan sepenggal kisah tentang mereka ini. Ini adalah salah satu kenangan terindah baginya.


Bermesraan di tempat umum. Terciduk oleh orang-orang yang tidak seharusnya. Lalu dihakimi oleh mantan. Bukankah ini kenangan yang menggemaskan?


***


Tangis pecah mengiringi langkah seorang gadis yang sedang patah hati. Bagaimana tidak? Ia telah jatuh cinta pada pria itu, jauh sebelum ia ketemu lagi dengan pria tersebut.


Namun, kini, di pelaminan, bukan dia yang menjadi pendamping pria yang telah dijodohkan dengannya. Melainkan orang lain. Orang lain yang telah mencari stat darinya. Orang lain yang datang ketika dia tidak ada.


Tak dipungkiri bahwa Nadia merasa terhina dan dihianati. Tetapi ia juga tak bisa menyalahkan Randika sepenuhnya. Mau bagaimanapun semua yang terjadi pasti tidak lepas dari kehendak Ilahi. Nadia percaya itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2