Mantan Terindah

Mantan Terindah
Hadiah Perpisahan


__ADS_3

"Kamu kenapa dari tadi senyum melulu, Nad?" tanya Gani aneh.


"Eh... nggak! Mana ada aku tersenyum. Geer ni. Sensitif ni," balas Nadia, mengelak.


"Ih, orang aku lihat kamu senyum-senyum terus sih. Kamu makin kesemsem ya sama aku?" canda Gani.


"Emmm, pede. Nggak mungkin seorang Nadia kesemsem sama cowok genit kek kamu. Tapi kamu memang ganteng sih. Mirip aktor idolaku," jawab Nadia, mengelak. Namun Gani sama sekali tidak terpengaruh dengan penolakan Nadia. Sebab ia tahu, jika calon istrinya itu tak mungkin jika tak menyukainya.


"Aktor Korea ya?"


"Kok tahu!"


"Banyak tu cewek-cewek di kantor penggila drama Korea bilang begitu," jawab Gani santai.


"Ihhhh... jangan dengerin mereka. Kamu udah janji mau nikahin aku. Maka dengerinnya aku aja. Awas kalo dengerin mereka juga!" ancam Nadia, tiba-tiba kesal sendiri.


Tu kan, cemburu nggak jelas.


Gani tersenyum.


"Dih... apa salahku? kenapa tiba-tiba marah begitu. Itu namanya kamu cemburu tanpa alasan. Dasar Nadia Fitriani," ucap Gani seraya mencolek dari sang kekasih.


"Ih, aku serius!" ucap Nadia.


"Iya, iya, lagian aku juga nggak tertarik sama pujian mereka. Kamu aja yang kelewat sensi. Mau punya suami tampan, mentalnya harus kuat. Sekuat baja. Paham!" Gani langsung duduk di sebelah Nadia tanpa permisi.


"Oiya, Nad, ibu sama ayahku mau kamu ikut mereka ke Malang. Tapi nggak maksa sih! Kalau kamu mau aja," ucap Gani.


"Emmm, sorry, Gan. Bukannya aku nolak. Tapi adikku beneran butuh aku," jawab Nadia, serius.


"Adik yang mana?"


"Yang kecil lah, kalo Nur kan udah gede. Udah bisa jaga diri."


"Ohhh, bukannya dia di pesantren. Terus sekolahnya juga udah dapet ojek. Kayaknya udah nggak ada masalah deh," ucap Gani.


"Eh, dari mana kamu tahu adikku di pesantren. Terus kok kamu tahu soal ojek segala. Aneh!" balas Nadia.


Gani mendekati sang pujaan hati, lalu menatapanya dengan penuh cinta.

__ADS_1


"Jangankan urusan adikmu. Ukuran bra-mu saja aku tahu," jawab Gani sedikit bercanda.


Spontan Nadia pun menutup dadanya.


"Ngapain ditutupin, aku udah lihat ini," canda Gani lagi.


"Gani, kamu gila ya. Dari mana kamu tahu?" Nadia menatap kesal.


"Tahu lah, emangnya pas kamu kecelakaan siapa yang nyariin baju ganti buat kamu. Huuu.... aku sampai susah payah belanja baju tidur, bra, ****** *****. Memuakkan sekali!" jawab Gani santai.


"Benarkah?" Nadia menatap tak percaya.


"Heemmm!" Gani kembali merapikan rambutnya yang mulai panjang.


"Dipotong sedikit, nanti lebih cakep," ucap Nadia, sembari ikut memainkan rambut sang calon suami.


"Nanti deh, kalo sampai Batam aku potong. Jadi kamu mau pulang kampung aja?"


"Iya, aku rindu kampung!"


"Sebenarnya aku masih khawatir, Nad. Kamu tahu kan wanita itu sangat nekat. Aku takut dia nyakitin kamu!"


Gani gemas. Ingin rasanya ia mengecup bibir kekasihnya itu. Andai boleh.


"Nad!"


"Ya."


"Eeheemmm... " Gani terlihat gugup. Di detik pertama ia melirik Nadia, di detik berikutnya ia menatap lantai. Seperti menginginkan sesuatu tapi ragu.


"Kenapa? kamu mau ngomong apa?" tanya Nadia.


Gani meraih tangan Nadia, lalu mencium nya dengan penuh cinta.


"Sepertinya aku perginya bakalan lama, Nad. Nggak pa-pa, kan?"


"Perginya lama? Emang kamu mau ke mana?" Nadia terlihat khawatir.


"Bos memintaku ke Papua."

__ADS_1


"Papua? Ngapain ke sana?"


"Ada kerjaan. Nggak pa-pa kan?" Gani menatap sang kekasih hati. Saling memandang. Tanpa berkedip. Di menit berikutnya, mereka sama-sama merasakan ada ketidakrelaan di hati masing-masing.


Entahlah, nyatanya mereka merasakan itu sekarang.


"Apa kamu sayang sama aku, Nad?" tanya Gani, lembut.


Terang saja, disodori pertanyaan seperti itu, membuat Nadia tak mampu menjawab. Nadia merasa kurang nyaman. Sebab pada kenyataannya Nadia bukan hanya sayang, tetapi juga cinta.


"Nad!"


"Heemm!"


"Apa kamu sayang sama aku?"


"Kalo nggak sayang mana mungkin aku mau nikah sama kamu, Gan." Nadia sedikit tersenyum.


"Kalo cinta, kamu cinta nggak sama aku?"


Nadia diam. Namun, menatap mata tampan Gani. Seakan memaksa pria itu untuk mencari sendiri jawaban atas pertanyaan yang saat ini sedang ia ajukan.


Gani pun masih berusaha mencari jawban atas pertanyaan yang ia ajukan. Namun, gejolak jiwa kelelakiannya muncul di sela-sela pencariannya itu.


Tak peduli nantinya Nadia akan marah, tapi ia menginginkan ini. Gani menginginkan pembuktian cinta ini.


Pelan namun pasti, pria tampan ini pun mendekatkan wajahnya pada wajah gadis pujaan hatinya itu.


Nadia tidak menolak. Ia pasrah. Berusaha memberikan jawaban atas pertanyaan Gani dengan bahasa tubuhnya.


Nadia memejamkan matanya mana kala bibir Gani menyentuh bibirnya. Kecupan pertama mendarat dengan sempurna. Nadia memang tidak membalas, tetapi ia juga tak menolak. Membuat Gani ingin kembali mengulangnya.


Di kecupan kedua, Nadia sengaja membuka sedikit bibirnya, agar Gani bisa sedikit menikmati apa yang ia miliki. Sedikit demi sedikit, Nadia mulai berani membalas kecupan itu.


Mereka sama-sama berusaha memberikan kesan termanis di perpisahan kali ini. Baik Gani maupun Nadia, mereka ingin perpisahan ini menjadi perpisahan sang sangat berkesan. Agar mereka selalu teringat, bahwa hati mereka saat ini sudah ada yang memiliki.


Sayangnya keasikkan mereka terganggu oleh suara dering ponsel milik Gani. Terpaksa pria tampan itu pun menghentikan aktivitas membahagiakan itu.


Baik Gani maupun Nadia sama-sama malu. Nyatanya, cinta yang coba mereka sembunyikan ternyata malah menampakkan dirinya tanpa mereka minta.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2