Mantan Terindah

Mantan Terindah
Diuji Lagi


__ADS_3

Masih belum menyadari bahaya yang mengancamnya, Vita pun masih tersenyum dan kadang-kadang tertawa manja ketika mengantar sang suami di Bandara.


"Begitu pesawat landing, Mas, harus langsung kabari Vita, oke!" pinta wanita ayu ini.


"Tentu saja, Sayang. Mas bakalan terus kasih kamu kabar. Kamu juga ya. Oiya kemarin mama telpon, beliau mau ke Jakarta. Mau nengok kamu. Tapi Mas bilang, sebaiknya jangan dulu. Soalnya kamu sedang dalam pengawasan pihak berwajib. Hanya ingin berjaga-jaga, bagaimana pendapatmu?" tanya Bima.


"Sebaiknya memang begitu, Mas. Lawan kita kali ini licik. Vita nggak habis pikir, ternyata ada orang selicik itu. Hanya untuk uang. Dia menggadaikan harga dirinya hanya untuk mengambil keuntungan atas nama anak-anak yatim piatu. Vita sedih, Mas," ucap Vita.


"Itu sebabnya, Mas, pun tak habis pikir, Sayang. Tapi, namanya manusia kan lain-lain pemikirannya. Yang penting kita selalu waspada. Kamu juga jaga diri baik-baik ya. Selama Mas nggak ada di rumah aja ya, jangan ke mana-mana, oke!" Bima menarik tengkuk sang istri dan memberikan kecupan hangat di kening wanita cantik itu.


Vita tersenyum, wajahnya bersemu merah. Seperti Abege yang sedang kasmaran. Ia sangat bersyukur karena Bima memperlakukannya dengan sangat baik. Sangat hati-hati dan penuh kasih sayang. Namun jika boleh jujur, Vita ingin, Bima tidak hanya memberinya kecupan di kening. Tetapi di dalam hati, ia menginginkan lebih. Lebih dari sekedar kecupan kening. Tapi juga pangutan di bibir. Ya, Vita menginginkan ciuman hangat pria itu di bibir manisnya.


"Mas."


"Hemmm!"


"Soal pengacara itu, semalam... dia!" ucap Vita sembari mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan pada sang suami, bahwa pengacara mesum itu mengirim sebuah gambar tak senonoh padanya.


"Apa ini, Yang?" tanya Bima.


"Itu semalem dia kirim begituan. Sepertinya pria itu sudah gila, Mas," ucap Vita, kesal.

__ADS_1


"Astaga! Ini nggak bisa dibiarin. Sebaiknya kita jangan terlalu santai ngadepin pria bajingan itu." Bima menatap geram, darahnya mendidih ingin menghajar pria brengsek itu. Berani sekali ia mengirimkan gambar tak pantas pada istrinya.


"Katakan pada, Mas. Di mana pria bangsat itu tinggal?" tanya Bima, marah.


"Mas ... jangan terpancing. Vita yakin ini cuma jebakkan dia, untuk Mas. Biar mas ikut terseret kasus ini. Sebenarnya Vita nggak mau cerita, takut masnya meledak. Tapi Vita nggak bisa tenang juga, takutnya masnya curiga sama Vita. Takut Mas curiga kalo Vita ada main sama dia," ucap Vita, jujur.


Bima menatap sang istri. Lalu menarik wanita cantik itu. Kini Bima paham, bnetapa berat beban yang kini membelenggu sang istri.


Antara tetap menjaga martabatnya sebagai istri. Tetap menggenggam kepercayaan sang suami. Serta tetap menjaga perusahannya agar tidak jatuh ke tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.


"Sabar ya, Yang. Percayalah, semua akan baik-baik saja. Ada aku yang akan selalu ada untukmu," ucap Bima serius. Karena ia memang telah berjanji akan menjaga wanita ini. Baik secara lahir maupun batin.


Namun, ketika meraka sampai di lobi pintu keberangkatan, seorang pria berbaju serba hitam berlari kearah Bima. Membawa sebuah pisau tajam. Hendak menyakiti Bima. Karena niatnya memang memisahkan wanita yang ia cintai itu dari pria yang saat ini menjadi pelindungnya.


Beruntung sebelum pria jahat itu sampai, seorang pengnjung berteriak, "Awas!" teriaknya.


"Spontan, Vita dan Bima pun menoleh ke arah suara.


Sayangnya pergerakan pria tersebut begitu cepat, para ajudan yang menjaga Vita dan Bima kalah cepat. Sebab mereka juga dihadang oleh kawanan pria tersebut.


Merasa langkahnya tidak ada yang menghalangi, sang pria pun langsung menerobos kerumunan orang-orang yang ada di sekitar Bima dan Vita.

__ADS_1


Bima terperanggah, namun tidak dengan Vita. Spontan wanita cantik ini memeluk sang suami, sehingga pisau yang ditujukan untuk sang suami malah menacap sempurna di punggungnya. Vita terluka. Darah mengucur deras dari punggung wanita itu.


Tak ayal pria yang sejatinya ingin menghabisi Bima pun terkejut. Ia menatap nanar pada wanita yang ia cintai. Ia shock, berteriak histeris sendiri. Karena ia menyadari. Ia salah sasaran. Bukan nita hati ingin menyakiti wanita yang ia kasihi. Namun nyatanya malah sebaliknya.


Melihat kejiwaan sang pelaku, para ajudan tidak tinggal diam, pertarungan sengit antara dua kubu itu pun semakin seru. Separo dari mereka tetap melawan musuh, yang lainnya membantu Bima menyelamatkan Vita.


Di dalam mobil, Bima masih tak kuasa berucap. Ia terlanjur shock. Bagaimana tidak, tak ada angin tak ada hujan, wanita yang ia cintai kini bersimbah darah. Demi menyelamatkan dirinya.


Bima memang seorang dokter yang terbiasa melihat darah, tetapi ia lemah ketika melihat darah itu adalah darah milik wanita yang ia cintai. Seketika pikirannya ngeblank. Tubuhnya lemah lunglai. Seakan separoh nyawanya meninggalkannya di detik ini juga.


"Mas... jangan nangis," pinta Vita lirih.


"Tidak, Sayang. Jangan banyak bicara, kamu harus kuat. Demi aku, demi cinta kita," ucap Bima, dengan bibir gemetar menahan rasa takut kehilangan.


"Cepat, Pak! Istriku kesakitan!" ucap Bima.


Tak ayal, sopir yang membawa Vita dan Bima pun langsung menginjak pedal gasnya lebih kuat.


Kekuatan cinta mereka diuji sekali lagi. Bima ketakutan luar biasa, namun tidak dengan Vita. Wanita ini malah lebih banyak tersenyum sebab ia yakin, pria yang kini mendekapnya ternyata sungguh-sungguh mencintainya dan takut kehilangan dirinya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2