Mantan Terindah

Mantan Terindah
Serangan


__ADS_3

Kabar tentang rencana busuk itu akhirnya sampai di telinga Zein. Beruntung bapak tiga anak itu masih belum beranjak dari Lombok. Tempat di mana Vita tinggal.


"Kenapa termenung begitu, Pi?" tanya Zi, ketika melihat sang suami melamun.


"Oh tidak, Mam. Vita malah di sini apa udah balik ke Jakarta ya, Mam?" tanya Zein pada sang istri.


"Kayaknya hari ini mau balik deh, Pi. Kan Bima udan di Papua sekarang. Kata dia dari pada di sini nggak ngapa-ngapain, mending di Jakarta. Ada kerja," jawab Zizi, sesuai info yang ia dapat dari Vita beberapa hari yang lalu.


"Kalo menurut Papi, mending Vita jangan ke Jakarta, Mam. Mending dia pulang ke Batam dulu. Sampai kondisi aman untuknya," ucap Zein, terlihat tak nyaman dengan kondisi saat ini.


"Maksud, Papi?" Zizi ikutan tegang.


"Semalam anak buah papa melihat ada segerombolan orang tak dikenal sedang mengawasi rumah Vita, rumah peninggalan suami pertamanya. Anak buah papa curiga, bisa jadi itu anak buah pria jahat itu, hendak berniat buruk terhadap Bima dan Vita," jawab Zein, sesuai dengan info yang dia dapat.


"Ya Tuhan, pria itu nggak ada kapok-kapoknya ya. Kok ada ya manusia begitu?" ucap Zizi kesal.


"Namanya cinta tak sampai, Mam. Ya bagaimana? Belum lagi sekarang dia dendam karena dijebloskan ke penjara. Makin parah lagi dendam yang ada di hatinya," jawab Zein.


"Bener juga ya, Pi. Semoga dia nggak tahu kalo Bima berangkat ke Papua." Zizi menggosok tengkuknya. Merinding sendiri membayangkan hal buruk yang mungkin terjadi pada Bima.


"Semoga, Mam. Tapi, yang Papi takutkan malah sebaliknya. Takutnya keberangkatan Bima ke Papua adalah rencana dia. Soalnya, Bima kan sudah lama daftarnya. Dia pikir udah nggak di terima. Lah ini setelah menikah kok baru dipanggil. Kan Papi curiga, Mam!" balas Zein.


"Astaghfirullah... semoga apa yang kita pikirkan nggak bener ya, Pi. Mami juga punya feeling yang sama dengan Papi. Cuma Mami masih nahan buat ngungkapin. Terus sekarang gimana Pi? Kasihan Vita kalo seandainya apa yang kita pikirkan benar!"


"Papa udah kirim anak buahnya ke Papua untuk cari info tentang Bima, Mam. Semoga kita dapet kabar baik."


"Semoga ya, Pi. Emm, sebaiknya Papi ke tempat Vita dan kasih tahu pasal ini. Kasihan dia kalo nggak tahu apa-apa. Terus tiba-tiba terjadi apa-apa," pinta Zizi.


"Apa begitu baiknya ya, Mam?" tanya Zein, jujur Zein merasa kurang nyaman bertemu dengan Vita jika hanya berdua. Mengingat Vita adalah mantan kekasihnya.

__ADS_1


"Menurut Mami, sebaiknya begitu Pi. Kasihan Vita."


"Tapi Mami oke?"


"Oke! Kenapa emang?"


"Ya nggak sih! Takutnya Mami ada pikiran macem-macem kalo Papi ketemu mantan."


"Kalo tujuannya baik, Mami oke-oke aja, Pi. Kecuali kalo Papi main hati, baru Mami marah." Zizi memanyunkan bibirnya kesal.


"Papi nggak semudah itu tergoda, Mi. Memiliki kalian itu adalah hal luar biasa buat Papi. Bagaimana mungkin Papi menyakiti kalian? Jika nyatanya kalian adalah jantung hati, Papi!" jawab Zein, sedikit menggobal. Tetapi sebenarnya ia serius.


"Mami percaya, kalo Papi pasti bisa jaga diri, jaga hati, buat kami bertiga." Zizi tersenyum bahagia.


Zein mengelus kepala sang istri, sebagai ucapan terima kasih. Karena Zi begitu mengerti dan percaya akan kesungguhannya.


***


Vita sedang bersiap untuk kembali ke Jakarta. Namun aktivitasnya terhenti ketika mendengar bunyi bel. Berhubung di rumahnya tidak ada siapapun terpaksa Vita sendiri yang membukakan pintu.


Tak ada prasangka apapun, wanita cantik ini pun melangkah mendekati pintu. Bermaksud menyambut siapa yang datang.


Namun sebelum sampai di depan pintu, ponselnya berdering.


Ternyata itu panggilan telepon dari Zein.


"Ya, Bang!" sambut Vita.


"Vit, lari... jangan buka pintu. Itu anak buah pria keparat itu!" teriak Zein, melengking, terdengar panik.

__ADS_1


"Apa?"


"Cepat, lewat pintu belakang. Abang tunggu di gang sebelah!" ucap Zein.


Ketegangan pun merasuk dalam sendi-sendi Vita. Tak banyak berucap, wanita ini segera kembali ke kamar dan mengambil tas tangannya.


Lalu segera keluar lewat jendela. Mengendap-endap agar tidak terlihat oleh musuh.


Beruntung Zein juga sikap. Bapak tiga anak ini pun langsung membumbunyikan klakson. Agar Vita melihat mobilnya.


Vita yang tanggap, langsung berlari sekencang mungkin menuju mobil Zein.


Ketegangan kembali terasa, mana kala salah satu anak buah pria jahat itu melihat Vita masuk ke dalam mobil Zein.


Dengan cepat mereka pun menyusul wanita itu.


"Astaga! Syukurlah aku nggak telat. Pegangan Vit!" ucap Zein, langsung menginjak pedal gasnya. Segera melaju meningalkan komplek perumahan tempat tinggal Vita.


"Astaghfirullah, Ya Allah... berasa seperti penjahat aku, Bang!" ucap Vita, sembari mengatur napas.


"Beruntung papa tadi pagi telpon, kasih tahu kalo anak buah mantan lawyer mu itu sedang mencarimu dan Bima," ucap Zein.


"Mau apa lagi sih, Bang, mereka?" tanya Vita.


"Entahlah, yang jelas mereka hendak menyakitimu. Memisahkan mu dari Bima dan mereka berhasil, Vit. Mohon maaf kalo Abang telat kasih tahu kamu. Perihal kepergian Bima ke Papua, sepertinya ini bagian dari rencana pria kurang ajar itu," ucap Zein lagi.


"Apa? Lalu... lalu bagaimana dengan suamiku, Bang?" tanya Vita terbata, tak ayal tangis pun pecah di tengah-tengah kesemrawutan pikiran yang melanda wanita ini.


Ketakutan demi ketakutan pun mulai menyerangnya. Sungguh, Vita tak siap jika sampai terjadi sesuatu pada Bima.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2