
Keputusan yang diambil dengan ketulusan untuk menjalankannya akan menjadi awal keberhasilan yang tertunda. Dior sudah memantapkan diri untung menjadi suami Gracia dan akan bertanggung jawab sepenuhnya atas Gracia. Dia ingin mempunyai hak yang kongkrit agar dapat memberikan dan mendukung apa yang dibutuhkan waninta nya itu. Bagaimana tanggapan Gracia mengetahuinya?
...
"Mom, aku yakin kau pasti mendukung apa yang sudah menjadi keyakinan ku. Aku berjanji aku tidak akan mengecewakanmu! Aku akan mencintai Gracia seperti aku menghormati mu dan dad! Aku akan menjaga dia, melindunginya sebagaimana yang diperintahkan oleh Aunty Greta ku!" Kata Dior masih memeluk ibunya dengan sangat erat. Viena mengangguk angguk setuju akan pernyataan anaknya.
Tak ada yang lebih penting dibandingkan kebahagiaan seluruh anak anaknya. Wanita paruh baya itu hanya mencoba agar semua anak anaknya tidak mengalami masalah pelik seperti masa mudanya. Hanya itu yang ada di pikirannya. Menjadikan anak anaknya layak dan dihargai orang lain.
"Ya sayang, kau harus siap menghadapi dunia pernikahan yang suci dan pasti banyak tantangan. Aku yakin kau pasti bisa menghadapinya bersama Gracia." Kata Viena menari dirinya dan memegang wajah anaknya. Anaknya sekarang sudah sangat besar dan dewasa. Sudah mengerti akan cinta dan tanggung jawab. Sudah seperti emas yang berkilau seperti apa yang diharapkan ketika anak laki lakinya itu lahir. Mata Viena pun mulai berkaca kaca. Dia terharu. Sebentar lagi dia akan menikahkan anak laki laki satu satunya ini.
"Jangan menangis mom! Aku akan mengajak Gracia untuk tetap tinggal di sini sehingga kita bisa selalu bersama. Kau tenang saja mom!" Saut Dior yang sangat mengerti kalau ibunya belum bisa jauh dari nya.
Kalau Dior menginap di apartemen saja, Viena selalu menanyakan dirinya sudah makan apa belum dan kapan kembali pulang. Kemarin ketika Dior ke Springfield atau ke luar kota manapun, Viena tidak pernah absen menghubunginya. Bertanya di mana Dior, sudah makan apa belum atau sedang bersama siapa. Tapi ketika mengajak Gracia, Viena juga jadi menanyakan Gracia. Karna Gracia baru kali pertama liburan ke luar kota.
"Kau tidak usah mengatakan apa yang menjadi kelemahanku, kau tidak lihat ada siapa di sini?!" Dengus Viena pada anaknya. Semunaya tertawa.
"Aunty Vien, tenang saja, temanmu ada di sini! Kurasa dia lebih berlebihan daripadamu!" Celetuk Wilson yang merangkul pinggang ibunya.
"Wilson! Adikmu sudah keterlaluan karna pergi berminggu Minggu, jadi wajar kalau aku menanyainya juga menanyakan mu waktu pertama kali kau ke Japanis?!" Dengus Claudia membenarkan prilakunya.
"Ya kan aunty! Dia saja malu mengakuinya!" Wilson masih meledeki ibunya.
"Benar kau Tuan Muda Wilson! Wanita di sampingku ini saja bahkan lebih mencintai Xelino ketimbang diriku, padahal kan karna ku Xelino ada!" Celetuk Leon menyenggol pinggang istrinya yang berdiri di sampingnya.
"Leon, kau sudah tua Bangka, tidak masuk hitungan!" Balas Lexa juga menyenggol kepalanya dengan pinggulnya.
Mereka pun tertawa lagi. Semua canda tawa ada di sana ketika keluarga Prime dan Jovanca dapat berkumpul. Dior pun merangkul ibunya. Dia sadar kalau Viena atau pun Dion ayah nya hanya mengkhawatirkan masa depan cinta nya dengan Gracia. Tidak yang lainnya.
...
Dior sudah mengetahui dari Zhavia kalau hari ini Gracia lupa membawa ponselnya dan hanya memiliki satu mata kuliah. Dia bisa pulang setelah jam makan siang. Dior sudah menunggu Gracia di tempat biasa. Di depan pintu gerbang universitas. Jika Gracia tidak minta menjemput, biasanya Gracia menaiki taxi atau Morgan yang menjemput, namun sepertinya tidak ada tanda tanda Morgan menjemputnya.
Tak lama kegundahan Dior menunggu Gracia berakhir sudah. Gracia tampak keluar jalan berdampingan dengan Melinda. Melinda tampak senang dan kini dia sudah mulai bersahabat dengan Gracia. Masalah waktu itu, ayah nya Melinda sendiri yang langsung meminta maaf pada Revo atas ulah anaknya. Revo pun sudah memberi tahu Dior sehingga hukuman skorsing Melinda sudah di hapuskan. Melinda kembali sekolah karna masih sisa satu tahun ajaran lagi.
Yang menjadi keheranan Dior adalah Gracia tampak muram. Dia terus menunduk dan hanya tersenyum kecil ketika Melinda telah pulang bersama mobil jemputan nya. Dior menghela napas. Dia harus menampakan dirinya. Dia menuruni mobil dan siap menyebrang untuk menemui kekasihnya.
Cuaca siang itu sangat terik. Sinar matahari sampai kepada permukaan puncak kepala. Dior saja sampai menutup kepalanya dengan tangannya. Begitu juga dengan Gracia. Di tengah kesedihan dan kegundahannya, dia harus menundukan kepalanya. Serasa tidak mau pulang. Dia mau menenangkan diri dan sepertinya ingin ke kantor hotel kekasihnya. Meski tidak bisa melihat Dior mungkin sedang rapat, dia bisa menunggui di ruangan sejuk itu. Dia bisa juga pulang ke kamarnya namun akan semakin membuatnya bingung. Memilih cintanya atau karir nya. Mengapa semua ini membuat dirinya tak berdaya?! Semua merupakan keinginannya.
Lagi lagi Gracia hendak menangis. Dia mengucek matanya namun sepertinya dia merasa daerah kepalanya mulai mendingin. Dia malah merasa langit akan mendung. Namun ternyata Dior sudah ada di depannya. Dia memperhatikan sepatu pantofel pria berwarna hitam itu yang sedikit banyak ia sangat hafal. Lalu menjalar ke atas ke celana bahan yang sangat pas ada postur kakinya yang gagah, sedikit wajah Gracia memerah ketika harus melihat di bawah ikat pinggangnya. Dia tahu siapa pria ini. Apalagi ketika saat ini, pria ini mengenakan dasi yang ia berikan. Dengan kemeja biru muda tampak bercorak garis vertikal putih samar samar.
"Kak Dior?" Gracia mendongakan kepalanya.
"Selamat siang sayang, apa kau sudah makan?" Dior nemberi salam sambil menanyainya.
"Belum!" Jawab Gracia menggeleng manja lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Dior. Dia memeluk kekasihnya dan menempelkan wajahnya ke dadanya.
"Sebaiknya kita masuk ke mobil dulu, di luar sangat panas!" Kata Dior lagi sudah menutupi puncak kepala Gracia.
Gracia mengangguk. Dior lalu merangkul Gracia menuju ke mobilnya. Gracia menempati kursinya dan Dior memakaikan Gracia sabuk pengaman. Gracia cukup terkejut dengan perlakuan tidak biasa kekasihnya. Dior lalu mendongakan kepalanya.
"Kenapa kau bersedih Gracia?" Tanya Dior mengelus pipi Gracia lalu mengecup bibirnya. Ya, mereka memang sudah sering melakukannya namun dalam keadaan basa basi ini tetap membuat hati Gracia bergetar dan cukup bergidik.
"Wajahmu merah sekali, aku hanya memastikan kadar bibirmu apa kah masih manis seperti biasa ternyata melebihi kata manis menjadi maniiiisssssekali." Puji Dior menyapukan bibir Gracia.
"Kakak! Kau gombal!" Gracia memukul pelan lengan Dior.
"Sedikit. Jadi, ada apa denganmu, Gracie?" Dior menunggu.
"Hem, iya kak, jadi Melinda sudah menandatangani formulir beasiswa tersebut. Bulan depan dia akan ikut pelatihan di Honolulu selama satu minggu. Dia juga akan bertemu dengan Jacklyn Tsui Naraya, penari balet terkenal di Honolulu, kakaknya Stanley." Kata Gracia memberitahu apa yang menjadi kekhawatiran nya.
"Hem, lalu?"
"Ya, setelah itu kelulusan tahun ini dia langsung pergi ke sana untuk melanjutkan S2 sekalian membangun sekolah menarinya. Dia sangat beruntung." Tambah Gracia sendu.
"Hem, kau sangat ingin ke sana sayang?" Tanya Dior tersenyum sambil meminggirkan rambut rambut halus Gracia.
"Bukan ingin ke sana, tetapi aku ingin ilmu dan sekolah menarinya. Dengan begitu aku semakin meningkatkan karir dan apa yang menjadi keahlianmu bisa kusumbangkan bagi mereka yang juga ingin menari dengan benar ." Jawab Gracia sedikit mengerutkan dahinya.
"Hemm, bagaimana jika aku sudah menjadi suamimu dan aku akan membiayai kuliah S2 mu di sini dan membangunkanmu sebuah sekolah tari. Kalau di Honolulu sudah banyak sekolah seni karna di sana pusatnya, tetapi di Legacy hanya sedikit bahkan sepertinya belum ada, jadi kau akan semakin bermanfaat. Bagaimana menurutmu?" ujar Dior menatap antusias dan penuh keseriusan di sela sela senyuman Dior pada Gracia.
"Suamiku? Apa maksudmu kak? Mengapa jantungku jadi berdebar?" Gracia juga bertanya tampak antusias dan memiringkan posisi duduknya menghadap kekasihnya.
__ADS_1
"Kita makan siang dulu, setelah itu aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Kau akan mengetahui apa yang menjadi maksudku untuk selalu membawa kebahagiaan padamu!" Kata Dior lagi mencubit pelan hidung Gracia dan bersiap menjalankan mobilnya.
Dior menuju ke Big Plaza Luxury. Big Plaza Luxury merupakan anak dari Big Plaza yang di sampingnya. Big Plaza Luxury yang bergaya mewah dan elegan ini hanya menyediakan restoran ala kerajaan, butik butik pakaian dan gaun ber gaya internasional dan memiliki brand ternama juga toko toko jam tangan serta toko toko perhiasan seperti khusus emas, berlian, dan kristal atau campuran.
Gracia belum pernah ke tempat ini. Sudah sering dia dan Zefanya dan Zhavia hanya membuat rencana namun tidak jadi melulu. Gracia terkesima tapi juga merasa malu karna hari ini dia hanya mengenakan celana jeans dan blouse lalu dipadukan dengan flat shoes yang sederhana. Walau tetap terlihat cantik yang sederhana namun Gracia tetap malu. Sedangkan di sampingnya seorang direktur utama perusahaan hotel ternama di Legacy. Gracia menautkan tangannya dan menunduk memperhatikan flat shoes berwarna magenta nya yang polos dengan sepatu pantofel pria milik Dior yang cukup mengkilap.
"Kau kenapa Gracie?" selidik Dior mencari cari keberadaan wajah Gracia.
"Kau tidak malu mengajakku ke sini kak? Seharusnya tadi aku pulang dulu dan mengenakan pakaian yang serasi denganmu." keluh Gracia yang masih membandingkan rupa dirinya yang casual dan Dior yang sangat formil.
"Kau bicara apa? Ini hanya mall! Sudah ayo kita makan dulu!" Decak Dior dan menggandeng tangan Gracia menuju ke lantai dua tempat restoran bergaya kerajaan kebangsawanan itu.
Gracia pun menyuruh Dior yang memesan karna dia tidak begitu mengerti nama nama makanannya. Dior tersenyum kecil. Gracia hanya belum terbiasa saja karna Dior tahu latar belakang keluarga Gracia yang sebenarnya. Revo dan Marcel sudah sangat akrab dengan semua kehidupan ini namun ya begitulah takdir yang menentukan nasib mereka. Tetapi sekarang akan kembali dimajukan oleh Morgan yang meneruskan usaha Revo dan Marcel.
"Kak, makanannya enak, tapi kenapa sedikit?" tanya Gracia dengan polos. sebenarnya Gracia juga pernah menghadiri acara makan malam resepsi pernikahan yang dikemas dengan adanya makanan pembuka, makanan inti dan makanan penutup tetapi tetap tidak sedikit ini.
"Begitulah kalau menjadi orang bangsawan Gracie, makannya tidak boleh banyak nanti bisa sepertimu dulu, bulat dan besar." jawab Dior terkekeh membuat Gracia menekuk wajahnya.
"Kakak, sekarang aku sudah mungil, jadi kau mau membuatku seperti dulu lagi?" dengus Gracia melanjutkan makannya.
"Kalau bisa tak apa, aku mencintaimu apa adanya." balas Dior tidak pandai terus menggoda Gracia.
Gracia tersenyum kecil. Kekasihnya memang selalu seperti membawanya ke langit ke tujuh. Mereka melanjutkan makan mereka. Setelah semuanya habis dan puas, barulah Dior mengajak ke tempat yang sesungguhnya. Gracia hanya mengikuti arah gandengan tangan kekasihnya. Mallnya agak sepi namun tetap ada pengunjung yang datang yang tentu saja dengan gaya berkelas, sosialita dan formil seperti Dior. Gracia sempat berpikir kalau nanti dia sudah bersanding dengan Dior dan menjadi Nyonya Prime, dia juga akan seperti nyonya nyonya itu. Bergaya elegan dan modis seperti mertua nya juga.
"Hihi, Nyonya Prime. Remonia Gracia Prime. Silahkan Nyonya Prime." Gumam Gracia pelan tetapi Dior mendengarnya.
"Sebentar lagi kau akan menjadi Nyonya Prime." Saut Dior tersenyum sambil terus menelusuri koridor mall tersebut mencari toko berlian langganan pamannya. Gracia sudah menutup mulutnya tersipu malu karna Dior menimpalinya.
Akhirnya Dior sampai di tempat toko berlian langganan Paman Leon nya. Sebenarnya Leon mengenal pemiliknya. Pemiliknya merupakan paman dari sahabat Leon, Ben. Tapi kini pamannya Ben sudah meninggal. Keluarga Pamannya Ben mengembangkan. Leon dan Dion sering memesan cincin di perusahaan Berlian milik pamannya Ben ini. Cincin pertunangan Lexa di pesan di sini dan dikenalkan ke Dion. Mereka jadi saling bekerja sama karna Leon dan Dion juga sering mempromosikan perhiasan berlian original dengan kualitas yang bagus ini.
"Silk and Lux Jewelry." gumam Gracia membaca tulisan berkilau di atas pintu masuk toko tersebut.
"Anak pemilik berlian ini bernama Silky dan Luxe, jadi nama tokonya Silk and Lux Jewelry." Dior menjelaskan sesuai yang pernah diceritakan Leon.
"Wah, berarti dia sangat mencintai anaknya kak." Gracia bergumam menerka.
"Begitulah, ayo kita masuk!" Dior hendak menarik tangan Gracia namun Gracia menahannya. dia masih tidak tahu maksud kekasihnya. atau Dior hendak membeli berlian untuk ibunya. begitulah pemikiran polos Gracia.
"Sebentar lagi kita akan tahu!" Dior pun menarik tangan Gracia menuju ke counter berlian khusus pembutan cincin. Dan ada beberapa counter lainnya seperti counter kalung dan gelang.
Seketika jantung Gracia berdebar seperti di mobil. Dia merasa akan ada yang hendak Kekasihnya rencanakan untuknya. Dia tak bisa berkata kata melihat betapa indahnya semua cincin yang bertebaran di depan matanya. Di dalam etalase itu semua berkilau dan cantik. Sampai sampai Gracia melihat jari jemarinya. Apakah dia pantas mengenakannya. Dia memang telah menggunakan dua cincin di tangannya. Semua pemberian Dior namun semua masih terlihat kecil karna Dior memang tidak suka ynag terlalu wah. Gracia meneguk salivanya ketika si pegawai memperlihatkan satu cincin bermata berlian putih yang benar benar berkilauan.
"Apa kau menyukai cincin ini, Nona? Sejak tadi matamu berbinar seperti Kilauan berlian ini, sangat cocok untuk mu. Percis seperti mata indahmu." Kata si pegawai mengulurkan cincin tersebut namun ketika Gracia hendak meraihnya lagi lagi dia kurang percaya diri dan mengurungkan niatnya.
"Em maaf, aku hanya menemani kekasihku ke sini. Cincin ini terlalu indah untukku." Saut Gracia sopan. Dia menundukan kepalanya dan tersenyum.
Dior mengerti bahwa Gracia belum paham maksudnya. Dia lalu mendekati Gracia dan merangkulnya.
"Apa kau suka jika cincin tersebut menjadi cincin pernikahan kita sayang?" Tanya Dior membuat Gracia membuka matanya. Dia menoleh perlahanan ke arah kekasihnya.
"Cincin apa katamu?" Gracia memastikan.
"Pernikahan. Aku akan menikahimu enam bulan lagi. Ketika kelulusan semester empat mu. Bagaimana? Kau mau kan?" Dior memperjelas dengan terus tersenyum.
"Kau serius kak?" Gracia memegang tangan Dior. dia benar benar takut kalau benar Dior menikahinya karna sebenarnya ini kemauannya.
"Ya, aku ingin kau segera menjadi istriku maka aku akan berhak sepenuhnya akanmu, apa yang kau inginkan hanya boleh aku yang memenuhi, bagaimana?" tambah Dior yang kini berganti dia yang memegang tangan Gracia.
"Kakak, aku, aku, ini kenyataan? Kita akan segera menikah?" Gracia memastikan lagi dengan terbata.
Dior mengangguk pelan dan tersenyum. Sang pegawai di sana juga ikut tersenyum merasakan aura aura cinta yang malah memenuhi seluruh toko berlian ini.
Dior dan Gracia saling berpandangan.
"Bagaimana Gracia? Kau mau kan? Aku sudah mempunyai rencana besar akanmu, tapi sekarang sebaiknya kau pilih cincin berlian kita atau aunty Vien mu akan memarahiku kalau tidak menuruti perintahnya." sekali lagi, kata kata Dior membuat Gracia semakin terkejut. karna setau dirinya, Viena dan Dion ingin dirinya sekolah terlebih dahulu.
"Aunty Vien? Beliau yang menyuruhmu membawaku ke sini?" Gracia terus memastikan karna ini sangat mendadak.
"Iya sayangg ..." Dior sangat merasa Gracia begitu menggemaskan. Dia memegang kedua pipi Gracia dan akhirnya mengecup keningnya.
"Kak, aku seperti sedang bermimpi!! Aku tidak terlalu berharap kau akan melakukan ini Karna kau pernah berkata untukku menikmati masa kuliah ku jadi aku tidak pernah mau mengharapkannya. Padahal aku ingin. Setiap hari Paman Marcel dan Bibi Pammy selalu menanyakannya. Mereka agak takut kau tidak jadi menikahiku. Mereka sudah sangat menyetujui kita kak. dan sepertinya walau mereka mendukung karirku namun sebenarnya mereka tidak rela berjauhan denganku, apalagi Daddy! jadi aku memang hanya berharap denganmu. aku yakin kau akan menyelesaikan masalahku kak. hanya kau harapanku kak, maafkan aku." Tutur Gracia mengungkapkan apa isi hati kecilnya.
__ADS_1
"Aku mengerti sayang. Maka dari itu. Pilihlah cincin di sini yang kau suka dan cocok untukku. Aku mau kau yang memilihnya!" balas Dior mencubit pelan pipi Gracia memastikan lagi dan lagi.
Gracia mengangguk. Dia sudah sangat yakin. Memang ini yang ia doakan sepanjang malam ini Karna semakin hari dirinya seperti tidak bisa jauh dari Dior. Setiap malam ingin selalu berada dalam pelukannya dan merasa kalau dirinya sudah bersama kekasihnya ini semua yang ada akan terasa mudah.
"Aku yang ini saja kak." Gracia menunjuk sebuah cincin yang sejak awal menjadi pusat perhatiannya. Sebuah cincin berbahan logam perak silver dan bermata berlian putih yang ditunjukan oleh sang pegawai.
"Dan untukmu yang ini." Kata Gracia lagi memperlihatkan cinci pria berbahan perak juga dengan mata berlian yang sangat kecil lebih kecil dari milik Gracia.
"Simple and fabolous! I like it sayang! Em tolong di dalam cincin nya diukir penggabungan nama kami ya?" pinta Dior pada sang pegawai yang melayani mereka berdua.
"Siapa namanya Tuan?"
"Gracior." Jawab Dior. Gracia lagi lagi menoleh dengan wajah memerah menatap pujaan hatinya itu. Bisa bisanya kekasihnya sudah memikirkan singkatan nama mereka.
"Silahkan dituliskan di sini agar tidak terjadi kesalahan Tuan." Pinta sang pegawai.
Dior pun menuliskan dengan rinci namanya GRACIOR.
"Gracior? Gracia Dior kak?" Gracia memastikan dengan wajah tersipu.
"Kau memang kekasihku yang pintar! penggabungan Singkatan nama kita dicincin ini mengartikan kalau kita sudah menjadi satu dan tak terpisahkan ." tambah Dior mengenai nama singkatan yang ia buat.
Gracia hanya bisa memeluk kekasihnya itu. Semua pegawai yang ada di sana merasa tersentuh menyaksikan kemesraan Dior dan Gracia yang begitu dekat dan memiliki chemistry yang sangat kuat.
"Aku seperti sedang menonton sebuah film romantis." Pekik seorang pegawai yang cukup terdengar oleh Gracia dan Dior sehingga mereka hanya bisa tersenyum kecil sambil menempelkan dahi mereka.
...
...
...
...
...
Jeda dlu gaes dah kepanjangan 😁😁
Vii nya ke bablasan berasa eke yang di ajak ke toko berlian gaes sama suami eke, aku juga punya Dior tapi ga pake r 😂😅
.
Next part 30
Fix mo ngurus gaun, undangan, seragam, dekorasi, gedung..
Kira kira di Adain di mana hayoo pernikahannya? Dengan sejuta otak romantis Dior atau keinginan Gracia? Hehe
Tp sepertinya akan ada kejadian yang menunda malam pertama nya Gracia n Dior Nii? Yang inget pasti tahu hehe ..
Em ketua panitia siapa nii? Viena apa Pammy? 😁😁
btw, semua yang baca part ini Uda dapet undangan GRACIOR yeah? wkwkwkk
.
rekomen Novel penuh misteri dan teka teki akan cinta dan kehidupan dari seorang consultant design dan seorang CEO . mampir ya dengan judul:
---- LOVE & HURT ----
karyaku berkolaborasi dengan seorang wanita dewasa yang kece badas 😍😍
.
Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤
__ADS_1