Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - EZEKHIEL & ZEFANYA PART 27


__ADS_3

Apa yang baru setiap hari ketika mata kita terbuka? Bagi Ezekhiel dan Zefanya, hal baru mereka adalah merasakan cinta yang semakin lama makin bertumbuh. Makin berkembang layaknya bunga yang bermekaran. Sekalipun gugur rasanya mereka akan menopang satu sama lain, entah menjadi batang atau daun. Sampai mereka terus bertahan, mereka mendapatkan apa yang tidak pernah terbayangkan. Betapa mereka berdua sangat beruntung dan merasakan keadilan Tuhan nyata bagi mereka. Apa yang mereka rasakan dan dapatkan selama kehamilan ini? Sesuatu yang tidak disangka, membuat mereka berdua makin tenggelam dalam cinta dan kemesraan.


...


"Nyonya, kita hanya makan malam kan? Mengapa kau membelikanku gaun?" Selidik Rosie menyesuaikan beberapa gaun yang menjadi pilihannya dan Zefanya.


"Bukan aku yang membelikan, aku hanya sedang menjalankan misi," saut Zefanya memainkan ponselnya mengecek email yang masuk. Tiga hari belakangan ini Zefanya tidak ke kantor.


"Jadi siapa? Mana mungkin Theo, uangnya habis untuk membantu acara pernikahan adiknya. Dia sangat mencintai adiknya dan mau membantunya, dia sangat baik," tanya Rosie lagi yang sebenarnya berharap Theo yang membelikannya.


"Oleh sebab itu kau mencintainya kan?"


"Haha, begitulah. Baru kali ini aku menemui pria sederhana dan apa adanya seperti Theo, like me," jawab Rosie bangga.


"Jadi, gaun yang mana yang akan kau pilih, Rosie?" tanya Zefanya sudah mengetahui isi isi email tersebut.


"Coklat muda atau merah muda?" Rosie meminta saran dengan menunjukan dua buah gaun dengan warna yang berbeda.


"Coklat muda,"


"Perfect! Aku suka ini nyonya!"


"Baiklah, bayarlah, ini kartu nya," kata Zefanya menyodorkan sebuah kartu berwarna biru Dongker.


Seketika Rosie mendelikan alisnya. Dia seperti mengenal kartu biru dongker itu. Beberapa kali seorang pria mengeluarkannya untuk membayar makan siang atau makan malam mereka. Memang bukan kartu hitam platinum di atasnya tapi dia sangat tahu kartu itu. Ya, Theo yang sering mengeluarkannya.


"Punya siapa ini nyonya? Bukankah punyamu gold atau hitam?" selidik Rosie.


"Kau baca saja sendiri, ada namanya, cepatlah Rosie, kita masih harus membeli oat cookies, aku ingin yang hangat, jangan sampai terlambat! Toko kue kakak sepupuku itu tidak memanggang banyak!" kata Zefanya sudah beranjak dari sofa butik itu dan berjalan perlahan ke luar butik.


"Ok ok, nyonya," saut Rosie meraih kartu tersebut dari Zefanya. Dan benar di sana tertulis Matheo. Jantung Rosie berdegup tak karuan. Apa maksud ini semua? Namun, ketika dia hendak bertanya pada nyonya nya, Zefanya telah menghambur keluar butik gaun langganannya itu.


Sebenarnya Rosie enggan menggunakan uang Theo. Dia sangat paham kondisi keuangan pria itu. Dengan ibunya dan satu adiknya. Ibunya sakit sakitan walau masih bisa berjalan dan mengurus rumah kecilnya. Ibunya dibantu oleh seorang suster yang Theo sewa. Sesekali Rosie ikut kesana menginap beberapa hari.


Tapi melihat harga gaun yang ia inginkan cukup menguras setengah gajinya, sementara dia juga sedang mengumpulkan pundi pundi untuk pernikahan mereka. Theo tidak tahu kalau Rosie juga ingin menikah dengannya. Entah kapan, yang terpenting Rosie sudah menabung dan membantu pria nya itu. Akhirnya Rosie terpaksa menggunakan kartu itu. Dia tidak tahu apa maksud semua ini tapi dia jalankan saja dulu, nanti juga akan tahu apa yang akan terjadi.


Rosie menghampiri nyonya nya setelah menyelesaikan pembayaran gaun coklat muda berbahan sifon itu dan beberapa untaian mutiara itu.


"Sudah selesai?" selidik Zefanya setengah menoleh ke arah Rosie yang di belakangnya.


"Sudah, mengapa Theo yang membayar?" tanya Rosie ingin sekali tahu.


"Aku tidak tahu, sekali lagi aku hanya menjalankan perintah! Sekarang ayo ke toko kue setelah itu kita ke kantor pusat Dimitri, aku merindukan suamiku!"


"Oh my! Bukankah kita kemari diantar tuan Ezekhiel, mengapa kau tiba tiba merindukannya?" tanya Rosie memicingkan matanya.


"Entah, mungkin karena anak anakku," saut Zefanya asal.


"Membelot!"


"Cih, kata kata dari mana itu?"


"Hehe, beberapa hari ini aku dan Theo sering menonton bioskop film action misteri,"


"Enak ya, kau bisa menonton bioskop,"


"Jelas! Terakhir aku menonton film seorang pengacara menyelamatkan kekasihnya dari tangan mafia! Judulnya one and only! Kapan kapan aku akan menunjukan filmnya padamu, kau pasti menyukainya, nyonya," kata Rosie begitu antusias dengan film beberapa hari lalu ia tonton.


"Pengacara? Seperti pernah mendengar kisah ini," Zefanya menggumam memijat dagunya.


"Sudah ayo, nanti aku tunjukan,"


"Kau ini kadang aneh aneh dengan Theo,"


"Itulah keunikan kami!"


Rosie menggandeng lengan nyonya nya menuju toko kue cabang milik Wilson Jovanca di pusat perbelanjaan besar itu. Setelah itu, mereka bertolak ke kantor pusat Dimitri untuk menemui Ezekhiel. Tampak Rosie celingukan seperti mencari seseorang.


"Sweetheart, mengapa kau kemari?" Tanya Ezekhiel menyambut istrinya. Zefanya beranjak dan memeluk suaminya itu.


"Entah mengapa aku merindukanmu," kata Zefanya dengan manjanya.


"Apa hari ini kau muntah?" tanya Ezekhiel memastikan.


"Ya, satu kali ketika sampai di plaza," jawab Zefanya dengan wajah memelas tapi Ezekhiel malah mengelus pipinya.


"Kau merepotkan Rosie?"


"Biar saja, ini demi asistenmu kan?


"Benar," saut Ezekhiel mengelus punggung istrinya dan menoleh ke arah Rosie yang masih duduk.


"Rosie, kau mencari Theo?" selidik Ezekhiel.

__ADS_1


"Ah tidak," jawab Rosie tersipu malu.


"Katakan saja, kau ini sudah berpacaran satu bulan tapi seperti baru berpacaran kemarin," sela Zefanya.


"Tidak nyonya, aku hanya memperhatikan ruangan ini yang sangat cantik,"


"Membelot!"


"Nyonya!"


Zefanya terkekeh membuat Ezekhiel bingung dan tidak mau memaksa Rosie yang sebenarnya mencari Theo. Hari ini jelas Theo tidak masuk. Dia mempersiapkan acara nanti malam untuk melamar Rosie menjadi tunangannya dan menyiapkan pernikahan bersama lalu beberapa bulan kemudian atau akhir tahun, dia akan menikahi wanita sekretaris Zefanya itu.


Sekitar satu jam dan setelah makan siang, Rosie ijin pulang terlebih dulu karena mau membereskan apartemennya agar bisa pergi malam nanti. Zefanya menyetujuinya. Ini hari Sabtu jadi tidak ada tugas kantor. Sedangkan Ezekhiel terpaksa masuk ke kantor karena ada pertemuan pemilik saham terbesar di Legacy. Tentu Dior juga ada di sana dan mengajak Gracia agar tidak bosan di rumah.


"Zefanya!" Panggil Gracia memasuki ruangan Ezekhiel bersama Dior tentu saja. Zefanya menoleh dan senang sekali bertemu Gracia di sini karena masih sulitnya Zefanya menyesuaikan kondisinya saat ini.


"Gracia, akhirnya aku melihatmu," sambut Zefanya dan mereka berpelukan.


"Begitu juga denganku. Hem, sepertinya kau tampak lebih besar ketimbang diriku, Anya, padahal usia kandungan kita sama kan?" kata Gracia menerka memperhatikan bentuk tubuh Zefanya.


"Entahlah, usia kandunganku jalan 4 bulan Gracia," saut Zefanya juga memperhatikan tubuhnya yang memang agak melebar.


"Sama sepertiku, Minggu depan aku tepat 4 bulan, tapi mengapa perutmu lebih membusung ke depan. Lihat punyaku, biasa saja kan?" kata Gracia menunjukan perutnya yang belum begitu membuncit.


"Mungkin karena aku pertama kali mengandung, Gracie, mungkin, aku juga tidak paham," gumam Zefanya tidak mau terlalu banyak mengharapkan dan memusingkan apa apa.


"Ah bisa jadi, tapi waktu aku hamil Darren tidak sebesar ini. Jangan jangan kau akan memiliki anak kembar Zefanya? Kau dan Zhavia kan kembar sedangkan Zhavia hanya melahirkan Lil Zen, mungkin saja menurun padamu," saut Gracia lagi lagi menerka.


"Semua di luar kuasaku Gracia. Mudah mudahan saja," Zefanya tersenyum tipis.


"Ya, aku berdoa untuk anak anak ku ini! Kalau kau benar mengandung anak kembar, Tuhan begitu baik padamu Anya ku karena sudah berapa lama kau dan Tuan Ezekhiel menunggu? Hampir 4 tahun kalian menunggu yang seharusnya kau sudah memiliki dua anak sepertiku,"


Seketika hati Zefanya berdesir. Sungguh kekuatan doa tiada taranya. Kata kata Gracia membuat dirinya terharu. Ternyata sangat panjang perjuangannya. Semua ketakutan, harapan, ketidak pastian sudah ia rasakan dan beginilah hasil dari semuanya. Zefanya tersenyum dan menunduk.


"Anya, mengapa kau bersedih?" Selidiki Gracia memegang leher belakang Zefanya. Mereka memang duduk berhadapan di sofa panjang itu.


"Aku terharu Gracia. Terimakasih atas dukungan mu juga, tidak usah dua yang Tuhan berikan Gracie, satu saja aku sudah sangat bersyukur dan bersuka cita," tutur Zefanya mengusap matanya.


"Benar, aku mengerti apa yang kau rasakan. Kau juga tahu bagaimana perjuangan dan drama yang kulalui dengan kakakmu kan?" gumam Gracia tersenyum.


Zefanya mengangguk lalu memeluk Gracia. Setiap orang memang memiliki masalah dan kesulitannya sendiri. Hanya saja bagaimana mereka memaknai dan menghadapinya.


...


Dia juga mencari cari keberadaan bosnya juga Vegra dan Fernand. Katanya mereka berdua juga disuruh hadir. Zefanya berdalih kalau ini merupakan acara makan malam syukuran atas kehamilannya tapi entah mengapa dia mencurigai sesuatu yang akan dilakukan Theo untuknya. Sudah dua hari mereka tidak bertemu.


Tak lama kemudian, muncul Carlos bersama seorang wanita paruh baya yang sangat Rosie kenal. Itu Eklesia. Ibu kandung Theo. Tampak Eklesia menggandeng lengan Carlos. Dengar dengar Carlos memang selalu menemani wanita paruh baya itu beberapa Minggu ini. Itulah mengapa Carlos begitu dekat dengan Theo.


Jantung Rosie mulai berdebar dan lebih mencengangkan lagi muncul kerabat kerabat Theo yang sedikit banyak ia kenal.


"Ada apa dengan semua ini? Apa aku harus masuk? Atau menghubungi Nyonya Zefanya?" Gumamnya hendak meraih ponsel dalam tas pestanya.


"Rosie! Mengapa masih di sini? Ayo masuk!" Kata Vegra tiba tiba sudah datang bersama Fernand. Vegra juga begitu rapi bersama Fernand yang mengenakan jas lengkap casual.


"Kalian sudah berpacaran ya? Serasi sekali," selidik Rosie memicingkan matanya.


"Tentu! Memang kau saja dengan Theo! Ayo masuk!" Balas Vegra menggandeng lengan Rosie untuk masuk dan Fernand mengikuti mereka.


Vegra malah menggiring Rosie duduk di antara Eklesia dan Jodie, adik perempuan dari Theo.


"Rosie, hari ini kau cantik sekali!" puji Eklesia dan Rosie membungkukan kepalanya memberi hormat.


"Benar kak Rose! Aku senang, kau akan menjadi kakak iparku," ujar Jodie menggandeng lengan Rosie.


"Ipar? Maksudmu?" tanya Rosie sedikit heran.


"Nanti kau akan tahu!"


Rosie hanya bisa tersenyum dan dia bertanya mengenai Zefanya pada Carlos. Carlos mengatakan kalau dia akan datang sebentar lagi bersama Ezekhiel tentunya.


Dan akhirnya tiba. Zefanya datang bersama Ezekhiel dan di depannya ada Theo. Rosie melihat Theo dan meneguk salivanya. Theo mengenakan tuxedo serta jas lengkap dan dia begitu menawan. Rosie gelagapan dan wajahnya memerah. Apa maksud semua ini, bukankah ini acara Zefanya, pikirnya.


"Apa anakku tampan, Rose?" Tutur Eklesia menyentuh lengan Rosie.


"Sangat bibi, eh maksudku iya bibi, tentu anakmu tampan karena memiliki ibu cantik sepertimu," kata Rosie salah tingkah.


"Em, aku ingin mulai sekarang kau memanggilku mommy, Rosie! Aku sudah menunggu lama untuk wanita pilihan anak tertuaku itu," pinta Eklesia dan Rosie makin bingung juga jantungnya berdegup tak karuan. seperti akan terjadi sesuatu yang tidak ia sangka sangka.


"Apa? Bibi? Apa maksudmu?" tanya Rosie lagi.


"Menolehlah!" Kata Eklesia lagi mengarahkan Rosie berbalik dan menatap Theo yang sudah ada di belakangnya.


"Rosie, mau kah kau menjadi tunanganku?" Tanya Theo berlutut di hadapan Rosie. Tentu saja Zefanya berdesir juga Vegra sambil tersenyum memegang lengan pasangan mereka dan semua tamu melihat keromantisan itu.

__ADS_1


Rosie menutup mulutnya tak percaya hari ini Theo mengajaknya bertunangan. Sebenarnya dua Minggu yang lalu Theo mengatakan mengenai pertunangan, pernikahan, tapi Rosie sama sekali tidak berharap walau dia sangat ingin. Ternyata sekarang, Theo benar benar melakukannya..


"Rosie, kau mencintaiku kan? Kita akan rajut perkenalan kita dalam bahtera pertunangan dan rumah tangga nantinya, apa kau menerimaku?" Tanya Theo lagi masih berlutut dan menyodorkan cincin emas berkilau dengan satu mata berlian yang berkilau.


"Rosie, cepat jawab, kau berlebihan sekali, ini yang kau harapkan kan!" saut Zefanya merasa gemas dengan sekretaris nya itu.


"Aaahh, Nyonya Zefanya, tidak bisakah aku menikmati momen romantis ini?"


Ezekhiel dan Zefanya terkekeh. Rosie pernah bercerita pada Zefanya tentang sesuatu yang ia impikan. Restoran mewah, gaun sederhana tapi cantik, seorang pangeran yang adalah kekasihnya. Sekarang sudah terwujud.


Rosie tak bisa menahan untuk tidak memeluk Theo dari kursinya. Dia memeluk Theo dan mengangguk angguk. Semua tamu bertepuk tangan. Theo pun menarik diri dan beranjak bersama Rosie. Dia memasangkan cincin itu pada jari manis kekasihnya.


"Selanjutnya, mari kita persiapkan pernikahan kita," kata Theo lagi merangkul Rosie yang masih memandangi cincinnya.


Rosie mengangguk. Ternyata Theo bisa seromantis ini.


Mereka pun makan malam bersama. Semua meja dijadikan satu seperti makan malam ala kerajaan. Namun, sebuah insiden terjadi, ketika Zefanya ingin sekali memakan manisan mangga yang ada. Manisan mangga itu kesukaan Rosie dan Jodie, adiknya Theo, jadi Theo mengadakan menu tersebut.


Ezekhiel hanya mengira itu hanya buah tetapi tidak tahu kalau mangga itu ternyata mangga muda yang cukup asam dan dibalur dengan saus pedas manis. Awalnya Zefanya memakan baik baik saja, tapi lama kelamaan perut atasnya melilit dan perut bawahnya keram. Kepalanya juga pusing dan saat itu juga dia terkulai lemas tak sadarkan diri pada pundak Ezekhiel. Ezekhiel tentu panik dan semua yang ada di situ. Dengan cepat Theo menyiapkan mobil dan Ezekhiel menggendong Zefanya menuju ke basement.


"Oh God! Mangga ini sangat asam, Rosie! Pasti nyonya Zefanya mengalami kontraksi palsu!" pekik Eklesia mengingat juga pernah mengalami hal ini.


"Tapi usia kandungannya baru menginjak 4 bulan mom!" tutur Rosie tidak yakin akan kontraksi palsu itu.


"Sudah kau temani mereka sana!"


"Benar nona Rosie, tolong temani tuan Ezekhiel dan Theo," tambah Carlos memohon juga mencemaskan anak angkat dan menantunya itu.


"Ba ba baiklah,"


Rosie ikut bersama Theo menemani Ezekhiel yang memangku istrinya di mobil.


"Zefanya, ada apa denganmu sayang? Oh God, jaga dan lindungi anak istriku!" tutur Ezekhiel sambil mengecupi kening Zefanya.


"Tenang tuan, nyonya pasti kuat!" kata Rosie juga sangat cemas.


"Cepat Theo!"


"Iya tuan!"


Theo melajukan mobilnya terus ke rumah sakit pusat kota Legacy. Rosie berinisiatif menghubungi Dokter Lilian untuk datang ke rumah sakit pusat kota Legacy untuk pertolongan pertama.


"Anya, bangun Anya! Sayang, bertahanlah!" Tutur Ezekhiel memegang tangan dan juga mengelus perut Zefanya.


Mereka pun sampai dan Zefanya langsung di larikan ke ruangan khusus dokter spesialis kandungan. Ternyata Dokter Lilian memang sedang ada urusan di pusat kota Legacy, jadi dia segera yang mengambil tindakan.


Ezekhiel ikut masuk ke dalam sementara Rosie dan Theo menunggu di luar. Dokter Lilian memeriksa nadi Zefanya yang memang lemah juga tubuhnya lagi lagi menghangat sebelum dokter Lilian melihat hasil USG. Dokter Lilian berjaga jaga sehingga dia menyuruh perawat menyuntikan obat anti kontraksi. Setelah itu dia berusaha membuat Zefanya sadar untuk memeriksa kandungannya menggunakan alat USG. Ezekhiel juga membantunya.


Akhirnya setelah beberapa menit kemudian Zefanya tersadar.


"Nyonya Zefanya, kau mendengarku?" Tanya dokter Lilian. Zefanya mengangguk lemah.


"Ada apa denganmu sayang?" Tanya Ezekhiel menggenggam tangan Zefanya dengan erat.


"Perutku sakit setelah memakan mangga itu, Eze," jawab Zefanya masih dengan nada lemah dan memegang perutnya.


"Mangga?" Selidik Dokter Lilian


"Benar dok, aku pikir itu tidak masalah tapi aku tidak tahu mungkin mangga itu asam atau belum matang," kata Ezekhiel menjelaskan tidak sepenuhnya salah Zefanya. Dia juga yang tidak memperhatikan apa yang dimakan istrinya.


"Ah bisa saja mangga itu asam jadi kandunganmu tidak menerima. Bukankah aku pernah mengatakan jangan memakan makanan yang terlalu asam, pedas dan dingin karena bisa memicu kontraksi untuk kandungan lemah seperti ini," kata Dokter Lilian mengingatkan.


"Maafkan aku Dokter Lilian,"


"Kau harus meminta maaf pada anak anakmu!" kata Dokter Lilian dengan tegas.


Seketika Ezekhiel bergetar mendengar Dokter Lilian mengatakan anak anaknya.


"Apa maksudmu anak anak, dok?" tanya Ezekhiel.


"Entahlah, aku curiga kalau kalian akan memiliki dua anak. Baiklah, mari kita periksa,"


Dokter Lilian mulai memeriksa perut Zefanya menggunakan alat USG. Benar dugaannya.


"Selamat Nyonya Zefanya dan Tuan Ezekhiel. Dugaanku benar, kalian akan memiliki anak kembar. Gumpalan di sebelah janin yang mulai terlihat detak jantungnya juga berdetak seirama dengan saudaranya," tutur Dokter Lilian dan terjatuh lah air mata Zefanya.


...


Sekali dua Anya, mantab!! Top score 😍😍


Jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊


Thanks for read and i love you 💕

__ADS_1


__ADS_2