
"Jangan kasih peluang untuk kakak gue, karna dia bakalan minta harapan lebih."
"Maksudnya?"
"Cowok itu kalau dikasih peluang maka dia akan berharap, tapi kalau cewek tutup harapan itu maka ia tidak akan pernah masuk dalam ruang cewek itu sendiri."
"Apaan sih gak paham."
"Lo gak bakalan paham karna ini cuma cowok yang mengerti!"
Lalu,
Rival melihat Franda begitu cantik dan seperti biasanya, perlahan ia menurunkan rasa ego yang ia simpan selama ini bahkan semua gengsi yang menjadi sebuah cover hidupnya. Tapi tetap saja ia cemburu kalau melihat Roy dan Franda berduaan. Ya cowok pencemburu ini sulit untuk berubah. "Kenapa liatin gitu terus?"
"Gak papa cantik aja."
"Oh." Perasaan apa ini, ia terus saja mengaduk sampai adukkan keberapa kalinya. Rival memandangi tanpa beban, terus dan terus.
"Hahaha coba liat deh mil, cewek itu.." Menunjuk kearah Franda. Tepat sekali jarak mereka juga tidak terlalu jauh.
"Hahah cantik lo kemana-mana lus."
"Ya jelas dong!" Sombongnya mengibaskan rambutnya kebelakang.
"Udah deh gak suka sok, kecantikan segala lo pikir lo cantik hah?" Bisik Lusi lagi namun langsung terdengar gitu aja oleh Rival. Ia pun bergegas untuk menghampiri Lusi dan berdiri dihadapannya.
"Eh val, ngapain."
"Maksud lo apa tadi ngomong kayak gitu? Lo pikir lo siapa? Udah ngerasa sempurna hah?" Suara Rival seakan meninggi dan hampir semua langsung tersorot gitu aja melihat mereka.
"Apa sih val." Tampiknya.
Namun Rival menyunggingkan alisnya dan tangan didalam kantung celana. "Gue gak budek dan pendengaran gue masih bagus. Kalau sekali lagi sampai ketahuan, lo bakalan berhadapan langsung sama gue." Lalu Rival pergi menarik Franda untuk keluar dari kantin.
Sedangkan Milka hanya bisa melongo dan shock sekali, Segitunya Rival bersikap. Ia melihat ada sesuatu yang membuat itu semua terjadi.
Ya rasa yang begitu besar.
__ADS_1
Dan kini Lusi hanya bisa diam dan matanya datar kedepan. "Udah ya lus, lo harus sabar."
"Sabar dari mana? Gue udah dibikin malu sama Rival, dan awas aja gue bakalan balas dendam itu semua." Ucapnya yang tidak terima.
"Apa lo semua."
"Huhuhuhu...."
Rival menarik tangan Franda dengn begitu kencang hingga terbirit-birit mengikuti langkah Rival yang cepat. "Eh tunggu dulu."
"Pelan-pelan."
"Gue gak suka banget kalau dia jelekin lo dia pikir dia cantik? Sempurna?" Kesal Rival yang tidak kunjung henti. Ia tau kalau Franda tidak akan marah tentang masalah tadi namun tidak berlalu untuk Rival.
"Kenapa?"
"Lo bilang kenapa?" Franda menunduk dan bingung.
"Nih orang kenapa sih gitu banget deh perasaan hahaha." Gumam Franda yang diam-diam ketawa sendiri melihat sikap Rival seperti itu.
"Kenapa?"
"Tangannya cuy, masih aja gandengan." Sambar Rudy dan sontak membuat yang lain juga pada ketawa.
Perlahan Rival melepas dan meninggalkan Franda berdiri ditempat yang sama. "Lah mau kemana lo val?"
"Kepo lo!"
Setelah Rival pergi ia penasaran dengan apa yang terjadi."Emang ada apa sih marah mulu perasaan."
"Lusi."
"Lusi? Kenapa?"
"Ya gitu deh bert." Franda tidak mau memperpanjang masalah, tidak semua yang terjadi harus diketahui oleh orang lain.
***
__ADS_1
Akhirnya pulang juga setelah seharian disibukkan dengan pelajaran-pelajaran yang melelahkan itu. Lusi sengaja menunggu Rival dan Franda pergi dulu, ia masih belum berani untuk keluar dari kelas. Melihat Rival dan Franda dekat ia masih belum bisa menerima itu semua apalagi ketika ucapan Rival yang menyakitkan itu membuatnya semakin tidak gentar dalam menyerah apalagi ketika itu semua mengetahui dan melihat langsung.
Tangannya mengepal dan sorot matanya melihat kearah Rival yang merangkul Franda. "Cinta tuh gak perlu dipaksa cuy, cinta kok maksa!" Cerry mulai berani mengucapkan hal itu karna ia sudah mudah muak dengan sikap Lusi yang semakin menjadi.
Awalnya Milka ingin maju tapi Lusi menahannya segera. "Udah."
"Tumben lo nahan gue, biasanya lain berontak!"
"Bukan saatnya kita lakukan nanti!"
...•••...
Kini mereka sudah diruang tamu mengobrol ringan antar anggota keluarga. Apalagi ketika Tiffany ingin bertunangan dengan pacarnya yaitu Hito.
Memang mereka masih berstatus pelajar namun mereka sudah mengidamkan keluarga kecil mereka. Lucu gak sih? Gak juga karna semua itu tergantung dari pilihan dan konsekuensi masing-masing dalam memilihnya.
"Eh, tif lo yakin bakalan adain tunangan Hito? Hahaha gak salah denger gue anak kemarin sore juga lo." Keplak Rival yang sambil tidak percaya dengan ucapan Tiffany yang meminta izin ke papah terutama. Tiffany terus saja berdialog dengan papahnya dan Rival masih belum mempercayai itu semua.
"Eh, val mending kamu juga lakuin hal yang sama juga sama kayak Tiffany, kan udah ada pacar juga kan?" Papah kali ini lebih kontra ke Tiffany, karna ia merasa dibela Tiffany kali ini menang dan menjulurkan lidahnya.
"Eee, Rival pengen sukses dulu keknya pah. Emang beneran lo bakalan tunangan sama Hito kan lo berdua belum lulus kan? Aneh banget deh."
"Gue juga pengen ngomong doang sih pas udah lulus gue pengen nikah muda val, gue sama Hito udah saling yakin satu sama lain. Gak kayak lo yang cuma marah-marah gak jelas terus aja gitu hahaha."
"Sok tua lo." Karna kesal Rival pun pergi aja dan meninggalkan obrolan mereka berdua yang udah gak asik lagi.
Keduanya hanya bisa cekikikan satu sama lain, melihat sikap lucu Rival yang kadang suka mengemaskan. "Ah ah bilang aja dia iri. Oh iya pah tapi menurut papah itu beneran kan? Kayaknya Hito serius gitu ngomong."
"Kita liat aja entar, toh gak mungkin juga kalau bohong. Emang anak papah satu ini kenapa sih kebelet banget wkwk."
"Hahaha, enggak pengen nikah muda aja pah."
"Oh gitu. Ya udah deh entar kita bicarain lagi kalau gitu."
Rival memiringkan kepalanya ke meja yang menyorot keluar, malam yang begitu indah sekali terang tidak ada hujan atau awan yang menutupi malam. Bintang pun juga ikut hadir mewarnainya. Seakan ia memegang dari kejauhan. Tersenyum diam-diam,. "Gue ngerasa beda banget ya sekarang, ada yang beda setelah gue kenal tuh cewek cupu." Moodnya berubah lebih baik.
Sunyi malam..
__ADS_1
Inilah yang bisa dikatakan jatuh cinta kedua kalinya setelah dengan Rubi perempuan yang sudah menyakitinya. Memang kecemburuan tidak akan pernah ia tutupi ketika orang yang paling ia sayang malah dekat atau hanya sekedar saja sudsh membuat Rival takut akan adanya kehilangan. Maka dari itu jika ada orang yang bilang dia playboy itu salah besar karna hanya Rubi cinta pertama dam mantan pertama Rival pula. Meluangkan beberapa waktu lalu untuk memulihkan rasa itu, walau ia tau Chiko adalah sahabat Rubi dan tidak ada hubungan tapi itu yang tidak bisa membuat Rival terima kedekatan yang membuat mereka konflik, ditambah sikap Rubi yang juga berubah Banyak. Kini ia sudah mendapatkan rasa itu kembali, ya rasa untuk memiliki bahkan lebih dan lebih. Sampai-sampai kata-kata kasar sering terucap karna ia sungguh takut akan kehilangan.