Mantan Terindah

Mantan Terindah
7. Insiden


__ADS_3

"Lo kenapa sih jadi cewek itu ceroboh banget. Lo gak make mata atau apa? Mata lo di taruh dimana?" Ucap Rival yang memarahi Franda yang tidak sengaja menumpahkan minuman yang ia pegang ke bajunya Rival. Sontak Rival marah dan marah sekali.


Sorot mata menyorot kearah mereka.


"Udah val, udah gak papa lagi kan? gak usah lagi dipermasalahkan lagi. Lo gak papa kan fran?" Roy memegang bahu Franda didepan Rival.


"Lo aneh deh kak kenapa lo malah gitu sih yang salah itu Franda bukan gue." Kesal Rival.


"Gue gak nyalahin lo. Tapi lo itu kelewatan masalah baju kotor aja marah banget. Palingan di cuci juga udah bersih gak usah dibawa ribet." Tarik Roy yang menarik Rival duduk kembali di kursi. Menatap Franda seperti ingin mengintimidasi.


Roy menyuap makanan tanpa perduli dengan Rival. Rival terkadang juga bisa lebay tapi kali ini membuat Roy sedikit ikut campur, entah itu datang dari mana.


Untung saja semua tidak seramai biasanya. Kali pertama untuk Roy melihat Franda yang begitu cantik dengan rambut yang digerai panjang lalu dengan polesan sedikit.


Dari tadi ia memperhatikan Franda yang duduk disebelah sana. Seperti perempuan itu sedang mengobrol ria dengan seseorang. Tarikan senyum seakan menjadi manis wajah mungil itu. Tapi karna jarak yang lumayan jauh jadi terlihat samar - samar entah itu laki-laki atau seorang perempuan.


"Kak hari ini gue bosan banget di rumah jalan yuk. Main games kek atau apa kek." Ajak Rival mengaduk-ngaduk minuman dingin dengan sedotan.


"Gue juga rada bad mood. Tiffany juga   nonton drama mulu. Nangis pula cengeng banget jadi cewek. Ya udah mending gue main aja di luar." Ucap Rival lagi yang tidak di jawab oleh Roy.


"Iya kan?"


"Iya kan?" Roy memang mendengar ucapan Rival tapi ia tidak bisa jawab karna ia tidak terfokus dengan pertanyaan itu.


"Eh, apa lo bilang?"


"Jadi lo gak dengerin gue ngomong. Lo liatin siapa sih?" Pertanyaan itu membuat Rival kesal dan menatap kearah Roy tidak fokus.


"Siapa sih? Oh jad------"


"Tadi lo bilang bete kan? Lo mau kemana?" Roy mengalihkan wajah Rival sebelum ia mengetahui Franda masih disana dengan memegang spontan wajahnya.


"Gak liatin siapa-siapa kok." Gugup Roy yang mengubah posisinya walau dengan jantung yang gemetar.


Lantas Rival tersenyum licik "Gue tau lo liatin siapa?"


"Hah siapa?" Jantung yang sudah bergejolak tadi berubah kembali lebih kencang.


"Gebetan lo kan? Ya gue gak tau namanya tapi ya gue tau lah kak." Sahut Roy dengan tampang sok tau.


"Lain kali lo gak usah gitu lah sama Franda val kasihan dia."


"Aduh kok malah bahas ituan lagi. Ah bikin mood turun aja."


"Gak mak------" Rival berdiri lalu meninggalkan Roy begitu saja disana. Roy menggelengkan kepalanya yang heran dengan keras kepala Rival.


Kali ini Roy dan Franda menatap satu sama lain. Dengan sedikit senyuman ringan dan penuh arti tersembunyi. Jantung keduanya bergetar begitu saja dan ditambah lagi senyuman terlama mereka. Franda membuang kearah lain.


"Kenapa lo senyum gitu fran."


"Eh gak, gak papa kok." Meminum minuman yang ada dihadapannya adalah hal untuk menghindari ucapan itu.


"Kalau lagi suka sama orang bilang aja kali fran. Gue bisa dipercaya kok. Ngomong-ngomong menurut lo ganteng mana Rival atau kak Roy?"


"Kan mereka kakak adik kan? Sama aja sih cuma beda sifat doang."


"Kalau gue suka sama cowok bad boy gitu. Apalagi pas Rival nolongin lo di perpus waktu itu auranya keluar banget."


"Hem."


"Serius fran gue gak bohong, Rival tuh emang rada bad boy sih tapi ketimbang Rudy? Gimana? Gombal mulu dia dasar playboy kan? Mending Rival lah kemana-mana."


Franda mendekat sedikit "Jadi lo suka sama Rival?"


Sontak Cerry terdiam "Gak juga." Menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.


...•••...

__ADS_1


Rival masih saja mengomel selama di rumah dengan kejadian tadi. Ia masih tidak terima dengan Franda yang entah itu sengaja atau tidak sengaja sama sekali.


"Lo itu cewek atau cowok sih val? Marah mulu." Roy yang heran dengan Rival yang mengomel terus dan sampai sekarang tetap saja.


"Dia kenapa kak?" Bisik Tiffany yang tidak heran lagi ekspresi Rival kalau lagi marah atau lagi bete.


"Biasa tiff lagi dapet kali." Jawaban Roy semakin membuat Tiffany bingung.


Ia memikirkan dan mencerna apa yang diucap oleh Roy.


"Hah? Dapat apa saudara kembar gue gak salah nih ngomong gini." Batin Tiffany melirik kearah Roy.


"Mamah mana kok gak keliatan?"


"Ada lagi bikin kue di rumah bu Santi biasa lagi promo panci murah gitu. Namanya juga ibu-ibu kak."


"Ah iya sih. Di dapur ada makanan gak gue laper nih."


Tiffany mengkerutkan bibirnya lalu menyahut ringan "Iya, ada disono deket lemari. Tapi yang toples hitam jangan di makan ya itu punya gue."


"Hm, gue gak makan. Eh tapi gak tau deh kalau khilaf. Hahaha." Usil Roy mencolek Tiffany yang langsung melotot tajam mendengar hal itu.


Roy membuka tudung yang ada diatas meja lalu ia menarik kursi yang terpampang disana.


"Huuuu enak banget." Lahapan yang tidak pernah henti ketika makanan masakan sang ibu yang paling the best.


"Sumpah tadi Franda kok bisa beda gitu ya. Cantik juga ternyata. Tapi gue belum punya nomor hpnya dia ya?" Pikir Roy.


***


Roy mengejar Franda yang berjalan lebih dulu didepan. Roy sengaja memanggil Franda yang dengan santainya keluar dari depan gerbang.


"Eh kak Roy kenapa kak?" Langkah Franda sempat terhenti.


Roy bingung harus memulainya dari mana ia hanya bisa menyunggingkan kedua bibirnya dengan garukan tangan di kepala yang tidak terasa gatal "Eh, lo gak papa kan kemarin? Sorry ya Rival kurang sopan ngomong sama lo."


"Em, iya kak Roy gak papa kok santai aja. Lagian udah dilupain juga. Ya udah aku duluan ya kak." Ucapnya yang melangkahkan kakinya keluar dari pintu gerbang.


Lantas membuat Franda bingung mengkerutkan dahinya sedikit naik keatas. "Emang ada apa kak?"


Lagi dan lagi Roy menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal "Enggak cuma pengen tau aja. Kalau sakit kan bisa ngejenguk. Eh maksudnya bukan doain."


"Jadi mau gak?" Mereka berdua tertawa kecil dengan wajah bingung Roy.


"Em."


"Mau ya? Ya udah gue ambil mobil dulu didalam tunggu sini." Ia pergi begitu saja mengambil mobil yang terparkir ditempat biasa. Franda melipat kedua tangannya diatas dada sambil melihat langkah Roy yang begitu cepat mengambil mobilnya.


Lalu ia tersenyum simpul dengan sentuhan yang tidak sengaja tadi.


"Lagi liatin apa sih val? Kok serius gitu?" Rival mengepal tangannya menyorot mata tajam kearah pinggiran gerbang. Kali ini ia sungguh geram dengan apa yang liat sekarang.


"Coba lo liat." Ucapnya lagi dengan nada dan napas berat.


"Gak ada apa-apa kali." Dengan polosnya Albert menjawab ringan sambil memegang buku yang sering ia baca. Karna itu adalah sesuatu hal yang wajib ia bawa kemana-mana.


"Makanya jangan kebanyakan baca lo bert. Tuh liat kak Roy sama cewek cupu itu." Geram Rival.


"Lo emang kenapa lo cemburu?"


"Tau nih Rival cemburu sama kakak Roy." Sontak membuat mereka menatap Bima dengan sorotan yang tajam.


"Ini bukan waktu buat bercanda."


"Iya sorry."


Franda menaiki mobil Roy yang sudah menghadangnya disamping lalu mobil itu berjalan meninggalkan sekolah.

__ADS_1


"Maaf kak jadi ngerepotin gini." Dengan nada malu-malu membuat Franda tidak nyaman berada didalam mobil Roy.


Ia tersenyum dan menyalakan lagu yang ada didalam mobil agar suasana tidak terlalu hening "Ah gak lah ngapain, lagian juga gue kan gak ngerasa keganggu juga malah gue seneng bisa pulang bareng sama lo." Ucapan itu membuat Franda menatap kedua mata Roy tanpa jeda hingga membuat Roy terpancing malu dan grogi membuat pandangan itu kearah lain.


"Eh gak balik sama Cerry?" Pertanyaan itu membuat Franda tersenyum sinis.


Ia hanya menggeleng dan memanyunkan kedua bibirnya.


"Oh."


"Ternyata kak Roy suka beneran sama Cerry. Cerry emang cantik, pintar dan siapa juga ya gak mau sama dia." Batin Franda dalam hati yang memuji kebenarannya itu.


Suara alunan musik itu terdengar sedikit bergemuruh dan nyaring hingga membuat suara mobil seakan banyak penghuni.


"Eeeeee,,, lo udah punya pacar be-----lum?" Roy mempercepat pertanyaan itu karna telah membuatnya gugup. Ia menatap Franda dengan tatapan menunggu tapi mungkin saja ia sedang memperhatikan pemandangan seakan sedang berjalan.


"Fran, fran... fran.." Tegur Roy yang menyaringkan sedikit suaranya.


"Eh kak Roy? Kenapa kak? Pemandangannya indah ya kak. Kakak manggil aku? Maaf aku gak terlalu ngeh?"


Ia menarik napas pelan sambil mengemudi dengan kecepatan sedang lalu ia tersenyum lagi. "Gak papa kok. Cuma keringetan doang." Ia mengambilkan secarik tisu kotak yang ada didepannya lalu memberikan Franda agar mengelapnya. Mungkin bukan hari yang tepat untuk menanyakan hal itu.


"Rumah lo arah mana ya? Belok kanan atau kiri?" Disana ada dua belokkan yang membingungkan Roy.


"Kanan kak. Bentar lagi sampai kok." Roy mengikuti arahan Franda. Padahal ia ingin pulang bareng bukan cuma ingin tau saja dimana rumah Franda tapi ia ingin menanyakan apa yang jadi bahan penasarannya itu tapi entah mungkin bukan saatnya.  


Akhirnya sampai juga Franda turun dari mobil Roy, Roy membuka sedikit kaca mobilnya.


"Kak Roy mau mampir dulu?"


"Gak, lain kali aja." Senyum lalu ia melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan karna ada belokan tadi.


Franda teringat akan sesuatu ia mengejar mobil Roy yang belum jauh.


"Eh, Kak Roy tunggu bentar." Roy melihat dari kaca spionnya Franda mengejarnya dari belakang.


"Kenapa? Ada yang ketinggalan?" Bingung Roy. Sontak membuat Franda langsung menggeleng.


"Bukan kak, aku lupa ngucapin terima kasih."


"Oh iya sama-sama. Ya udah masuk gih ke rumah. Hati-hati juga ya."


"Lo kenapa jadi aku yang harus hati-hati kan udah sampai rumah?"


"Enggak maksudnya hati-hati aja." Sahutnya yang bingung harus menjawab apa.


"Iya. Makasih kak." Roy menutup kaca itu lalu mobil melanjutkan kembali kemudinya. Ia tersenyum sambil menatap kaca spion Franda yang masih di posisinya menunggu mobilnya pergi.


...•••...


Baru saja masuk pertanyaan Rival langsung saja menyerang Roy "Nganterin siapa sih tadi?." Sindir Rival yang sudah sampai lebih dulu di rumah sedangkan Roy yang baru saja datang dengan senyam-senyum.


"Eee apaan sih."


"Kok bisa deket sama Franda temen sekelas gue?. Lo suka sama dia?" Rival mendekat kearah Roy yang masih berdiri dan baru aja datang lengkap dengan seragam sekolahnya.


"Apaan sih. Tiff, mama mana? Udah ada makanan di meja?" Alih Roy.


"Ada yang gak beres. Bisa aja ngeles lo." Batin Rival tersenyum sinis.


Roy langsung saja menuju ke dapur untuk memakan makanan yang sudah terpampang di atas meja dapur tanpa memperdulikan pertanyaan Rival.


"Ada apa sih sama kalian?"


"Gak ada kok." Jawab Rival yang memindah channel tv menjadi acara bola. Sontak Tiffany yang dari tadi menonton sinetron kesukaannya masih marah dan kesal.


"Lo kenapa sih, siniin gak gue belum selesai. Cowoknya ganteng kali lebih ganteng dari lo."

__ADS_1


"Eh maksud gue lo lebih ganteng ketimbang dia."


Rival memanyunkan kedua bibirnya lalu ia tidak tertipu dengan rayuan dan pujian Tiffany. "Gak bakalan gue ketipu sama pujian lo. Mending lo keatas sana, main barbie kek atau nonton drama. Gue pengen nonton bola." Rival yang tidak mau kalah.


__ADS_2