
...Sesuatu yang hampir tercapai...
Albert, Rudy dan Bima sengaja tidak memberitahu Rival kalau mereka lagi nongkrong karna ini adalah rencana mereka tentang dirinya. Ketika Albert bercerita tadi ternyata Rudy sang cowok playboy tidak percaya kalau Albert melakukan hal ini. Sempat mereka kemarin bercanda tentang hal yang konyol tapi sangkanya mereka hanya sekedar angin lain saja tapi ternyata Albert melakukannya. "Hahaha, gila lo bert lo seriusan bilang kalau misalnya Rival sakit? Hahaha gue kira lo anggap becandaan doang." Rudy tidak menyangka kalau Albert akan mengatakan hal ini kepada mereka. Sontak respon pertama mereka adalah terkejut.
Sampai-sampai Rudy mendekatnya bidang dadanya. "Trus apa reaksi Franda? Dia percaya?"
"Hahaha percaya sih enggak tapi ya akhirnya percaya juga hahahaha."
Si Bima cowok yang suka makan tetap saja dikondisi yang konstan yaitu tetap makan."Hahaha gila lo bert bisa aja trus apa rencana lo buat Rival."
"Gimana kalau bisanya kita jebak aja Rival sama Franda, gue pengen liat kalau misalnya mereka ke kunci di gudang haha."
"Gimana caranya?"
"Ya atur aja."
"Gue ada ide." Rudy yang berada ditengah-tengah Bima dan Albert langsung saja berbisik.
"Gimana oke gak?" Albert masuk belum yakin dengan ide Rudy yang kadang suka amsyong. Biasanya dalam suatu Rencana Rudy merupakan orang yang harus detail dan matang.
"Bert lo gak setuju? Kok bengong?"
"Ya, ya udah setuju tapi gue gak yakin nih bakalan berhasil."
"Ya udah eh, percaya aja." Tepuk Rudy di bahu Albert. Suasana malam yang tempat tongkrongan mereka selalu ramai dengan kebanyakan anak-anak muda seumuran mereka tapi tidak jarang juga dari kalangan dewasa bahkan orang tua.
...•••...
Dibalik tembok dekat gudang Rudy melihat Franda mengarah masuk kedalam gudang ini adalah moment yang pas untuk siap siaga untuk mengunci Franda untuk masuk kedalam. Padahal ia juga tidak tega untuk mendorong dan menguncinya tapi karna ini suatu rencana ia harus melakukannya.
1
2
3
Rudy sengaja menutup wajahnya dengan masker agar tidak ketahuan siapa-siapa. Ia mendorong Franda masuk kedalam lalu menguncinya syukurnya Franda tidak sempat melihat siapa dibalik masker itu. Pasti suara pertama ketika orang ada ditempat yang gelap dan berdebu pasti reaksi pertama adalah berteriak apalagi tempat itu jarang sekali dimasuki Cekikikan membuat Rudy langung menghubungi Bima agar melanjutkan misi selanjutnya.
"Lo harus bawa Rival kesana ya soalnya Franda udah di kunciin di gudang nih." Bima langsung saja menyuruh Albert ketika Rudy sudah berhasil mengunci Franda di gudang.
Albert bingung harus menggiring Rival kesana dengan cara yang lebih mulus. Wajahnya mulai tegang, dan merasa aneh. "Kenapa? Maksud lo apa sih? Gue jadi curiga." Rival menanyakan hal itu membuat Albert bingung dan aneh. Tapi karna dengan alasan Albert ketakutan Rival awalnya masih ragu-ragu dan bingung dengan kelakukan Albert kali ini yang aneh. Sejak tadi Albert menahan nafasnya agar tidak terlalu tegang dan gugup karna ia takut sekali kalau rencana ini gagal.
"Mau nyari apa sih di gudang? Aneh-aneh aja deh."
"Eee, ada pokoknya kayaknya kunci gue ketinggalan gitu val, serius." Ia harus mencari alasan yang
"Ah masa sih, gue kayak curiga. Emang lo sembunyiin sesuatu dari gue? Hah?"
Untungnya ada suara cewek yang teriak-teriak dari dalam gudang sudah dipastikan kalau itu suara Franda yang sudah dikunci tadi. Langkah Rival berhenti begitu saja mendengar ada suara yang meminta tolong ia mendekat kearah gudang dan mencoba untuk mendekatkan telinganya ke pintu gudang suara itu membuat Rival mengetuk-ngetuk pintu.
"Woy ada orang gak didalam?"
"Rival gue, gue ada didalam. Gue Franda."
"Franda val? Kok bisa ada didalam gimana nih kita val? Harus ngapain?" Seakan ini semua real adanya. Rival pasti merasa panik dengan kepanikan Albert yang berpura-pura.
"Ya udah lo mundur biar gue dobrak."
"Fran, lo mundur gue bakalan dobrak pintu gudang ini." Lanjut Rival yang membuat ancang-ancang dengan memasang kuda-kuda.
1
2
3
Brukkkk...
Franda langsung saja memeluk Rival dengan henti, sejak tadi ia ketakutan ditempat yang begitu gelap dan berdebu apalagi kecoa dan tikus yang berkeliaran dimana-mana. Sarang laba-laba pun juga tidak bisa di hitung, udara yang pengap membuatnya kekurangan oksigen. Keringat pun keluar dari mana-mana, tubuh gemetar pun Franda masih rasakan. Rival juga terkejut sekali ketika Franda tadi memeluknya begitu erat dan sungguh ketakutan. Ia berusaha untuk menenangkan Franda agar tidak panik. Dibelakang itu Albert tersenyum miring dengan apa yang ia lihat sekarang ternyata benar dugaannya selama ini Rival menaruh rasa kepada Franda. Disaat seperti ini Rival datang dan menghangatkan tubuh Franda yang bercucuran keringat ditambah lagi ketakutan. Rencananya begitu berhasil, ia tidak sabar memberikan video yang secara diam-diam ia ambil dibalik saku seragam miliknya. Jadi sejak tadi ia sudah merekam ketika Rival mendobrak pintu gudang tapi ia sengaja memakai jaket agar tidak terlalu terlihat oleh Rival karna talut ketahuan.
"Oh iya kita bawa keluar aja dulu val, disini berdebu kayaknya. Lo bawa minum?" Tanya Albert melihat wajah Franda begitu pucat. Sebenarnya ia juga tidak tega mengerjai Franda tapi karna sebuah pembuktian yang ingin ia buktikan maka terjadilah drama yang ia buat bersama Bima dan Rudy. Disela itu ia sengaja mengirimkan pesan dan diam-diam Albert mengambil foto secara diam-diam tanpa sepengetahuan mereka.
"Ada kok didalam tas." Sahutnya.
Rival menatap wajah Franda benar-benar pucat sekali. "Lo kenapa bisa ke kunci di gudang?"
"Fran, gue antar balik ya?" Ini adalah sebuah rencana Albert saja untuk memancing tanggapan Rival tapi ternyata ia terpancing.
"Biar gue aja yang antarin." Ia hanya diam dan tidak berkata apa-apa lagi.
"Ya udah kalau gitu gue duluan, Fran sahabat plus sepupu gue ini baik orangnya gue yakin dia bakalan lindungin lo."
Rival melirik heran "Mulai deh, mulai."
"Lo gak papa kan?" Franda hanya tersenyum dan menggeleng. Rival mendekat kearah Franda yang masih berdiri tepat didepannya membuat Franda memundurkan langkahnya kebelakang. "Gue cuma bersihin bahu lo dari debu doang."
"Makasih ya val."
"Iya."
"Ya--- ya udah yuk."
***
Roy jingkrak-jingkrak kegirangan karna ia baru saja menerima pesan sms kalau misalnya dirinya adalah pemenang favorit di lomba kemarin walaupun bukan juara utama tapi Roy girang sekali ia tidak sadar lagi kalau ia jingkrak-jingkrak diatas sofa ruang tamu. "Yes, gue gak sia-sia buat ikut."
Ia menuruni anak tangga untuk mengambil air putih karna tiba-tiba saja tenggorakannya terasa kering.
__ADS_1
Dibawah tepatnya ruang tamu sudah ada Rival dan Tiffany yang asik main games berdua suara teriakkan tak mau kalah sudah terdengar dari kamar. "Kalian ngapain sih berisik banget?"
"Ini kak gue kan cewek masa gak mau kalah."
"Enak aja lo, anak cewek atau anak cowok tuh sama aja."
"Gue dapat kabar dari panitia kalau gue menang jadi juara favorit guys, yes...."
"Serius ka? Wah hebat banget."
"Hadiahnya mana?"
"Entar gue ambil, wkwkwk."
"Emang gak ada penutupan gitu? Aneh deh lomba apaan?"
"Gue juga gak tau. Gue sempet ngerasa aneh juga sih masa pemenang di sms? Udah ah gue gak perduli."
...•••...
Cerry dan Franda adalah dua sahabat yang memiliki karakter dan sifat yang berbeda tapi mereka saling melengkapi. Walaupun Cerry orang yang kurang berminat dalam belajar tapi ia semakin hari semakin tertular dengan sikap Franda yang terus mendukungnya dikala nilai-nilai dan cemoohan orang yang selalu menilainya rendah. Dari sana persahabatan mereka langgeng hingga sekarang. "Cer, lo seriusan gak bakalan temenin gue ke perpus?"
"Sorry, nih fran gue lagi pms jadi sorry ya gue gak bisa banyak gerak."
"Ya udah deh. Gue kesana dulu."
"Pinjemin gue juga bukunya ya?" Franda mengangguk paham dengan apa diminta oleh Cerry.
Franda dengan santainya menuju ke perpustakaan, walaupun ia sudah terbiasa dengan kehadiran Cerry disampingnya.
Perpustakaan tidak begitu banyak peminatnya karna mereka cenderung lebih memilih kantin untuk berduduk santai. Franda mendorong perpustakaan yang tampak sepi dan hanya beberapa orang saja yang sedang membaca buku atau hanya sekedar mencari buku untuk keperluan. Tujuannya adalah buku biologi ungu karna dua hari lagi ia akan menghadapi ulangan mingguan yang tidak terasa akan memasuki semester dua.
"Mana ya, kok gak ada sih?" Biasanya buku biologi sejajar dengan buku-buku kimia, fisika yang sangat terlihat jelas tapi kali ini tidak terlihat sama sekali. Ia mencoba untuk bertanya sama orang yang sudah lebih dulu disana dan kebetulan sekali ia membaca buku berwarna ungu tapi buku yang berwarna ungu bukan cuma buku biologi saja melainkan beberapa buku. "Hei, boleh nanya gak buku yang lo baca buku biologi ya?" Mereka seangkatan tapi walaupun seangkatan mereka tidak pernah menegur sapa.
Dan ternyata benar buku yang dia baca buku biologi Franda mencoba mendekat dan meminjam sebentar untuk dua hari, tapi kayaknya dia tidak akan meminjamkan buku tersebut karna mereka sama-sama membutuhkan. "Maaf gue gak bisa, jadi lo cari buku yang lain aja deh." Benar dugaan Franda kalau ia tidak akan mau meminjamkannya.
"Hai, Fran. Sendiriin aja? Cari apa?" Kebetulan sekali ada Roy yang datang membawa beberapa buku untuk dikembalikan karna yang akhir-akhir ini Franda ketahui kalau Roy merupakan ketua kelas juga sama seperti Rival.
"Oh aku pengen cari buku biologi kak. Tapi kok kayaknya gak ada ya?"
"Biologi? Yang warna ungu itu? Gue ada kok di rumah? Buat apa? Kalau mau pinjam ke rumah aja ambil."
"Serius kak? Ya udah entar sore aku ke rumah kak Roy ya."
"Emang buat apa sih?"
"Gini kak kan dua hari lagi ada ulangan gitu jadi aku harus pelajari materinya dulu. Tapi kayaknya bukunya ada disini tapi kok gak ada?"
"Mungkin, udah banyak yang pinjam kali."
"Oh iya juga ya kak?" Ia tersenyum, setiap kali ketemu, bersebelahan, saling tatap pasti jantung Franda terus berdebar. Ini cowok yang bikin Franda selalu deg-deggan karna emang dari dulu Franda sudah tertarik dan kagum kepada Roy tapi ia harus membentengi itu semua karna apa? Karna ada Amanda yang dilihat Cerry kemarin yang sedang dekat.
"Iya kak hehe. Kakak tadi habis nganterin buku apa? Perasaan aku lihat kakak terus di perpus."
"Hahaha buku di kelas biasa kan gue ketua kelas juga sama kayak Rival."
"Kak gimana sih caranya buat dapetin nilai dari bu Elvi soalnya dia kayak pelit gitu, kan soal Biologi gitu kayak susah."
"Oh gampang entar gue ajarin lo."
"Bener kan? Tapi gak ngerepotin kan?" Siapapun yang mengobrol dengan Roy pasti akan selalu beraura positif apalagi disaat-saat begini Franda merasa rasa kagumnya semakin besar.
"Gimana kak udah ada kabar tentang lomba?"
"Oh iya, ada. Gue pemenang favorit doang sih hahaha kurang jago ngomong soalnya."
"Hah serius ka? Wah hebat banget waktu didepan panggung aja aku sempet deg-deggan karna takut kak Roy salah takut syukur deh udah jadi juara. Gak papa kak gak jadi juara utama yang penting udah juara favorit ih aku seneng deh dengernya." Roy tersenyum, wajah Franda yang bergitu merona. Membuatnya yakin dan percaya kalau Franda adalah orang pantas untuknya.
"Eh, kok lo ada di kelas kita? Bukannya kelas lo ada disana?" Sontak Franda baru sadar kalau ia sudah mengikuti Roy hingga sampai ke kelasnya yang padahal kelasnya sudah terlewati. Wajahnya bingung dan kaget.
"Oh iya ya? Baru sadar."
Dengan panik Franda memutar badannya dan memejamkan wajahnya sejenak mengatur nafas untuk tetap santai dan tidak malu. Langkah kakinya melangkah lebih cepat. "Fran, jangan lupa ya." Ia tidak memperdulikan suara itu dan berjalan begitu saja karna menahan malu apalagi didepan kelas Roy yang merupakan teman-teman Roy.
"Hahaha, cie makin deket aja lo Roy. Cepat juga pergerakan lo."
"Apa sih kalian ngomongnya yang jelas."
Dibalik sudut ujung Amanda melihat Roy begitu salah tingkah, ia tersenyum kecil melihat Franda cewek yang baru ia ketahui wajahnya ia hanya mendengar nama itu.
"Lo kenapa Fran? Kok bisa kearah sana?"
"Ee, gue nyasar ke kelas kak Roy. Sumpah gue malu banget cer." Franda menutup wajahnya masih sangat jelas pertanyaan tadi.
"Hah? Serius? Kenapa hahaha. Aduh perut gue."
"Iya kan gue tadi di perpus cari buku biologi eh gak ada, pas ada dia gak mau pinjemin nah kebetulan banget kak Roy pas banget datang dan tanya gue cari apa ya udah deh dia bilang ada di rumahnya. Oh iya, lo mau gak ikut ke rumahnya hari ini? Soalnya gue pengen pinjam gitu sekalian belajar."
Mendengar hal itu Cerry langsung saja bersemangat. "Hah? Serius? Ya udah gue jemput lo nanti. Tapi gue harus pake baju apa ya?"
"Ah lo cer, lo itu udah cantik tau."
"Ah jadi malu. Udah pengen masuk nih. Ya udah masuk aja yuk." Tarik Franda menyuruh agar Cerry berdiri dari duduknya sejak tadi.
...•••...
Sebenarnya siapa sih kasih surat misterius ini? Kok dia bisa sih selipin didalam sini? Ia perlahan membuka lem yang masih terbungkus rapi.
__ADS_1
Rival lagi sakit, mohon untuk lo harus lebih jauh perhatian sama dia. Karna dia butuh perhatian lo.
Apaan ini? Kok bisa kayak gini sih?
Franda tidak berniat untuk melanjutkan ini lagi, ia langsung saja menyelipkan didalam buku yang akan dibacanya nanti. Karna hari ini sudah ada janji di rumah Roy bersama Cerry. Suara mobil terdengar dari luar rumah pasti itu Cerry, ia langsung saja memakai tas di bahunya dan langsung berpamitan.
"Mah, Franda jalan dulu ya. Soalnya ada tugas gitu."
"Hai tante."
"Ya udah hati-hati ya kalian.."
...•••...
Mobil Cerry memasuki gerbang yang sudah dibukakan secara sengaja oleh satpam yang jaga. Rumah Roy emang megah karna ia merupakan anak orang kaya tapi ia tidak sama sekali sombong terlihat Roy sudah berdiri didepan pintu menyambut mereka.
"Yuk masuk."
Cerry deg-deggan sekali masuk ke rumah Roy yang ia idamkan selama ini. Melihat apa saja yang ada didalam dan sungguh diluar ekspetasi. "Bukunya udah gue siapin. Mau gue bikinin minum dulu kali ya?" Ketika Roy ke dapur Cerry tidak hentinya melihat kemegahan rumah Roy dan rumah Roy dua kali lipat lebih besar ketimbang rumahnya.
"Rival mana ya? Kok gak kelihatan? Adiknya yang cewek juga."
"Suuuuuuutsss gue juga gak tau gimana seneng gak?"
"Banget fran."
"Sumpah gue seneng banget tau gak."
Roy membawakan dua minuman es jeruk segar diatas meja untuk Franda dan Cerry. "Gue kira gak bakalan kesini? Biasanya bu Elvi bakalan pelit kalau jawaban kalian gak detail."
"Ya udah buka aja dulu bukunya halaman berapa kalian ulangan?"
Sumpah Cerry tidak hentinya deg-deggan bersebelahan langsung apalagi aroma parfum yang begitu khas sekali. "Ini gimana ya kak maksudnya?" Tanya Franda yang memulai untuk bertanya.
"Duh ganteng sumpah."
"Kak Rival sama kembaran cewek kakak kemana?"
"Oh mereka lagi jalan gitu, nyariin Rival ya?"
"Eh."
Bukan tau kak, nyariin orang yang ada didepan aku sekarang.
"Palingan bentar lagi datang."
"Kalau katak itu hewan amfibi ya?"
"Soalnya dia hidup di dua alam yaitu darat dan air makanya disebut amfibi. Dia juga mengikuti warna tempat dimana dia berada sama halnya dengan bunglon dan ular yang juga kebanyakan merubah warna." Franda mengangguk paham.
"Cerry lo gak belajar juga?"
Dengan refleks mulut Cerry mengatakan didepan Roy dan Franda yang membuat mereka bingung. "Ganteng."
Eh,
"Eh, maksud aku, aku juga lagi dengerin kakak jelasin kok." Roy hanya tersenyum dengan wajah malu-malu Cerry.
"Buka halaman selanjutnya, disana ada jelasin tentang semuanya. Kalau misalnya pengen cepet ngerti biasanya jangan di hafal tapi di pahami."
"Iya kak, suka gitu kalau dihafal malah gak nyangkut."
"Loh ada apa ini? Kok ada Franda sama Cerry? Kok gak kasih tau gue?" Rival terkejut sekali dengan suasana ruang tamu yang disulap menjadi tempat belajar.
"Ngapain kasih tau lo?"
"Ya maksud gue..." Ia juga bingung Rival hanya menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.
"Lo lupa kalau misalnya lo ada ulangan biologi?"
"Trus?"
"Lo gak belajar?"
"Kan gue ada lo, yang bisa ajarin gue. Kan lo juga ada bukunya kan?"
"Ya udah kak aku gak jadi deh pinjam buku biologinya. Kan Rival juga belum belajar iya kan cer?"
"Iya gue sampai lupa kalau misalnya Rival juga butuh." Sahut Cerry.
"Eh, gak gitu maksud gue. Belajar bareng-bareng aja kalau gitu."
"Serius nih val? Lo mau belajar bareng-bareng? ya gue tau sih emang lo juga pintar tapi seriusan?"
"Iya, gue mandi dulu."
"Sorry ya emang gitu orangnya."
"Kak Roy, kakak bener ya kalau kakak menang lomba? Jadi juara favorit?"
"Iya, dari Franda yang kasih tau? Cerry mengangguk dan melirik kearah Franda.
"Iya sih, tapi gak papalah sebagai pengalaman."
"Semangat ya kak."
"Semangat buat apa?"
__ADS_1
"Semangat buat semuanya, buat lomba kakak selanjutnya."
"Oh gitu. Jadi kalau sama bu Elvi kalian jangan tegang gitu, trus jawabannya jangan setengah-setengah ya biar maksimal."