
Leher Vita serasa tercekik ketika mendengar kabar yang bawa oleh Zein kali ini. Napasnya tersegal. Serasa amat sangat berat. Pikiran tertuju pada hal-hal jelek yang mungkin bisa saja terjadi pada Sang suami. Sebab Vita tahu, Zein tidak mungkin berbohong padanya. Nyatanya, beberapa anak buah pria jahat itu juga menyatroni rumahnya. Mencarinya. Hendak melakukan hal buruk padanya.
"Kamu jangan takut, Vit. Anak buah papa sudah menyusul suamimu ke sana. Semoga mereka tidak terlambat. Yang penting kamu jangan putus doa, " ucap Zein, mencoba membuat wanita yang kini ada di sampingnya agar lebih tenang.
"Bagaimana aku bisa tenang, Bang? Suamiku dalam bahaya. Melepaskan dia ke tempat itu saja membuatku serasa kehilangan napas. Lalu, sekarang nyata-nyata aku tahu, bahwa dia dalam bahaya. Rasanya tidak mungkin kalo aku bisa tenang, Bang!" jawab Vita dengan derai air mata penuh kekhawatiran.
"Ini semua diluar kendali kita, Vit. Kamu yang sabar ya," ucap Zein lagi.
"Vita nggak bisa sabar, Bang. Aku ingin ke sana. Aku ingin ke tempat Bima, Bang. Vita ingin memastikan bahwa suami Vita baik-baik saja," ucap Vita, masih dengan deraian air mata yang setia mengalir dari sudut-sudut matanya.
"Abang tahu kamu sangat sayang sama Bima. Tapi kali ini kita hanya bisa berdoa, Vit. Karena keselamatanmu sendiri juga dalam bahaya."
"Vita nggak peduli, Bang. Pokoknya Vita mau tahu kalo Bima dalam keadaan baik-baik saja," ucap Vita lagi.
Zein tak bisa melarang lagi. Karena itu reaksi yang wajar untuk seseorang yang memang ditakdirkan saling memiliki. Namun sekali lagi, jodoh dan maut adalah rahasia Tuhan. Kita tidak sedikitpun diizinkan untuk ikut campur di dalamnya.
"Ya Tuhan, tolong selamatkan suamiku. Jangan biarkan hal buruk terjadi padanya. Aku mohon!" gumam Vita dalam hati.
"Vit kamu oke?"
"Entanlah, Bang!"
__ADS_1
"Maaf jika Abang harus mengatakan ini. Tapi ini juga harus Abang katakan. Apapun yang terjadi nanti, apapun kabar yang akan kamu dengar nanti, kamu harus siap," ucap Zein lagi.
Bukan bermaksud menakuti. Tetapi ini memang harus Zein sampaikan. Keselamatan Bima memang sedang dalam bahaya. Dilihat dari tempat tugas yang ia datangi ditambah lagi sekarang bahaya lain yang diciptakan oleh pria jahat itu.
Vita tak sanggup lagi berpikir. Pikirannya semrawut tak karuan. Jiwanya terguncang hebat. Ketakutan demi ketakutan terus saja datang mendesak dan memenuhi sanubarinya. Sungguh, Vita dilanda ketakutan yang teramat sangat.
***
Di sisi lain, Laskar tak ingin menyembunyikan fakta ini dari Juan. Yang tak lain adalah kakak ipar Vita sekaligus seseorang yang harus tahu jika sampai terjadi sesuatu terhadap Vita.
"Vita tidak cerita apapun tentang keberangkatan suaminya ke daerah itu, Om!" ucap Juan, terkejut dengan kabar yang disampaikan oleh Laskar.
"Om juga baru tahu tadi pagi dari Zein, Juan. Andai Om tahu sebelum informasi itu datang, Om pasti akan mencegah dokter muda itu untuk meninggalkan Lombok. Pria bajingan itu ternyata sangat dendam pada pasutri itu. Om sendiri hanya bisa berdoa dan mengerahkan anak buah Om, untuk mencari Bima dan memaksa dia pulang pada istrinya. Masalah administrasi, kita bisa bicarakan nanti. Juan ada ide?" ucap Laskar.
"Okelah kalo begitu. Sebaiknya kamu suruh Vita pulang ke Batam saja. Aku rasa Vita akan aman bila dekat dengan keluarganya," saran Laskar.
"Baik Om, saya akan suruh beberapa orang untuk menjemput dan membawanya ke Batam!" jawab Juan.
"Oke, Om tunggu kabar selanjutnya!" jawab Laskar.
Tak lama, panggilan telepon pun berakhir. Juan sendiri langsung meminta Gani dan beberapa orang yang ia percaya untuk membawa Vita pulang ke Batam.
__ADS_1
***
Gani yang mendapat tugas dadakan itu pun langsung berpamitan dengan wanita yang kini telah sah menjadi calon istrinya. Meskipun wanita itu masih sedikit tak nyaman dengan posisi ini.
Rentan waktu dari teman hingga berubah menjadi tunangan terhitung sangat cepat. Membuat Nadia sendiri masih harus beradaptasi dengan itu.
"Maaf aku nggak bisa anter kamu ke bandara," ucap Nadia ketika membantu Gani bersiap.
"Tidak apa-apa, yang penting nanti di hari pernikahan kita, kamu jangan kabur," jawab Gani sedikit bercanda.
"Aku bukan wanita seperti itu," jawab Nadia, lembut.
"Aku tahu, makanya aku memilihmu untuk mendampingiku. Karena kamu selalu bisa mengerti aku. Bahkan ketika aku dapet tugas dadakan seperti ini. Oiya, kondisi seperti ini bisa saja akan selalu berulang, apakah kamu siap?" tanya Gani, serius.
"Aku tidak tahu apakah aku akan selalu siap atau tidak. Tetapi aku janji, aku akan selalu menekan egoku demi mendukung pekerjaanmu. Asalkan kamu selalu ingat aku dan anak-anak kita. Kamu nggak macem-macem di luaran sana, itu sudah cukup," jawab Nadia, tak kalah serius.
"Tujuan kita menikah adalah ibadah, Nad. Mana mungkin aku berani macem-macem. Kalo toh nantinya aku melakukan kesalahan, yang aku segaja maupun tidak, tolong ingetin ya. Kadang-kadang aku suka lupa kalo terlalu nyaman!" ucap Gani, dengan senyum super tampannya.
Aduh Mas, jangan senyum, adek nggak kuat... batin Nadia bergemuruh syahdu.
Diam-diam Nadia tersenyum sendiri, membayangkan bibir tampan itu sudi mencium bibirnya.
__ADS_1
Bersambung....