
"Gracia! Kak Dior!" Panggil Zhavia di daun pintu bersama Patrick.
Gracia dan Dior saling menarik diri dan menengok ke arah panggilan yang suaranya agak memekik.
"Mommy menghubungiku! Kau harus segera menghubungi daddymu Gracie! Dia begitu panik! Dan kau Kak Dior, kau belum mengabari paman Revo?" Decak Zhavia menghampiri Dior dan Gracia yang diikuti Patrick tentunya.
Dior menepuk dahinya. Dia benar benar panik sampai lupa menghubungi Revo. Dior segera merogoh ponselnya dan menghubungi Revo.
"Baiklah aku pulang duluan ya? Gracia, besok kita latihan pertunjukan untuk pentas seni minggu depan. Kau datang ya tepat jam 9 pagi, si Tuan Muda Kwan ini mau mengiringinya!" Kata Zhavia kemudian memberitahu. Mereka hendak berkolaborasi untuk tugas akhir bulan.
"Kenapa pagi sekali Zhavia?! Besok weekend! Aku mau tidur panjang!" Dengus Patrick sedikit terkejut dengan perkataan Zhavia yang tanpa seijinnya. Hem, meskipun dia tetap akan menyetujuinya. Dia ingin dekat dengan Zhavia.
"Tidak bisa jam 9 teng! Kalau kau tidak mau aku akan mencari penggantinya!" Pekik Zhavia tak mau kalah.
"Iya iya! Sudah ayo pulang! Gracia, Tuan Prime, aku duluan!" Dengus Patrick meninggalkan ruang tari yang disusul oleh Zhavia setelah Gracia menyetujuinya.
Gracia saling bepandangan dengan Dior yang telah memberi kabar Revo.
"Mereka berpacaran atau bagaimana?" Selidik Dior mendelikan satu alisnya.
"Belum kak. Entahlah, Tuan Muda Kwan itu seperti menyukai adikmu." Jawab Gracia tersenyum.
"Dia masih kerabat Bangsawan Kwan itu?"
"Dia anaknya Alexander Kwan."
"Zhavia keren sekali!" Dior sedikit kagum dengan adiknya yang agak tidak bisa diam namun bisa menjadi perhatian orang penting.
"Sama seperti Zefanya, berpacaran dengan Tuan Dimitri, sedangkan mu, berpacaran dengan anak yang tidak memiliki ibu!" Ujar Gracia sedikit muram. Dior menyadari akan kerendahan diri kekasihnya.
"Tapi kau berpacaran dengan pewaris Hotel Prime. Jangan lupakan!" Gumam Dior merangkul kembali kepala Gracia.
"Kau selalu bisa menenangkanku kak!" Ucap Gracia setengah menoleh menatap Dior.
"Karna aku menginginimu selalu. Ayo kita pulang ke rumahku. Daddy mu di rumah ku dan aunty Vien mu membuatkanku big cookies. Kau tidak bersedih lagi kan?" Ajak Dior.
"Entahlah, aku masih memikirkan Paman Marcel kak! Seketika aku tidak tega dengannya. Pasti Bibi Pammy dan Kak Morgan memojokannya. Apa yang harus kulakukan ya?" Jawab Gracia masih mengingat pamannya.
"Kita pikirkan nanti, aku akan mendukungmu!"
"Terimakasih kak! Biarkan aku mengganti pakaianku dulu!"
"Ya sana!" Kata Dior tersenyum. Gracia segera mengganti pakaiannya. Setelah itu dia bersama Dior menuju ke kediaman rumah Prime.
...
Sesampainya di rumah, Viena sudah berada di ruang tamu bersama Dion, Leon, Lexa dan juga Revo. Revo lalu berdiri melihat kedatangan putrinya. Dia langsung menghampiri Gracia dan mereka berpelukan.
"Kau kemana Gracie?! Jangan seperti ini, aku sangat khawatir!" Decak Revo masih dengan nada cemasnya.
"Maafkan aku dad. Tadi kau pulas sekali, jadi aku tidak mau menganggumu!" Jawab Gracia menyesal.
"Apapun yang terjadi, kapanpun, kau harus tetap meminta ijin padaku, aku benar benar cemas. Ibumu yang memperingatiku tadi!" Tambah Revo mendekap erat anaknya.
"Maaf dad! Aku janji tidak akan seperti ini lagi!" Tutur Gracia juga mendekap erat ayahnya.
"Baiklah. Gracia dan Dior sudah datang, ayo kita makan malam! Amy, panggilkan Zefanya dan Ezekhiel di taman belakang dan Zhavia di kamarnya ya?" Kata Viena kemudian dan memberi perintah pada Amy, kepala pelayan mereka.
Dior pun menggiring Gracia menuju ke ruang makan. Mereka semua sudah berkumpul di sana. Zhavia tampak memain mainkan ponselnya sedangkan Zefanya bercakap cakap dengan Ezekhiel. Namun, ketika Viena sudah mengatakan mari kita makan. Semua mata anak anaknya tertuju padanya.
"Malam ini kak Dior saja yang memimpin doa mom! Dia akan segera bertunangan!" Kata Zefanya yang sudah mengetahui ritual keluarga mereka sebelum makan yaitu berdoa bersama.
"Ah iya kau benar, Anya!" Saut Viena yang sebenarnya tidak berani menyuruh anak tertuanya itu.
"Kenapa tidak Ezekhiel?" Saut Dior tak suka.
"Kau ini Dior! Sudah cepat berdoa, kata kata mu lebih indah!" Saut Ezekhiel yang selalu digoda oleh Dior jika ikut makan malam seperti ini.
"Sudah cepat kak! Kau tidak bisa mengelak lagi. Biarkan Gracia mendengar kata kata puitismu!" Tambah Zhavia tak sabar akan mendengar lagi kata kata doa Dior.
"Kau yang memberiku lembar doa. Kau yang ahli semua ini Zhavia!" Celetuk Dior benar benar masih membentengi dirinya kalau dia tidak mau memimpin doa.
"Em, Patrick kak! Apa kita suruh dia kemari dan dia yang berdoa ya?" Gumam Zhavia menggoda.
"Mau tunggu sampe berapa jam Zhavia? Tuan Muda Dior Prime, ayolah, sekali sekali. Kau selalu mengelak!" Sela Leon tersenyum menggoda.
"Tapi paman, aku .."
"Aku akan membantumu!" Tutur Leon tersenyum memberikan sedikit kelegaan pada Dior.
"Baiklah yes! Paman Leon saja yang berdoa! mom, dia mau membantuku." Kata Dior pada ibunya.
"Dalam doa yang akan kau panjatkan!" Lanjut Leon yang ternyata hanya menggoda keponakannya itu.
Hahahahaa! Semua orang tertawa. Dior agak panik. Pasalnya dia seperti ayahnya. Dia tidak bisa merangkai kata kata syahdu itu dengan baik. Malah dia sangat yakin akan membuat semua orang tertawa karna kata katanya yang seperti anak kelompok bermain. Simple dan tidak bertele tele. Dion dan Viena sangat mengerti itu. Jadi Dion dan Viena sangat jarang menyuruhnya. Yang selalu memimpin doa Zefanya, Zhavia, Lexa dan Viena. Sesekali Leon dan Dion. Sejak Ezekhiel menjadi kekasih Zefanya, Ezekhiel yang malah menggantikan Dior.
Sekarang tampaknya dia yang harus memimpin karna dia juga tidak akan mempermalukan dirinya di depan Gracia. Namun, nampaknya Gracia menyadari ketakutan Dior. Dia menyentuh punggung tangan Dior dan benar. Tangannya tampak dingin. Dia lalu menoleh ke arah Dior.
"Kak, ini hanya doa!" Bisik Gracia
"Aku tidak bisa Gracia! Semua orang ini menggodaku. Bahkan aunty Vien mu saja menginginkannya!" Dengus Dior sebal.
"Kau cukup memegang tanganku. Kau pasti bisa. Ayo!" Gracia meyakinkan.
Dior lalu menatap Gracia. Dia seperti melihat malaikat karna terpancar sinar di sekujur wajah Gracia sehingga dirinya akhirnya menghela napas dan mau memimpin doa makan tersebut.
__ADS_1
"Mari kita berdoa!" Kata Dior akhirnya. Dior menautkan tangannya sambil memegang satu tangan Gracia. Semuanya tersenyum dan juga sedikit terenyuh karna Gracia tampak memberi aura postif bagi Dior.
Dan mereka pun membuat posisi berdoa. Mereka semua menautkan tangan mereka dan menundukan kepala.
"Mari kita bersatu dalam Doa. Ya Tuhan terimakasih karna Egkau sudah mengumpulkan kami pada makan malam kali ini. Tuhan, begitu banyak rasa syukur yang kami hendak panjatkan kepadamu. Khususnya bertambah lagi anggota keluarga kami yaitu Paman Revo dan Gracia, wanita yang sangat ku tunggu tunggu. Dan semoga Egkau juga memberi jalan bagi kami agar kami dapat menghancurkan kerasnya hati Paman Marcel sehingga bisa menambahkan kehangatan di antara kami. Dan makan malam kami kali ini sebagai bentuk terimakasih kami atas kebaikanMu. Semoga Engkau juga memberi berkat bagi mereka yang belum beruntung seperti kami untuk menyantap semua makanan ini. Engkau yang terbaik Tuhan di atas bumi seperti di dalam surga. Amin."
Hem! Dior menarik napas dan membuka matanya. Dia lalu menatap Gracia menunduk. Gracia tersenyum lebar padanya dan juga semua anggota keluarga..
"Wwwuuuaaaahhhh kata katamu kak Dior! Sepertinya aku berguru denganmu saja! Tidak usah dengan Patrick!" Puji Zhavia benar benar takjub. Kata Dior sederhana namun mewakili semuanya. Begitu bijaksana dan menghangatkan jiwa.
"Aku tahu sebenarnya kau memang punya kata kata indah tapi kau sombong saja!" Celetuk Zefanya sekenanya.
"Sepertinya pujangga cinta disini bukan aku sir! Tapi dirimu!" Tambah Ezekhiel ikut menggoda temannya.
Viena dan Dion tersenyum, juga Revo, Lexa dan Leon. Mereka merasa bukan dari Dior yang berkata namun ada Greta dan Gracia yang membantunya. Betapa Gracia sungguh memberikan cinta dan ketenangan bagi Dior yang sangat dingin terhadap sesama. Sifat dingun Dior melebihi ayahnya. Dia bisa tidak bicara dengan siapapun selama satu harian. Dia juga bisa berada di apartemennya hampir seminggu dan mendekam di sana. Namun, sepertinya ketika bertemu Gracia kembali, hatinya menghangat dan lebih sering bicara.
"Kau hebat kak! Kau masih memikirkan Paman Marcel. Kau memang pria ku!" Puji Gracia berbisik dan menatap lekat lekat mata Dior.
"Hem, karna dia yang membuatmu bersedih. Aku ingin menghancurkan semua yang membuatmu murung!" Saut Dior menempelkan dahinya di atas kepala Gracia.
"Bantu aku ya kak? Temani aku mengambil hatinya untuk menyukaimu!"
"Tenang saja. Aku akan selau bersamamu!" Balas Dior menarik diri dan mengusap rambut Gracia.
Dan mereka pun makan. Semua makanan telah tersaji yang adalah chicken steak with blackpaper sauce juga ada massed potato yang melengkapi makan malam itu. Tidak ketinggalan orange juice juga air putih dan beberapa piring nachos mozzarella. Seketika Gracia mengingat satu hal. Semua makanan ini adalah kesukaan Marcel. Khususnya blackpaper sauce tersebut. Gracia jadi memiliki ide untuk membuatkannya untuk pamannya. Gracia pun mencicipinya dan dia mau bertanya siapa yang membuatnya jika enak. Dan ternyata lezat! Sangat lezat!
Ayamnya matang dan crispy dari tepung yang melekat pada ayam tersebut sangat menyenangkan di mulut. Belum lagi sensai pedas yang menohok mulut dari lada hitam yang bercampur. Gracia memang sangat penikmat makanannya paling sensitif sama seperti Claudia. Istri dari kakak Viena.
"Aunty Vien! Siapa yang memasak chicken steak ini?" Tanya Gracia penasaran.
"Aku!" Jawab Viena yang agak terkejut Gracia menanyakan makanan. Ya Gracia memang suka makan namun tidak suka masak seperti ibunya.
"Kau serius?" Gracia meyakinkan karna dia mengingat kalau Lexa yang sering memasak chicken steak.
"Benar! Kau meragukan ku?! Tapi resep dari Lexa. Dia selalu membuat chicken steak untuk Leon dan Xelino!" Jawab Viena menjelaskan latar belakang semua ini.
"Ah iya iya, bantu aku membuatnya besok y aunty Vien dan Momxa?" Pinta Gracia.
"Kau mau apa?" Tanya Dior juga ayahnya menatapnya menyelidiki. Ayahnya juga tahu kalau Gracia tidak suka memasak dan pasti ada hubungannya dengan Marcel karna Revo tahu, Marcel sangat mengukai apapun mengenal lada hitam.
"Aku ingin memasakannya untuk Paman Marcel. Dad, bukannya Paman Marcel begitu menyukai Blackpaper sauce?" Jawab Gracia langsung menatap juga ayahnya.
"Ya benar sayang!"
"Aku akan membuatkannya. Sudah lama juga aku tidak melihat Bibi Pammy membuatnya." Lanjut Gracia meyakinkan dirinya.
"Ah, kau cerdas sekali. Besok hari sabtu jadi aku juga bisa membantumu!" Pekik Dior.
"Terimakasih kak! Aunty Viena, Momxa, mau kah membantuku?"
Mereka berdua mengangguk tersenyum.
"Ups, sory! Gracia tetap harus menuntut karir haha!" Tambah Zhavia terkekeh.
Mereka semua hanya tersenyum lalu kembali makan malam. Makan malam, malam ini memang begitu paling ramai dan juga kekeluargaan yang begitu hangat terasa.
...
Setelah latihan bersama Zhavia dan Patrick selesai, Dior menjemput Gracia tepat pukul 12 siang. Zhavia dan Patrick akan makan siang di luar. Sementara Gracia sangat semangat ingin membuat masakan untuk pamannya. Pasti ini akan berhasil pikirnya.
"Gracia, kata mom kita harus membeli bahan bahannya dulu karna mom dan momxa kehabisan bahan makanan yang mau kau buat." Kata Dior ketika Gracia memasuki mobil.
"Ah iya kau benar kak, tapi aku lapar kak! Bisakah kita makan dulu?" Pinta Gracia mengelus perutnya.
"Tubuhmu sudah sekecil ini tp kau masih sangat suka makan ya?" Dior terkekeh menggoda.
"Ini sudah siang kak! Tadi Zhavia dan Tuan Muda Kwan selalu mempengaruhiku ikut makan dengan mereka. Katanya mereka ingin ke pameran kuliner. Tapi aku sudah janji dengan aunty Viena." Sungut Gracia menundukan kepalanya.
"Baiklah kita susul saja Zhavia dan Patrick ke sana. Kita bisa membuatnya besok Gracia. Besok masih hari minggu." Kata Dior memegang tangan Gracia agar tidak muram.
"Benar kak? Aunty Vien dan Momxa tidak akan marah?"
"Tidak! Dia malah menyuruhku untuk menemanimu membeli bahan bahannya dulu. Besok hari minggu, semoga suasana hati Paman mu sedang baik. Oke?"
"Baiklah! Ayo kita susul Zhavia dan Patrick. Apa tidak juga mengajak Zefanya dan Tuan Ezekhiel, kak?"
"Oh, mereka sedang ke pantai. Kalau hari sabtu Ezekhiel selalu memiliki satu hari untuk Zefanya." Jawab Dior memberi informasi tentang gaya pacaran adiknya dan sahabatnya itu.
"Oh begitu, bagaimana denganmu kak?" Selidik Gracia dengan maksud hendak mendengar kata kata manis kekasihnya.
"Setiap hari!" Jawab Dior yakin dan mulai memasuki perseneling mobilnya.
"Yang benar?"
"Benar! Kau rasakan saja!" Saut Dior tersenyum dan melajukan mobilnya. Wajah Gracia telah memerah. Setiap hari, Dior selalu membuatnya tersenyum dan melayang seperti ini.
Keesokannya pagi pagi benar, Gracia sudah datang ke rumah Viena dan Dion bersama ayahnya Revo. Revo masih mengantuk, sehingga ia langsung saja merebahkan dirinya ke atas sofa panjang itu. Semalam, sebenarnya Morgan datang ke apartemen Dior. Dia menceritakan kerjasama yang telah ia buat bersama Jovancy Advertising yang tak lain Zefanya. Morgan juga akan segera membuat sponsor kerjasama dengan Hotel Prime. Semuanya ini ia lakukan semata mata untuk mendekatkan diri dan mengubah pikiran ayahnya. Lagipula, Morgan lebih sering membicarakan atau berkonsultasi masalah bisnis dengan Revo ketimbang ayahnya. Semua pembicaraan itu membuat dirinya agak mengantuk karna kurang tidur.
Sementara Gracia langsung menyeruak ke dapur yang ternyata Viena, Lexa dan Ammy sudah ada di sana.
"Selamaat Pagii ..." Gracia memberi salam. Ini baru saja pukul 8 pagi dan Gracia tampak bersemangat. Viena, Lexa dan Amy sontak melihat ke asal suara.
"Pagi sayang, kau ceria sekali!" Saut Viena menghampiri Gracia. Dia lalu memeluknya dan memberikan kecupan di pipi mereka masing masing.
"Hem, nampaknya kau sudah siap sekali Gracie?" imbuh Lexa tersenyum lebar.
__ADS_1
"Benar Momxa, Aunty, ayo kita buat. Aku sudah tidak sabar melihat Paman Marcel menikmatinya." Jawab Gracia antusias.
Mereka pun segera membuat apa yang Gracia inginkan. Sekitar setengah jam kemudian Dior sudah bangun dan membersihkan dirinya. Dia segera ke dapur melihat aktivitas kekasihnya. Dia duduk di meja dekat kitchen set dan memperhatikan semangat kekasihnya. Gracia memang wanita yang berbeda menurutnya. Dia tidak pernah membiarkan permasalahan menumpuk dalam hatinya. Meskipun sudah terlalu sakit namun dia mencoba untuk keluar dari zona nyamannya dan mencari jalan untuk bisa menyelesaikan masalah tersebut.
Tak lama Gracia menyadari dirinya diperhatikan dan menoleh ke belakang. Dior menaikan alisnya dan tersenyum.
"Sudah selesai?" Tanya Dior.
"Kak Dior! Sejak kapan kau disitu?" Selidik Gracia sedikit terkejut, karna dia sempat membicarakan kekasihnya itu.
"Sejak kau mengatakan pada mom kalau aku sangat menganggumkan!" Jawab Dior menyeringai.
"Dior Dior! Sejak bertemu dengan Gracia kau seperti Paman Leon, selalu bergombal!" Decak Lexa.
"Paman Leon yang mengajariku Momxa." Saut Dior sekenanya.
"Bisa ditorelir!" Balas Lexa mengelus puncak kepala keponakannya itu.
"Oke Gracia! Semua sudah selesai. Kemaslah dan Dior antar dia kerumah Paman Marcel kalian!" Kata Viena mengangkan Blackpaper sauce yang sudah Gracia aduk aduk tadi.
Gracia pun mengemas semua mahakaryanya hari ini dan menuju ke rumah Marcel bersama Dior. Sesampainya di sana, Dior mengatakan akan menunggu di luar di dalam mobil. Dia meminggirkan mobilnya di sebrang di sisi jalan karna rumah Marcel tidak memiliki garasi. Dia tidak ingin membuat Marcel menjadi tidak selera jika belum menerima dirinya dan malah membuat pertengkaran. Gracia sangat paham apa maksud prilaku dewasa Dior. Gracia menjadi semakin mencintai pria ini.
Gracia pun mengetuk pintu rumah dan Morgan yang membuka. Dia hendak ke tempat gym katanya. Namun, ketika Gracia mengatakan akan memberikan makan siang untuk ayahnya, Morgan jadi juga ingin menikmatinya.
"Kau yakin Gracie?!" Morgan meyakinkan karna dia seperti Dior, tidak sanggup melihat Gracia bersedih.
"Yakin!" Jawab Gracia tersenyum pasti.
"Mengapa Dior tidak masuk?" Tanya Morgan agak terheran.
"Dia sangat mengerti kak, dia ingin aku menikmati waktu denganmu, Bibi Pammy dan Paman Marcel tentunya." Jawab Gracia. Morgan mengangguk dan semakin yakin kalau Dior sungguh yang terbaik bagi adik sepupunya.
Gracia menunggu di meja makan dan menyiapkan apa yang ia bawa. Morgan memanggil ayah dan ibunya. Pammy segera keluar dengan semangat. Dia mengecup pipi Gracia dan memeluknya.
"I miss you!" Ucap Pammy menyandarkan kepalanya di bahu keponakan tersayangnya.
"Miss you too bi! Dimana paman Marcel?" Tanya Gracia menarik dirinya.
"Mau apa lagi? Bukannya kau tidak mau lagi tinggal disini?!"
Marcel tiba tiba keluar dengan mengantungkan tangannya di saku celananya dan berbicara dengan ketus. Gracia sedikit terkejut dengan sambutan pamannya yang mungkin memang akan seperti ini. Dia menarik napas dan mencoba bersabar.
"Paman Marcel selamat hari minggu. Apa kabarmu Paman?" Kata Gracia menarik diri dari pelukan Pammy. Dia menghadap ke Marcel dan membungkukan tubuhnya.
"Sangat baik tanpa adanya keluarga lain!" Kata Marcel menyindir.
"Marcel!" Pekik Pammy terkejut dengan kata kata pedas Marcel. Morgan menunduk tidak enak pada Gracia.
Hem! Hati Gracia meringis. Matanya mulai berkaca kaca dalam bungkukan tubuhnya. Namun, dia berusaha tegar. Dia mengedipkan matanya agar tidak menangis dan mendongakan kepalanya tersenyum.
"Aku ikut senang Paman. Sebelumnya aku minta maaf telah berkata kasar padamu hari lalu, sebagai permintaan maafku, Em, Paman, aku membawakanmu chicken steak dengan saus lada hitam. Kau menyukainya kan?" Kata Gracia mengesampingkan hatinya yang seperti telah teriris.
Deg! Jantung Marcel terasa terpanah. Anak ini tidak pernah melupakan kesukaannya dan dia terus berbuat baik padanya. Bahkan gadis ini meminta maaf padanya. Padahal dirinya yang mengata ngatai ibunya. Belakangan ini Marcel sudah memikirkan anak perempuannya ini, namun bagaimana hatinya sekarang? Haruskah dia luluh?
...
...
...
...
...
...
Luluh aja uda cel!! Kaku bat kek kanebo kering 😂😂
Kalo ga mau chicken steaknya buat eke aja 😝😝
.
Next part 5
Apakah Marcel akan menerima kelembutan keponakannya?
Hancurkah bongkahan batu karang itu dengan kelembutan Gracia dan Dior?
.
Betewe betewe hehe intip dongg Karya Novel BARU akoh dengan judul
DEJA VU : JASMIE & CHEST
😁😁
ceritanya FRESH dan BARU ya dan terlepas dari #MantanTerindahTheSeries 😁😁
semoga berkenan intip ya caranya klik fotoku terus ke karya.. maaciiww 😍😍
.
Jangan lupa LIKE dan KOMEN nyaa ya
Kasih RATE dan VOTE juga di depan profil novel mohon bantuannya hehe 😊😊
__ADS_1
.
Thanks for read and i love you 💕