Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - ZHAVIA & PATRICK PART 4


__ADS_3

Hubungan darah tidak bisa dipungkiri meski jarak memisahkan dan waktu membentang sejauh mungkin, meski merasa salah pasti akan tetap saling memikirkan satu sama lain. Sebelumnya, Zhavia tidak menceritakan mengenai kehamilannya pada Zefanya karena beberapa alasan. Zhavia masih sangat menjaga perasaan Zefanya. Namun, bagaimana pada akhirnya mereka bisa saling mengerti satu sama lain? Mari kita lihat dari sudut pandang Zhavia. Apakah sangat mempengaruhi kehamilan Zhavia nanti?


...


Tiga hari terasa terlewati begitu saja karena Sandra dan Adeline yang menemani Zhavia. Adeline juga senang karena apartemennya menjadi lebih ramai karena Eden juga ikut dengan Patrick. Mereka pun bisa saling berbagi. Selain itu, Patrick juga tak ingkar janji, dia selalu menghubungi atau melakukan video call setiap pagi dan malam.


Sandra menceritakan kehamilannya pada Zhavia juga berbagi pengalaman. Selain itu Sandra juga mengajak Zhavia berbelanja ke mall juga mengajarinya memasak. Hal ini yang juga ia lakukan pada Ella di Legacy. Zhavia menjadi akrab dengan Sandra.


Namun, ketika Patrick kembali, Sandra harus pulang ke Legacy. Alex, ayah Patrick sangat membutuhkan dirinya. Alex masih sering mengalami gangguan pada kesehatannya.


"Sebaiknya, kalian memikirkan untuk pindah kemari lagi mom!" Kata Patrick menyarankan pada ibu tirinya.


"Ya, kau benar Pat. Nanti aku akan bicarakan pada ayahmu. Hem, Mungkin setelah Ella melahirkan," saut Sandra tersenyum.


"Aku merasa Daddy lebih nyaman di negara ini," gumam Patrick menerka.


"Memang sebenarnya dia ingin lebih dekat denganmu Pat. Dia sudah terlalu lama bersama Pierre. Dia selalu menanyakanmu," saut Sandra sudah siap dengan kopernya.


"Ya, kami akan menunggumu mom, aku akan menyuruh orang untuk memperbaiki sisi sisi mansion yang rusak dan membersihkannya. Kalian bisa tinggal di sana lagi," balas Patrick yang sangat mendukung ayah kandung dan ibu tirinya kembali ke Honolulu bersama sama mereka.


Sandra mengangguk tersenyum. Dia duduk di sofa di samping Zhavia.


"Zhavia, kau tidak boleh telat makan. Kau harus terus makan agar tidak mual terus menerus. Sebentar lagi acara 7 bulan kalian. Aku akan usahakan mengajak Daddy kalian," kata Sandra memberi pesan. meski Patrick bukan lahir dari rahimnya tapi dia sudah menganggap seperti Pierre, anak kandungnya.


"Yes mom, kalau bisa beritahu juga mom and dad ku untuk datang," pinta Zhavia meminta bantuan.


"Ya, aku akan memberitahunya juga. Kau jangan lupa mengundang Aunty Claudia dan Uncle Egnormu. Mereka keluarga mu terdekat," saut Sandra mengingatkan.


Zhavia mengangguk lalu memeluk ibu mertuannya itu. Mereka saling memeluk. Sandra menganggap Zhavia seperti anaknya sendiri. Dia sangat menginginkan anak perempuan tapi dirinya sudah di vonis tidak bisa hamil lagi. Untung saja Alex tetap menerima nya karena Pierre dan Patrick sudah cukup bagi mereka. Oleh sebab itu Sandra sangat menganggap Ella dan Zhavia seperti anak perempuannya bukan menantu semata.


Tak lama bel apartemen berbunyi sahabat Patrick, Hoshi sudah menjemput. Patrick meminta Hoshi untuk mengantar ibunya bersama dengannya. Mereka harus ke gedung musik.


"Baiklah Zhavia, jaga dirimu baik baik! Selalu hubungi Patrick jika terjadi apapun," kata Sandra lagi tak bosan memberi pesan untuk Zhavia.


"Yes mom!"


"Zhavia, kau mau kuantar ke kamar Adeline?" tanya Patrick.


Zhavia mengangguk. Mereka pun menuju pintu juga hendak membukakan pintu untuk Hoshi.


"Pat, kau dan Nyonya Besar Kwan sudah siap?" tanya Hoshi di luar apartemen Patrick.


"Kita ke kamar Eden sekalian menjemputnya. Aku harus mengantar Zhavia," kata Patrick menutup pintu apartemennya.


"Oke!"


Hoshi pun Membawa koper Sandra. Mereka ke kamar apartemen Eden terlebih dahulu.

__ADS_1


...


Satu Minggu kemudian,


Zhavia terus mengeluarkan apa yang sudah ia konsumsi siang ini. Patrick mengirimkan sup asparagus Special buatan chef tamu yang kebetulan bertandang ke Gedung musiknya. Karena paginya Zhavia tidur sangat pulas, jadi Patrick terpaksa meninggalkannya. Dia menitip Zhavia pada Adeline. Adeline sudah datang ke kamar apartemennya bersama Chloe tetapi Zhavia belum memberi jawaban. Akhirnya Zhavia memberi pesan dirinya baru saja bangun dan baik baik saja.


Baru saja Zhavia hendak ke kamar Adeline, seseorang mengirimi Zhavia sup asparagus. Karena aromanya terasa sedap, Zhavia memakannya sampai habis. Siapa yang tahu akhirnya dia memuntahkan semuanya. Zhavia merebahkan dirinya setelah membasuh mulut dan wajahnya. Dia hendak menghubungi Patrick tapi ternyata ibunya lebih dulu menghubunginya.


"Yes mom?" sapa Zhavia mengangkat panggilan ibunya.


"Ini dad, Zhavia," saut Dion yang ternyata dirinya yang menghubungi.


"Oh sorry dad. Ada apa dad? Mengapa kau menggunakan ponsel mommy?" selidik Zhavia sudah merubah posisi tidurnya menjadi duduk.


"Aku sedang berada di rumah sakit. Ibumu agak sedikit demam," kata Dion memberitahu di seberang sana.


"You really? Bagaimana keadaannya?" tanya Zhavia agak cemas. memang sudah beberapa kali dia mendengar kalau ibunya sering tidak enak badan.


"Tidak apa apa, mommy terlalu lelah banyak sekali kegiatannya . Padahal aku dan kakakmu sampai Gracia sudah menyuruhnya cukup melihat Darren saja, tapi dia malah merangkai bunga, bercocok tanam, berbelanja. Kau tahu kan mommy mu tidak bisa diam!" sungut Dion mengadu karena Viena terkadang lebih mendengarkan anak anaknya ketimbang dirinya.


"Haha, kau ini dad! Lalu, di mana dia?" tanya Zhavia seketika menjadi merindukan ibunya yang memang keras kepala.


"Di depanku, aku ingin membicarakan acara baby shower mu," kata Dion memberitahu maksudnya.


"Aku mengerti dad, kalian pasti tidak bisa datang kan?" Gumam Zhavia dengan nada melemah. Matanya pun tiba tiba berkaca kaca dan hatinya mulai bersedih dengan sedikit kecewa.


Dion pun memberikan ponselnya pada Viena.


"Zhavia?" panggil Viena dengan nada suara melemah seperti anaknya.


"Mom, you okey?" saut Zhavia menundukan kepalanya sambil mengelus perutnya.


"Okey, Via. Bagaimana kehamilanmu? Apa ada masalah?" selidik Viena.


"Tidak mom, tapi aku masih tidak bisa mengonsumsi banyak makanan. Setiap saat aku suka merasa sendiri dan kesepian karena kesibukan Patrick. Dia berangkat pagi dan pulang malam ketika aku sudah tidur. Hem, sebenarnya aku membutuhkanmu mam," kata Zhavia dengan wajah muram dan penuh kerinduan terhadap sang ibu.


"Maafkan aku sayang, kondisi kesehatanku sangat tidak menentu. Namun, ketika kau melahirkan, aku pasti menengokmu dan tinggal di sana untuk merawatmu, oke?" ujar Viena membuat janji.


"You promise mom?"


"Ya sayang! Aku pasti kesana bersama Daddy mu!" kata viena lagi.


"Oke mom, aku akan menanti. Kau jangan terlalu memikirkan. Aku baik baik saja. Patrick tetap memperhatikanku. Tetap mengirimiku makan dan menghubungiku. Tapi memang terkadang agak sepi," keluh Zhavia seraya mengatakan keadaannya saat ini.


"Bersabarlah sayang. Lakukan yang menjadi kesukaanmu, dengarkan musik, dan menonton film. Pergi ke kamar apartemen Adeline dan Nyonya Chloe. Kau pasti akan lupa dan tidak kerasan jika Patrick tidak ada. Dia bekerja untukmu dan anak kalian," kata Viena mengingatkan.


"Ya mom, aku mengerti, terimakasih mom. Pesanmu akan selalu terngiang dalam pikiranku,"

__ADS_1


"Baiklah, jaga dirimu, aku akan mengatakan pada aunty Clau untuk menemuimu dan apa kau sudah siap memberitahu Zefanya?" tanya Viena seketika untuk memastikan.


Deg!


Seketika Zhavia mengingat Zefanya. Dia masih belum siap memberi tahu saudara kembarnya itu apalagi akhir akhir ini Zefanya mengatakan kalau program hamil 4 bukannya tidak berhasil. Dia juga kembali datang bulan. Zhavia malah menjadi tidak enak jika Zefanya mengetahuinya.


"Hem, memang ada apa mom?" Zhavia malah bertanya kembali.


"Sebaiknya kau pastikan dia. Dia mengatakan akan ke Honolulu, tapi aku tidak begitu paham. Kau harus menyiapkan diri Zhavia," kata Viena memperingati.


"Yes mom, aku akan memikirkan untuk memberitahunya dalam waktu dekat. Kau tenang saja. Aku yang akan mengurusnya," balas Zhavia sedikit khawatir.


"Baiklah Zhavia. Aku tidak apa apa. Pemberian vitamin lewat infus akan membuatku jauh lebih baik," seru Viena agar anaknya tidak mengkhawatirkannya lagi.


"Oke mom! Kau juga harus menjaga kesehatanmu mom, jangan terlambat makan dan jangan lupa meminum vitaminmu. Hem, sebaiknya kau jangan terlalu banyak kegiatan. Cukup menemani Darren bermain saja mom," pesan Zhavia.


"Iya Zhavia, kau tenang saja. Sampai jumpa, Tuhan Memberkati,"


"Tuhan memberkatimu juga mom, sampai jumpa,"


Panggilan dimatikan. Zhavia menarik napas panjang. Ya, pertama Tama dia harus memastikan Zefanya. Namun, dia merasa Zefanya pasti akan mengatakan jika datang kemari seperti kalau Ezekhiel datang mengurus apartemenya di negara ini. Karena sudah mendengar suara ibunya, Zhavia malah tertidur sampai Patrick pulang. Patrick pulang lebih awal karena pemberian cat pada ruangan kelas selesai dengan cepat.


Akhirnya mereka mengadakan acara baby shower itu satu Minggu setelahnya. Mereka mengadakan di apartemen mereka saja karena Zhavia agak malas pergi keluar. Mungkin karena biasa di apartemen dan emosi serta selera yang suka berubah ubah. Patrick mengundang semua kerabat. Dia juga meminta Sandra bersama Alex. Untung saja Alex sedang dalam keadaan baik. Bukan hanya itu, Zhavia tentu menyuruh Pierre dan Ella untuk kembali datang dan mengajak Pevi dan Anthony. Patrick senang karena kedua orang tua itu, paman dan bibi kesayangannya bisa hadir. Namun, tetap saja Zhavia merasa kurang karena tidak ada keluarganya yang datang. Aunty Claudia dan Uncle Egnor tidak bisa datang.


Claudia mendapat banyak pesanan katering juga harus mengawasi acara pernikahan kerabatnya yang diadakan di restorannya. Wilson tidak bisa mengawasinya sendiri. Selain itu Egnor juga harus menghadiri penobatan Willy menjadi ketua advokat. Zhavia dan Patrick harus memakluminya. Patrick pun tak tinggal diam. Dia meminta tolong pada Sandra agar memberikan apa saja yang Zhavia butuhkan. Memasakan masakan kesukaan Zhavia dan Chloe membuat kue kesukaanya. Adeline dan Ella juga membantunya. Pokonya acara baby shower itu berjalan penuh kehangatan. Patrick berusaha membuat Zhavia tidak pernah sendiri meski jauh dari keluarganya.


"Patrick!" Panggil sebuah suara. Itu Stanley. Sahabat Patrick sewaktu High School juga pernah kuliah di satu universitas bersama Zhavia (muncul di bagian Dior & Gracia season 2).


"Stanley? Siapa yang mengundangmu kemari?" tanya Patrick sedikit terkejut bertemu dengan teman lama.


"Istrimu! Lalu siapa? Kebetulan aku sedang mengunjungi orang tuaku!" jawab Stanley sudah memberi satu pelukan.


"Ah benar, salamkan nanti untuk Paman Rico dan Aunty Solane," saut Patrick.


"Tenang saja, lalu di mana Zhavia?" tanya Stanley juga ingin menyalami Zhavia.


"Di sana, bersama Adeline, kau ingat dia kan? " Jawab Patrick mengarah pada Zhavia tapi seketika Patrick mengernyitkan dahinya karena melihat Zhavia malah sedang berbincang dengan Daniel.


'sejak kapan dia datang?' pikir Patrick yang agak aneh Daniel tidak menemuinya lebih dulu. Patrick memang meminta Eden untuk mengundangnya tapi mengapa tidak mendatangi dirinya lebih dulu.


...


lanjut di bawah ya


tetap LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊


thanks for read and i love you 💕

__ADS_1


__ADS_2