
...Ada bagian yang tidak perlu untuk diberi tahukan ada juga bagian yang harus diberitahukan...
Seharian atau berhari - hari belakangan ini Rival dan Roy tidak saling tegur menegur satu sama lain terutama Rival. Ia sangat tidak menyangka kalau Roy kakak yang paling ia kagumi dengan segala apapun itu ia terus saja melakukan apa yang kakaknya suruh itu.
Sekarang semua sudah berubah sekali, Memang ini tidak bisa disalahkan oleh sesuatu yang sepihak tapi yang paling penting adalah ia sangat yakin ada kejanggalan yang terjadi. Franda adalah orang yang ia ketahui perempuan polos dan apa adanya berlaku seperti itu. "Pah mah, kok Rival gak ikutan?"
"Katanya gak enak badan gitu." Sahutnya yang membuat Roy yakin kalau Rival tidak mau satu mobil dengannya.
"Ya udah yuk berangkat aja." Sahut mamanya yang sudah siap dengan baju kebayanya itu karna kebetulan banget papah ngajak buat ke kondangan temannya ya teman sejak SD dulu yang kebetulan ketemu di waktu yang tidak terduga.
Roy menatap kamar Rival, kamar yang tertutup rapat yang tidak biasanya terkunci itu. "Udah tenang aja kak Rival gak kenapa-napa. Gue yakin dia butuh waktu." Ini nih yang enaknya jadi saudara kembar pasti selalu merasakan salah satu apa yang dirasakan oleh saudara kembarnya sendiri bukan dari fisik saja tapi dari hati juga. Yang padahal Roy sama sekali belum bercerita sedikitpun.
"Entar gue cerita sama lo." Tiffany hanya mengangguk saja.
"Iya tapi muka lo jangan kusut gitu. Senyum... smilleeeee." Tiffany melebarkan mulut Roy dengan kedua jari kanan dan kiri agar Roy tersenyum.
Disaat rumah sudah sepi, Rival sengaja ke rumah Rubi untuk mengkonfirmasi apa yang sebenarnya terjadi, ia tahu sekali Rubi orang yang memiliki kunci itu. Ia mengambil kunci mobilnya lalu berangkat ke rumah Rubi, rasa penasaran itu tidak harus ia pendam lama yang terpenting harus terus ia kejar sampai terselesaikan.
"Gue yakin ada sesuatu gak mungkin Franda seperti ini." Batinnya.
Ada kata optimis dipikiran Rival, ia yakin sekali. Entah kenapa rasa sayang itu lebih besar ketimbang rasa perpisahan. Semua seakan jauh lebih berharga apalagi sosok Franda yang abar sekali tidak murah marah dan selalu jadi bahan pembullyannya.
Sebenarnya ada rasa gugup untuk bertemu Rubi tapi apa daya semua harus ia selesaikan.
"Non ada den Rival diluar.." Rubi yang asik memainkan ponselnya terkejut ketika ada Rival diluar. Rasa bahagia itu tumbuh dan pasti Rival ngajakin balikan lagi.
Rival sudah menunggu diruang tamu, dengan wajah yang datar berbeda dengan Rubi yang kegirangan sekali. "Hai, duduk dulu yuk. Mau minum apa?"
"Gue pengen ngomong sesuatu sama lo diluar." Rival melengos saja keluar dari dalam ruangan. Rubi pun mengikuti Rival untuk keluar.
"Ada apa val? Kok tumben main kesini?"
"Lo yang nyuruh Franda ya atau lo yang ancam dia? Gue tau lo baik tapi lo gak usah licik juga kali Rubi, cowok diluar sama tuh banyak gak perlu gue juga."
Rubi bingung, atau jangan-jangan Franda yang mengadu domba? Pikirnya seperti itu.
"Franda bilang begitu ya? Licik banget tuh anak ya, udah dikasih tau malah bilang kayak gitu."
__ADS_1
"Maksud lo?"
"Gue minta dia buat bikin lo balik ke gue, eh dia malah jelek-jelekkin. Enak aja gue habisin juga tuh anak." Rubi emosi dan mengambil ponselnya. Awalnya ia ingin menelfon dan memaki Franda karna telah mencemarkan nama baik tapi Rival mengambil paksa ponsel itu.
"Jadi ini ide lo?" Kejut Rival yang tidak menyangka sama sekali.
"Franda juga mau!!! Jadi bukan gue juga yang salah."
"Ah!!! Sialan lo ya rub, dari dulu kenapa sih udah gue bilang!!"
"Val gue ngelakuin ini karna gue sayang banget sama lo dan gue juga cinta banget sama lo. Please val balik sam gue."
"Gue mohon!!" Rubi pun berlutut di kaki Rival. Rival tidak ingin yang bertekuk lutut ia pun membangunkan Rubi untuk bangun.
"Rubi, gue gak bisa. Ini sudah beda kita yang dulu jangan lo ungkit lagi, biarin semua yang lalu berlalu. Maaf gue harus pergi."
"Vallll, Rivallll." Teriak Rubi, tapi tidak diperdulikan oleh Rival sama sekali. Ia pun hanya meminta kejelasan dari Franda.
***
Tidak memerdulikan itu lagi, berjalan ke rumah Franda saja ada rasa takut. Tapi itulah yang membuat Rival yakin dan yakin kalau misalnya semua akan kembali ke semula.
"Ya udah duduk dulu." Gak mungkin kan langsung ngusir bisa-bisa gak etis banget.
"Sorry gue kesini gak bilang, gue juga minta maaf untuk semuanya ya. Maafin gue fran, gue salah. Gue emosi gitu aja."
"Iya gak papa aku juga minta maaf ya val."
Kecanggungan pun dimulai, disaat itu juga Franda merasa jantungnya berdebar kencang sekali, ia tau sekali kalau ia tidak bisa ditatap oleh orang lain termasuk Rival. "Maafin yah!"
"Iiii iya val." sahutnya yang menyambut tangan Rival.
...•••...
Di pagi seperti ini Franda mendapat panggilan guru dan ia harus masuk kedalam sana. Dan sontak saja ia bingung padahal ia yakin kalau tidak melakukan sesuatu yang melangggar. Ini adalah kali pertama Franda masuk kedalam ruang BK.
"Ada apa ya pak?"
__ADS_1
"Kamu benar mengambil uang Lusi?"
"Uang Lusi?" Sejak kapan ia mengambil uang orang lain? Sama sekali bukan ajaran dari kedua orang tuanya.
"Iya Lusi yang bilang seperti itu, apa saya panggilkan Lusi untuk menjadi korban?"
"Iya pak." Franda sangat yakin kalau ia tidak pernah melakukan hal itu.
Dipanggilah Lusi dari kelas. "Lus lo dipanggil ke ruang BK." Ucap salah satu siswa yang disuruh untuk memanggil Lusi.
"Gue kesana dulu mil."
Bima penasaran dan menanyakan ke Milka. "Mil, emang kenapa?"
"Itu si Franda ngambil uang Lusi, biasa kan Lusi anak orang kaya. Cer lo hati-hati deh sama Franda kali aja uang lo diambil."
"Lusi apa benar uang kamu hilang?"
"Iya pak uang saya hilang, dia yang ngambil dan pas banget saya juga ngomong ada bukti."
"Bukti apa?" Sahut Franda. Ia benar-benar merasa tidak melakukan hal itu.
"Coba aja kita ke kelas trus liat buktinya disana?" Franda takut dan tidak melakukan hal ini.
Tidak langsung percaya begitu saja mereka pun ke kelas, dan membuktikan itu semuanya disana.
Dan... semua terkejut sekali.
"Mohon perhatiannya sebentar, Franda ambil tas kamu." Franda mengambil dengan pedenya, ekspresi Franda sangat-sangat yakin kalau dia tidak mengambil uang Lusi.
Setelah dibuka.
Anehnya ada!
Semua siswa dan siswi yang ada disana terkejut sekali seakan menyimpulkan kalau Franda salah dan memang dia pelakunya. Semudah itu menyimpulkan hal itu, dan yang membuat aneh adalah seketika berbisik satu sama lain mempercayai semua yang terjadi.
"Franda apa ini?"
__ADS_1
"Bukan saya pak, saya gak tau uang ini ada di tas saya."
"Ngaku deh lo! Bukti udah ada gak usah ngelak ya."