Mantan Terindah

Mantan Terindah
Kegalauan Gani


__ADS_3

Kebahagiaan yang dirasakan Gani dan Nadia sedikit terganggu oleh kedatangan pria yang mengaku dirinya adalah ayah kandung dari Gani.


Pria paruh baya itu datang bersama seorang wanita yang disinyalir adalah istri pria itu. Yang artinya adalah ibu tiri Gani.


Sejak pria itu datang, Gani lebih banyak diam. Dia ingin protes, namun rasanya tak pantas jika ia lakukan keinginannya itu di depan umum.


Gani takut, penolakan dan juga protes yang akan dia lakukan malah menyakiti hati kedua orang tua yang telah membesarkannya.


Di kamar pengantin antara Gani dan Nadia...


"Mas," ucap Nadia sembari duduk di samping sang suami.


"Kenapa harus ada dia, Dek?" tanya Gani lirih.


"Mas, jangan gitu! Mereka kan orang tuamu." Nadia mengelus lengan sang suami dengan penuh kasih sayang.


"Entahlah, Dek. Aku nggak pengen tahu ini sekarang." Gani menundukkan kepalanya lemas.


"Lalu kapan lagi, Mas? Janganlah begitu! Beliau melakukan ini, karena ada alasannya kan. Bukankah Mas udah dengar sendiri tadi, bahwa ayah mu melakukan ini karena ingin melindungimu dari keluarganya. Tolonglah ngertiin dia, Mas!" pinta Nadia, masih dengan suara super lembut miliknya.


"Nggak semudah itu, Dek," jawab Gani.


"Aku tahu, tapi aku yakin dari lubuk hatimu yang terdalam, nggak ada sedikit pun kebencian untuknya. Hanya saja, kamu masih butuh waktu. Kami siap kok kasih kamu waktu. Nggak pa-pa," jawab Nadia dengan senyum termanis nya.


Gani diam. Lalu beranjak dari tempat duduknya. Hendak melangkah ke kamar mandi. Tapi, sedetik kemudian, ia membalikkan tubuh. Lalu menatap sang istri yang masih menggunakan kebaya. Sejenak, Gani pun berpikir, bahwa sang istri pasti lebih membutuhkan kamar mandi dibanding dirinya. Tak ingin membuat sang istri semakin tersiksa dengan baju itu. Ia pun meminta sang istri untuk pergi membersihkan diri terlebih dahulu.

__ADS_1


"Kamu mandi duluan aja, Dek!" ucap Gani.


Nadia tersenyum. Sebutan 'dek' yang dilontarkan Gani sedari tadi, nyatanya sanggup membuat wajah gadis cantik yang kini telah resmi menjadi istri ini bersemu merah.


"Loh, disuruh mandi dulu kok malah senyum-senyum. Kenapa? Kenapa hayoo? Pasti mikirnya macem-macem?"canda Gani sembari menilik wajah ayu Nadia.


Nadia melirik gemas. Namun Nadia sedikit senang, sebab Gani sudah bisa bercanda.


Gani menarik tangan sang istri, lalu membawa wanita cantik itu ke dalam. dekapannya.


"Sini."


Nadia menurut. Membiarkan tubuh ramping nya di peluk oleh sang suami.


"Kamu nggak nyesel kan? Nikah sama aku?" tanya Gani. Membahas masalah itu lagi.


"Aku takut kamu menyesal, karena nyatanya aku hanya anak pungut." Gani menatap kosong ke arah mata memandang. Sebab dia masih belum bisa menerima kehadiran pria yang mengaku sebagai ayah biologisnya.


"Tidak, Mas. Jangan bicara begitu. Kan kita udah bahas ini. Lagian aku sudah tahu sebelum kamu melamar ku malahan," jawab Nadia jujur.


Gani menatap Nadia. Ia sebenarnya sudah curiga. Hanya saja, Gani tidak mau memaksa Nadia maupun kedua orang tuanya untuk berlaku jujur padanya.


"Dan kamu nggak mau cerita ke aku? Maksud kamu apa?" tanya Gani, pelan.


"Bukan aku nggak mau cerita, Sayang. Tapi ini bukan ranahku untuk menjelaskan siapa kamu. Ada ibu yang lebih berhak. Toh aku nggak mempermasalahkan itu. Siapa pun kamu, aku tetap mencintaimu, Mas. Mencintaimu dengan hatiku. Menyayangimu setulus perasaanku. Demi Tuhan, aku nggak peduli dari mana asalmu. Yang aku utamakan adalah kebaikan hatimu. Sesibuk apapun kamu, kamu sama sekali tidak pernah meninggalkanmu sebagai muslim. Bukankah itu nilai plus dalam dirimu. Yang perlu aku perjuangkan," jawab Nadia seraya memberikan kecupan penuh kasih sayang di pipi Gani. Lalu, tanpa ragu, Nadia pun memberikan pelukan penuh cinta di tubuh kekar pria tampan yang kini jadi suaminya itu.

__ADS_1


"Benarkah?" Gani menatap sang istri, lembut.


"Ya, aku mencintaimu. Aku tidak peduli dari mana asalmu. Yang penting saat ini kita seiman." Nadia memberanikan diri memberikan kecupan di dagu Gani. Karena untuk meraih bibir, rasanya kejauhan.


"Tapi keluarga kandungku... aku nggak tahu mereka punya agama atau tidak." Gani menatap memelas.


"Ih, ngapain mikir sejauh itu. Masalah kepercayaan itu masing-masing. Mas nggak perlu pusingin. Yang pentingkan kita. Kamu dan aku. Karena di antara kita nanti akan ada Gani junior yang perlu kita didik dengan akidah dan ahlak. Mengerti!" jawab Nadia, tegas.


"Okelah jika kamu nggak masalah. Tapi jujur, aku malu sama kamu," ucap Gani.


"Malu kenapa lagi?" canda Nadia.


"Entahlah, aku merasa seperti seseorang yang memiliki jati diri yang nggak jelas. Entah aku lahir dari pernikahan atau aku hanya anak haram, aku nggak tahu, Dek. Aku nggak tahu!" ucap Gani sedih.


Ternyata yang ada di pikiran Gani, jauh dari apa yang Nadia pikirkan. Gani banyak merisaukan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dia risaukan.


"Seandainya kamu memang lahir dari hasil perzinahan, itu nggak masalah, Mas. Lagian itu bukan salahmu. Bukan inginmu. Bukan kuasamu. Kamu nggak usah setakut itu. Pokoknya sekarang, yang harus kamu lakukan adalah mengikhlaskan segalanya. Mengikhlaskan apa yang telah terjadi. Besok kita ke makam bundamu ya, biar bundamu bangga. Bahwa dia memiliki putra tampan dan berhati mulia sepertimu. Oke," ucap Nadia, mencoba membesarkan hati Gani.


Gani mengangguk, menyetujui ucapan sang istri. Nyatanya, Nadia bisa membuat hati seorang Gani menjadi adem kembali. Setelah tadi ada ketegangan dan ketidaknyamanannya di dalam hatinya.


Nadia kembali memberikan pelukkan untuk pria tampannya ini. Mengelus punggung sang suami yang ia cintai. Berharap, besok, Gani bisa bertemu pria bernama Kim Soo Han itu. Pria paruh baya yang mengaku sebagai ayah kandung Gani.


Bersambung...


sambil nunggu up, kalian bisa kepoin karya bestie emak😘😘😘

__ADS_1



__ADS_2