
Keesokan harinya...
Sepertinya Vita dan Bima lupa, jika saat ini sedang berada di rumah kakak ipar mereka. Mereka masih asik terlelap, manjakan tubuh mereka, setelah semalam penuh mereka menghabiskan tenaga untuk memadu cinta.
Jarum jam telah menunjukkan pukul tujuh pagi, bahkan Juan juga sudah duduk manis di meja makan. Sedang menikmati menikmati sarapan pagi dan juga secangir kopi
Namun, dua sejoli yang saat ini menjadi tamu mereka, sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya. Membuat Juan iseng bertanya.
"Vita mana, Mam? Nggak sarapan?" tanya Juan.
"Astaga, Pi. Kalo pengantin baru sarapannya pasti lain lah sama kita," jawab Stella.
"Heemmm, lain sama kita? Maksudnya?" tanya Juan lugu. Sepertinya otak Juan sudah terkontaminasi banyak file-file yang menghasilkan uang. Sehingga partikel mesum yang ada di sana mulai berkurang.
"Astaga, Pi... emang kudu gitu Mamai jelasin sarapan ala pengantin baru?" Stella terkekeh. Sedangkan Juan malah terlihat serius.
"Apaan sih, Mam? Muter-muter gitu ngomongnya?" Juan mrengut. Membuat Stella gemas. Tanpa aba-aba, ibu dua anak ini pun mendekati sang suami. Celingukan ke kanan dan ke kiri. Setelah merasa ama, Stella langsung mendaratkan ciuman di bibir sang suami. Mencium seperti seseorang yang menginginkan bercinta. Juan yang belum siap tentu saja gelagapan.
Namun, pria tampan ini menikmati. Tak protes sedikitpun. Bahkan ia mulai berani.
Merasa sang suami sudah terpancing, Stella pun menghentikan ciumannya.
"Kok berhenti, Mam?" tanya Juan terkejut, wajahnya memerah menahan gairah. Sedangkan Stella malah tertawa geli, Juan begitu menggelikan ketika menahan gairah.
"Lah, kan Mami cuma kasih tahu Papi, sarapan ala pengantin baru," jawab Stella seraya beranjak menjauh dari sang suami. Seketika Juan pun paham maksud sang istri. Juan tersenyum menahan tawa. Ternyata istrinya begitu manis.
Juan melirik sang istri, lalu ia pun mengingat bahwa dirinya sudah lama tidak memanjakan sang istri ala pengantin baru. Berhubung rumah masih sepi. Tak ada salahnya, Juan memberikan sarapan ala pengantin baru pada sang istri. Itung-itung ini adalah reward untuk Stella. Karena begitu sabar menghadapinya. Mengingat waktunya terlalu sering ia pakai bekerja.
__ADS_1
"Mam," ucap Juan seraya mendekati sang istri.
"Ya," jawab Stella lembut.
Juan mematikan kompor yang menyala. Lalu menggandeng sang istri. Menggandeng wanita itu, lalu sesampainya di tangga, pria tampan ini membopong sang istri ala princess kesayangan.
"Papi mau ngapain?" protes Stella, tanpa meronta.
"Memangnya pengantin baru doang yang boleh sarapan cinta. Papi juga mau, Mam," jawab Juan.
Spontan mata Stella pun membulat sempurna. Sepertinya ia salah dengan materi yang ia sampaikan pada sang suami. Lihatlah, Stella seperti membangunkan singa yang sedang tidur.
Stella tersenyum menahan tawa. Ia pun menyembunyikan wajah malunya di dada sang suami. Geli saja. Namun wanita ayu ini parah. Karena ia pun tak bisa bohong. Stella juga menginginkan ini. Menginginkan cumbuan sang suami yang telah lama tidak ia rasakan.
Selama ini Stella enggan protes. Mau bagaimanapun waktu Juan bukan habis untuk bermain. Pria itu sedang serius mencari nafkah lahir untuk dirinya dan kedua buah hati mereka.
Stella memilih diam ketika ia ingin di cumbu. Ia takut, Juan kelelahan bekerja, sehingga apa ia takut apa yang ada di pikirannya tidak sesuai ekspetasi.
Wanita ini hanya menatap nanar pada mata pria yang ia cintai itu. Ingin rasanya berucap, namun sekali lagi, Stella tak sanggup, Stella tak mampu. Dan Juan sangat paham dengan itu. Juan paham jika selama ini sang istri pasti menahan ingin. Hanya dirinya yang kurang peka.
Juan kembali memberikan kecupan mesra di kening sang istri. Tanpa di minta air mata wanita ayu itu langsung meleleh sempurna. Seperti protes, mengapa sekarang Juan jarang menjamahnya? Apakah dirinya sudah tak menarik lagi? Ingin rasanya Stella bertanya seperti itu. Namun, sekali lagi ia tak sanggup.
"Hari ini, aku milikmu, Mam. Waktuku milikmu. Jiwa raga ku milikmu. Apapun yang kamu inginkan akan aku lakukan. Aku janji. Jangan nangis lagi ya," ucap Juan seraya memeluk erat sang istri.
"Janji?"
"Ya, hari ini aku akan di rumah. Nemenin kamu," jawab Juan.
__ADS_1
"Kamu terlalu sibuk, aku tidak suka," ucap Stella merajuk.
"Sorry."
"Kamu sekarang lebih suka bekerja dari pada mencumbu ku. Aku nggak suka," ucap wanita cantik ini lagi.
"Maaf, Honey. Habis kerjaan ada terus. Kamu marahin saja Gani. Dia yang mengatur jadwalku. Katakan padanya jangan menyuruhku kerja terus. Kalo dia nglawan, suruh saja dia menikah, Mam. Biar bisa ngrasain gimana rasanya tersiksa ingin," jawab Juan.
Melempar sembunyi tangan. Senjata terbaik Juan. Karena dia tahu, istrinya ini kadang lugu plus lola. Juan tersenyum. Karena mendapat celah keluar dari rasa bersalah. Mempermainkannya adalah hobinya yang selama ini yang sempat tertunda dan Gani, lihatlah dia bisa memanfaatkan sekertaris pribadinya itu.
"Benarkah? Haruskah aku marah pada Gani?" tanya Stella.
Nah kan. Juan semakin terlihat bersemangat mempermainkan sang istri. "Tentu saja, dia yang mengatur waktuku. Katakan padanya jangan suruh suamimu ini kerja terus. Kasih waktu libue. Memangnya siapa dia suruh Papi kerja terus, ya kan? Hari ini dia pasti akan ke rumah, Mam. Marahin aja! Papi di pihakmu, Mam!" ucap Juan semangat.
"Papi benar, sebaiknya memang Mami omelin tu sekertaris. Memangnya siapa yang gaji dia. Kenapa bisa suruh bosnya kerja terus. Iya kan?" balas Stella.
Juan kembali tersenyum menahan tawa. Istri lugunya masih belum menyadari apa yang ada di otak liciknya. Ia tetap ingin di manja. Ingin disayang. Namun tak mau disalahkan atas kelalaiannya.
"Emm, ngomong-ngomong, Papi beneran nggak mau ngantor?" tanya Stella, memastikan.
"Ya, Papi hari ini nggak mau patuh sama Gani. Biarkan dia saja yang kerja. Hari ini Papi mau bolos. Mau berduaan sama Mami di kamar ini. Berciuman, bermanja-manja, melakukan itu lagi. Pokoknya Papi mau cinta-cintaan sama Mami hari ini. Apa boleh?" tipu Juan lagi.
"Tentu saja, Mami pun rindu saat seperti ini," jawab Stella jujur.
Stella tersenyum, lalu kembali memberikan kecupan di bibir sang suami. Namun ia tak lupa, di dalam hati dan pikirannya, ia tetap akan memberikan pelajaran pada Gani. Sebab asisten suaminya itu dinilainya sangat keterlaluan.
Bersambung....
__ADS_1
Sambil nunggu emak update, kalian bisa main ke karya bestie emak ya😘😘Semoga suka🥰🥰