
Hati yang sudah terisi satu nama atau lebih sangat sulit untuk menghapusnya. Apalagi orang tersebut yang selalu menghiasi hari hari kita tapi seketika hilang tak tersisa bahkan hanya mendengar suaranya atau melihat sehelai rambutnya saja sulit. Jadi, apakah perlu merendahkan ego dan melihat pengaruh yang ada? Allegra dan Morgan, Zhavia dan Zefanya sebenarnya dua kubu yang saling berlawanan. Berusaha bersatu untuk bisa saling melengkapi. Jangan melihat hubungan percintaan antar pasangan lebih pelik, nyatanya hubungan persaudaraan sedarah lebih mengharu biru. Bagaimana mereka kembali menjadi satu? Apa perjuangan Morgan akan terus berlanjut? Dan, bagaimana Zefanya dan Zhavia akan bertemu pada akhirnya?
...
Rosie terus melihat layar ponselnya menunggu balasan pesan dari Allegra yang tak kunjung datang. Dia takut kalau apa yang ia lakukan akan salah lagi. Semua perasaan sudah ia curahkan pada pesan itu. Entahlah apa yang ada di pikiran Allegra sekarang tentang dirinya. Rosie sangat yakin kalau Allegra adalah wanita baik. Rosie percaya dia tidak akan salah menyerahkan mantan terindah dalam hidupnya pada Allegra.
Theo & Rosie
cast Theo : Seungri Big Bang
"Rosie, bagaimana? Kau sudah mengirim pesan pada Allegra?" Tanya Theo yang sengaja menjemputnya untuk makan siang di resto gedung perusahaan iklan Jovancy.
"Sudah sejak tadi pagi, tapi Allegra tidak membalasnya. Apa nomornya salah? Tapi status pengiriman terkirim, Theo," keluh Rosie masih memperhatikan ponselnya.
"Yasudah, tunggu saja. Mungkin Allegra sedang sibuk. Kau kan tahu jabatan dia sebagai presiden direktur hotel Atkinson," saut Theo menyemangati wanita yang sedang ia dekati itu.
"Ya, kau benar. Mereka berdua cocok, Theo. Sama sama pemilik perusahaan. Semoga Morgan bisa mendapatkan hati Allegra lagi. Tapi bagaimana jika tidak berhasil, Theo? Ah aku benar benar tidak mengerti dengan semua ini," keluh Rosie lagi bingung karena merasa dia lah penyebab dari semua ini.
"Tenang saja Rosie. Kau sudah melakukan bagianmu. Selanjutnya biar tangan Tuhan yang bekerja," saut Theo lagi memegang punggung Rosie.
"Tapi Theo, aku berencana jika sampai Nyonya Zefanya dan Tuan Ezkhiel pulang, Allegra belum membalas pesanku, aku harus ke Springfield. Aku harus bertemu dengan Allegra," tutur Rosie menoleh ke arah Theo dengan sedikit frustasi.
"Kau yakin?" Theo menaikan satu alis matanya.
Rosie mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menemanimu. Memang kapan Nyonya Zefanya dan Tuan Ezekhi akan pulang? Tuan Ezekhiel tidak memberikan kabar apa apa padaku," tanya Theo lagi terus memandangi Rosie yang menurutnya sangat cantik hari ini karena tidak mengenakan kaca mata. Theo tahu, kalau Rosie sepertinya menangis pagi tadi karena masalah Morgan dan Allegra ini.
"Entahlah, sepertinya Nyonya Zefanya juga memiliki masalah di Honolulu," saut Rosie menaikan pundaknya.
"Hem, semua mempunyai masalah. Kita saja yang tenang dan damai. Oh iya, memang bagaimana isi pesanmu untuk Allegra?" tanya Theo sedikit penasaran sampai Rosie bingung bukan kepalang.
"Nih, baca saja sendiri. Aku sudah berusaha sangat sopan padahal sepertinya aku yang lebih tua darinya. Aku pesan makanan dulu. Kau mau pesan apa?" tanya Rosie memberikan ponselny pada Theo tanpa ragu. Dia mulai sangat kerasan dan nyaman dekat dengan asisten kepercayaan Ezekhiel itu. Menurutnya Theo lebih santai dan apa adanya ketimbang dulu Morgan yang agak dingin dan pendiam. Jadi, Rosie lebih leluasa mengekspresikan segala perasaan dan perilakunya tanpa membuat Theo jenuh padanya. Kenyataannya Theo malah selalu ceria menghadapinya.
"Apapun yang menjadi kesukaanmu juga menjadi kesukaanku, Ochiku," jawab Theo menaik turunkan alisnya menggoda.
"Cih, baiklah aku memesan ramen pedas!" tantang Rosie terkekeh.
"Aku rela memakannya jika bisa membuatmu jadi milikku," saut Theo lagi terus menggoda membuat hati Rosie tergelitik dan kembali tersenyum.
"Kau ini! Mulutmu semakin manis!"
"Karena selalu bertemu denganmu," saut Theo lagi seakan akan tidak kurang persediaan kata kata indah untuk Rosie.
"Sudahlah, lama lama kau bisa menghancur lebur diriku, Theo!" dengus Rosie dalam senyumnya.
Rosie pun menuju ke meja pesan karena restoran itu mempunyai beberapa stand. Sementara Theo menunggu sambil membaca pesan yang Rosie kirimkan untuk Allegra. Betapa senangnya Theo ketika membaca di akhir pesan kalau Rosie sudah memiliki pria yang ia cintai. Theo memang belum tahu itu siapa, tapi semoga pria beruntung itu adalah dirinya. Mungkin Theo akan membuat sebuah rencana untuk menyatakan perasaannya dengan serius. Bukan hanya sekedar gombalan atau candaan.
...
Honolulu, menjelang siang ...
Sebelum pergi ke rumah Claudia, Ezekhiel meminta ijin pada Zefanya ke bawah untuk membeli beberapa minuman kaleng. Zefanya juga belum selesai berdandan. Dia lupa untuk menyuruh pegawainya menyiapkan beberapa minum kaleng sari buah kesukaannya. Di bawah apartemen ada sebuah resto bergaya elegan yang menjual makanan serta minuman sehat dengan kemasan segar. Ezekhiel menyetujui perusahaan restor terkenal itu untuk membeli beberapa lahannya sebagai salah satu cabangnya. Sebuah kerjasama yang tidak bisa Ezekhiel lewatkan.
Ezekhiel memasuki restoran bergaya Eropa itu. Dia hendak ke stand minuman kaleng dan membeli beberapa untuk persediaan santai nanti malam atau besoknya bersama Zefanya. Ketika dia berjalan ke arah stand, dia mendapatkan sesosok yang ingin sekali ia temui tetapi belum ada kesempatan agar Zefanya tidak mengetahuinya.
"Pat?" Panggil Ezekhiel pada Patrick yang juga sedang membeli sesuatu di stand kue kering. Patrick tentu menoleh ke arah panggilan namanya.
"Tuan Dimitri? Ah kebetulan sekali kita bertemu di sini," saut Patrick menghampiri Ezekhiel dan mereka bedua berjabat tangan.
"Aku juga ingin bertemu denganmu," balas Ezekhiel tersenyum.
"Sebelumnya aku minta maaf kalau Zhavia menyembunyikan ini semua pada kalian," ucap Patrick terang terangan sambil menundukan kepalanya.
"Itulah yang juga ingin kubahas Pat. Maafkan aku juga karena Zefanya berkata kasar sampai ingin memutuskan tali persaudaraannya pada istrimu," ucap Ezekhiel kembali memegang salah satu pundak Patrick
"Hal yang wajar jika hanya Zefanya sebagai kembaran Zhavia tapi dia yang tidak mengetahui atas kehamilan kembarannya. Aku juga ikut bersalah tidak bisa menasihati Zhavia. Aku minta maaf tuan," kata Patrick lagi mendongakan kepalanya.
"Semua hanya salah paham, Pat. Aku harap kita bisa bekerjasama untuk memperbaiki hubungan mereka," saut Ezekhiel memberi saran yang keluar dari pikirannya.
"Tentu tuan, tapi bagaimana caranya? Sekarang saja Zhavia tidak mau ke rumah Uncle Eg dan Aunty Clau. Dia ingin ke sekolah musik saja menenangkan diri," kata Patrick menampilkan wajah yang cukup bingung dengan masalah ini.
"Rayu dia Pat, aku yakin kau pasti bisa. Aku sudah membujuk Zefanya. Setelah aku ke atas, kami akan berangkat. Acaranya mungkin sampai malam. Aku akan menahan Zefanya untuk tidak pulang sampai kau datang bersama Zhavia. Kita pasti bisa, Pat. Zhavia pasti terus bersedih memikirkan Anya kan?" kata Ezekhiel meyakinkan Patrick.
"Benar tuan. Sejak semalam dia terus melamun. Seperti ingin melakukan sesuatu tapi ragu untuk melakukannya. Baiklah, aku akan membujuknya untuk ke rumah Uncle Eg. Terimakasih tuan Eze, kau sungguh suami yang bertanggung jawab," saut Patrick yang akan berusah membujuk Zhavia untuk pergi setelah puas bermain piano.
"Begitu juga denganmu, Pat. Hanya kita yang mereka percaya untuk memberikan hal hal positif. Sampai jumpa di rumah Uncle Eg," ucap Ezekhiel mengakhiri percakapan.
__ADS_1
"Ya, baiklah, terimakasih tuan, titip salamku untuk Zefanya," balas Patrick tersenyum hangat.
"Tentu, sampai jumpa,"
"Sampai jumpa tuan, selamat siang,"
Patrick membungkukan tubuhnya pada Ezekhiel dan Ezekhiel mengangguk kembali ke kamar apartemennya. Ya, Patrick harus mencari cara bagaimana mengajak Zhavia setelah pulang memuaskan bermain piano untuk beranjak ke rumah Egnor dan Claudia. Ini kesempatan yang baik. Sekalipun istrinya itu akan berkelahi dengan kembarannya, akan ada Egnor dan Claudia yang menengahi mereka.
...
"Kau sudah siap, Anya?" Tanya Ezekhiel memasuki apartemennya.
"Sudah sayang, apa yang kau beli?" tanya Zefanya juga.
"Hanya minuman kaleng lemon dan apel. Kau suka sari apel ini kan?" kata Ezekhiel menunjukan minuman kaleng yang hendak ia taruh di kulkas.
"Tentu. Mengapa kau lama sekali?" tanya Zefanya karena biasanya Ezekhiel selalu cepat.
"Tadi aku bertemu Patrick. Sepertinya dia hendak membelikan cookies untuk Zhavia. Kata Patrick, Zhavia terus melamun dan tubuhnya melemah Zefanya. Apa kau tidak mau menjenguknya?" kata Ezekhiel seraya memancing Zefanya melakukan sesuatu lebih dulu karena menurutny jika tidak ada yang mengalah, masalah tidak akan berakhir. Mungkin perhatian dari Zefanya akan meluluhkan Zhavia.
Seketika berdesir perasaan Zefanya mengkhawatirkan adik kembarnya itu. Kesepian kembali melanda ketika tidak ada bahasan di chat atau di grup chat keluarga tentang mereka berdua. Biasanya hanya Zhavia dan Zefanya yang ramai di grup tapi kini mereka malah bertanya di mana keberadaan Zefanya dan Zhavia. Claudia yang lagi lagi memberikan spekulasi masuk akal sehingga mereka tidak curiga. Namun, tetap perasaan ibu tidak ada yang tahu, Viena bertanya kondisi Zhavia dan Zefanya di sana pada Claudia. Claudia hanya berpesan untuk menyerahkan semua pada mereka agar mereka lebih ke arah dewasa.
"Zefanya? Kenapa kau diam sayang? Kau ingin mengunjungi Zhavia?" Tanya Ezekhiel lagi memegang pundak Zefanya.
"Ah iya, tidak, aku tidak ingin mengunjunginya. Itu hanya fase kehamilan yang bisa berubah sewaktu waktu, Eze. Bukan karena memikirkan ku. Sudahlah ayo kita berangkat ke rumah Aunty Clau. Aku masih harus membeli kue sebagai bingkisan untuk Aunty Clau," kata Zefanya menolak dengan tawaran suaminya dan suaminya sudah mengetahui hal ini. mana mungkin akna semudah ini.
"Ya, baiklah,"
Ezekhiel menarik napas. Usahanya masih kurang. Mungkin ada sebuah keajaiban terjadi di rumah Egnor dan Cluadia.
Mereka berdua pun menuruni apartemen dan menuju basement parkir untuk mengambil mobil. Ezekhiel melajukan mobilnya menuju ke rumah Egnor dan Claudia tapi sebelumnya bertolak ke toko kue.
Sesampainya di sana, Zefanya langsung menuju ke dapur karena di sana pasti Claudia masih berkutat sementara Ezekhiel bergabung bersama Egnor, Willy dan Wilson di ruang tengah.
"Selamat siang, Aunty Clau dan ..." Sapa Zefanya pada Claudia dan satu wanita yang sedang mendampingi Claudia memasak. Zefanya belum mengenal sebelumnya.
"Selamat siang Nyonya Dimitri, perkenalkan aku Yuri," kata wanita itu yang lebih dulu memperkenalkan diri sambil membungkukan tubuhnya di depan Zefanya.
"Calon tunangan Wilson," bisik Claudia merangkul Yuri dari belakang memberitahukan pada Zefanya.
Zefanya terkejut dan menutup mulutnya. Sungguh perberitahuan yang luar biasa bgi Zefanya bisa mengetahui wanita misterius yang disembunyikan sepupu kembarnya itu.
"Nyonya, Tuan Wilson bahkan belum mengatakan apa apa," desis Yuri agak tidak enak.
"Jadi, kau wanita misterius yang selalu ditutup tutupi Kak Wilson?" tanya Zefanya memicingkan matanya penuh kecurigaan. Wilson memang selalu memberi teka teki padanya dan Zhavia jika bertanya mengenai seorang wanita.
"Aku yang menyuruhnya, karena sebenarnya aku tidak layak berada di tengah tengah kalian," kata Yuri menundukan kepalanya.
"Jangan dengarkan dia, Anya! Sebaiknya kalian berdua cepat buat minuman segar dan susun cookies cookies itu karena sebentar lagi kerabat akan berdatangan!" bentak Claudia memberikan perintah pada calon menantu dan keponakannya.
"Nah, kau tidak harus terus merendah di keluarga ini, Nona Yuri. Kita semua manusia sama apalagi kau ternyata wanita cantik yang terlihat mandiri. Pantas saja Kak Wilson tergila gila padamu. Aku punya satu rahasia yang harus kau ketahui mengenai kakakku yang satu itu," saut Zefanya pada Yuri yang masih menundukan kepalanya tidak enak. Zefanya pun mengajak Yuri membantu Claudia mengerjakan apa yang tadi diperintahkan.
Cluadia setengah menoleh memperhatikan Zefanya yang tetap ramah dan berusaha netral padahal dia sedang bermasalah dengan Zhavia. Claudia pun tidak boleh membiarkan hubungan persaudaraan itu terus merenggang.
Sekitar pukul empat sore, kerabat Egnor dan Claudia mulai berdatangan pada acara Thanksgiving itu. Egnor dan Claudia memang sengaja merayakan kecilan kecilan sebagai bentuk ucapan syukur karena di tahun ini banyak hal baik melingkupi keluarga mereka. Wilson kembali membuat restoran cabang dan akan segera bertunangan. Sementara Willy ditetapkan sebagai Ketua Advokat seperti jabatan ayahnya waktu itu. Egnor bangga akan kedua anaknya walau terkadang Willy sering menentangnya tetapi dia menunjukan keseriusannya dalam mengikuti jejak sang ayah sebagai ahli hukum yang handal.
Claudia tidak mengundang banyak kerabat, hanya yang terdekat dan berada di Honolulu saja. Dan, kebetulan Zefanya dan Ezekhiel berkunjung sudah merupakan perwakilan dari kerabat di Legacy. Acara di mulai dengan kata pembuka Louise, anak dari Frank dan Grace (kaki tangan setia Egnor). Louise bekerja bersama Willy dan merupakan ahli bicara yang sangat baik. Louise memberitahukan maksud dari acara ini yang bertepatan dengan Hari Raya Thanksgiving. Louise juga memberitahu kalau sebentar lagi akan diadakan pesta pertunangan Wilson dan Yuri.
"Jadi, kalian akan segera menikah, kau tenang saja," kata Zefanya menyenggol Yuri di sampingnya.
"Aku benar benar tidak tahu Nyonya Zefanya," saut Yuri salah tingkah.
"Hey, jangan mentang mentang aku sudah menikah, kau memanggilku nyonya. Mungkin kita seumuran. Panggil aku Zefanya atau Anya. Usiaku 27 tahun, bagaimana denganmu?" dengus Zefanya bertanya juga.
"Ya, usiaku 28 tahun nyonya, eh Zefanya maksudku," ujar Yuri terkekeh.
"Nah kan, kau bahkan lebih tua dariku, kita bisa menjadi teman. Kalau kau ingin tahu tentang kakakku itu, aku bisa memberitahumu," saut Zefanya memberi penawaran.
"Memberitahu apa, Zefanya adik kembarmu yang memiliki banyak kata kata manis!" Kata Wilson tiba tiba berada di antara mereka dan mencubit pipi Zefanya.
"Memberitahu kalau kau sudah membeli cin..."
Wilson langsung menutup mulut sepupunya itu.
"Membeli apa tuan Wilson?" tanya Yuri heran. Yuri benar benar tidak tahu dengan semua rencana romantis yang sedang Wilson susun belakangan ini.
"Membeli cintamu untukku!" saut Wilson asal tapi malah membuat Yuri tersipu.
"Kak Wilson! Oh Tuhan! Mulutku sakit! Nah sudah Yuri, dia sudah mengatakannya padamu! Nanti kita cari tempat tersendiri untuk membicarakan dia ini!" Dengus Zefanya berhasil melepas tangan Wilson.
Yuri terkekeh melihat tingkah kekasihnya dengan saudara saudara nya yang begitu dekat dan akrab.
"Sudah kalian silahkan bersama, aku mau ke dapur memotong kue yang kubawa," kata Zefanya lagi. Wilson merangkul Yuri dan malah menceritakan tentang Zefanya yang juga kembar tapi tidak identik sepertinya dan Willy.
__ADS_1
"Bagaimana Wil? Kakakmu sudah menemukan cintanya, kau bagaimana?!" tanya Ezekhiel yang kini sedang menggoda Willy. Ezekhiel cukup dekat dengan Willy karena pengacara pribadi Ezekhiel, Edison merupakan mitra terdekat Willy. jadi mereaka sering bercengkramah bersama bahkan bertemu di sebuah negara yang sedang bersamaan mereka kunjungi.
"Proses!" jawab Willy asal tapi tegas.
"Begitu terus jawabanmu! Proses! Sedang dalam pemantauan! Sedang dalam penyelidikan dan pengumpulan bukti bukti! Kau ingin mengejar cinta atau penjahat cinta?!" saut Ezekhiel lagi meledek.
"Ya, wanita itu memang penjahat cinta, tuan Eze!" Willy mendesis tersenyum kecut.
"Tapi kau menyukainya kan?! Jangan sampai ayahmu mati darah tinggi hanya karena memikirkan kisah cintamu!!" Ezekhiel mengingatkan.
"Tenang saja, aku tidak ingin melangkahi kakakku. Biarkan dia menikah setelah itu aku langsung memberikan undangan padamu, Eze!" saut Willy bergurau.
"Paling paling undangan ucapan syukur atas berhasilnya pernikahan kakakmu kan?" celetuk Ezekhiel sudah tahu kalau Willy pandai berkelit.
"Kau yang paling tahu!" Willy mengedipkan matanya pada Ezekhiel.
"Entah kapan aku bicara serius padamu, Wil!" dengus Ezekhiel menyerah.
"Kau percis sekali dengan Dior! Lalu di mana sepupu kembarku satunya? Apa benar mereka bersih tegang?" selidik Willy ikut cemas mendengar cerita ayahnya yang terciprat kekecewaan Zefanya kemarin.
"Begitulah, Zhavia tidak memberitahu kehamilannya," gumam Ezekhiel menaikan pundaknya.
"Hem, padahal aku sudah membicarakan ini pada Zhavia. Wilson juga sudah memperingatinya! Dia sangat kerasa kepala! Patrick saja tidak bisa membujuknya! Zhavia lebih keras dari semua anak Bibi Vien!" tutur Willy ikut sedih dengan semua ini.
"Semua memperingati Zhavia?" selidik Ezekhiel yang merasa pasti Zhavia sangat takut mengatakan pada Zefanya.
"Iyalah, karena tidak ada yang bisa ditutupi dalam hubungan perkembaran ini, Eze!" saut Willy lagi.
"Cih, perkembaran kau bilang! Kau memang memiliki banyak pembendaharaan kata seperti Patrick. Kalian benar benar pujangga cinta!" celetuk Ezekhiel kembali meledek Willy. Ezekhiel memang selalu takjub setiap apa yang dikatakan Willy yang terdengar seperti sesuai.
"Hahaha! Untung Patrick sudah menemukan jalan pulang, sementara aku?"
"Proses!"
"Sial kau Eze! Ya, ku harap Zefanya bisa mengerti Zhavia, begitupun sebaliknya," gumam Willy.
"Kuharap, semoga Zhavia hadir dalam acara ini Wil, karena hanya di sini mereka bisa bertemu . Mereka sama sama keras kepala
"Kita tunggu saja!"
Ezekhiel dan Willy kembali berbincang sambil menunggu jam makan malam yang merupakan akhir dari acara ini.
Zhavia dan Patrick masih belum kunjung datang sementara Claudia yang dibantu oleh Grace, Zefanya dan Yuri sedang mempersiapkan makan malam.
"Mengapa Zhavia belum datang ya? Kata Patrick, mereka pasti datang," gumam Claudia bertanya tanya.
Zefanya mendengar gumaman bibinya diam saja dan hanya menundukan kepala sambil menata piring di meja makan besar itu.
"Mungkin terkena traffic jam, Clau," saut Grace menanggapi Claudia. Claudia mengangguk angguk. Namun, tak lama kemudian akhirnya Zhavia datang bersama Patrick. Semua tentu saja menyambutnya. Zefanya masih di dapur dan tidak berkutik dari sana. Yuri merasa kalau Zefanya memang sedang bertengkar dengan Zhavia.
"Zefanya, ada saudara kembarmu," kata Yuri.
"Ya, lalu? Sana kau berkenalan dengannya, dia lebih baik dan ramah dariku, sana!" Kata Zefanya mengarahkan Yuri keluar menemui Zhavia. Yuri mengerti keadaannya jadi dia tidak mau mamaksa Zefanya. Yuri meninggalkan Zefanya karena Zefanya hendak sendiri. Benar saja, setelah itu Zefanya bertolak ke arah taman. Zefanya duduk di sana sendirian.
Sementara Zhavia merasa sesak dengan aroma makanan yang menurutnya lezat tetapi karena dirinya belum makan jadi perutnya agak tidak enak.
"Zhavia, kau tunggu di taman luar, aku akan mengambilkanmu sesuatu untuk di makan. Di sini agak engap, lebih baik kau di luar menghirup udara segar terlebih dulu," kata Patrick yang merasa kalau Zhavia semakin tidak nyaman.
Zhavia mengangguk pada suaminya.
"Baiklah, aku akan menyusulmu di taman," kata Patrick lagi dan Zhavia mulai berjalan ke arah taman.
Ketika Zhavia memasuki taman dan hendak mengambil minuman segar yang sengaja disediakan Claudia, beberapa anak dari kerabat Claudia bermain kejar kejaran di sana dan tidak sengaja menabrak Zhavia. Zhavia berputar dan kehilangan keseimbangan.
"Aaahh..." Pekik nya dan hendak terjatuh tapi sebuah tangan menahannya. Dia memegang punggung Zhavia dan membantunya agar kembali berdiri dengan tegak.
"Kau baik baik saja? Gunakan matamu dengan benar dan perhatikan sekitarmu! Kau sedang mengandung, jangan sampai terjadi apapun denganmu juga anak yang kau kandung! Kau selalu ceroboh, Via!" Katanya masih merangkul Zhavia dengan sangat protektif.
Zhavia memperhatikan setiap tutur kata yang keluar begitu penuh perhatian meski agak tegas tapi malah membuatnya tidak sanggup untuk tidak memeluk orang yang telah menolongnya itu.
...
...
...
...
...
bersambung ...
jangan lupa LIKE dan KOMEN nya
__ADS_1
thanks for read and i love you 😍