Mantan Terindah

Mantan Terindah
Kabar Buruk


__ADS_3

Keasikkan Zizi dan Vita semakin menjadi, mana kala Vita kembali menceritakan cerita cintanya dengan Bima.


"Sungguh? Apakah dia secemburu itu?" Zizi nampak antusias.


"Iya, Kak. Bahkan dia langsung nganter Vita ke Jakarta. Dia juga mau nganter Vita ke Belanda. Tapi pasport dia ketinggalan di Semarang. Akhirnya Vita dibolehin berangkat sendiri. Dia itu paling kesel kalo Vita deket ama cowok. Entah itu ada hubungan keluarga atau tidak. Pokoknya nggak bakalan dikasih," ucap Vita lagi.


Tak ayal, Zizi pun tertawa. Sebab ia sangat tahu, itu bukan Bima banget.


"Kok ada ya kadal macam begitu. Itu namanya kadal ketemu pawangnya, Vit! Langsung klepek-klepek," canda Zizi, masih tertawa senang.


"Entah! Lucunya lagi, setiap kali Vita Ke mana diintilin, mandi ditungguin depan pintu. Kerja ditongkrongin. Sampai zoom meeting, dia ada juga di sebelah Vita. Astaga tu bapak-bapak, kek nggak ada kerjaan aja," ucap Vita lagi.


"Benarkah? Sebucin itu dia sama kamu. Astaga! Bima, Bima, kek gitu bilangnya, nggak mau sama janda. Janda tu pasti begini, pasti begitu. Rasaian dapet janda kan lu. Emang enak?" kutuk Zizi, kesal.


"Dia benci janda karena kata dia, janda itu genit. Suka godain laki orang. Ehhh, pasti ketemu Vita lagi godain laki akak, kan. Jadi tambah ilfil dia," balas Vita, ikutan tertawa.


"Iya juga sih, pantesan dia tambah kesel! Nggak nyalahin dia juga sih, aku juga malem sama kamu waktu itu. Dia juga ada bilang, mendingan dia nggak nikah dari pada nikah sama janda genit."

__ADS_1


"Eh, bener Kak. Dia juga bilang begitu sama mamanya loh. Vita denger sendiri. Dia itu anti banget sama janda. Apa lagi yang model-model genit gitu. Ini, Vita nutup aurat juga dia yang minta. Katanya biar nggak dilirik cowok lain. Astaga, pak dokter satu itu, ada aja bahan buat dia ngatur Vita," ucap Vita lagilagi, semakin bersemangat menceritakan keunikan Bima.


"Sudah, sudah Vit, sakit perutku. Ya Tuhan, Bima, Bima. Dia memang unik. Dah gitu menyebalkan, jaim, tukang nindas. Astaga, lengkap sudah kekejakan suamimu, Vit. Ahhh... yang sabar ya," ucap Zizi, masih bertahan dengan kebahagiaan yang menggebu-gebu.


"Iya kakak bener, dia memang penindas sejati. Mau si sayang tapi tukang siksa. Udah gitu pinter banget ngeles. Pinter modus. Udah gitu minta banyak anak. Dikira Vita apaan, suruh nglahirin bayi dia banyak-banyak." Vita memanyunkan bibirnya, manja.


"Astaga, menggemaskan sekali kalian. Emang dia mau punya anak berapa?" tanya Zizi.


"Dia maunya empat, Kak. Biar rame. Vita suruh hamil end melahirkan empat kali untuknya. Terus, dia aja sekarang entah di mana? Gimana bikinnya? Jadinya kapan? Ahhhh... entahlah! Serah dia aja, Kak," jawab Vita, sedikit mengerutu.


***


Di lain pihak, Juan shock mendengar kabar bahwa orang-orang yang ia kirim untuk menjemput Bima, mengalami kecelakaan parah.


Mobil mereka terbalik, penumpang berhamburan, dua di antara mereka meninggal di tempat.


Sungguh, ketika mendengar kabar itu, napas Juan seakan berhenti sejenak. Siapapun yang meninggal ia tetap tka rela. Mau bagaimanapun mereka semua yang bekerja padanya memiliki keluarga. Juan tak sanggup membayangkan kesedihan mereka.

__ADS_1


"Ada apa, Pi?" tanya Stella, tepat di belakang sofa tempat sang suami duduk.


Juan mengangkat wajahnya, lalu menatap sang istri dengan tatapan mata memerah. Seperti menahan tangis yang tak kunjung mau keluar.


"Eh, kok Papi nangis? Ada apa, Pi?" tanya Stella, penasaran.


"Mobil Gani mengalami kecelakaan, Mam." Juan menundukkan kepalanya, tak kuasa meneruskan ucapannya.


"Astaghfirullah hal azim. Lalu bagaimana dengan Gani, Pi. Lalu, Bima? Bagaimana dengan Bima?" tanya Stella, shock.


"Gani belum sadarkan diri, Mam. Dua di antara tujuh penumpang meninggal dan kita tidak tahu, siapa yang meninggal," jawab Juan, kali ini tangisnya pecah. Sebab ia takut jika salah satu yang meninggal itu adalah Bima. Bagaimana ia menjelaskan ini pada Vita.


"Ya Allah... " Stella tak mampu berucap. Apa lagi bertanya. Kabar buruk ini seperti hantaman keras baginya. Apa lagi dua korban yang meninggal belum di ketahui, apakah itu Bima atau bukan.


Sungguh, Stella dan Juan shock. Sampai menangis pun tak mengeluarkan suara.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2